Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 9 Tio San Ing


__ADS_3

Nyonya Liem, ibu Liem Wan Siang, akhir-akhir ini sangat gelisah, sebab dalam mimpinya ia jadi sering melihat Tini, pengasuh Wan Siang yang dulu diusirnya secara tidak hormat. Teringatlah ia peristiwa 18 tahun yang silam.


“Saya tidak pernah ambil perhiasan Nyonya, sudah tujuh tahun saya mengasuh Tuan muda, mengapa saya harus mengambil barang milik Nyonya pada saat sekarang ini?” Tini menangis tersedu-sedu karena diperlakukan tidak semestinya.


“Aku ndak mau tahu, pokoke kamu harus angkat kaki dari sini sekarang juga,” ujar Ny.Liem tanpa tedeng aling-aling.


“Sumpah demi Tuhan, Nyonya. Saya tidak mengambil apa-apa. Saya sudah tidak diperlakukan adil, kelak biar Tuhan yang bertindak atas ketidakadilan ini.”


Mendengar hal itu, Ny.Liem bergidik ngeri. Tetapi demi menutupi ketakutannya, ia malah mengatakan sesuatu yang lebih kejam dari sebelumnya.


“Kamu orang rendahan, cepat pergi dari sini. Aku ndak mau lihat muka kamu lagi!”


“Ingatlah kata-kata saya Nyonya. Kelak Tuan Muda Wan Siang, anak yang Nyonya banggakan, akan mencintai dan menikah dengan orang yang Nyonya anggap rendahan.”


“Berani nyumpahi aku kamu ya! Sudah sana cepat pergi!!”


Kutukan itu tak pernah dilupakan oleh Ny.Liem, walaupun sudah delapan belas tahun berlalu. Karena kata-kata Tini itulah Nyonya Liem selalu berusaha mencarikan jodoh untuk Wan Siang, tentu saja yang dipilih adalah gadis-gadis dari keluarga terpandang. Tetapi segala usaha Ny.Liem gagal. Anak laki-lakinya itu tampak tidak tertarik dengan gadis-gadis pilihannya dan yang sudah ada di tahap lamaranpun akhirnya gagal, seperti yang terjadi dengan Nona Sie dulu.


Ny. Liem semakin khawatir saat Wan Siang berkata kalau untuk sementara ia tak punya keinginan menikah.


“Mama, tolong berhenti menjodoh-jodohkan aku. Aku sekarang sedang ingin hidup sendiri,” begitulah kata Wan Siang saat pernikahannya batal gara-gara masalah dengan Nona Sie.


Ny. Liem merasa gelisah, tetapi paling tidak perempuan itu tak melihat tanda-tanda kalau anaknya tertarik dengan orang yang ia anggap rendahan. Itu sepertinya cukup melegakan dirinya.


Tetapi malam itu Ny.Liem kembali melihat wajah Tini yang sedang mengucap kutukan. Hatinya kembali gelisah, jantungnya berdebar kencang. Rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia jadi terdorong untuk mengunjungi rumah Wan Siang pada keesokan harinya.


***


Nyonya Liem memiliki nama gadis Tio San Ing, keluarganya diperhitungkan karena ayahnya adalah seorang pachter* dari ribuan hektar tanah di daerah Purwodadi. Tanah itu ditanami padi dan dikerjakan oleh buruh tani dengan upah rendah. Hasil pertanian itu membuat keluarga Tio kaya raya sehingga menjadikan mereka keluarga yang cukup terpandang di kalangan orang Tionghoa Semarang.


Tio San Ing sejak kecil hidup bergelimang harta, apapun yang ia mau pasti dituruti oleh orangtuanya. Tetapi gadis itu memiliki perangai buruk, kesibukan orangtuanya membuat ia menjadi anak yang suka mencari perhatian ayah dan ibunya dengan membuat ulah, salah satunya adalah kegemarannya menyakiti binatang. Jika ia punya hewan peliharaan, ia selalu punya keinginan untuk menyiksanya. Seekor burung nuri yang pernah dihadiahkan untuknya diremas hingga tewas. Orangtuanya khawatir dengan kelakuan putri mereka yang kejam, tetapi tak bisa berbuat apa-apa.


Jika Tio San Ing dimarahi karena perilakunya yang kejam terhadap binatang, atau kata-katanya yang menyakitkan para pembantu, gadis itu akan mengurung diri dan tidak mau makan seharian. Itu membuat kedua orangtuanya lemah dan memilih untuk diam, daripada melihat anaknya kelaparan.


