Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 21 Perubahan


__ADS_3

Si Manis mau tak mau harus kembali memperhatikan pelajaran yang diberikan Wan Siang, walaupun ia masih suka menghirup-hirup bau wangi dari tubuh lelaki yang merangkap sebagai gurunya itu.


“Mari kita lanjutkan belajarnya,” ujar Wan Siang.


“Baik Koh, maaf tadi saya kurang memperhatikan,” kata Si Manis merasa bersalah.


Wan Siang pun harus kembali berkonsentrasi dengan pekerjaannya sebagai guru Si Manis, sebab dia benar-benar ingin menjadikan gadis itu pandai. Jika kebutuhan dasar manusia berupa makanan, pakaian dan tempat tinggal terpenuhi, dalam tujuannya sebagai makhluk Tuhan yang diberi akal, hendaknya mereka juga memperkaya pikiran dengan ilmu.


Ilmu adalah cahaya bagi kehidupan, juga menghidupkan perasaan peka terhadap diri dan lingkungan sekitar. Orang yang ilmunya benar tak akan gampang menyakiti diri sendiri dan orang lain, atau merusak lingkungan sekitar. Sebab ilmu itu adalah penerang bagi kehidupan, penghapus kegelapan dan kebodohan. Bisa juga sebagai pengubah nasib, dari tidak tahu menjadi lebih tahu bagaimana caranya memecahkan persoalan hidup.


Ilmu juga bisa didapatkan dari mana saja, mulai dari membaca, berguru, tetapi tiada yang lebih hebat dari pengalaman hidup itu sendiri. Wan Siang belajar sesuatu yang baru dari pabrik NV Bal Tiga Nitisemito di Kudus. Ia tahu bahwa semua pabrik rokok itu memerlukan pemasok tembakau yang tersebar dari berbagai wilayah, dan yang terbanyak adalah dari Temanggung.


Temanggung adalah daerah dataran tinggi yang letaknya di sebelah barat kota Semarang, tanahnya sangat cocok untuk ditanami tembakau. Tak heran tanaman tembakau tumbuh sangat subur di sana.


Siang itu Paman A Seng datang menyampaikan kabar. Ia sudah berhasil bertemu kenalannya di Temanggung, yang sedikit banyak tahu mengenai kebun-kebun tembakau yang ada di sana. Kota Temanggung juga terkenal dengan sebutan kota tembakau.


“Aku sudah diajak ke salah satu petani tembakau di sana,” ujar Paman A Seng dengan semangat.


“Oh ya, lalu bagaimana, apa mereka punya tembakau berkualitas bagus?” Tanya Wan Siang.


“Kebun tembakau itu dipelihara dengan baik, proses pemetikan, pemeraman, dan pemotongannya sudah aku lihat sendiri. Semua dikerjakan dengan ciamik dan teliti. Hanya daun yang bagus saja yang dikirim. Mereka juga jaga kualitas agar selalu dipercaya oleh para pengepul.”


“Lalu, jenis tembakau apa yang mereka tanam?”


“Memang, ada harga ada kualitas. Mereka menyediakan tembakau dari jenis Virginia yang murah hingga yang langka, seperti Latakia yang bibitnya berasal dari Lebanon. Tapi walaupun mereka punya tembakau jenis Virginia yang murah sekalipun, kualitasnya juga terjamin bagus.”


“Baik kalau begitu kita bisa segera mengajukan kerja sama dengan mereka,” ujar Wan Siang.


“Bisa, nanti biar Paman dan kenalan Paman itu yang urus. Kamu siapkan uangnya saja.”


“Kalau begitu, selanjutnya kita akan pergi ke Kudus atau Rembang untuk mencari pabrik rokok yang mau bekerja sama dengan kita, lalu kita sewa gudang di sana.”


Wan Siang dan Paman A Seng mulai memikirkan langkah-langkah nyata usaha baru mereka. Berawal menjadi pengepul tembakau partai kecil, nanti kalau sudah memiliki modal yang lebih besar, tentunya Wan Siang juga akan meningkatkan usahanya menjadi pengepul partai besar.


Urusan Paman A Seng di daerah barat sepertinya berjalan dengan baik. Itu adalah suatu langkah bagus dan menimbulkan harapan yang besar. Usaha baru Liem Wan Siang mulai berjalan.


Tetapi karena Wan Siang harus sering bepergian ke luar kota, ia tak bisa selalu berada di rumahnya di Semarang. Hari Senin hingga Jumat dia berada di Temanggung atau Kudus, melakukan perjalanan bisnis berdua dengan paman A Seng.


Setelah mendapatkan kontrak kerja sama dengan pabrik rokok di Kudus, Wan Siang mulai mempekerjakan anak buahnya yang dulu bekerja di rumah judi miliknya sebagai penjaga gudang. Ia juga menyewa rumah di Kudus untuk dijadikan kantor, merangkap tempat tinggal. Rumah di Kudus itu kecil dan hanya dijadikan tempat tidurnya saja.


