
Jangan ditanya betapa terkejutnya Si Manis saat Wan Siang mencium bibirnya. Dunianya saat itu bagaikan diguncang oleh gempa bumi besar. Tetapi bukannya mencoba lari dari terkaman Wan Siang, gadis itu malah terpaku di tempatnya berada. Tubuhnya seperti membeku tak bisa bergerak dalam daya tarik lelaki itu.
Bibir Wan Siang memang tampak menarik bagi siapa saja yang melihatnya, tetapi tak semua orang bisa merasakan sensasi dan rasa bibir tersebut. Tetapi Si Manis jelas-jelas dapat merasakannya. Belum pernah bibirnya tersentuh sesuatu yang begitu lembut dan hangat seperti itu. Ia bahkan dapat merasakan kesegaran nafas Wan Siang dan aroma tubuh khas lelaki yang harum, sebab tubuh Wan Siang menempel pada tubuhnya.
Akhirnya Wan Siang melepaskan ciumannya. Ia sengaja mencium dengan lembut agar Si Manis merasa nyaman. Yang dia tidak tahu, akibat ciuman itu, tubuh Si Manis bagaikan meleleh, bahkan tak memiliki kekuatan untuk sekedar bersuara.
Setelah beberapa saat, barulah gadis itu dapat berkata-kata.
“Tuan apakan bibirku?”
“Aku hanya mengusapnya, dengan bibirku. Tujuanku biar kamu nyaman. Apa sekarang kamu sudah merasa nyaman?”
“Saya tidak tahu. Yang jelas saya kaget sekali.”
“Apa rasanya enak?”
Pertanyaan Wan Siang itu dipikirkan oleh Si Manis. Tentu saja bibir Wan Siang terasa lembut dan sangat menyenangkan selagi menempel ke bibir gadis itu. Seandainya Wan Siang tidak melepaskannya, tentu Si Manis sekarang masih terpaku di tempat dan menikmati.
Tujuan Wan Siang menanyakan rasa ciumannya memang untuk menggoda Si Manis, sehingga ia tak begitu berharap gadis itu menjawab dan berterus terang. Ia jelas-jelas menikmati pemandangan raut muka Si Manis yang kebingungan. Seperti seorang guru yang memperhatikan muridnya dan menunggu jawaban dari pertanyaan sulit yang dilontarkannya.
“Saya mau istirahat, saya agak capek hari ini,” ujar Si Manis. Ia menghadap ke sisi kiri tempat tidur untuk menghindari wajah Wan Siang, ia malu sekali.
***
Saat memandikan Wan Siang selalu menjadi saat yang paling mendebarkan bagi Si Manis. Tetapi setelah peristiwa malam terdahulu, ketika Wan Siang sudah berhasil menciumnya, perasaan Si Manis bertambah kacau.
Untuk meredam kekacauan hatinya, Si Manis menghirup nafas dalam-dalam demi menguatkan diri. Ia berusaha berpikir bahwa yang ia lakukan hanyalah tugas merawat orang sakit. Wan Siang memang terluka akibat perkelahian dengan gurunya, tetapi luka hati juga bisa mengakibatkan jiwa orang terguncang, sehingga orang itu berbuat aneh-aneh.
Mungkin Tuannya bertindak aneh akibat guncangan jiwa, dan yang bisa dilakukan Si Manis adalah memakluminya. Si Manis tak tahu sampai batas mana Wan Siang akan berbuat semakin aneh.
Saat Wan Siang sudah membuka seluruh pakaiannya, dan Si Manis telah tenggelam dalam dunia yang gelap seketika saat menutup mata. Ia tak mendengar tanda-tanda tuannya sudah memasuki bak mandi berisi air hangat yang telah disiapkan.
Perasaan Si Manis tidak enak, karena itu tidak seperti biasanya. Memang benar, Wan Siang masih terpaku di tempat dan belum punya keinginan untuk menceburkan diri ke dalam bak. Malah otaknya sedang memikirkan sesuatu yang agak gila.
Mendadak Wan Siang mengangkat tubuh Si Manis dan menceburkan gadis itu ke dalam bak. BYUURRR!!!
“AAA!!!” Si Manis berteriak.
Tubuh dan pakaiannya serta merta basah, diikuti suara tawa Wan Siang.
“HAHAHAHA.....” Wan Siang terus tertawa, hatinya sangat puas karena berhasil mengerjai Si Manis.
Terdorong oleh rasa terkejutnya, Si Manis tanpa sadar membuka matanya dan tampaklah pemandangan yang selama ini berusaha dihindarinya sedapat mungkin... Wan Siang tanpa busana.
“AAAAAAA!!!!” Si Manis melanjutkan teriakannya, malah lebih kencang dari yang pertama.