Seandainya ayah ibunya lebih perhatian dan tidak terlalu sibuk, harusnya gadis itu dibawa ke dokter kejiwaan, sehingga masalah jiwanya itu bisa diselesaikan sedini mungkin. Tetapi pembiaran itu membuat Tio San Ing menjadi-jadi dan sifat kejamnya akhirnya terbawa hingga dia beranjak dewasa.


Tio San Ing tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, tetapi juga tak berperikemanusiaan. Kata-katanya sering menyakitkan orang, terutama para pembantu yang bekerja kepadanya. Tak heran, banyak yang tidak betah bekerja di rumahnya. Pembantu yang bertahan lama adalah manusia yang bermental baja dengan kesabaran tingkat tinggi, juga yang paling lihai bermulut manis di hadapan perempuan itu.


Gabungan antara kecantikan dan sifat buruk cukup untuk membuat Ny.Liem disegani sekaligus ditakuti semua orang, termasuk anak-anaknya sendiri.


Hari itu Ny.Liem mengunjungi rumah Wan Siang dengan gaun merah bergaya klasik Tiongkok, tak lupa merias dirinya dengan bedak juga gincu berwarna merah terang, sehingga tampak sangat mempesona.

__ADS_1


Kebetulan saat itu yang membukakan pintu adalah Si Manis, sebab para pembantu sedang sibuk. Si Manis saat itu memakai kebaya putih sehingga membuat Ny.Liem mengira Manis salah satu pembantu Wan Siang, karena para pembantu pribumi biasanya memakai kebaya putih, sebagai pembeda dengan nyonya rumah yang biasanya berpakaian warna-warni.


Ny. Liem duduk di kursi layaknya seorang ratu duduk di singgasana.


“Hei kamu, bikinkan aku teh,” perintah Ny.Liem kepada Manis.


“Baik Nyonya...”


Dengan tangannya sendiri, Si Manis membuatkan teh untuk ibu Wan Siang. Tangannya gemetar saat menyajikan teh itu di hadapan wanita Tionghoa itu. Ketika itu Wan Siang baru pulang dan menyaksikan pemandangan Si Manis menyajikan teh dengan wajah menunduk kepada ibunya.


“Kenapa Mama kemari?” tanya Wan Siang, perasaannya tidak enak.


“Apa tidak boleh kalau Mama mau ketemu anak Mama sendiri?” Ny. Liem balik bertanya.


“Aku yakin pasti Mama ingin sesuatu dariku lagi.”


“Benar. Mama ingin kamu berhenti jadi bandar judi.”


“Kenapa Mama ingin aku berhenti jadi bandar judi?”


“Kamu tahu, Mama sekarang bergaul dengan para istri anggota Kongkoan*. Mama malu punya anak bandar judi. Kalau kamu terus jadi bandar judi, bagaimana kamu bisa dapat jodoh dari kalangan keluarga terhormat?”


“Aku belum berpikir tentang pernikahan, Mama tak perlu repot menyuruhku berhenti dari pekerjaanku.”


“Aku tidak minat Ma. Lagipula ada Sun Kwan.”


“Kamu tahu kan Sun Kwan anak siapa? Dia itu anak haram, ndak pantes jadi pemimpin perusahaan keluarga kita. Mama mau anak laki-laki Mama yang memimpin.”


Wan Siang memilih diam, karena tidak mau berdebat.


“Pokoke Mama ndak mau tahu ya, kamu harus nurut apa kata Mama!” kata Ny.Liem dengan nada meninggi, membuat Si Manis yang mendengarnya ketakutan.


Syukurlah Ny.Liem tidak berlama-lama berkunjung ke rumah Wan Siang. Wan Siang begitu kesal karena hidupnya terusik lagi oleh keinginan Sang Mama. Tetapi sebagai anak yang diajarkan nilai-nilai untuk selalu patuh dan hormat kepada orangtua, ia tak berani membantah lebih jauh. Sedikit banyak itu memberikan tekanan bagi diri Wan Siang, seperti yang sering dialaminya waktu kecil.


Sesudah Ny. Liem pergi, Wan Siang menghampiri Si Manis.


“Di mana orang-orang, kenapa kamu yang menyajikan teh?”


