Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 48 Ketakutan Sun Kwan


__ADS_3

Punya kekasih bagi Sun Kwan adalah hal baru, sampai-sampai ia tidak tahu, apa yang sebaiknya dilakukan sebagai seorang kekasih. Ia juga tak bisa bertanya-tanya kepada Siaw Cing, karena adiknya itu juga masih belum berpikir tentang cinta, sedangkan Wan Siang yang lebih berpengalaman malah sekarang menghilang.


Untunglah Sun Kwan selama ini rajin membaca karya sastra yang ada hubungannya dengan cinta, tapi entah kenapa cerita tentang tragedi cinta justru yang banyak digemari, seperti kisah Sam Pek Eng Tay.


Kisah Sam Pek Eng Tay adalah karya sastra Tiongkok kuno, pada zaman Dinasti Sung (960 M–1279 M) muncul sastra lisannya. Tetapi diperkirakan cerita tersebut sudah ada sejak abad ke-4 Masehi. Sun Kwan memiliki buku cerita Sam Pek Eng Tay yang diterbitkan tahun 1885, versi bahasa Melayu-rendah yang dia beli dari seorang kolektor buku. Tertulis “Tjerita dahoeloe kala di Negeri Tjina, terpoengoet dari tjeritaan boekoe menjanjian Tjina, Sam Pik – Ing Tay (Grivel, Semarang, 1885, terjemahan Boen Sing Hoo).”


Ceritanya tentang seorang gadis bernama Ciok Eng Tay yang menyamar sebagai lelaki agar dapat belajar di ibu kota Hankow. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Nio San Pek (yang kemudian lebih terkenal di Hindia Belanda sebagai Sam Pek), yang juga punya niat belajar di ibu kota.


Keduanya segera menjadi sahabat. Namun diam-diam Eng Tay mencintai Sam Pek, sementara pemuda yang dicintainya tetap tidak tahu kalau Eng Tay seorang perempuan, sehingga hanya menganggapnya sebagai sahabat. Mereka kemudian memutuskan untuk menjadi saudara angkat.


Tiga tahun kemudian, Eng tay menerima surat dari ayahnya , yang memintanya segera pulang untuk dijodohkan. Sebelum pergi, Eng Tay membuka rahasianya kepada istri kepala sekolahnya. Sam Pek mengantar Eng Tay sejauh 18 mil. Dalam perjalanan, Eng Tay mendapat ide untuk menjodohkan Sam Pek dengan “adik perempuan”-nya. Ia meminta Sam Pek untuk datang ke rumahnya untuk diperkenalkan dengan “adik perempuan” itu.


Ketika Sam Pek tiba di rumah Eng Tay, ia akhirnya mengetahui rahasia Eng Tay. Namun orangtua Eng Tay tetap memaksa gadis itu untuk menikahi orang lain. Sam Pek sakit hati hingga akhirnya meninggal dunia.


Pada hari pernikahan Eng Tay, pihak Eng Tay tidak dapat pergi ke rumah mempelai laki-laki karena terhadang badai di dekat kuburan Sam Pek. Eng Tay kemudian pergi ke kuburan Sam Pek dan meminta kuburan itu dibuka. Tiba-tiba kuburan itu terbuka dan Eng Tay meloncat ke kuburan Sam Pek untuk bergabung dengan lelaki yang dicintainya itu. Jiwa mereka dilahirkan kembali dengan wujud sepasang kupu-kupu yang terbang bersama.


Dari cerita tersebut, Sun Kwan takut jika cintanya dengan Ai Lien ternyata tidak berhasil sampai ke pelaminan. Ia bahkan belum berani menceritakan hubungan asmaranya dengan Ai Lien kepada mama tirinya.


Ia takut mama tirinya tidak bisa menerima hubungan itu, sebab bagaimanapun juga, dulu Ny. Liem menginginkan Ai Lien bisa menikah dengan Wan Siang. Belum tentu Ny. Liem setuju jika Sun Kwan yang ingin meminang Ai Lien.


Ia juga tak tahu apakah orangtua Ai Lien juga menyetujui hubungan mereka, sebab Sun Kwan merasa dia bukanlah siapa-siapa. Hanya anak haram Tuan Liem.


Setiap orangtua dari keluarga terpandang yang memiliki anak perempuan nan cantik jelita, pasti ingin anaknya mendapatkan suami seorang laki-laki yang luar biasa. Karena itu, Sun Kwan mengatakan ketakutannya kepada Ai Lien.


“Ai Lien, aku tahu kita saling mencintai. Tetapi, bagaimana kalau cinta kita tidak berhasil sampai tahap pernikahan?”


“Kenapa kau berkata seperti itu?” Ai Lien balas bertanya.


