
Walaupun Si Manis sangat kecewa pada diri sendiri karena belum bisa hamil, padahal ia sudah menikah selama tiga bulan dengan Wan Siang, ia mau tidak mau harus kembali pasrah kepada kehendak Tuhan.
Dulu ia juga pernah merasa khawatir kala Wan Siang diperkenalkan dengan Nona Hu. Tetapi rasa sedih dan khawatirnya akhirnya menghilang ketika memutuskan untuk menyerahkan segalanya kepada Tuhan Yang Maha Berkehendak.
Yang dipikirkan Si Manis bukan lagi soal anak, melainkan bagaimana dirinya membahagiakan Wan Siang, suami yang sangat ia cintai. Tanpa pembahasan soal anak, kehidupan rumah tangga mereka menjadi lebih damai dan menyenangkan. Asal masih bisa bersama dan memadu kasih, maka kebahagiaan mereka tidak akan berkurang, justru bertambah.
Wan Siang juga tahu, membicarakan soal anak yang belum tentu ada, hanya akan membuat istrinya sedih dan kecewa. Ia tidak ingin istrinya itu menangis lagi hanya karena sesuatu yang tidak ada dan belum pasti. Justru membicarakannya akan membuat istrinya semakin tertekan dan tidak bisa merasakan kebahagiaan.
Akhirnya keduanya mengambil sikap menikmati hidup, membiarkan segalanya terjadi selaras dengan alam, tanpa dibuat-buat, tanpa diharap-harapkan.
Si Manis setiap hari selalu menantikan suaminya pulang, menyiapkan air mandi dan pakaiannya. Kadang sikap manja lelaki itu kambuh, sehingga ingin dimandikan oleh Si Manis. Jika dulu, Si Manis memandikannya dengan mata tertutup dan perasaan takut. Kini sebagai istri, yang sudah terbiasa melihat tubuh suaminya, ia melakukannya dengan penuh suka cita.
Di rumah itu terdapat bak mandi terbuat dari perunggu yang bisa menampung dua orang berendam di dalamnya. Kadang saat sedang berendam, Wan Siang ingin Si Manis memijat kepala dan pundaknya untuk menghilangkan rasa penat setelah bekerja. Tetapi biasanya itu dilakukan pada sore hari. Beda ceritanya jika pagi hari.
Bak mandi dari perunggu itu ada di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar Wan Siang dan Si Manis. Karena rumah itu bergaya Eropa, maka kamar mandinya juga dibuat seperti kamar mandi yang ada di Eropa pada umumnya.
Wan Siang dan Si Manis bangun saat fajar, tapi mereka biasanya tak langsung beranjak dari tempat tidur mereka yang besar dan nyaman. Pada waktu pagi suasana rumah biasanya masih tenang, para pembantu dan tukang kebun belum memulai kegiatannya. Ketenangan itu lengkap dengan hawa sejuk yang membuat sebagian besar orang enggan untuk segera bangun.
“Manis, bangun...” Wan Siang menepuk-nepuk pipi Si Manis dengan lembut pada pagi buta.
Jika itu terjadi, maka sudah pasti Si Manis akan segera bangun dan memahami apa yang sebenarnya diinginkan suaminya.
“Iya Koh...”
Walaupun agak sedikit mengantuk, Si Manis harus bangun dan menyambut ciuman suaminya sebagai tanda lelaki itu menginginkan Si Manis untuk memuaskan hasratnya.
Mereka suka bercinta pada pagi buta, membuat udara yang dingin berubah menjadi hangat. Bisa juga kegiatan itu berfungsi sebagai olah raga pagi yang menyegarkan tubuh. Sebab setelah itu mereka akan berkeringat dan perasaan mereka menjadi segar dan bahagia.
Setelah sama-sama berkeringat, mereka akan memanfaatkan bak mandi dari perunggu itu untuk berendam bersama, tentunya dengan air hangat.
“Kamu ingat kan, dulu kamu marah sama aku waktu kuceburkan ke dalam bak,” kata Wan Siang.
__ADS_1
“Entah apa yang merasuki Engkoh waktu itu, saya waktu itu masih sangat lugu.”
“Itu pertama kalinya kamu lihat badanku secara utuh, sebenarnya bagaimana perasaanmu waktu itu?”
“Kesal bercampur kaget, kok ada ya orang yang sudah diurus baik-baik malah kepikiran untuk berbuat nakal seperti itu.”
“Setelah itu kamu pasti sering kepikiran soal aku kan?”
“Bukan kepikiran lagi, Engkoh seperti menghantui saya. Membuat saya tak bisa memikirkan yang lain lagi.”
Rupanya itu tujuan Wan Siang mengerjai Si Manis. Ia ingin memberikan kejutan yang tak terlupakan bagi Si Manis yang dulu masih berupa gadis perawan yang pikirannya polos dan lugu. Kepolosan itu telah dicemari oleh pemikiran tentang tubuh Wan Siang. Seperti kenangan yang tak mungkin terhapuskan.
Wan Siang memaksa Si Manis untuk berpikir tentangnya, sehingga Si Manis mulai melihat lelaki itu secara berbeda. Ternyata cara Wan Siang walaupun serampangan, telah menunjukkan hasilnya, yaitu Si Manis sekarang menjadi istrinya.
“Dulu Engkoh juga suka melirik ke arah saya tanpa sebab, memangnya saya tidak tahu?”
