
Kondisi kesehatan Sun Kwan memburuk, tabib mengatakan bahwa pemuda itu tak akan sanggup bertahan lagi. Nona Hu dan Siaw Cing yang terus menungguinya tak henti-hentinya menangis.
“Sun Kwan, bertahanlah. Jangan tinggalkan aku sendiri.” Nona Hu yang dari tadi memegangi tangan Sun Kwan takut jika nyawa pemuda itu diam-diam meninggalkannya ke dunia lain.
“Koh... Jangan begini, aku dan Nona Hu sudah melakukan apa saja agar tidak kehilangan Engkoh. Engkoh juga harus menguatkan diri.” Siaw Cing yang ikut menunggui Sun Kwan juga tak kuasa menanggung kesedihan.
Tetapi Sun Kwan sepertinya sudah tak sadarkan diri, karena dari tadi matanya terkatup. Tubuhnya pada akhirnya tak bergerak lagi. Nona Hu memeriksa hidung Sun Kwan, tak ada lagi nafas yang tersisa.
“Apa?! Tidak boleh begini....”
Gadis itu lalu menempelkan telinganya ke dada Sun Kwan, tidak ada lagi detak jantung di sana. Tiba-tiba saja gadis itu menjerit histeris.
“TIDAK....!!!”
Sun Kwan telah meninggal dunia.
Siaw Cing tak kalah sedihnya dengan Nona Hu. Ia berusaha menggoyang-goyangkan tubuh Sun Kwan, berharap kakak tirinya itu bisa bangkit lagi dari kematian. Tetapi Sun Kwan tampaknya telah pergi jauh ke dunia lain yang penuh kedamaian. Dapat terlihat dari raut wajahnya saat ia meninggal, seperti orang yang sedang tidur belaka, dengan bibir tersenyum, seolah bahagia karena tak perlu lagi menanggung penderitaan.
Karena sudah dipastikan meninggal oleh tabib. Nona Hu dan Siaw Cing mendatangi Ny. Liem untuk melampiaskan kemarahan.
“Nyonya memang kejam, kebencian Nyonya itu tak hanya membunuh seorang pemuda, tapi juga menghancurkan hidup banyak orang. Tuan Liem sangat terpukul, Siaw Cing bersedih, dan saya... tak mungkin melanjutkan hidup lagi. Karena saya tak akan menikah dan keturunan keluarga saya berhenti sampai di sini,” kata Nona Hu sambil menangis.
“Setelah pemakaman Koh Sun Kwan, aku akan pergi dari rumah ini. Jangan pernah mencariku, Mama!” Siaw Cing turut meluapkan amarahnya.
Nyonya Liem memastikan kebenaran kematian Sun Kwan dengan mendatangi kamar pemuda itu. Dan memang benar, anak tirinya itu telah meninggal. Tetapi kenapa hatinya tetap tidak bisa tenang dan bahagia? Ternyata kematian anak itu tidak bisa menghilangkan sakit hati yang ia rasakan selama puluhan tahun. Malah sekarang Siaw Cing dan suaminya semakin membencinya.
Ny. Liem seperti dijauhi semua orang, karena semua orang menganggap dialah penyebab utama kematian Sun Kwan. Bahkan para pembantu saja kini enggan berbicara dengannya. Suaminya apa lagi, selalu menghindari pertemuan dengannya.
Setelah semua pulang dari pemakaman, wajah mereka bagaikan mayat hidup. Tak ada lagi sinar kehidupan yang terpancar. Nona Hu tak pernah lagi mengunjungi rumah keluarga Liem dan memilih mengurung diri di dalam kamar di rumahnya, membuat orangtuanya khawatir.
Siaw Cing benar-benar angkat kaki dari rumahnya, meminta Papanya untuk menyewa rumah untuk ditinggalinya sendiri, asal bisa jauh dari ibu kandungnya. Dan Tuan Liem juga memutuskan untuk tinggal di kantor, karena sudah tak mau lagi melihat istrinya yang ternyata tak memiliki belas kasihan kepada anak yang tak berdosa.
