
Si Manis benar-benar penasaran dengan sikap Wan Siang kala itu, sehingga ia ingin mencari tahu lebih lanjut.
“Sebenarnya apa yang terjadi di pesta ulang tahun mamanya Engkoh? Karena Engkoh agak berubah sehabis pulang dari sana. Saya ingin tahu cerita yang sebenarnya, biar bisa tahu masalah Engkoh.”
Wan Siang menatap ke arah Si Manis. Gadis itu tampak berusaha meyakinkannya untuk bersikap jujur. Kemudian Wan Siang berpikir, cepat atau lambat Si Manis akan tahu cerita yang sebenarnya. Daripada SI Manis tahu dari orang lain, lebih baik dia sendiri yang bercerita, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Manis... memang ada hal yang membuat aku gundah karena acara kemarin itu,” ucap Wan Siang.
“Ceritakan Koh, biar hati Engkoh tenang.”
“Mama memperkenalkan aku dengan gadis bernama Hu Ai Lien.”
Wan Siang untuk sementara menghentikan ceritanya, sambil memperhatikan raut wajah Si Manis. Di luar dugaan, wajah Si Manis masih begitu tenang.
“Saya tahu, cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Wajar saja jika mamanya Engkoh ingin anaknya mendapat orang yang sepadan,” kata Si Manis.
“Tadinya aku tidak mau cerita, takut kamu jadi kepikiran dan sedih. Kemarin waktu aku bohong soal punya teman wanita saja, kamu bisa cemburu,” ujar Wan Siang
“Lain Koh, kan bukan keinginan Engkoh berkenalan dengan perempuan itu. Tapi mamanya Engkoh yang memperkenalkan.”
“Memang bukan keinginanku. Tapi Mama itu kalau sudah memperkenalkanku dengan perempuan, pasti bakal mendorong aku untuk kawin sama perempuan itu.”
“Saya mengerti Koh. Pasti mamanya Engkoh kepengen punya mantu orang yang sederajat. Tapi itu kan maunya mamanya Engkoh, bukan maunya Engkoh sendiri.”
Wan Siang lega karena Si Manis bisa memahami situasi dan kondisinya, sehingga beban pikirannya berkurang.
__ADS_1
“Aku senang kamu bisa ngerti aku, Manis. Kalau suruh milih, ya aku tetep pilih kamu.”
“Ada Yang Kuasa, yang mengatur jalannya hidup ini. Saya cuma bisa pasrah dan menerima suratan takdir. Kalau kita berjodoh, pasti nanti ada jalannya. Kalau tidak, juga akan terpisah dengan sendirinya.”
Si Manis begitu tenang dalam menyelami permasalahan yang sedang terjadi. Wan Siang terkesima dengan pemikiran Si Manis. Gadis itu tak goyah dan lebih memilih menyerahkan nasibnya kepada Tuhan.
“Tapi aku tidak mau pisah sama kamu,” ujar Wan Siang yang tiba-tiba merasa takut kehilangan Si Manis. Wan Siang memeluk Si Manis erat-erat, biar gadis itu tak bisa direnggut darinya.
“Engkoh sudah tahu keinginan mamanya Engkoh. Sekarang semua ada di tangan Engkoh."
Si Manis membalas pelukan Wan Siang dan menepuk-nepuk punggung kekasihnya agar perasaannya menjadi tenang.
“Saya ini dari dulu sudah terbiasa hidup susah, jadi orangtua saya mengajarkan, hendaknya saya selalu bisa nerimo. Susah senang dalam kehidupan itu pasti ada, masalah juga akan selalu ada. Kalau orang tidak bisa nerimo keadaan, hatinya tidak akan bisa tenang.”
“Aku senang kamu bisa memahami aku dan mikir seperti itu. Aku yang akan usahakan supaya kita berdua bisa bahagia. Karena aku bahagianya kalau ada kamu. Jadi ini bukan demi kamu saja, tapi demi diriku juga.”
Wan Siang jadi mengerti, kenapa orang-orang yang dianggapnya susah bisa begitu kuat menjalani kehidupan, tak peduli betapa sulitnya kehidupan itu. Jika beban hidup terasa sangat berat, tak ada pilihan lain kecuali melepaskannya, dengan sikap menerima keadaan. Menyerahkan kembali permasalahan itu kepada Tuhan dan mengharapkan pertolongan-Nya, sambil terus berusaha sekuat-kuatnya.
***
Wan Siang belum tahu rencana Nona Hu yang ingin mendekatinya lebih lanjut. Nona Hu begitu percaya diri, sebab ia tak tahu sudah ada Si Manis dalam kehidupan Wan Siang.
Di mata Sun Kwan, Nona Hu sedang bernasib sama dengan dirinya. Mengejar cinta seseorang yang hatinya sudah dimiliki orang lain. Melihat Nona Hu, Sun Kwan seperti melihat cerminan dirinya sendiri.