“Dulu Mamaku ingin kau bisa menikah dengan Wan Siang, apa ia akan setuju jika akulah yang nantinya ingin melamarmu? Sedangkan dari pihak orangtuamu, apakah mereka akan setuju menikahkan anak perempuan satu-satunya dengan pemuda yang biasa-biasa saja seperti aku?”

__ADS_1


“Selama ini orangtuaku baik terhadapmu.”


“Itu karena mereka menganggap kita hanya berteman. Mungkin beda jika kita pada akhirnya memutuskan untuk menikah. Dulu mereka setuju memperkenalkanmu dengan Wan Siang, sebab kakakku itu sudah mapan dan juga seorang pengusaha.”


Ai Lien melihat ketakutan di wajah Sun Kwan. Lelaki itu masih tetap tidak percaya diri, bahkan sekarang sedang tertunduk tak berdaya. Ai Lien kemudian mengangkat wajah Sun Kwan dengan kedua tangannya, demi melihat wajah kekasihnya itu.


“Menurutmu aku akan diam saja?”


“Aku takut kisah cinta kita berakhir tragis seperti Sam Pek dan Eng Tay,” ujar Sun Kwan.


“Jika aku menjadi Eng Tay, kira-kira apa yang akan aku lakukan?” tanya Ai Lien.


“Aku tidak tahu, mungkin melompat ke kuburanku.”


“Hahahaha... Sun Kwan, kau lucu sekali. Kenapa aku harus mati sia-sia?”


“Aku juga tak mau sakit hati sampai mati, tapi yang pasti aku akan sedih kalau kau dijodohkan, ” kata Sun Kwan.


Awalnya Sun Kwan berpikir dunianya sangat indah karena Ai Lien sudah menjadi kekasihnya, dan memang begitulah adanya, dunia mereka berdua sungguh indah. Mereka kini dapat berbagi cerita dan menumpahkan segenap perasaan satu sama lain.


Selain itu mereka juga suka belajar bersama, membaca buku, menulis kaligrafi huruf Tiongkok dan melukis berdua. Kegiatan mereka seperti Sam Pek dan Eng Tay ketika sama-sama sekolah di ibu kota Hankow. Ai Lien begitu mengagumi kecerdasan dan bakat Sun Kwan, begitupula sebaliknya.


Kadang untuk membuat Ai Lien senang, Sun Kwan membacakan puisi Tiongkok Kuno di hadapan gadis yang dicintainya itu. Misalnya puisi “Titian Jalak”, karya Cin Kwan, pujangga yang hidup pada dinasti Song (1049 M–1100 M).


Titian jalak


Rajutan awan menggolak lukisan,


layang bintang menebar penyesalan,

__ADS_1


samar melintasi Bima Sakti yang tanpa tepian.


Sekali bersua dalam angin emas embun perak,


telah melebihi berulang bertemu di bumi insan!


Cinta yang lembut laksana air,


hari yang bahagia bagaikan mimpi,


tak kuasa menengok titian jalak di tengah jalan kembali!


Apabila cinta di kedua hati adalah kekal abadi,


masihkah kehadiran dihitung setiap senja setiap pagi?


Ai Lien selalu suka dibacakan puisi oleh Sun Kwan, sebab saat membacakannya, suara pemuda itu begitu lembut, tetapi kelembutannya itu dapat menembus ke relung hati yang paling dalam.


Mungkin Eng Tay yang kemungkinan hidup pada abad ke-4 itu dapat melihat sifat yang sama di Sam Pek, sehingga membuat gadis itu terpesona kepadanya. Pemuda terpelajar nan lembut hati dengan paras rupawan.


Tetapi kelembutan hati Sam Pek membuatnya tak kuat menahan penderitaan saat mendengar Eng Tay akan dimiliki lelaki lain. Ai Lien berharap Sun Kwan bisa lebih kuat dan dapat menghadapi segala rintangan yang bisa saja terjadi pada nasib percintaan mereka.


“Sun Kwan, kesayanganku... kau harus kuat menghadapi segala cobaan,” kata Ai Lien.


“Aku mengalami masa kecil yang sulit, tetapi aku bisa bertahan hingga kini. Mungkin itu salah satu kekuatanku,” ucap Sun Kwan.


Sun Kwan sedikit banyak menceritakan asal-usulnya dan kehidupan masa kecilnya hingga dewasa kepada Ai Lien.


“Aku yakin kau bisa menghadapi apapun.”

__ADS_1


Ai Lien berusaha meyakinkan Sun Kwan, bahwa pemuda itu sebenarnya kuat. Ia ingin kekasihnya itu dapat mempercayai kekuatannya sendiri. Bahwa kesabarannya hingga kini adalah bentuk kekuatannya yang sangat luar biasa, sehingga dengan kekuatan itu, Sun Kwan akan mampu mengatasi segala tantangan hidup.


__ADS_2