Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 26 Siasat Nyonya Liem


__ADS_3

Kedatangan Wan Siang tempo hari ke rumah orangtuanya dengan memakai pakaian ala Eropa rupanya memancing perhatian para pembantu di rumah itu. Pembantu di rumah itu rata-rata memiliki sikap yang sama, ingin mencari muka di hadapan nyonya majikannya.


“Nyonya, saya datang untuk memberitahukan sesuatu,” kata seorang pembantu pribumi setelah Ny. Liem pulang dari menghadiri upacara pernikahan anak temannya.


“Ada apa?”


Pembantu itu baru bekerja enam bulan di rumah Ny. Liem. Untuk menarik perhatian majikannya, ia berinisiatif melaporkan sesuatu yang sengaja ia ingin ketahui. Ditambah beberapa hal.


“Kemarin saya melihat seorang Sinyo berpakaian seperti Tuan Belanda datang kemari. Kata pembantu yang sudah lebih lama bekerja, katanya itu anak pertama Nyonya.”


“Kenapa dia kemari?”


“Dia mencari Tuan Sun Kwan, dan membicarakan masalah perempuan bernama Si Manis, kalau saya tidak salah dengar.”


“Aku tidak tahu tentang Si Manis.” Ny. Liem heran dengan temuan pembantunya, karena ia sendiri tak tahu menahu tentang perempuan yang disebut Si Manis itu.


“Kalau boleh saya bicara, saya kemungkinan tahu tentang siapa Si Manis itu.”


“Bagaimana kamu bisa tahu?”


“Dulu waktu saya disuruh membeli sesuatu di Pecinan, saya melihat Tuan anak pertama Nyonya bersama seorang perempuan Jawa berkebaya. Mungkin dialah yang disebut-sebut Si Manis itu. Tuan itu juga menggandeng tangannya sambil berpayung berdua.”


Nyonya Liem sangat terkejut dengan informasi yang baru saja diterimanya. Sejak kapan anak lelakinya itu berminat dengan orang Jawa?


“Apa kamu tidak salah lihat, Pur?” Tanya Ny. Liem, nama pembantu itu adalah Purwanti.


“Tidak salah Nyonya, saya masih ingat betul kejadiannya. Karena kejadian itu juga menarik perhatian banyak orang.”


Serta merta ingatan tentang kutukan Tini kembali menghantui Ny. Liem. Ketakutannya itu sekarang berada dalam babak baru, semakin lama semakin terasa nyata.


Dari laporan Purwanti, Ny. Liem bertanya kepada Siaw Cing.


“Mama dengar, Wan Siang kemarin ke sini memakai baju seperti Tuan Belanda.”


Siaw Cing sebenarnya sangat malas menjelaskan soal itu, tetapi jika Mamanya sudah mendesak, ia tak ada pilihan lain kecuali menjawabnya.


“Benar, Ma. Koh Wan Siang sekarang punya usaha tembakau di Kudus, mungkin itu sedikit banyak mengubah penampilannya. Dan dia hanya ada di Semarang hari Sabtu dan Minggu.”

__ADS_1


“Oh, jadi dia sudah punya usaha tembakau. Bagus sekali itu.”


“Sepertinya usaha Koh Wan Siang berjalan baik.”


“Kamu tahu soal perempuan bernama Si Manis?” Ny. Liem kembali bertanya, tetapi kali ini Siaw Cing merasa ragu dan enggan untuk menjawabnya.


Di dalam hatinya Siaw Cing mengumpat, sial! Dia lupa kalau di rumah itu mata-mata dengan kedok pembantu begitu banyak. Tidak tertutup kemungkinan salah satu dari mereka melaporkan kejadian pertemuan Wan Siang dan Sun Kwan, yang membicarakan Si Manis.


“Betul kamu tidak tahu hubungan Wan Siang dan perempuan bernama Si Manis?”


“Aku tidak tahu Ma.”


Nyonya Liem merasa tidak puas dengan jawaban anak perempuannya. Tetapi ia tentu selalu punya cara untuk mencari tahu dan menyelidiki lebih lanjut.


Yang jelas Ny. Liem mulai memikirkan bagaimana caranya agar Wan Siang bisa diperkenalkan dengan para putri orang terpandang yang menjadi teman-temannya.


***


Pada hari ulang tahun Ny. Liem, seperti biasa ia selalu mengadakan pesta dan mengundang teman-temannya, dan memberitahukan kepada mereka untuk membawa putri-putri mereka.


Demi menghormati mamanya, Wan Siang turut hadir. Ia memakai setelan ala Barat, yang sudah menjadi kebiasaannya. Penampilannya itu sangat menarik perhatian para tamu undangan, terutama para gadis remaja yang beranjak dewasa.


Menghadiri pesta ulang tahun mamanya pada hari itu seperti mengulang kembali peristiwa dua tahun lalu itu.


Wan Siang sudah tak peduli siapa lagi yang akan disodorkan mamanya. Ia hanya ingin mengobrol dengan Sun Kwan dan Siaw Cing, yang juga merasa tak nyaman berada di pesta tersebut.


Nyonya Liem tahu betul, Wan Siang yang sekarang sudah banyak berubah. Ia bercerita bahwa anak sulungnya itu sekarang menjadi pengusaha tembakau. Penampilan baru Wan Siang dan wajahnya yang tampan membuat banyak gadis yang hadir di sana menaruh perhatian.