Nyonya Liem tertinggal sendirian di rumahnya, bersama pembantunya yang makin lama makin tampak seperti patung, seperti sengaja mendiamkannya. Karena Sun Kwan adalah tuan muda yang sangat baik kepada mereka, kematiannya membuat semua pembantu menjadi terpukul dan membenci Ny. Liem.
Nyonya Liem jadi merasa benar-benar kesepian, seolah semua makhluk di dunia bersembunyi darinya. Karena telah membuat Nona Hu merasa terpukul dan membuat orangtuanya cemas, maka kabar tentang keburukan sifat Ny. Liem akhirnya tersebar di antara teman-temannya. Semuanya menganggapnya kejam dan pantas untuk dijauhi.
__ADS_1
Sekarang tak ada lagi yang ingin dekat dengannya. Walaupun Sun Kwan sudah mati, bukannya semakin bahagia karena dendam masa lalunya terlampiaskan, malah Ny. Liem semakin menderita dalam kesepian.
Kesunyian itu lebih mengerikan dari semua kesepian yang pernah dialaminya. Sunyi yang paling sepi, demikianlah yang dirasakan Ny. Liem.
Nyonya Liem akhirnya menangis sendirian pada suatu malam yang dingin disertai hujan lebat dan petir menyambar-nyambar. Tak ada lagi suami yang menemani tidur di sebelahnya, tak ada juga anak. Hidupnya selama ini seolah sia-sia saja. Pikiran dan jiwanya menjadi semakin tertekan, dan membuatnya ingin mengakhiri hidup dengan jalan bunuh diri.
Wanita itu pergi ke dapur dan mengambil pisau yang dinilainya paling tajam, kemudian ke kamarnya untuk dengan maksud untuk menancapkan pisau itu ke dadanya. Kedua tangannya sudah bersiap-siap menghujamkan pisau itu kuat-kuat tepat mengarah ke jantungnya. Dan...
...
Tiba-tiba Nyonya Liem terbangun dari tidurnya, semua kejadian buruk dan derita yang dialaminya hingga ingin bunuh diri ternyata cuma mimpi.
Ia bangun dengan nafas yang tak beraturan dan juga berkeringat. Di sebelah kanannya, Tuan Liem masih tertidur. Ia sangat senang mendapati suaminya itu tidaklah pergi ke mana pun. Lalu... ia berlari menuju kamar Sun Kwan, memeriksa keadaan anak tirinya itu.
Sun Kwan memejamkan mata, tetapi ia bisa melihat pemuda itu masih bernafas dari dadanya yang tampak naik turun. Sun Kwan masih hidup!
Tiba-tiba hati Ny. Liem diliputi kegembiraan hanya dengan melihat kenyataan bahwa anak tiri yang telah lama dibencinya itu ternyata masih hidup.
“Syukurlah....”
“Syukurlah kau masih hidup... syukurlah...”
Mimpi buruk yang dialaminya telah membuat Nyonya Liem tersadar. Bahwa sikap keras kepala dan dendamnya tak akan bisa membuatnya bahagia, bahkan jika itu semua ditebus dengan nyawa Sun Kwan.
“Sun Kwan... bangunlah...” pinta Ny. Liem.
Sun Kwan akhirnya membuka kedua matanya, dan sangat heran mendapati ibu tirinya itu, yang seingatnya tak pernah sekalipun masuk ke dalam kamarnya dan mengasingkannya di rumah, tiba-tiba ada di tepi ranjangnya.
“Mama....”
“Sehatkanlah dirimu, Mama... merestui hubunganmu dengan Nona Hu.”
“Benarkah ini Ma, apakah ini bukan cuma mimpi?”
Ny. Liem menggeleng.
