
Penolakan Wan Siang hari sebelumnya memang menyakitkan hati Nona Hu, tapi belum sampai membuat gadis itu patah semangat. Terlebih lagi karena dia mengetahui status hubungan Wan Siang dan Si Manis yang menurutnya belum tentu akan berhasil.
Nona Hu jadi terdorong untuk mengambil langkah berikut yang sekiranya perlu dilakukan. Salah satunya hendak ia lakukan hari itu, mendatangi Si Manis saat Wan Siang tidak ada di rumah.
Seandainya Wan Siang tahu apa yang akan dilakukan Nona Hu, tentu dia akan mencegah Nona Hu berbicara dengan Si Manis. Itu karena Wan sangat ingin melindungi Si Manis yang amat disayanginya.
Namun orang memang suka menggunakan kesempatan dalam kesempitan, dan memanfaatkan kelemahan orang lain untuk mencapai tujuan.
Di mata Nona Hu, dan menurut keterangan Sun Kwan, Si Manis itu perempuan yang sederhana. Nona Hu berpikir, jika ia dapat mempengaruhi pikiran Si Manis yang sederhana itu, mungkin dia masih punya kesempatan untuk bersama dengan Wan Siang.
Pada hari Selasa, setelah kegiatan belajar mengajar dengan Ny. Tan selesai, Si Manis dengan tenang duduk di ruang tengah sambil menata bunga di dalam vas keramik biru putih yang ada di atas meja. Si Manis sangat suka bunga sedap malam yang menguarkan bau wangi yang kalem, terutama pada malam hari.
Bunga sedap malam juga berfungsi sebagai pengharum ruangan alami, ditata di dalam vas keramik dan diberi air seperlunya untuk menjaga kesegaran bunga itu. Untuk menjaga keawetan bunganya, Si Manis menambahkan sedikit cuka ke air dalam vas.
Tadinya Si Manis tidak mengetahui tentang keistimewaan bunga sedap malam dan bagaimana menatanya. Nyonya Tan-lah yang memberitahunya. Awalnya Ny. Tan membawakan seikat bunga sedap malam berjumlah 20 batang karena melihat vas keramik yang kosong. Setelah itu, Si Manis jadi selalu ingin ada bunga sedap malam di dalam rumah Wan Siang.
Kala itu Si Manis sedang memotong batang bunga sedap malam yang terlalu panjang dengan bentuk serong untuk ditata bersama bunga-bunga yang lain dengan ukuran tertentu, sehingga lebih rapi jika dimasukkan dalam vas.
Nona Hu datang bersama pelayan wanitanya. Ia tersenyum kepada Si Manis yang terkejut saat mengetahui kedatangannya. Nona Hu sengaja menampakkan keramahan agar Si Manis mau menerimanya sebagai tamu.
Sebagai tuan rumah mewakili Wan Siang, Si Manis menerima Nona Hu dengan sikap penuh adab sopan santun. Gadis Jawa itu mempersilahkan Nona Hu duduk tak jauh dari tempatnya menata bunga sedap malam.
“Bunga yang indah,” kata Nona Hu membuka pembicaraan.
“Iya Non, indah dan wangi. Cocok kalau ditaruh di vas keramik biru putih,” jawab Si Manis.
Si Manis berusaha bersikap santai di hadapan Nona Hu yang terlebih dahulu mencoba membuat suasana tidak canggung.
“Kau pasti kaget melihat aku datang kemari, apalagi saat Wan Siang tidak di rumah.”
“Iya saya kaget, karena pasti bukan Engkoh Wan Siang yang Nona cari.”
“Aku ke sini memang ingin menemuimu.”
__ADS_1
“Oh, kalau boleh tahu, apa yang mau Nona bicarakan sama saya?” Tanya Si Manis.
“Aku tahu hubunganmu dengan Wan Siang belum diketahui orangtuanya.”
“Iya, benar.”
“Menurutmu kalau orangtua Wan Siang tahu, apa mereka bisa setuju hubungan kalian berdua?”
Si Manis tidak terkejut jika Nona Hu bertanya demikian, seperti yang sudah ia katakan tempo hari kepada Wan Siang. Dia sudah memasrahkan masalah cintanya kepada Tuhan, jadi sedikit pun dia tidak merasa sedih dan khawatir.
“Hidup, mati, rejeki, jodoh sudah ada yang mengatur. Saya tidak khawatir soal itu.”
“Tapi aku mengerti, kau dan Wan Siang saling mencintai, kan?”
“Iya... Saya cinta Koh Wan Siang, dan cuma itu yang saya bisa.”
“Kupikir, kalau melihat sifat dan keinginan Ny. Liem, kemungkinan dia tidak bisa menerima hubungan kalian.”
Nona Hu mulai melancarkan kata-kata untuk mempengaruhi pikiran Si Manis lebih lanjut.
“Manis, apakah kau tahu apa yang bisa terjadi dengan Wan Siang kalau dia tak menuruti keinginan orangtuanya?”