Karena perasaan senasib, Sun Kwan jadi bersimpati dengan keadaan Nona Hu. Gadis itu tentu memilki harapan yang besar untuk bisa bersanding dengan Wan Siang. Seperti awal Sun Kwan melihat Si Manis. Gadis Jawa itu rasanya tak sulit untuk digapai, karena kesederhanaannya.
__ADS_1
Rupanya karena Si Manis lama hidup bersama dalam satu atap dengan Wan Siang, keduanya jadi memilki kisah tersendiri yang melahirkan perasaan cinta. Walaupun pada awalnya si gadis tinggal di sana dalam keadaan terpaksa.
Sun Kwan sendiri sempat heran, mengapa kakaknya yang tadinya memutuskan untuk hidup bebas, tiba-tiba menginginkan seorang gadis untuk tinggal bersamanya. Ia tahu alasan pertamanya adalah menjadikan Si Manis sebagai jimat. Tetapi bukankah kalau Wan Siang menginginkan seorang gadis Jawa hanya sebagai jimat, ia seharusnya dapat melakukannya sejak dulu? Sebab tak susah menemukan seorang gadis seperti itu.
Kesusahan hidup pada zaman meleset mendorong banyak orangtua dari kalangan bawah tak segan memberikan anak-anak perempuannya kepada orang kaya hanya demi uang untuk bertahan hidup.
***
Jawaban pertanyaan Sun Kwan itu sebenarnya ada di kepala Wan Siang. Kejadian demi kejadian di rumah judi begitu jelas dalam ingatan pemuda itu.
“Tuan, saya sepertinya tak bisa membayar utang-utang saya. Rumah saya jelek, istri saya sudah meninggal, pekerjaan juga hilang. Yang masih tersisa hanya anak gadis saya. Apa Tuan bersedia mengambil anak gadis saya sebagai pengganti pembayaran utang itu?”
“Kamu bawa anak gadismu itu besok, biar aku lihat dulu. Jadi apakah anak gadismu bisa menjadi penebus utang-utangmu, tergantung keputusanku besok.”
Ketika Si Manis dibawa ke hadapan Wan Siang, gadis itu sungguh ketakutan. Namun justru sikap ketakutan itulah yang dipandang menarik. Biasanya perempuan akan langsung menyodorkan diri kepada Wan Siang, tapi gadis itu malah berusaha menghindari tatapannya. Wajah ketakutan Si Manis itu tepat sekali dalam menggambarkan perasaan yang sebenarnya.
Dalam hatinya Wan Siang berpikir, gadis itu tak akan berpura-pura kepadanya, dan menjadi menarik karena tak melihatnya sebagai orang berduit. Parjiyem tak memandang Wan Siang berdasarkan wajah dan kekayaannya.
Lagi pula saat itu Wan Siang merasa kesepian. Ia tak punya teman yang dianggapnya benar-benar tulus menjadikannya teman. Lingkaran pergaulannya adalah para anak buahnya di rumah judi, dan di rumah hanya ada pembantu yang bersikap sebagai bawahan.
Tiba-tiba ia berpikir, jika anak perempuan itu bisa menjadi teman di rumahnya, mungkin ia tak akan merasa kesepian lagi. Saat itu ia tak berpikir tentang percintaan, sebab ia memang masih muak dengan segala hal berbau cinta dan wanita yang selalu dianggapnya palsu.
Untuk menutupi maksud hatinya yang menginginkan seorang teman, Wan Siang selalu mengatakan bahwa gadis itu ia jadikan jimat kekayaan. Hanya Wan Siang yang tahu rahasia itu. Ia sesungguhnya menginginkan seorang teman yang tulus dan tak berpura-pura di hadapannya.
Seandainya Wan Siang memang percaya tentang rumor yang berkembang di masyarakat tentang lelaki yang bisa menjadi kaya karena menyimpan perempuan Jawa di rumahnya, hal itu tak bisa dibandingkan dengan keinginan Wan Siang memiliki teman.
__ADS_1
Masyarakat menganggap menyimpan perempuan di rumah berarti menjadikan perempuan itu sebagai pemuas nafsu juga. Sedangkan Wan Siang tak pernah menganggap Si Manis sebagai perempuan simpanan seperti yang dimaksud oleh masyarakat itu sendiri.
Mungkin semua tetangga Si Manis yang dulu membicarakannya, tak akan percaya bahwa Wan Siang belum pernah berhubungan badan dengan gadis itu. Di mata para penggosip, Si Manis tentunya tak lebih dari seorang perempuan murahan yang rela menyerahkan diri kepada Wan Siang. Padahal nilai Si Manis masih sama berharganya dengan seorang putri raja.