
Sebuah kabar gembira datang, disampaikan oleh pegawai pos yang mengantarkan surat perihal kemenangan Wan Siang dalam undian berhadiah sepeda Simplex yang diselenggarakan oleh NV Bal Tiga Nitisemito. Padahal Wan Siang cuma menyerahkan satu kupon undian, setelah membeli lima bungkus rokok yang etiketnya bergambar tiga lingkaran berwarna hijau itu.
Kabar gembira itu disampaikan pula kepada Si Manis, membuat gadis itu turut merasa senang. Sebentar lagi Wan Siang harus mengambil hadiahnya di Kudus, mengajak Si Manis. Ia merasa mungkin keberuntungannya kali ini memang ada hubungannya dengan gadis itu, sebagai jimat kekayaannya yang kala itu diajaknya membeli rokok.
Singkat cerita, mereka berdua memulai perjalanan dari stasiun Poncol Semarang, menggunakan kereta api perusahaan Samarang-Joana Stoomtram-maatschappij (SJS), yang arti harfiahnya adalah perusahaan Trem Uap Semarang-Juwana. Perusahaan itu bukan hanya memiliki jalur rel Semarang-Juwana yang membentang dari kota Semarang ke timur sampai Juwana, melainkan juga jaringan trem dalam kota Semarang dan antar kota.
Mereka berangkat dengan kereta api yang ditarik lokomotif seri SJS 200/B27 buatan pabrik Hartmann dari Jerman, yang dapat menempuh kecepatan maksimal 45 km per jam, salah satu lokomotif tercepat kala itu. SJS juga memiliki lokomotif berbentuk kotak seri B12 yang hanya berkecepatan 15 km per jam khusus untuk jaringan trem dalam kota Semarang.
Si Manis baru pertama kalinya naik kereta lokomotif, ia merasa pengalamannya sungguh menakjubkan. Ia duduk di sebelah Wan Siang yang selalu memegangi tangannya. Pengalaman naik kereta tentunya sangat berbeda, yang menurutnya berkecepatan lebih tinggi. Rasanya seperti melesat. Jauh beda kecepatannya dibanding kereta kuda. Mesin uap mulai mengungguli tenaga otot manusia dan hewan, membawa zaman baru di mana orang bepergian lebih jauh dan cepat.
Pemandangan di luar jendela juga menakjubkan, Si Manis dapat melihat pohon-pohon bagaikan berlarian, padahal bukan pohon itu yang berlari. Kadang berganti dengan pemandangan berupa kebun, sawah dan rumah-rumah penduduk yang juga tampak berlari cepat, membuat hati Si Manis berdecak kagum. Kebetulan Si Manis duduk di dekat jendela, sehingga ia seringkali menghadapkan wajahnya ke jendela, membuat Wan Siang cemburu dengan jendela lokomotif itu.
“Kok menghadap jendela terus wajahnya?” Wan Siang protes.
“Pemandangannya bagus sekali Koh, saya baru pertama kali ini naik kereta, ternyata menyenangkan sekali,” sahut Si Manis yang wajahnya masih selalu menoleh ke arah jendela.
“Jendelanya lebih ganteng dari aku ya?”
“Mana ada jendela ganteng Koh?”
“Buktinya kamu lihati terus.”
__ADS_1
“Bukan jendelanya, tapi pemandangannya itu, bagus sekali.”
“Jadi pemandangannya lebih bagus dari wajahku ya?”
Si Manis akhirnya menyadari, kalau yang bertanya itu sedang tidak senang karena diabaikan. Wan Siang berharap dia akan mengalami perjalanan yang menyenangkan jika mengajak Si Manis, minimal ada teman bicara di kereta. Namun karena terlalu takjub dengan pemandangan di luar kereta, Si Manis jadi mengabaikan Wan Siang. Tentu saja pemuda itu jadi cemberut.
“Maaf Koh, iya sekarang saya perhatikan Engkoh, jangan cemberut begitu mukanya,” Si Manis berusaha menghibur Wan Siang.
Setelah Si Manis menyadari situasinya, barulah ia bisa memperhatikan Wan Siang. Lelaki itu mulai tersenyum lagi dan berbincang-bincang dengan gadis yang dari tadi dia pegangi tangannya.
“Kalau di sini saya tidak mungkin hilang, kok tangan saya dipegang terus?” tanya Si Manis.
“Memang tidak hilang, kalau sekarang memang aku yang kepengen.”
Memang dari tadi sudah ada beberapa pasang mata yang melirik ke arah Wan Siang dan Si Manis.
“Kalau dilihat saja kan kita ndak bakal mati,” ujar Wan Siang dengan wajah datar.
