Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 38 Du Pavillon


__ADS_3

Hotel Du Pavillon* agaknya menjadi tempat bersejarah bagi Wan Siang dan Si Manis dalam perjuangan mereka meraih kebahagiaan. Hotel itu tadinya hanya villa dua lantai yang dibangun pada tahun 1847. Tahun 1913, Du Pavillon melakukan renovasi besar-besaran.


Ketika itu Semarang bersiap-siap menyelenggarakan perhelatan Koloniale Tentoonstelling, suatu pameran terbesar se-Asia Tenggara, pada tahun berikutnya, 1914. Tujuannya adalah untuk menampung tamu-tamu yang mengadakan pameran, yang berasal dari berbagai negara.


Jumlah kamarnya ditambah 50 buah. Du Pavillon mempekerjakan 18 staf yang rata-rata orang Eropa, juga hampir 100 orang pelayan lokal untuk melayani kebutuhan para tamu. Para manajernya adalah orang-orang yang berpengalaman mengelola hotel di Paris dan Inggris.


Di hotel itu disediakan 80 ekor kuda, berikut kereta kuda, yang berfungsi untuk mengantar para tamu ke mana pun mereka mau. Juga tersedia 12 mobil mewah untuk para tamu penting. Terdapat pula restoran yang menyajikan masakan Eropa, yang amat digemari. Sebab di hotel itu, banyak sekali tamu yang berasal dari Eropa. Termasuk tamu-tamu penting pemerintah kolonial Hindia Belanda.


Tak heran jika Si Manis merasa Hotel Du Pavillon bagaikan istana dari negeri nun jauh di sana. Para tamu di hotel itu memang dimanjakan dengan berbagai fasilitas, tentunya dengan biaya yang lebih mahal daripada hotel dengan kualitas di bawahnya. Wan Siang membayar semua dengan cek, karena ia juga tak mungkin membawa uang tunai dalam jumlah besar.


Kala terbangun dari tidurnya, Wan Siang melihat Si Manis sudah berpakaian rapi dan berdandan. Wan Siang kemudian meminta pelayan mengantarkan sarapan pagi ke kamar. Wan Siang sengaja memilih tinggal di hotel agar semua kebutuhan mengenai makanan dan kebersihan pakaian terjamin.


“Hari Senin kita akan mengurus surat identitasmu, juga ke kantor catatan sipil agar urusan dokumen pernikahan kita cepat selesai,” ujar Wan Siang.


Si Manis tersenyum. Dirinya hampir tak percaya kalau Wan Siang telah mengambil langkah sejauh itu dalam memperjuangkan cinta mereka. Tak lama lagi, lelaki yang dulu ia anggap majikan akan menjadi suaminya yang sah.


Sebagai pengusaha yang telah terbiasa mengurus berbagai perizinan dengan pemerintah Hindia Belanda, Wan Siang tahu betul bagaimana membuat segala urusannya berjalan lancar dan selesai dalam waktu cepat. Itu juga karena nasihat Paman A Seng. Segala hal yang menyangkut urusan dengan pemerintah Hindia Belanda dapat segera diselesaikan dengan memberikan uang tanda terima kasih dalam amplop tertutup kepada petugas terkait.


Setelah mengutarakan maksud dan tujuan kepada petugas di kantor catatan sipil, Wan Siang menyerahkan selembar amplop berisi uang dengan wajah yang dibuat seramah mungkin, dan tutur kata sehalus mungkin.


“Ini sekedar tanda terima kasih, sebab Tuan sudah bersedia mengurus surat pernikahan kami. Semoga Tuhan memberi kesehatan dan kelancaran dalam bekerja kepada Tuan,” ujar Wan Siang kepada petugas kantor catatan sipil dengan ramahnya.


Petugas yang diajak bicara Wan Siang, seorang pribumi berpendidikan yang mungkin berasal dari golongan priyayi rendah, yang tadinya memasang wajah sok berwibawa, menjadi luluh bagaikan mentega yang dipanaskan di atas kompor.


“Sudah menjadi kewajiban kami membantu masyarakat. Seminggu lagi, surat nikah itu selesai. Jadi Tuan bisa ambil ke sini pada hari Senin depan,” kata si petugas, sambil tangannya meraih amplop pemberian Wan Siang.


Wan Siang menoleh ke arah Si Manis sambil tersenyum penuh arti. Si Manis jadi tersipu-sipu, karena sebentar lagi ia akan jadi istri Wan Siang. Jika mengingat apa artinya menjadi istri Wan Siang, wajahnya menjadi semakin merah.


Petugas di kantor catatan sipil biasanya menanyakan tentang nama dan dari daerah mana kedua mempelai berasal. Selain itu kadang ada pertanyaan mengapa mereka memutuskan untuk menikah. Namun sesudah melihat raut wajah Wan Siang dan Si Manis, ditambah amplop yang baru saja diterimanya, si petugas merasa tak perlu lagi menanyakan maksud dan tujuan mereka menikah. Karena cinta telah terpancar dari wajah keduanya.


Begitu sampai di hotel, Wan Siang entah dengan maksud menggoda atau menakuti Si Manis, ia berkata sesuatu yang membuat kuping Si Manis memerah.

__ADS_1


“Seminggu lagi ya, ingat.”


“Iya Koh, saya juga dengar tadi. Sepertinya Engkoh yang tidak sabar lagi menunggu seminggu lagi,” kata Si Manis dengan wajah malu tetapi juga ingin meledek Wan Siang.


***


Sehari sebelumnya, tepatnya hari Minggu, Wan Siang mengajak Si Manis ke rumah Paman A Seng dan menceritakan rencana mereka berdua. Juga kisah tentang bagaimana mereka terpaksa kawin lari.


