Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 36 Pencarian


__ADS_3

Ny. Liem sebenarnya kesal dan sedih melihat anak kandungnya pergi meninggalkannya demi seorang perempuan yang tidak berarti di matanya. Hatinya seperti tidak rela kehilangan Wan Siang, tetapi karena gengsi dan takut dianggap lemah, ia memilih diam.


“Siaw Cing, sudah. Jangan tangisi kakakmu yang kurang ajar itu. Mama menyesal sudah melahirkannya. Mama harap kamu jangan seperti kakakmu itu.”


Siaw Cing kesal mendengar mamanya masih bisa berkata seperti itu. Siaw Cing tahu sumber masalah itu adalah mamanya sendiri. Tetapi bukannya menyadari kesalahan, Ny. Liem malah cenderung menyalahkan orang lain. Namun Siaw Cing juga sadar bahwa mamanya itu tidak suka dibantah. Karena itu ia memilih diam dan pergi ke kamarnya sambil menunggu Sun Kwan pulang.


Begitu Sun Kwan pulang, Siaw Cing menceritakan peristiwa antara Wan Siang dan mamanya, termasuk rencana kakaknya itu untuk kawin lari dan kepergiannya. Sun Kwan sedih mendengar berita itu. Dalam sekejap saja Sun Kwan merasa kehilangan Wan Siang dan Si Manis. Padahal hubungan saudara antara dirinya dan Wan Siang baru saja membaik.


“Aku tidak tahu kalau ini bisa terjadi. Seharusnya dulu aku menghalangi Nona Hu untuk bertemu Wan Siang.”


Terdapat rasa penyesalan di hati Sun Kwan. Ia pikir Nona Hu tidak akan terlalu ngotot untuk mendekati Wan Siang, jika mengetahui kalau lelaki yang dicintainya itu sudah mencintai wanita lain. Ternyata Nona Hu berbuat lebih jauh, yaitu memberitahukan segalanya kepada Ny. Liem. Itu di luar perhitungan Sun Kwan.


***


Sementara itu Wan Siang yang sudah merasa bebas dari keluarganya berupaya untuk menjemput Si Manis. Sudah tiada lagi penghalang baginya untuk menikahi gadis itu, walau tanpa restu orangtua.


Wan Siang sudah memperhitungkan baik-baik risikonya meninggalkan keluarga. Tentu dia tidak akan dianggap anak keluarga Liem lagi, juga akan kehilangan hak warisan jika ia memutuskan untuk menghilang selamanya dari keluarganya itu.


Namun kedudukan sebagai anggota keluarga terpandang dan warisan tidak membuatnya silau. Yang terpenting baginya hanyalah hidup berbahagia bersama Si Manis. Lelaki itu sudah mengorbankan banyak hal demi perempuan yang ia cintai. Itu butuh keberanian yang besar.


Tujuan pertama Wan Siang adalah rumah Si Manis, karena dia pikir Si Manis pasti akan ke sana. Ia masih hapal jalan menuju ke rumah itu. Wan Siang menumpangi dokar berukuran kecil, karena jalan di kampung Si Manis sempit. Kopernya yang berukuran lumayan besar itu ditaruhnya di satu penginapan.


Dokar akhirnya tiba di depan rumah Si Manis, tetapi rumah itu tampaknya kosong. Wan Siang memanggil-manggil nama Si Manis, tetapi tak ada yang menyahut. Kemudian ia mencoba membuka pintu rumah. Begitu pintunya bisa dibuka, Wan Siang mencari Si Manis di semua ruangan yang ada, tetapi ia juga tak melihat Si Manis di manapun.


“Manis? Kamu di mana? Kok tidak ada di sini?” Rumah itu kecil, dalam waktu singkat Wan Siang sudah bisa memeriksa semua bagiannya. Di luar dugaannya, Si Manis justru tak ada di sana!

__ADS_1


Pikiran Wan Siang langsung kalut. Harapannya adalah bertemu Si Manis setelah meninggalkan seluruh keluarganya. Tapi dia malah tak menemukan Si Manis. Langit bagaikan runtuh menimpa Wan Siang. Ia memutuskan untuk kembali menumpang dokar, mengadakan pencarian.


Yang terlintas di pikiran Wan Siang saat itu adalah bagaimana jika di jalan Si Manis ternyata mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Karena itu Wan Siang berkeliling untuk mendatangi rumah sakit-rumah sakit dan menanyakan apakah ada pasien bernama Parjiyem.


Seorang petugas rumah sakit menyatakan, mereka menerima pasien bernama Parjiyem, tetapi umurnya sekitar 50 tahun. Parjiyem yang itu bukanlah Parjiyem yang dimaksud Wan Siang. Lagipula, nama Parjiyem termasuk nama yang banyak dimiliki oleh perempuan Jawa kala itu.