“Badanmu bagus, seperti biola dari Eropa. Aku kan jadi ingin memainkannya, hahaha....”
Wan Siang selalu saja bisa menemukan kata-kata yang membuat Si Manis tersipu malu. Sekarang dia disamakan dengan biola dari Eropa, besok entah dengan apa lagi. Yang jelas, Wan Siang senang merayu istrinya sampai istrinya itu tak berkutik.
Walaupun sudah menjadi istri orang, Si Manis tetaplah perempuan yang umurnya masih belasan tahun, jadi jiwa mudanya masih suka bergejolak kalau digoda. Apalagi Wan Siang selalu suka menggoda istrinya. Sepertinya itu sudah menjadi kesukaannya sejak sebelum menikahi Si Manis.
Suatu hari, Si Manis terlambat datang bulan, sering pusing, makan juga tidak enak, karena entah kenapa lidahnya jadi tidak menyukai beberapa makanan, terutama nasi dan daging. Ia baru bisa makan banyak jika diberi buah-buahan dan sayur.
“Koh, maaf ya, saya tidak makan nasi dan daging dulu, beberapa hari ini saya tidak berselera makan, juga sering pusing,” kata Si Manis saat mereka sarapan berdua.
“Ada apa, sudah diperiksakan ke dokter?”
“Belum Koh, ini pasti masuk angin biasa, nanti biar saya kasih minyak kayu putih.”
“Tapi kalau masuk angin biasa kan tidak sampai mengubah selera makan, pasti ada yang salah dengan lidahmu,” kata Wan Siang.
__ADS_1
Karena merasa ada yang aneh, Wan Siang memanggil dokter untuk memeriksa kesehatan Si Manis di rumah. Dokter itu adalah laki-laki berkebangsaan Belanda yang memang sering dipanggil ke rumah-rumah untuk memeriksa pasien.
Dokter itu mendengar keluhan Si Manis dengan baik, termasuk terlambat datang bulan yang dialaminya.
“Jangan khawatir, ini biasa terjadi dalam tiga bulan pertama masa kehamilan, setelah itu tubuh akan berangsur-angsur membaik, termasuk selera makan Nyonya.”
Mendengar pernyataan dokter itu, Wan Siang dan Si Manis berpandang-pandangan.
“Jadi istri saya ini sedang hamil?”
“Benar, Tuan. Sebaiknya istri Tuan jangan sampai terlalu capek, agar dia dan bayinya sehat. Juga perlu diperhatikan masalah makanannya, makanlah makanan yang bergizi dan sehat, agar bayi yang dikandungnya dapat tumbuh dengan baik.”
“Tapi dokter, saya sedang tidak berselera makan, terutama nasi dan daging.”
“Saya tahu, hal itu bisa terjadi. Tapi demi kandungan Nyonya, sebaiknya Nyonya makan nasi dan daging walaupun sedikit, itu akan baik untuk pertumbuhan bayi Nyonya.”
Si Manis mengangguk-angguk tanda mengerti. Sebagai calon ibu, ia tidak boleh kalah dengan diri sendiri. Demi janin yang dikandungnya, ia mau tak mau harus makan nasi dan daging, walaupun mungkin tak sebanyak sebelumnya.
“Terima kasih atas penjelasannya,” ujar Wan Siang dengan perasaan berbahagia kepada sang dokter.
Setelah dokter itu pulang, Wan Siang meluapkan kebahagiaannya dengan memeluk Si Manis erat-erat, lalu mengabarkan kepada semua pembantu agar menjaga dan melayani istrinya dengan baik, pokoknya Si Manis tidak boleh terlalu letih.
Untungnya salah seorang pembantu yang bekerja di rumah itu, yang sehari-harinya membantu Si Manis memasak, dan bertugas berbelanja di pasar, sudah berpengalaman tentang kehamilan dan merawat anak. Jadi ia sering memberi nasehat-nasehat yang baik kepada Si Manis.
Seandainya orangtua Si Manis masih hidup, tentu mereka akan senang mendengar kabar kehamilannya. Yang jadi pertanyaan adalah, jika mamanya Wan Siang mendengar kabar itu, apakah ia akan merasa senang?
Kawin lari memang pilihan yang sulit dan menyedihkan untuk semua pasangan yang melakukannya. Contohnya pada saat seperti itu, seharusnya ada banyak orang yang turut berbahagia dengan kabar hamilnya Si Manis, juga ikut memperhatikan kebutuhannya.
Walaupun agak sedih, tetapi Si Manis dan Wan Siang tidak ingin terlalu larut dalam pikiran itu. Yang lebih penting adalah bagaimana Si Manis bisa merawat kandungannya dan melahirkan dengan selamat.
"Koh, apakah Engkoh tidak mau mengabarkan kepada keluarga di Semarang, kalau saya sedang hamil?" tanya Si Manis.
__ADS_1
"Kamu jangan pikirkan itu dulu. Aku khawatir jika mama tidak suka mendengarnya, ia akan menganggumu lagi."
Si Manis memahami ketakutan Wan Siang dan mengapa ia memilih untuk tidak mengabarkan berita bahagia ini kepada keluarganya. Kenyataan bahwa mamanya dulu pernah menampar dan mengusir Si Manis telah membuatnya sakit hati dan trauma. Si Manis harus merasa tenang dan bahagia demi bayi yang dikandungnya.