Liem Wan Siang yang sekarang telah banyak berubah. Bukan hanya karena usahanya telah berubah, dari pemilik rumah judi, menjadi seorang tauke tembakau, melainkan juga penampilannya.


Ia perlu meyakinkan klien-kliennya dengan pembawaan diri yang meyakinkan sebagai seorang pebisnis andal. Maka ia membawakan diri sebagai pebisnis andal dengan memakai pakaian ala barat. Mengenakan, jas, rompi, kemeja dan dasi. Tak lupa memakai sepatu yang tampak mengkilap, juga topi sebagai pelengkap.

__ADS_1


Tubuhnya yang tinggi dan gagah serta ketampanannya sangat cocok dengan pakaian yang ia kenakan. Itu membantu usahanya berjalan dengan mulus. Setiap mata yang memandang akan dapat menangkap karisma seorang pengusaha yang hebat dari sosok Liem Wan Siang yang baru. Penampilan barunya sepertinya juga sangat menarik para kaum wanita.


Tetapi Liem Wan Siang yang sekarang, tetap memiliki sifat seperti Liem Wan Siang yang dulu, ia tak mudah didekati oleh perempuan. Setiap kali ia berada di luar kota, yang selalu dipikirkannya adalah Si Manis. Karena itu ia selalu menantikan hari Sabtu dan Minggu, agar ia dapat bertemu lagi dengan Si Manis di rumahnya.


Perpisahan selama lima hari dalam seminggu membuat Si Manis harus tinggal di rumah Wan Siang tanpa kehadiran lelaki itu. Agar gadis itu tidak bosan di rumah, Wan Siang sengaja mempekerjakan seorang perempuan Tionghoa setengah baya bernama Nyonya Tan sebagai guru privat. Mengajarkan, membaca, menulis, berhitung, dan tata krama.


***


Sabtu adalah hari yang sangat dirindukan oleh Wan Siang, ia sudah tak sabar lagi pulang ke rumah untuk bertemu Si Manis.


Karena sudah menjalani pendidikan, membuat Si Manis juga berkembang menjadi lebih mempesona. Si Manis sekarang bisa membaca, dan yang paling sering ia baca tentunya adalah surat kabar, sehingga ia lebih tahu mengenai apa saja yang tengah terjadi di dunia. Ia juga tahu bahwa kondisi perekonomian di Hindia Belanda sedang kurang baik. Banyak orang hidup kekurangan, sedangkan dirinya dalam perlindungan Wan Siang dapat hidup jauh lebih baik dari kebanyakan orang.


Selain perubahan dalam hal kecerdasan, berkat ajaran Nyonya Tan, sang guru privat, Si Manis jadi lebih tahu cara mengurus diri sendiri, termasuk bagaimana berbusana yang baik dan merias diri. Si Manis kini jauh lebih cantik dibanding awal mula ia datang ke rumah Wan Siang. Penampilannya layaknya nyonya rumah, dengan sikap yang anggun. Namun sama halnya dengan Wan Siang, sifat Si Manis tidak berubah, ia tetaplah Si Manis yang polos dan lugu.


Wan Siang dan Si Manis bertemu pada hari itu, gadis itu selalu takjub dengan penampilan Wan Siang yang berpakaian ala Barat. Lelaki itu datang kepadanya dengan setelan jas lengkap serba putih, dengan mengenakan topi putih sebagai penahan sinar matahari yang selalu terasa panas di kota Semarang.


Si Manis berkebaya merah, merias dirinya dengan bedak dan gincu berwarna senada dengan bajunya. Ia juga menyanggul rambutnya yang kian hari kian panjang dan hitam berkilauan, tak lupa menghiasinya dengan tusuk konde emas yang dulu pernah dibelikan Wan Siang.


Saat melihat Wan Siang, Si Manis tersenyum gembira, wajahnya yang sudah cantik menjadi semakin cantik dan tampak bersinar. Membuat Wan Siang yang tadinya lelah dalam perjalanan menjadi lupa akan kelelahannya dan ikut tersenyum.


“Kamu tambah cantik saja,” kata Wan Siang, membuat Si Manis tersipu malu.


“Engkoh pasti capek karena perjalanan jauh,” ujar Si Manis.


“Kamu kangen sama aku ndak?” tanya Wan Siang yang selalu suka menggoda Si Manis.


Andai Si Manis bisa mengungkapkan semua perasaannya kepada lelaki Tionghoa itu, tentunya ia akan mengatakan, bahwa dirinya begitu merindukannya, bahwa perpisahan yang lima hari dalam seminggu itu membuatnya selalu memikirkan Wan Siang. Saat kecerdasannya bertambah, bertambah pula pemahamannya akan segala perasaan yang mendera dirinya.