“Nyonya itu menyuruh saya membuatkan teh, Tuan. Jadi saya buat dan menyajikan teh itu.”


“Suruh saja pembantu di dapur, tidak perlu kau yang membuat dan mengantarkan. Kamu di sini bukan pembantu, ngerti?”

__ADS_1


“Ngerti, Tuan.”


Melihat penampilan Si Manis yang mengenakan kebaya putih sederhana yang tampak tak jauh beda dari para pembantu, membuat Wan Siang menyadari satu hal. Gadis itu tak boleh lagi tampak seperti pembantu, supaya jika ibunya datang lagi, ia bisa mengetahui kedudukan Si Manis di rumah itu. Wan Siang ingin menjadikan Si Manis simbol perlawanan atas kemauan ibunya yang selalu menuntutnya untuk menikah dengan perempuan Tionghoa dari keluarga kaya dan terpandang.


Diajaknya Si Manis ke toko pakaian di Gang Warung.


“Kasih dia baju-baju kebaya paling mahal di sini, tapi jangan ada yang warnanya putih,” perintah Wan Siang kepada pelayan toko.


Pelayan itu sangat senang karena ada orang yang akan membeli pakaian-pakaian dengan harga paling mahal. Saat kebaya-kebaya mahal itu dikeluarkan, Manis tampak takjub dengan keindahannya. Bahannya bagus, jahitannya rapi, dengan warna dan motif yang mengundang decak kagum. Si Manis sendiri tidak yakin, apakah dirinya pantas memakai kebaya-kebaya mahal seperti itu.


“Aku lihat pakaianmu sudah banyak yang kesempitan, makanya aku belikan lagi yang baru-baru. Nanti pakaianmu yang pernah aku belikan dulu, jangan dipakai lagi. Mulai sekarang kamu pakai baju-baju yang lebih pantes,” ujar Wan Siang.


“Iya, Tuan.”


Wan Siang membeli selusin kebaya dan juga kain jarik batik tulis bermutu tinggi, ia menyuruh pelayan untuk mengirimkan saja baju-baju itu sesuai alamat yang ia berikan. Karena selanjutnya ia dan Si Manis pergi ke toko perhiasan.


“Tolong pilihkan perhiasan yang paling cocok untuk dia, lengkap, dari anting, kalung, gelang, cincin dan tusuk konde, semua dari emas 24 karat dan yang ada berliannya,” kata Wan Siang.


Pelayan toko perhiasan segera memilihkan perhiasan-perhiasan untuk dipakai Si Manis, dari pilihan mereka, Wan Siang sepertinya puas.


“Manis, mulai sekarang kamu pakai semua perhiasan emas ini, biar kamu ndak dianggep pembantu lagi.”


“Baik, Tuan.”


Si Manis tidak tahu menahu apa yang mendorong Wan Siang bersikap begitu emosional, sehingga dalam sekejap ia mengubah Si Manis berpenampilan seperti seorang ratu. Padahal lelaki itu biasanya bersikap tenang dan tak banyak berekspresi.


Si Manis pulang dengan memakai semua perhiasan barunya, ia juga masih memakai gelang giok yang diberikan Wan Siang dulu. Lalu Wan Siang mengumpulkan seluruh pembantunya di ruang tengah.


“Mulai sekarang, kalian semua harus nurut semua perintah dia,” perintah Wan Siang kepada semua pembantu.


“Iya, Tuan,” jawab mereka semua serempak.


“Dia bukan pembantu di rumah ini.”


“Mengerti, Tuan.”


Semua pembantu serta merta melirik ke arah Si Manis, gadis itu tampak memakai perhiasan bertatahkan berlian yang terlihat besar dan mahal. Pemandangan itu saja sudah membuat semua pembantu sadar atas kedudukan gadis itu di rumah Wan Siang, sehingga mereka tak ragu-ragu untuk menganggap Si Manis sebagai majikannya, seperti keinginan Wan Siang.


Keterangan:


Pachter: Penyewa lahan untuk semua hasil bumi, termasuk tanah untuk kolam ikan, yang diizinkan Belanda bagi orang Tionghoa.

__ADS_1


Kongkoan: Perkumpulan orang-orang Tionghoa berkedudukan yang diangkat oleh pemerintahan Hindia Belanda. Kongkoan berfungsi sebagai perpanjangan tangan Belanda untuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan orang Tionghoa.


__ADS_2