“Kami mau urus pernikahan di sini dulu, baru kembali ke Kudus. Makanya saya mohon Paman A Seng untuk sementara memegang urusan yang ada di Kudus,” kata Wan Siang.


Paman A Seng tampaknya mengerti keadaan Wan Siang dan Si Manis. Ia turut prihatin, tetapi juga berbahagia untuk mereka berdua.


“Paman A Seng tidak tahu harus merasa senang apa sedih. Senangnya, karena kalian pada akhirnya bersatu. Sedih, karena pernikahan kalian ini tak dirayakan dan dihadiri keluarga besar. Tapi Paman akan selalu mendoakan yang terbaik bagi kalian berdua.”


“Aku senang, selama ini Paman telah mendukungku. Termasuk mendukung hubunganku dengan Si Manis.”


“Sejak awal Paman tahu kalian akan cocok. Cuma awalnya Wan Siang itu tidak sadar kalau Si Manis itu aslinya cantik.”


“Dulu aku tidak kepikiran ngambil Si Manis untuk dijadikan istri. Bukan wajahnya yang buat aku ingin jadikan dia istri. Kalau yang cantik itu banyak. Tapi yang sabar menghadapi aku dan berhati tulus itu yang susah dicari.”


“Istri yang mana, Paman?” goda Wan Siang.


“...Semuanya!” Makin keraslah tawa Paman A Seng, disertai Wan Siang.


***


Karena sudah mengurus surat nikah, Wan Siang jadi memperlakukan Si Manis dengan agak lain dari biasanya. Ia bisa tiba-tiba memeluk Si Manis dari belakang, yang biasanya membuat gadis itu kaget.


“Engkoh sekarang suka nempel sama saya, bagaimana kalau surat nikahnya jadi nanti?”


“Kalau surat nikahnya jadi, ya sudah tidak sekedar nempel saja.”

__ADS_1


“Engkoh sekarang sukanya menakut-nakuti saya, mentang-mentang saya anak perawan yang tidak tahu apa-apa.”


“Kalau kamu tidak tahu, nanti aku beritahu. Siang ini kita ke restoran hotel ya. Kamu pakai kebaya yang paling bagus, lalu dandan secantik mungkin.” Biasanya Wan Siang memesan makanan dan meminta pelayanan mengantarkannya ke kamar.


Si Manis menuruti permintaan Wan Siang. Ia memakai kebayanya yang paling terlihat mewah dan bagus, warnanya merah. Wan Siang memakai setelah jas lengkap serba putih. Mereka makan siang di restoran hotel, yang menyajikan hidangan Rijstaffel, istilah orang Belanda untuk menyebut jamuan hidangan pribumi yang bersanding dengan masakan Eropa, disertai nasi dan disajikan secara spesial.


Biasanya Rijstaffel dihidangkan oleh pelayan-pelayan pribumi berpakaian seragam serba putih, dan disajikan pada siang hari. Terdiri dari nasi, sayur dan lauk-pauk sebagai pembuka, hidangan Eropa seperti biefstuk dan hutspot sebagai hidangan utama, terakhir buah-buahan sebagai pencuci mulut.


Berbagai hidangan itu ada di atas meja makan, membuat Si Manis takjub akan banyak dan lengkapnya. Mereka berdua dilayani dengan baik oleh pelayan-pelayan pribumi berpakaian putih.


“Banyak sekali Koh makanannya.”


“Ini untuk merayakan pernikahan kita. Walaupun cuma ada kita berdua, pernikahan kita tetap harus dirayakan, meski dengan cara sederhana.”


“Saya memahami perasaan Engkoh. Tentu Engkoh sedih karena pernikahan kita tidak seperti orang-orang lain.”


“Parjiyem, apakah kamu mau menerima aku, Liem Wan Siang sebagai suami, dalam keadaan sehat dan sakit, suka maupun duka?” Tanya Wan Siang.


Si Manis merasa sangat terharu pada saat Wan Siang menanyakan hal demikian, sebelum ia menjawab pertanyaan itu, matanya tampak berkaca-kaca. Lelaki tampan dengan setelan jas putih di hadapannya itu sudah mengorbankan banyak hal demi membahagiakannya.


“Saya terima Engkoh, dalam keadaan sehat dan sakit, suka maupun duka. Saya mau jadi istri Koh Wan Siang.”


Memang perayaan itu tampak begitu sederhana, dibandingkan dengan perayaan pernikahan pada umumnya. Tetapi maknanya sangat besar bagi Wan Siang dan Si Manis. Mulai hari itu, Wan Siang bertekad untuk membuat Si Manis selalu bahagia, menggantikan penderitaan yang telah mereka alami berdua hingga ke titik tersebut.


“Mulai sekarang, tujuan hidupku adalah untuk membuatmu selalu bahagia,” ujar Wan Siang.



Keterangan:


Hotel Du Pavillon sekarang namanya berubah menjadi Hotel Inna Dibya Puri yang berada di Jl.Pemuda, Semarang. Tutup tahun 2008, dikarenakan persaingan yang makin ketat di bidang perhotelan. Untungnya sebelum tutup, Kak Otor sempat ke hotel tersebut sekitar tahun 2007 untuk keperluan wawancara saat mencari pekerjaan. Tentu saja bentuk bangunannya sudah tidak sama seperti waktu jaman Belanda. Sempat menjadi hotel favorit Presiden Soekarno dan Soeharto.

__ADS_1



Hotel Inna Dibya Puri, sekarang tidak beroperasi.


__ADS_2