Wan Siang tertawa semakin keras, sudah lama ia tidak tertawa sepuas dan sekencang itu. Wajah putihnya sampai berubah merah, hatinya merasa sangat senang dan puas. Bukan hanya wajahnya, sebagian tubuhnya juga bersemu merah. Itu kelihatan juga oleh Si Manis, tanpa sengaja.
“HAHAHAHAHAHAHA....”
Si Manis buru-buru menutup matanya lagi. Ia sangat gugup, badannya basah seperti kucing yang baru saja dicemplungkan ke dalam kolam. Namun walaupun gadis itu sudah menutup mata, apa yang barusan dia lihat tak bisa dihapuskan lagi dari pikirannya. Tubuh seorang laki-laki.
__ADS_1
Mata Si Manis telah menyaksikan seluruh bagian tubuh Wan Siang yang tidak ditutupi barang sehelai benang pun. Pipinya menjadi merona kemerahan seperti pengantin baru yang melihat tubuh pasangannya pada malam pertama. Jantungnya berdebar-debar, apalagi dia menyadari itulah tubuh yang sudah beberapa hari dia sentuh dan usap-usap ketika memandikan Wan Siang.
“Kok tutup mata? Kan kamu sudah lihat semuanya?” goda Wan Siang. “Kamu juga sudah biasa pegang kan...”
“Tuan nakal! Tega sekali Tuan... huhuhu....” Si Manis menangis sesenggukan seperti anak kecil dan ia harus menangis dengan mata tertutup, betapa merepotkan. Gadis itu menutupkan kedua telapak tangannya ke muka untuk menutupi wajahnya yang sangat malu.
Wan Siang berhenti tertawa kala melihat Si Manis mulai menangis. Sepertinya ia sadar kalau perbuatannya itu memang keterlaluan.
“S-saya takut kecebur, Tuan. Dulu ... ada teman saya yang ceburkan saya ke blumbang (danau kecil), saya tidak bisa berenang, mau mati rasanya, uhh... huuu,” kata Si Manis sambil sesenggukan.
“Tapi ini kan cuma bak mandi? Mana bisa kamu tenggelam di dalamnya.”
“Ya, tapi dilempar ke air itu seram. Jangan lempar saya lagi, saya tidak suka dilempar seperti itu, huhuhu....” Si Manis meluapkan kemarahannya sambil terus menangis.
Setelah itu Si Manis berusaha keluar dari bak dan menggapai-gapai handuk dan menutupkannya ke tubuhnya yang basah kuyup. Kali ini ia benar-benar marah.
“Tuan mandi sendiri saja,” ujar Si Manis.
Si Manis selalu menahan emosinya saat menghadapi Wan Siang, tetapi saat itu ia benar-benar tak bisa mengendalikan diri lagi. Padahal ia sudah berbaik hati mengurus tuannya, tapi tuannya itu malah sengaja berbuat sesuatu yang membuatnya marah.
Wan Siang menyadari Si Manis memang benar-benar marah. Lelaki itu akhirnya mau mandi sendiri. Setelah selesai, ia menunggu Si Manis mengantarkan baki sarapan ke kamar seperti biasa, tetapi gadis itu tak kunjung muncul.
Karena tak segera muncul, Wan Siang menghampiri Si Manis di kamar gadis itu. Rupanya Si Manis telah berganti pakaian dan sekarang sedang duduk di tempat tidurnya dengan wajah cemberut.
“Kamu masih marah?”
Pertanyaan itu tak ditanggapi dengan suara, tetapi raut wajah Si Manis yang semakin masam sudah cukup sebagai jawaban untuk Wan Siang.
“Siapa yang suka diceburkan?”
Akhirnya Si Manis membuka suaranya, makin lama ia makin lancar mengutarakan isi hatinya. Dia tak lagi menahan diri.
“Aku minta maaf,” ujar Wan Siang seraya ikut duduk di samping Si Manis di ranjangnya. Seperti seorang suami yang pengertian.
Si Manis sepertinya belum bisa meredakan gejolak emosi dalam hatinya, ia tak menanggapi permintaan maaf Wan Siang. Ia malah membuang muka menghindari wajah lelaki itu.
“Biasanya kamu selalu tenang. Kenapa sekarang bisa semarah ini? Permintaan maafku pun tak ditanggapi.”
“Saya masih marah, belum bisa memaafkan. Tuan sangat keterlaluan, padahal saya selalu pikirkan Tuan. Tapi apa yang Tuan lakukan?”
“Terus aku harus bagaimana sekarang?” Tanya Wan Siang.
“Mulai sekarang Tuan harus mandi sendiri. Setiap memandikan Tuan, saya selalu ketakutan.”
“Kamu takut apa?”
