Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 41 Kekecewaan Nona Hu


__ADS_3

Sun Kwan merasa dirinya perlu mengabarkan tentang kepergian Wan Siang dan keinginannya untuk kawin lari kepada Nona Hu, sebelum gadis itu datang dan menanyakan sendiri kepada Ny. Liem. Perasaan Ny. Liem sedang buruk, jadi Sun Kwan tak ingin keadaan yang sudah buruk di dalam keluarganya bertambah buruk karena pertanyaan Nona Hu.


Pemuda itu mengunjungi rumah Nona Hu pada sore hari. Awalnya Nona Hu merasa penasaran, mengapa Sun Kwan harus repot-repot datang ke rumahnya, tetapi semua menjadi jelas saat pemuda itu menceritakan masalah besar dalam keluarganya.


“Aku tidak menyangka, Wan Siang akan melangkah sejauh itu.” Tersirat rasa sedih dan kecewa di wajah Nona Hu, dikarenakan perasaannya kepada Wan Siang sudah tak menemui harapan.


“Sementara ini tolong jangan ke rumah kami dulu, Mama sedang tak enak hati,” ujar Sun Kwan.


“Aku mengerti. Ini semua juga terjadi karena aku, aku merasa bersalah karena memaksakan kehendak,” ucap Nona Hu dengan wajah penuh penyesalan.


“Yang paling sedih adalah Siaw Cing, dia adik kesayangan Wan Siang. Entah kapan kami bisa bertemu kakak kami lagi, dia benar-benar menghilang tanpa kabar berita. Mungkin sekarang sudah menikah dengan Si Manis.”


“Aku sangat sedih.”


“Aku dulu sudah berkata, cinta Wan Siang dan Si Manis itu kuat. Tapi sepertinya kau tidak begitu mendengarkannya, Nona Hu,” kata Sun Kwan.


“Padahal aku biasanya selalu berpikir dengan baik. Tapi kemarin karena cintaku yang menggebu-gebu, mendadak aku seperti orang gila.”


“Sudah Nona, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang aku ingin bertanya. Setelah tahu Wan Siang kawin lari dengan Si Manis, apa kau masih mencintainya?” Sun Kwan melemparkan pertanyaan, yang membuat Nona Hu terhenyak dan berpikir, mencari jawaban dari dalam hatinya.


“Aku kecewa, Sun Kwan,” jawab Nona Hu.


Mendengar jawaban Nona Hu, Sun Kwan tersenyum dan memandangi wajah Nona Hu yang cemberut.


“Berarti perasaanmu kepada Wan Siang itu bukan cinta sejati. Jika kau betul-betul mencintainya, apapun keadaannya, kau pasti akan terus mencintainya. Tetapi buktinya, kini kau kecewa, mungkin... kau hanya menyukai kakakku itu.”


“Ah, aku tidak mengerti apa itu cinta.”


Nona Hu menjadi bingung akan pikirannya sendiri.


“Aku juga ingin mencintai dan dicintai, tapi... sulit sekali bertemu orang yang benar-benar kita suka. Sekali bertemu, belum tentu orang itu juga suka dengan kita. Masalah ini sungguh membingungkan,” keluh Nona Hu.


“Kalau begitu tidak usah dipikirkan, nanti Nona akan jadi tambah bingung. Sekarang Nona pikirkan saja apa yang membuat hari-hari Nona bahagia,” ujar Sun Kwan menghibur.


“Hari-hariku sudah sangat membosankan, semua sudah kukerjakan. Membaca, melukis, menyulam... tapi itu semua sekarang membuatku bosan.”


Sun Kwan tahu, akar permasalahan dalam hidup Nona Hu ternyata adalah ia mulai bosan dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Tak peduli ia nona muda keluarga kaya yang tak kekurangan apapun, rasa bosan tetap bisa mendera orang seperti itu, dan itu tidak menyenangkan.

__ADS_1


“Semua orang juga pernah mengalami kebosanan, aku pun begitu.”


“Aku lihat kau selalu tenang,” ujar Nona Hu.


“Ini masalah mengendalikan diri dalam setiap permasalahan yang ada. Jika Nona mulai merasa tidak nyaman, tetaplah tenang dan lakukan hal-hal untuk menyibukkan diri. Kadang masalah hadir saat kita sedang tidak melakukan apa-apa.”


“Kamu benar, saat aku berdiam diri, pikiranku melayang jauh, memikirkan yang tidak-tidak.”


“Carilah kegiatan yang menyenangkan, Nona.”


“Seandainya ada orang yang bisa menemaniku melakukan hal yang menyenangkan dan menyibukkan.”


“Apa Nona Hu tidak punya teman?”


“Kau lihat, temanku hanya pelayan. Ke mana-mana aku cuma ditemani pelayan, dan mereka itu hanya diam mematung serta mematuhi perintahku. Apa itu bisa disebut teman?”


“Coba lihat di sekeliling Nona, kira-kira adakah orang yang menyenangkan hati Nona?”


Nona Hu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, lalu pandangannya berhenti di Sun Kwan.


“Apa Nona mau mencoba berteman denganku?” tanya Sun Kwan.


