
Wan Siang tidak tahu kalau Tini dan anak perempuannya akan datang hari itu. Ia sendiri juga terkejut, tetapi juga senang karena Tini mengunjunginya lebih cepat dari yang ia duga.
Tini sudah berpisah lama dari Wan Siang yang ia sayang. Saat takdir mempertemukan mereka lagi, dan dia mendengar bahwa anak yang dulu diasuhnya telah kawin lari dan hidup terpisah dengan keluarga besar, hati Tini tersentuh dan iba.
Ia datang bukan hanya sebagai mantan pengasuh. Naluri keibuannya seperti ingin memberi perlindungan dan kasih sayang kepada Wan Siang dan istrinya.
“Ini kejutan dan takdir yang tidak disangka-sangka,” kata Ny. Liem begitu Tini memasuki rumah Wan Siang.
Waktu serasa berhenti sesaat dan memutar lagi kenangan masa lalu antara Tini dan Ny. Liem. Tuduhan dan pengusiran yang semena-mena itu seperti baru kemarin dialami oleh Tini, sehingga membuat hati perempuan itu bergetar.
“Nyonya Liem... senang bertemu lagi dengan Anda,” kata Tini dengan penuh ketenangan. Karena telah terbiasa menjadi nyonya besar di perkebunan tembakau yang membawahi ratusan petani, etiket sebagai wanita kelas atas yang anggun sudah melekat pada diri Tini. Sehingga ia tampil penuh percaya diri.
Tini memakai kebaya dengan warna dasar merah muda dengan corak bunga-bunga putih, perhiasannya begitu indah, mulai dari giwang, cincin, gelang dan kalung emas bertatahkan permata berwarna putih berkilauan.
Ny. Liem ingat dosanya pada masa lalu, ketika menuduh Tini mencuri perhiasan. Sekarang wanita yang pernah dituduhnya itu malah memakai perhiasan yang indah dan masih banyak lagi yang tidak ia pakai di rumahnya. Sejenak Ny. Liem takjub dengan penampilan Tini.
“Mungkin aku harus memanggilmu Nyonya Willem sekarang. Tak disangka kita bisa berjumpa lagi di sini,” kata Ny. Liem.
“Iya, begitulah saya sekarang Nyonya. Demi menghormati almarhum suami saya.”
“Kau pasti ingat peristiwa dulu yang kurang enak di antara kita.”
“Mengapakah kita harus terus memikirkan masa lalu? Lebih baik memikirkan masa sekarang, karena sejatinya kita hanya hidup pada masa kini, masa depan juga belum pasti.”
“Tetapi aku perlu meluruskan soal masa lalu kita, Nyonya Willem. Aku minta maaf karena telah menuduhmu mencuri perhiasanku dulu. Aku dulu terdorong perasaan iri, sebab kau dan anakku begitu dekat.”
“Peristiwa itu mengubah jalan hidup saya, Nyonya. Kalau bukan karena itu, saya belum tentu bertemu dengan Tuan Willem dan menikah dengannya.”
“Apakah kau tidak merasa dendam kepadaku?”
“Mengapa harus menyimpan sesuatu yang menghambat kita untuk berbahagia, Nyonya? Dendam ibarat duri yang menusuk kaki kita, jika kita tidak mencabut duri itu, tentu perjalanan kita tidak akan lancar dan nyaman. Saya sudah lama mencabut duri itu, dan merasakan kebahagiaan dengan kehidupan saya yang baru.”
Kata-kata yang keluar dari mulut Tini adalah buah pikiran seorang wanita bijaksana. Seperti yang dirasakan juga oleh Ny. Liem, setelah menghapuskan dendam di hati, hidupnya terbebas dari rasa sakit dan dipenuhi dengan berkah kebahagiaan.
__ADS_1
“Kau memang seorang wanita yang baik, Nyonya Willem. Seandainya Wan Siang terus dalam pengasuhanmu, pastilah ia akan tidak pernah tersesat dalam hidupnya.”
“Saya lihat Wan Siang sekarang sudah jadi laki-laki yang hebat. Tentu ibunya juga seorang yang luar biasa.”
“Aku cuma bisa memarahinya, mana bisa disebut ibu yang luar biasa?”
“Nyonya marah pasti bukan karena benci.”
“Bukan karena benci, hanya ingin dia menjadi anak yang hebat.”
“Walaupun cara kita berbeda dalam mendidik anak, tetapi pada akhirnya niat kita sama, ingin anak-anak itu menjadi sosok yang hebat. Hanya, cara yang berbeda tentu memiliki konsekuensi yang berbeda juga.”
“Eh... Nyonya Willem, dalam kesempatan ini, izinkan kami mengundang Anda dan keluarga untuk menghadiri pernikahan anak kedua kami, Sun Kwan. Tepatnya pada hari Minggu kedua bulan depan.”
“Benar Nyonya, saya yang akan menikah,” kata Sun Kwan.
Tini memindahkan pandangannya kepada Sun Kwan. Ketika Tini pergi dulu, Sun Kwan masih berusia empat tahun dan amat lucu.