__ADS_1
“Kau tidak bermimpi, Sun Kwan. Sudah saatnya kau bahagia, bangkitlah, sambutlah hari bahagiamu dengan Nona Hu.”
Sun Kwan tak kuasa menahan tangisnya, ia yang sudah lama tak mendapat kasih sayang seorang ibu yang sejati, tiba-tiba merasakan kasih sayang Ny. Liem yang sudah lama didambakannya.
“Anggaplah aku mamamu sendiri, jangan sungkan.”
“Mama.... selama ini sebenarnya aku sudah menganggap mama sebagai mamaku sendiri. Aku berharap suatu hari mama bisa memahaminya.”
“Maafkan mama, Sun Kwan. Mama sudah berbuat tidak adil kepadamu selama ini.”
“Mama berhak marah, aku tidak bisa menyalahkan mama begitu saja. Aku meminta maaf atas perlakuan orangtua kandungku kepada Mama.”
“Jika kau ingin membuat mama senang. Kau harus sehat kembali, mama ingin Nona Hu menjadi menantu mama.”
“Terima kasih, Mama...”
Tio San Ing seperti terlahir kembali ke dunia setelah mimpi buruknya itu. Ia akhirnya memahami bahwa selama ini yang ia butuhkan adalah keluarga dan teman. Dan segala kejadian buruk dalam hidupnya diawali dari rasa kesepian.
Kesepian karena sering ditinggal oleh kedua orangtuanya membuatnya memiliki kepribadian yang aneh, bahkan ia sempat mengalami keterlambatan berbicara saat masih balita. Ia tumbuh di tangan seorang pengasuh yang tidak begitu menyayanginya.
Jika waktu dapat kembali, ia berharap ibunya sendiri yang mengasuh dan memberinya kasih sayang. Tetapi pilihan sang ibu dengan menyerahkannya kepada pengasuh yang tidak dapat menyayangi San Ing setulus hati, membuat jiwanya terbentuk menjadi seorang wanita yang aneh dan dingin.
Ia selalu berharap untuk dimengerti dan diterima oleh seseorang yang tulus menyayanginya. Setelah dewasa, bahkan suaminya sendiri juga belum bisa menyayanginya sepenuh hati. Malah menyakitinya dengan pengkhianatan dan pengabaian yang membuatnya bersikap buruk. Namun, seorang bayi yang hendak dicekiknya dulu ternyata bangun dan tersenyum kepadanya, senyuman yang paling tulus yang pernah ia lihat dari bayi yang masih suci membuatnya tak sanggup melakukan pembunuhan.
Kemudian saat bayi itu tumbuh dewasa, ia berubah menjadi pemuda yang selalu bersikap santun dan baik kepada San Ing. San Ing jadi bingung, apakah ia harus tetap membenci Sun Kwan atau menyayanginya, sedangkan dendamnya belum dapat terhapuskan.
Kini kebingungan itu telah dihapuskan. San Ing akhirnya memutuskan untuk menyayangi Sun Kwan sepenuh hati dan menghapuskan dendam yang selama ini melekat di hatinya. Demi kehidupan baru yang lebih baik. Ia sudah amat lelah hidup dalam rasa sakit hati yang tidak pernah terpuaskan. Tak pula membuatnya merasa bahagia ataupun tenang.
Kak Otor manyapa:
Cerita ini masih berlanjut kok, tenang saja, tidak ditamatkan secepat itu. Karena masih ada beberapa hal yang perlu saya tulis biar ceritanya tidak menggantung.
Oh ya, kemarin saya mencari-cari file di dalam email lama, dan saya menemukan cerpen-cerpen lama saya, yang kemudian saya upload kemarin malam di Noveltoon. Klik saja profil saya, nanti readers akan menemukan 3 buah cerpen. Kalau sudah baca jangan lupa untuk like dan tinggalkan jejak atau komentar ya. Semoga suka dengan cerpen-cerpennya. Happy reading :)
__ADS_1