“Beruntung sekali ya Engkoh ini, cuma beli rokok sekali saja bisa dapat sepeda,” kata Si Manis.
“Lho, kan aku punya kamu sebagai jimat.”
__ADS_1
“Kok saya jadi jimat?”
“Jadi dulu aku nerima kamu sebagai jaminan utang bapakmu memang bukan untuk dijadikan gundik, tapi jimat kekayaan. Konon lelaki Tionghoa yang memiliki simpanan perempuan Jawa bisa jadi kaya. Terus aku berpikir untuk nyimpan kamu di rumahku, biar bisa jadi kaya.”
“Saya belum pernah dengar itu Koh, tapi lihat, sekarang Engkoh malah jatuh karena usahanya ditutup. Mungkin saya tidak berguna sebagai jimat.”
“Kamu salah, justru kamu itu sangat berguna. Sekarang aku lebih bahagia dibanding dulu. Mungkin saja usaha baruku nanti bakal bikin aku lebih kaya dari sebelumnya. Soalnya sekarang ada kamu yang dukung aku. Lagipula menurut Ciam Sie, rejekiku dari timur dan barat, sekarang saja aku bisa dapat sepeda, walaupun harus diambil di Kudus. Ini pertanda, kalau rejeki itu salah satunya ada di timur.”
“Bisa jadi Koh, semoga Engkoh nanti bisa lebih kaya.”
Si Manis akhirnya mengetahui kenyataan yang sebenarnya, bahwa Wan Siang dari dulu memang tidak pernah bermaksud menjadikannya pembantu atau gundik. Tetapi hanya dipajang sebagai jimat. Kalaupun dia pernah disuruh memijat, sepertinya itu memang agak melenceng dari tujuan semula.
Sebenarnya ada berbagai jenis jimat yang dipercaya orang Tionghoa memiliki berbagai khasiat. Misalnya mengundang keuntungan, atau menolak bala, atau menarik orang datang ke tempat usaha.
Ada Hu, jimat berupa kertas atau kain berukuran tertentu, berwarna merah, kuning, hijau atau putih. Setiap warna memiliki kegunaan masing-masing. Hu dibuat dengan mengukirkan tulisan atau mantra yang kemudian diberkati secara lisan, dan dibuat di depan altar dewa. Hu dengan kertas berwarna kuning biasanya untuk diminum, warna hijau untuk keperluan umum, seperti anti maling, pelindung tubuh, pengusir makhluk halus dan lain sebagainya. Warna merah sebagai pelaris usaha dagang , sedangkan warna hitam memiliki kegunaan yang sama dengan warna putih, yaitu untuk membantu menghilangkan nasib buruk pada seseorang.
Jimat lain ada yang berupa cermin berbentuk bulat atau segi delapan yang ditaruh di atas pintu atau tempat lain di rumah atau tempat usaha. Dipercaya jimat seperti itu untuk mendatangkan hawa baik dan menangkal pengaruh buruk.
Ada juga jimat berbentuk patung dewa rejeki yang membawa potongan uang emas, juga patung kucing yang tangannya bisa berayun-ayun seolah memanggil. Jimat itu dianggap mendatangkan pembeli dan keuntungan.
Sebagai orang Tionghoa, Wan Siang memiliki kepercayaan terhadap jimat-jimat, sehingga ia juga mempercayai Si Manis sebagai jimat kekayaan yang khusus. Bentuknya bukan berupa kertas atau kain atau patung. Keberadaannya lebih berdasarkan mitos yang tersebar luar di kalangan masyarakat.
__ADS_1
Orang Tionghoa sudah lama dipisahkan dengan orang pribumi oleh pemerintah Belanda, tetapi mereka selalu punya cara untuk membaur. Salah satunya dengan adanya berbagai jenis hubungan di antara mereka, dari hubungan dagang hingga percintaan. Kerja sama antar dua jenis kelompok masyarakat ini memang tidak pernah bisa dihindarkan, sebab dasar masyarakat adalah kerja sama. Tanpa kerja sama, mustahil kehidupan bisa berjalan dengan baik dan lancar. Permusuhan hanya menimbulkan kekacauan, tak ada manfaatnya.
Salah satu usaha pemisahan yang gagal dilakukan oleh orang Belanda adalah Pasar “Gang Baru” yang ada di Pecinan Semarang. Pasar Gang Baru tadinya dikhususkan untuk warga Tionghoa, baik penjual maupun pembeli, tetapi karena kebutuhan, orang-orang pribumi yang biasanya berjualan di Pasar Pedamaran akhirnya berangsur-angsur pindah ke Pasar Gang Baru dan ikut berjualbeli di sana. Itu baru soal perdagangan. Belum lagi soal percintaan, tentu kisahnya lebih beragam.