“Maaf Nyonya, saya memang kurang ingat.”
“Senang sekali bisa berjumpa lagi, Nyonya Willem,” kata Tuan Liem.
Tini juga sangat senang karena masih bisa berjumpa dengan Tuan Liem dalam keadaan sehat. Ia ingat kebaikan Tuan Liem kepadanya. Pria itu selalu menanyakan perkembangan Wan Siang kepadanya dulu. Juga tak pernah sekalipun memarahinya.
“Tuan Liem, saya bersyukur masih diberi kesempatan bertemu dengan Anda lagi. Melihat keluarga Liem berkumpul dengan perasaan bahagia seperti ini, saya terharu.”
Tak lupa Tini memperkenalkan Elsa, anak perempuan sambungnya kepada semua orang. Elsa seorang wanita berdarah Belanda totok yang manis. Tubuhnya tinggi, langsing, berkulit putih dan berambut pirang seperti ibunya yang telah lama meninggal. Ketika ibunya meninggal, Elsa masih berusia 5 tahun, sehingga Tuan Willem memerlukan seorang pengasuh untuknya. Dua tahun kemudian, ayahnya menikahi Tini. Kini gadis itu telah berusia 24 tahun.
Orang Belanda berdarah murni menempati kasta tertinggi dalam tatanan pemerintahan Hindia Belanda, sehingga orang pribumi dan Tionghoa pastinya harus menghormati mereka. Tetapi walaupun menyadari kedudukannya sebagai manusia dengan kasta tertinggi, Elsa tidak tinggi hati. Pengasuhan Tini membuatnya tumbuh menjadi gadis yang baik dan rendah hati. Karena Tini mengajarkan, sesungguhnya orang yang bisa bersikap rendah hatilah yang akan mendapatkan rasa hormat dari orang lain dan bukan sebaliknya.
“Nama saya Elsa, senang bertemu dengan Anda semua.” Elsa memperkenalkan diri dengan ramah dan anggun.
Semua orang pada hari itu sangat berbahagia, masing-masing memikirkan hikmah perjalanan kehidupan mereka masing-masing. Mengapa harus ada pertemuan dan perpisahan, dan semua peristiwa yang terjadi di antaranya.
__ADS_1
***
Setelah semuanya pulang, Wan Siang dan Si Manis berbincang-bincang sejenak sebelum tidur pada malam hari. Dari tadi Si Manis tersenyum bahagia. Belum pernah ia sebahagia hari itu.
“Koh, kalau tidak bertemu dengan Engkoh, tidak mungkin saya bisa bahagia seperti hari ini,” kata Si Manis.
“Padahal dulu kamu nangis-nangis waktu kubawa pulang,” kata Wan Siang.
“Siapa yang tidak takut Koh kalau dibawa pulang sama orang yang tidak dikenal.”
“Jadi benar ya, tak kenal maka tak sayang, malah bikin nangis anak orang.”
“Dulu saya tidak tahu sifatnya Engkoh, baik atau buruk, lalu kalau sudah dibawa pulang, mau diapakan saya juga tidak tahu.”
“Jadi dulu kamu pikir aku bakal jahat sama kamu?”
“Sempat kepikiran, soalnya Engkoh kan suka mabuk. Orang mabuk suka aneh-aneh, siapa tahu saya bakal kena pukul....”
Wan Siang tidak habis pikir kalau Si Manis pernah berpikir seburuk itu kepadanya.
“Aku memang suka berkelahi dulu, tapi tidak mau pukul perempuan. Bukan laki-laki sejati namanya kalau berani pukul perempuan.”
“Engkoh memang lelaki sejati. Engkoh juga pemberani dan tegas. Tidak heran kalau Engkoh hidupnya selalu sukses. Sekarang jadi pengusaha juga sukses.”
“Di balik laki-laki yang berhasil, ada perempuan yang mendukung dan mendorongnya menjadi berhasil. Ya itu kamu, Manis. Tapi kalau pas jadi bandar judi dulu, itu karena aku memang suka kemenangan dan benci kekalahan. Karena didikan Mama.”
“Jadi benar kata Nyonya Tini tadi. Mama Engkoh sedikit banyak juga menjadikan Engkoh seorang lelaki yang hebat.”
“Ya... tapi aku kalau jadi orangtua, tidak mau mendidik seperti Mama. Kan bisa tetap mendorong anaknya maju tapi dengan kasih sayang. Kamu tidak tahu dulu hidupku sering tertekan karena Mama. Tapi aku sudah maafkan semua sikap Mama yang dulu itu. Sekarang lebih baik memandang ke depan.”
“Benar Koh. Nanti kita didik anak-anak kita dengan penuh kasih sayang ya.”
Wan Siang dan Si Manis mengambil pelajaran berharga dari kehidupan orangtua mereka, masa lalu yang buruk bukan untuk selalu ditangisi dan disesalkan. Tetapi sebagai pembelajaran agar generasi berikutnya dapat hidup jauh lebih baik dari pada orang-orang terdahulu. Dengan begitu, masa depan akan jauh lebih baik daripada masa lampau.
__ADS_1