“Eh... apakah kita belum memutuskan untuk berteman?” Nona Hu tertawa kecil.


“Setahuku, Nona tidak menganggapku siapa-siapa.”


“Karena kamu pemuda yang terlihat baik dan tidak berbahaya, aku memutuskan untuk mau berteman denganmu.”


“Hahaha... ‘tidak berbahaya’?” Sun Kwan tertawa. “Baru kali ini aku disebut begitu, tapi kalau itu bagus, tidak apa.”


Sun Kwan dan Nona Hu mulai menjalin pertemanan pada saat itu juga. Waktu itu Nona Hu memang tidak memiliki perasaan apapun kepada Sun Kwan, kecuali ketulusan dalam pertemanan. Tapi Sun Kwan entah kenapa sangat senang. Ia belum pernah dekat dengan seorang gadis pada saat usianya sudah beranjak dewasa.


Menurut Sun Kwan, apa yang dilakukan Nona Hu kemarin memang suatu tindakan yang ceroboh, tetapi pada akhirnya ia menyesal. Sun Kwan merasa, Nona Hu pada dasarnya punya sifat yang baik. Karena orang yang baik bukanlah orang yang tak pernah berbuat kesalahan, melainkan orang yang setelah berbuat kesalahan, akhirnya menyesali perbuatannya itu.


***


Setelah puas berbulan madu, akhirnya Wan Siang memutuskan akan kembali ke Kudus pada hari Senin. Ketika itu hari Minggu. Si Manis dan Wan Siang sibuk berkemas-kemas agar keeseokan harinya mereka bisa langsung keluar dari hotel tanpa merasa terburu-buru.

__ADS_1


Rencananya mereka akan naik kereta api dari stasiun Pontjol yang letaknya tak begitu jauh dari Hotel Du Pavillon.


Salah satu keutamaan Hotel Du Pavillon memang lokasinya yang sangat strategis, dekat dengan Pasar Johar dan dua stasiun penting, yaitu stasiun Tawang dan Pontjol.


Setelah selesai berkemas-kemas, Si Manis dan Wan Siang dapat kembali berbaring dengan santai sambil berpelukan. Dalam waktu yang singkat mereka telah mengalami banyak peristiwa. Tanpa terasa besok adalah waktu perpisahan mereka dengan kota Semarang. Kota tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan.


“Ini adalah malam terakhir kita di Semarang, bagaimana perasaanmu?” tanya Wan Siang kepada istrinya.


“Seumur-umur saya hidup di kota ini, tentunya ada rasa sedih. Semua teman dan keluarga yang masih ada tinggal di kota ini.”


“Aku bisa paham perasaanmu, keluarga besarku juga ada di sini. Walaupun aku belum tentu ketemu sama mereka lagi, tapi... hubungan keluarga itu mengikat kita secara batin.”


“Saya tetap berharap, suatu hari Engkoh dapat berhubungan baik dengan keluarga Engkoh lagi. Dan semoga pada saat itu, mereka semua bisa menerima saya sebagai anggota keluarga.”


“Sun Kwan dan Siaw Cing pasti menerimamu, mungkin Papa juga. Tapi kalau Mama... sebaiknya kau jangan terlalu mengharapkannya, ia sangat keras kepala.”


“Saya tidak ingin menjelek-jelekkan mamanya Engkoh, walaupun begitu... dia tetap mama mertua bagi saya, dan jika kita punya keturunan, maka anak kita itu tetaplah cucunya.”


“Padahal kamu sudah ditampar dan diusir olehnya, tapi kamu tetap menghormatinya sebagai mertua. Hatimu sungguh mulia, Manis.”


“Saya tidak ingin membangun rumah tangga atas dasar kebencian. Kalau ada yang membenci kita, biarkanlah. Yang penting kita jangan ikut membenci, biar rumah tangga kita bahagia dan penuh kedamaian.”


Wan Siang semakin menyayangi Si Manis karena hatinya yang bersih dan suci dari hal-hal buruk. Sedikit banyak itu membuat Wan Siang merasa nyaman di dekatnya. Istrinya itu bagaikan danau di tengah-tengah gurun pasir yang mengusir dahaga dan menyejukkan, yang bisa ia reguk sepuas-puasnya.


“Ya sudah, sebaiknya kita berdua tidur lebih awal,” kata Wan Siang.


“Saya pikir Engkoh mau mengajak saya lagi malam ini,” goda Si Manis.


“Kasihan kamu kalau kuajak, takutnya besok kamu kecapekan, padahal kita harus ke Kudus.”


“Oh, saya kira Engkohnya yang mulai bosan.”


“Aku tidak bakal bosan, tapi karena aku sayang kamu, jadi aku tidak mau kamu terlalu capek.”


“Baiklah kalau begitu Koh, sebaiknya kita langsung tidur saja.”


Malam itu mereka tidur lebih awal dari biasanya. Setelah Wan Siang berusaha melepaskan rasa kesal terhadap mamanya sesuai keinginan Si Manis, ia bisa tidur dengan lebih damai dari biasanya. Tiada dendam dalam hatinya, walaupun mamanya sudah sangat menyakiti hatinya dan juga Si Manis.

__ADS_1


__ADS_2