Perasaan itu tak hanya sekedar senang atau sedih, tetapi juga ada rasa getaran dari hati yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata. Perpisahan bukan melulu sesuatu yang menyedihkan, tetapi perpisahan juga menimbulkan kerinduan yang menciptakan sebuah perasaan yang indah di dalam hati seseorang.


Tetapi sebagai perempuan Jawa, apalagi sekarang ia diajarkan tentang tata krama, membuat Si Manis tak kuasa mengungkapkan segala hal yang terbersit dalam pikirannya. Karena itu ia hanya mampu tersenyum, dalam senyuman itu ia berharap Wan Siang dapat memahami isi hatinya.


Lelaki secerdas Liem Wan Siang tentu tahu apa arti senyuman itu. Ia menyimpulkan, Si Manis merindukannya seperti halnya dirinya kepada gadis itu.


Wan Siang mendekatkan dirinya kepada Si Manis di sebuah kursi panjang yang terletak di ruang tengah. Ia mencium bau harum bunga mawar.


“Sekarang kamu wangi sekali.”


“Engkoh kan biasanya selalu rapi dan wangi, saya sebagai perempuan malu kalau kalah wangi dari Engkoh.”


“Aku suka wanginya.”


Si Manis tidak tahu kalau minyak wangi dengan sari bunga mawar yang dibelinya itu membuat Wan Siang selalu ingin menempel kepada dirinya. Lelaki itu seperti hendak menciumnya. Si Manis tidak tahu harus berbuat apa, kecuali memejamkan matanya. Dari reaksi perempuan itu, Liem Wan Siang seperti mendapat izin untuk menciumnya.

__ADS_1


Kemudian diciumnya pipi Si Manis, dan terasalah rasa hangat dan lembut dari bibir Wan Siang, yang dulu pernah dirasakanannya. Rasa takut Si Manis terhadap Wan Siang telah sirna, kini ia mulai menyukai apa yang diperbuat Wan Siang kepada dirinya.


Melihat Si Manis yang pasrah, membuat Wan Siang berani mengambil langkah selanjutnya, dari pipi, ia menggerakkan bibirnya ke bibir Si Manis, gadis itu tidak kuasa menolak, sehingga mereka berdua berciuman selayaknya ciuman dua orang dewasa. Perasaan yang telah lama terpendam dalam penantian akhirnya mendapat pelepasan dalam ciuman itu.


“Manis, nanti kalau aku sudah punya cukup uang untuk beli rumah yang bagus, nanti kamu ikut aku tinggal di Kudus ya. Sekarang usahaku semakin berkembang di sana. Paman A Seng lebih sering di Temanggung untuk berurusan dengan petani tembakau, aku di Kudus yang menangani urusan dengan pabrik rokok.”


“Engkoh tidak mau tinggal di Semarang lagi?”


“Kalau terus-terusan pisah lima hari dalam seminggu sama kamu, lama-lama aku ndak kuat. Aku itu kepengen kita bisa selalu ketemu tiap hari. Apa kamu tidak kepengen kita ketemu tiap hari?”


“Iya Koh, saya mau ketemu sama Engkoh tiap hari. Kalau tidak ada Engkoh, sepi rasanya.”


“Sepi apa kangen?”


“Memangnya Engkoh kalau lagi sendirian di Kudus, rasanya bagaimana?”


“Sama, sepi. Walaupun aku punya anak buah, tapi beda rasanya kalau tidak ada kamu. Aku kepengen kamu bisa ikut aku ke mana pun aku pergi, biar aku tidak kesepian lagi.”


“Saya mau ikut Engkoh ke mana saja.”


“Kalau ikut aku ke Bulan, apa kamu juga mau?”


“Memangnya kita ke Bulan mau naik apa Koh?”


Si Manis tidak tahu kalau Wan Siang cuma bercanda, sebab waktu itu belum ada seorang pun yang mampu mengadakan perjalanan ke Bulan.


“Aku kepengen ke Bulan sama kamu, tapi sayangnya belum ada kendaraan yang bisa bawa kita ke sana,” Wan Siang tersenyum sendiri akan ide gilanya.


“Saya mau ikut Koh Wan Siang ke mana pun Engkoh pergi. Seandainya Engkoh tidak punya uang untuk beli rumah pun, saya mau.”


“Aku tidak tega kalau kamu tinggal di rumah yang jelek, paling tidak kamu harus tinggal di rumah yang besar dan bagus seperti rumah ini, dan juga dilengkapi pembantu. Biar kamu tidak capek dan bisa jadi ratu di rumah itu.”


“Saya rela hidup seadanya Koh,” ujar Si Manis.


“Aku yang tidak rela kalau kamu hidup susah,” kata Wan Siang sambil menatap wajah Si Manis yang tiap malam selalu terbayang-bayang dalam benaknya.



Liem Wan Siang



Parjiyem (Si Manis)

__ADS_1


__ADS_2