“Saya tidak tahu.”
“Aku ke sini bermaksud baik, sungguh. Kalau Wan Siang tak menuruti keinginan orangtuanya, ia bisa terusir dari keluarganya. Padahal hubungan keluarga itu penting, kan?"
“Tentu penting, Nona.”
“Aku tahu kalian saling cinta, dan kau pasti juga tidak mau ia terpisah dengan keluarga besarnya. Jadi aku mau menawarkan pemecahan untuk permasalahan ini.”
Si Manis baru selesai menata bunga dan perhatiannya jadi terpusat ke Nona Hu. Raut wajahnya masih tenang dan ia ingin mendengarkan perkataan Nona Hu yang ingin menawarkan solusi masalah percintaan yang pelik itu.
“Menurut Nona, bagaimana baiknya?”
__ADS_1
“Begini... eh... biarkanlah Wan Siang menikah denganku. Aku berjanji tak akan memisahkan dia denganmu, aku akan memperhatikan kebutuhanmu. Aku ini bukan orang jahat, kau percaya kepadaku kan?”
Si Manis agak terkejut saat mendengar yang barusan dari mulut Nona Hu.
“Nona Hu, jika Nona mau menikah sama Koh Wan Siang, Nona minta saja ke dia, jangan ke saya. Kan saya sudah bilang, urusan ini terserah Koh Wan Siang, saya ikut keputusan dia. Kalau Koh Wan Siang mau menikah dengan Nona, saya tidak bakal halangi. Soal hidup saya, Nona tidak usah pikirkan. Saya sudah dewasa, bisa ngurus diri sendiri.”
Nona Hu merasa kaget dengan ungkapan pemikiran Si Manis. Gadis Jawa itu tampak sederhana, tetapi bisa berpikir dengan begitu baik. Rupanya gadis itu tidaklah bodoh dan sesederhana yang ia kira.
“Baik, aku mengerti. Sekarang aku mau tanya, secara pribadi apakah kau rela jika satu lelaki memiliki dua orang istri?”
“Kalau Nona mau tahu, tentu saya tidak ingin cinta dan perhatiannya dibagi dua. Soalnya lelaki itu belum tentu bisa adil. Pasti ada satu istri yang lebih disukai. Kalau Koh Wan Siang lebih memilih saya, itu tak adil buat Nona. Saya tidak mau kalau jadinya seperti itu, nanti malah Nona sedih.”
“Aku tahu itu. Buatku itu tidak masalah, asal dia mau jadi suamiku.”
“Sekarang tinggal Nona bilang ke Koh Wan Siang supaya mau menikahi Nona. Habis itu, silakan kalau mau pikirkan saya.”
Nona Hu sekali lagi merasa dihadapkan dengan masalah utamanya, ia harus menaklukkan Wan Siang dan membuat lelaki itu mau mengubah keputusannya, dari menolak menjadi menerima dirinya.
Tetapi bukankah masalah Nona Hu memang Wan Siang? Laki-laki itu tidak bergeming sedikitpun saat ia menangis dan memohon cintanya.
Tadinya Nona Hu berpikir, dengan mempengaruhi pikiran Si Manis, gadis itu akan membuat Si Manis membujuk Wan Siang untuk mengubah keputusannya. Tetapi yang terjadi, Si Manis malah tidak ambil pusing dengan hubungan mereka berdua dan menyerahkan segala keputusan ke Wan Siang. Artinya, Si Manis tidak akan melakukan apa pun untuk membujuk Wan Siang.
Dengan begitu, rencana Nona Hu agar Wan Siang mengubah keputusan tidak akan berhasil. Tanpa melakukan apa pun, Si Manis sudah mengalahkan Nona Hu secara telak.
“Aku mengerti, aku pikir kau sangat takut kehilangan dia,” kata Nona Hu.
“Iya, saya tak mau kehilangan dia, tapi saya bisa apa? Koh Wan Siang sudah dewasa, mana bisa saya atur-atur dia supaya pergi atau tinggal dengan saya?”
Nona Hu merasa Si Manis wanita yang berpembawaan tenang tapi menghanyutkan. Entah apa yang dia lakukan sampai Wan Siang bisa bertekuk lutut di hadapannya. Selain itu, Si Manis juga tampak sangat mengenal dan mengerti diri Wan Siang, jauh lebih baik dibanding Nona Hu.
“Kau sudah tinggal bersama dengan Wan Siang cukup lama, tak heran kalau kau bisa memahaminya.”
“Bukankah cinta memang sering lahir dari saling kenal dan karena terbiasa?”
__ADS_1
“Kau beruntung karena punya kesempatan mengenalnya lebih dalam. Sedangkan dia sudah menutup jalan itu untukku.”
“Saya dibawa ke sini dalam keadaan terpaksa, entah itu bisa disebut untung atau sial. Yang jelas waktu itu, saya lebih suka bermain dengan teman saya di rumah, daripada harus tinggal di sini bersama lelaki yang tidak saya kenal.”