“Takut kalau saya melihat badan Tuan.”
“Apa badanku seram?”
“Tidak, tapi... Ahhh... saya bingung jawabnya. Jangan tanya itu lagi.” Selain rasa marah, Si Manis juga dilanda rasa malu.
__ADS_1
Tentu saja tubuh Wan Siang jauh dari kata menyeramkan. Kalau boleh dibilang, justru tubuhnya mengandung sejuta keindahan yang bisa nikmati oleh mata orang yang berkesempatan melihatnya. Si Manis adalah salah satu orang yang mendapat kesempatan itu. Sialnya, walaupun gadis itu berusaha ingin melupakan kenangan melihat tubuh Wan Siang, kenangan itu malah semakin jelas di benaknya. Seandainya kenangan bisa dihapus begitu saja, tentu Si Manis ingin sekali melakukannya.
Kenangan tentang tubuh Wan Siang yang dia lihat pagi itu seperti menghantui dan meracuni pikirannya. Padahal waktu kecil ia sering melihat anak-anak kampung bermain di blumbang, bahkan tak sedikit di antara mereka yang telanjang. Tetapi Si Manis merasa itu pemandangan biasa.
Melihat tubuh Wan Siang yang telanjang adalah perkara lain. Si Manis bukanlah istri Wan Siang, tetapi ia telah melihatnya seperti seorang istri melihat suami. Dan sepertinya hanya seorang istrilah yang seharusnya berhak memandang lelaki dalam keadaan seperti itu.
“Baik, mulai sekarang aku mau mandi sendiri. Apa kau puas?” tanya Wan Siang. Ia ingin cepat meredakan kemarahan Si Manis.
“Sebaiknya begitu,” ujar Si Manis.
“Nah, sekarang waktunya kamu suapi aku, aku sudah lapar.”
“Kenapa Tuan tak makan sendiri saja? Saya tak mau menyuapi Tuan, saya masih marah.”
Wan Siang agak heran, karena Si Manis yang marah bisa menjadi keras kepala seperti itu.
“Itu kan lain urusan, kenapa jadi tidak mau menyuapi aku makan?”
“Karena saya masih marah.”
Seumur-umur Liem Wan Siang belum pernah menghadapi perempuan yang marah seperti itu kepadanya. Karena hampir tidak punya pengalaman menghadapi perempuan yang sedang marah, reaksinya sungguh di luar dugaan.
Wan Siang memeluk tubuh Si Manis erat-erat dari belakang hingga gadis itu tak bisa bergerak.
“Kalau kamu tidak mau maafkan aku, aku tidak akan melepaskan kamu.”
“Lepaskan saya...”
“Tidak, maafkan aku dulu, baru aku lepaskan.”
“Tuan tahu kan saya lagi marah, memangnya gampang memaafkan orang?”
“Oh kalau begitu, aku akan tetap begini, kalau perlu sampai pagi.”
Dua orang itu melakukan perundingan yang sangat aneh. Masing-masing memiliki sifat keras kepala. Semakin Si Manis berkeras dengan pendiriannya, Wan Siang semakin erat memeluknya.
Dalam posisi seperti itu, Si Manis tidak berdaya, ia mencoba mengatur nafasnya baik-baik. Di setiap tarikan nafas, ia juga berupaya mengendalikan perasaannya. Jantungnya berdetak sangat cepat, hingga mau meledak rasanya.
“Tuan ini tahu tidak sih perempuan kalau marah harus diapakan?”
Wan Siang tidak ingat kapan ia harus rela merendahkan dirinya demi membujuk seorang wanita agar tidak marah kepadanya.
“Tidak, aku tidak pernah perlu urusi orang marah. Tapi yang jelas aku perlu bikin kamu tidak marah. Kalau kamu tidak maafkan aku, aku akan peluk terus seperti ini. Kalau kamu terus marahi aku, aku cium kamu. Sekarang kamu yang pilih.”
Si Manis sudah kehilangan akal, ia tidak bisa menghindari Wan Siang lagi. Justru semakin ia menghindar, lelaki itu akan semakin memperlakukannya seperti tahanan.
“Baik, saya maafkan Tuan!” Si Manis berteriak.
Wan Siang akhirnya mau melepaskan Si Manis, ia tersenyum penuh kepuasan karena caranya berhasil, walau agak memaksa.
“Sekarang waktunya makan,” ujar Wan Siang dengan wajah datar seperti tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Si Manis masih kesal, tetapi tetap menuruti keinginan Wan Siang. Si Manis menyuapi Wan Siang, tetapi entah kenapa Wan Siang jadi lebih sering tersenyum. Sebaliknya Si Manis tetap cemberut tapi tak berani bilang kalau ia masih marah.