Gagal menemukan Si Manis di rumah sakit, Wan Siang mencoba mengadakan pencarian di beberapa hotel dan penginapan, menanyakan apakah ada tamu yang bernama Parjiyem. Semua penginapan menyatakan tidak ada tamu bernama Parjiyem.


Karena kelelahan Wan Siang merasa akan pingsan, sebab selama mencari Si Manis, ia sampai melupakan makan dan minum. Apalagi sebelumnya Wan Siang juga telah mencari Si Manis dengan berkeliling di berbagai jalan di sekitar rumahnya dulu dan juga di sekitar rumah Si Manis. Tetapi ia tak kunjung menemukan gadis itu.


Tenaga Wan Siang hampir habis. Akhirnya ia bisa merasakan lapar dan haus, sehingga memutuskan untuk makan dan minum di rumah makan. Lelaki itu merasa sedih dan lelah, lalu ia menangis sendirian. Belum pernah dia menangis karena perempuan, dan rasa kehilangan Si Manis membuatnya meneteskan air mata.


“Manis... di mana kamu? Apa kamu memang masih ada di dunia ini?”


Pikiran Wan Siang semakin kacau hingga mengira, jangan-jangan Si Manis telah meninggal, sehingga tak ada di mana-mana.


Pada kali pertama ia datang ke rumah Si Manis, karena didorong oleh kepanikan, ia belum sempat bertanya-tanya kepada para tetangga. Mungkin saja mereka tahu tentang keberadaan Si Manis.


Ketika itu hari sudah menjelang petang. Wan Siang sekali lagi mendatangi rumah Si Manis. Para tetangga Si Manis tentu saja takjub saat melihat kedatangannya, karena lelaki itu masih mengenakan setelan jas lengkap.


Dengan sopan, Wan Siang bertanya kepada tetangga depan rumah Si Manis.


“Apa Ibu melihat Parjiyem akhir-akhir ini?”


“Parjiyem, ya... kemarin dia pulang ke sini, tapi sekarang lagi pergi. Coba ditunggu saja, mungkin sebentar lagi dia pulang,” jawab ibu itu.

__ADS_1


Pikiran Wan Siang langsung lega, ternyata gadis itu tidaklah meninggal. Si Manis hanya pergi sebentar.


“Terima kasih Ibu, ini sekedar tanda terima kasih.”


Wan Siang memberikan uang kertas 1 gulden kepada ibu tetangga depan rumah Si Manis, karena memberi kabar yang membuat Wan Siang senang bukan kepalang.


“Banyak terima kasih, Tuan.”


Ibu itu juga sangat senang menerima uang dari Wan Siang. Ternyata laki-laki tampan berpenampilan perlente itu murah hati dan sopan. Berbeda dengan lelaki perlente pada umumnya, yang lebih sering memandang rendah orang-orang kampung pada waktu itu.


Wan Siang memutuskan untuk menunggu Si Manis di depan rumahnya, agar saat gadis itu pulang, ia langsung bisa melihatnya.


Tetangga Si Manis yang kebetulan lewat di depan rumah gadis itu tentu saja merasa heran dengan pemandangan yang kontras itu. Seorang lelaki tampan dengan setelan jas yang terlihat mewah, dibandingkan dengan rumah Si Manis yang jelek dan terbuat dari kayu, yang sebagian sudah lapuk dimakan usia.


Selain tetangga yang lewat, ada juga orang-orang yang sengaja keluar dari rumah untuk sekedar melihat Wan Siang yang sedang menunggu Si Manis.


“Eh itu Sinyo yang waktu itu ke sini, tambah ganteng saja ya.”


“Kok dibiarkan nunggu di depan rumah, memangnya Parjiyem lagi ke mana?”


Karena capek berdiri, Wan Siang memutuskan untuk duduk di tanah, sebab di depan rumah Si Manis tidak ada kursi. Orang yang tidak terbiasa berdiri lama-lama memang tidak akan kuat untuk menunggu sambil berdiri. Wan Siang sudah tidak peduli lagi, apakah tanah tempat dia duduk akan membuat pakaiannya yang indah itu kotor.


Tubuh Wan Siang sudah mencapai ambang batas kelelahan. Ditambah angin petang hari yang terasa sejuk, membuat lelaki itu tanpa sadar jatuh tertidur sambil duduk. Tetangga Si Manis yang melihatnya jadi kasihan, tapi tak ada yang berani membangunkannya.


Hingga pada suatu saat ada seseorang yang mengguncang-guncangkan tubuh Wan Siang.

__ADS_1


“Koh... Koh... Kok tidur di sini?”


__ADS_2