“Jadi itu anak sulung Ny. Liem?” Seorang gadis bertanya kepada ibunya.


“Benar, namanya Liem Wan Siang, pengusaha tembakau di Kudus.”


“Liem Wan Siang...” Saat menyebut nama itu, Nona Hu tersenyum.


Pipi Nona Hu bersemu merah. Ia adalah anak perempuan seorang anggota Kongkoan, yang memiliki kedudukan di kalangan Tionghoa Semarang. Nama lengkapnya Hu Ai Lien. Ibu Nona Hu tahu bahwa anaknya kemungkinan besar menaruh perhatian kepada Wan Siang. Setiap memandang ke arah pemuda itu, Nona Hu tampak bersemangat dan tak henti-hentinya tersenyum.


Pesta-pesta selalu menjadi jalan pergaulan bagi orang-orang kelas atas. Jamuan makan malam diiringi musik yang mengalun merdu dari piringan hitam yang diputar melalui gramofon sangat mendukung suasana pesta yang berujung perkenalan.

__ADS_1


Ibu Nona Hu sengaja mendekati Ny. Liem agar anak perempuannya diberi kesempatan berkenalan dengan Wan Siang. Karena itulah Wan Siang dipanggil ibunya untuk diperkenalkan dengan Nona Hu.


Nona Hu adalah seorang gadis yang sebenarnya sudah menjadi incaran banyak pemuda Tionghoa di kalangannya. Ayah ibunya orang terpandang, yang memiliki usaha di bidang peternakan. Yang membuat gadis itu menonjol tentu saja kecantikannya. Dia juga tak mudah diluluhkan dengan rayuan. Nona Hu melihat Wan Siang sebagai sosok yang berkarisma, tampan, dan tidak banyak berekspresi. Tetapi justru sikap Wan Siang yang penuh misteri di mata Nona Hu inilah yang menarik perhatiannya.


“Perkenalkan ini Hu Ai Lien, anak perempuan Tuan dan Nyonya Hu,” ujar Ny. Liem memperkenalkan gadis itu kepada Wan Siang.


“Dan ini adalah anak sulungku, Liem Wan Siang,” lanjut Ny. Liem memperkenalkan anaknya kepada seluruh anggota keluarga Hu.


Wan Siang dan Nona Hu saling menunduk hormat. Wan Siang sudah biasa dengan basa-basi seperti itu, sehingga ia hanya memberi penghormatan selayaknya. Namun bagi Nona Hu, perkenalan itu sangat berarti.


“Silahkan kalian mengobrol berdua,” kata Ny. Liem.


Begitulah siasat Nyonya Liem, acara ulang tahunnya kali ini adalah usaha terselubung untuk memperkenalkan anaknya kepada para gadis muda dari kalangan atas. Tak perlu diragukan betapa pandainya Ny. Liem mengatur mimik wajah dan keramahan saat menyambut para tamu undangannya, seolah ia adalah pemain sandiwara yang tulen.


Cara yang sama pernah berhasil saat memperkenalkan Wan Siang dengan Nona Sie. Ny. Liem ingin mengulang keberhasilannya yang dulu itu. Jika ia kehilangan kesempatan menjadikan Nona Sie sebagai menantu, itu masih tak mengapa. Namun Ny. Liem benar-benar menginginkan Nona Hu jadi menantu, karena kedudukan keluarganya dan kekayaannya.


Menurut Ny. Liem, orang kaya selayaknya berpasangan dengan orang kaya, agar bertambah pula kekayaan mereka, sehingga tak habis dimakan anak keturunan. Apalagi kalau ditambah rasa hormat dari orang lain, tentunya itu akan semakin menaikkan pamornya di kalangan masyarakat Tionghoa.


“Wan Siang, kudengar kau adalah pengusaha tembakau di Kudus.” Nona Hu membuka percakapan.


“Benar sekali.”


“Bagaimana usaha tembakaumu, apa berjalan lancar?”


“Sejauh ini baik-baik saja.”


“Aku turut senang, semua usaha pasti terpukul karena zaman meleset, usaha keluargaku juga, tetapi kami masih bisa bertahan.”


“Aku harap kita semua bisa bertahan, bagaimanapun hidup harus tetap berjalan.”


Nona Hu sangat senang, Wan Siang mau berbicara dengannya. Di tengah-tengah pembicaraan, ia selalu memandang wajah tampan Wan Siang, juga bagaimana ia berbicara. Nona Hu merasa, pria itu adalah pria yang sopan dan lembut, bukan perayu seperti para pemuda yang pernah berusaha mendekatinya.


Catatan Kak Otor:


Maaf kalau babnya terasa lebih pendek, tetapi mulai hari ini Kak Otor akan up setiap hari. Biar pembaca tidak menunggu lama kelanjutan cerita Tuan Muda Liem.


Kenapa menjadi pendek, sebab Kak Otor harus membagi waktu tiap hari. Setelah menulis, langsung dilanjutkan dengan membaca, bagaimanapun juga waktu luang Kak Otor terbatas, dan masih ditambah dengan kegiatan di real life.

__ADS_1


Semoga para readers dapat mengerti kebijakan Kak Otor yang baru ini.


Happy reading :)


__ADS_2