Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 33 Mimpi buruk Ny. Liem


__ADS_3

Ny. Liem terbangun tengah malam, akibat mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Ketika terbangun, ia melihat Tn. Liem masih tertidur nyenyak di sampingnya. Tetapi Ny. Liem adalah tipe orang yang tak ingin kelemahannya dilihat orang lain, termasuk suaminya sendiri. Ketika hatinya kacau dan bergemuruh, ia tetap tak ingin membangunkan suaminya untuk sekedar bercerita tentang mimpi buruknya.


Di dalam mimpinya, Wan Siang menikah dengan perempuan Jawa yang wajahnya masih agak samar dalam penglihatan Ny. Liem. Lalu datanglah Tini yang turut berbahagia atas pernikahan itu.


“Lihatlah Nyonya, apa yang kau takutkan selama ini sudah terjadi. Sekarang kau tak bisa lagi menghina kami, sebab anakmu justru menyukai orang yang kau anggap hina. Lebih baik Nyonya menerima takdir, agar hidup Nyonya menjadi tenang,” kata Tini.


“Tidak...Tidak...!!!” Ny. Liem tidak bisa menerima takdir seperti itu. Ia mengkhawatirkan pandangan orang tentang dirinya, dan memang tak sudi menerima menantu dari kalangan rakyat jelata.


Sesudah terbangun dari mimpi, Ny. Liem teringat kembali laporan pembantunya soal melihat Wan Siang di Pecinan sambil menggandeng tangan gadis berkebaya. Ny. Liem mulai membayangkan kalau Wan Siang akan menikahi gadis itu, gadis yang namanya Si Manis.


Ny. Liem jadi memikirkan bahwa ia harus memisahkan anaknya dari perempuan Jawa itu selagi bisa, selagi belum ada pernikahan di antara mereka. Agar mimpi buruknya tak menjadi kenyataan.


***


Keinginan Ny. Liem untuk memisahkan Si Manis dan Wan Siang tentu saja sejalan dengan keinginan Nona Hu.


Setelah gagal membujuk Wan Siang dan Si Manis, Nona Hu tak ada pilihan lain kecuali mengadukan kesulitannya itu kepada Ny. Liem. Sebab hanya Ny. Liem yang mendukungnya untuk mendapatkan Wan Siang.


Nona Hu datang ke rumah Ny. Liem dengan raut wajah yang tak begitu senang. Kekhawatiran sedang menyelimutinya, seperti halnya Ny. Liem yang sedang dalam suasana hati yang tidak baik.


“Nona Hu, apakah ada yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Ny. Liem saat menerima kunjungan Nona Hu.


“Iya Nyonya, saya ingin mengungkapkan kesulitan saya.”


“Soal Wan Siang?”


“Ternyata firasat Nyonya sangat bagus. Saya tahu maksud Nyonya memperkenalkan saya dan anak sulung Nyonya dengan membawa maksud tertentu.”


“Siapa yang tidak ingin menantu perempuan sepertimu, Nona Hu?”


“Saya memahami maksud Nyonya. Dan kebetulan maksud Nyonya itu sejalan dengan keinginan saya, karena saya juga sangat ingin menjadi istri Wan Siang.”


Hati Ny. Liem langsung senang, karena pancingannya tempo hari berhasil. Nona Hu adalah calon menantu perempuan idamannya. Untuk sejenak, ia dapat melupakan mimpi buruknya dan dapat tersenyum kembali.

__ADS_1


“Aku sangat senang mendengarnya, sepertinya sebentar lagi akan ada perayaan pernikahan besar-besaran di keluarga ini.”


“Saya juga berharap begitu, tetapi ... saya punya masalah besar.”


“Katakanlah.”


“Wan Siang telah mencintai gadis lain. Seorang perempuan Jawa bernama Si Manis. Saya sudah mencoba membuat Wan Siang mencintai saya, tetapi gagal.”


Raut muka Ny. Liem tiba-tiba berubah, bukan hanya sedih, tetapi juga marah. Ia tidak bisa menerima hubungan Wan Siang dengan perempuan Jawa itu. Sebab pernikahan Wan Siang dan Si Manis adalah mimpi buruk bagi Ny. Liem.


“Aku tak akan membiarkannya, Nona. Aku sendiri tak ingin jika Wan Siang menikahi perempuan itu. Ini tidak bisa diterima.”


“Tapi Nyonya, cinta Wan Siang dan Si Manis begitu kuat. Saya juga sudah berupaya membujuk Si Manis, tetapi tak membuahkan hasil. Saya sudah berusaha sebaik yang saya bisa, setelah ini saya serahkan urusannya kepada Nyonya.”


“Bagaimana kau bisa bertemu dengan gadis itu?” tanya Ny. Liem.


“Apakah Nyonya tidak tahu, gadis itu telah lama hidup di rumah Wan Siang?”


“Aku betul-betul tidak tahu. Seandainya aku tahu, pasti aku tidak akan membiarkannya.”


“Jangan patah semangat, Nona. Mereka belum menikah, jadi kesempatanmu belum bisa dikatakan tertutup. Aku akan melakukan sesuatu untuk mencegah pernikahan itu,” lanjut Ny. Liem.


“Persoalan ini saya kembalikan kepada Nyonya, sebab sudah tidak ada yang bisa saya lakukan selain mengharapkan keajaiban.”


Begitulah pembicaraan antara Ny. Liem dan Nona Hu. Karena penjelasan Nona Hu, Ny. Liem jadi tahu keberadaan Si Manis dan berpikir tentang bagaimana cara untuk memisahkan gadis itu dari anak laki-lakinya.


Karena persoalan itu menyangkut masa depan keluarga, akhirnya Ny. Liem memberitahu suaminya. Ny. Liem menceritakan keinginannya untuk menjadikan Nona Hu sebagai menantu, tetapi terhalang oleh keinginan Wan Siang.


Tn. Liem mendengarkan keluhan istrinya dengan wajah tenang. Ia teringat kembali peristiwa masa lalunya, saat ia hendak mempersunting seorang gadis miskin, tetapi ditolak mentah-mentah oleh kedua orangtuanya.


“Jika kau bertanya tentang masalah ini kepadaku, semua ini aku serahkan kepada Wan Siang,” kata Tn. Liem tenang.


“Bagaimana kau bisa tenang menghadapi situasi ini? Apa kata orang nanti kalau tahu anak kita menikah dengan orang dari kelas bawah? Mau ditaruh di mana muka kita?”

__ADS_1


“Kenapa harus pusing dengan kata orang? Semua orang sekarang sudah pusing dengan hidup masing-masing. Buat apa mereka memikirkan keluarga kita?” balas Tn. Liem.


“Ini karena kau jarang bergaul dengan orang-orang berpengaruh, sehingga kau tak tahu apa saja yang menjadi pembahasan mereka. Termasuk semua aib yang ada.”


“Inilah akibatnya terlalu banyak bergunjing, kau jadi lebih memperhatikan masalah orang lain daripada memperhatikan kebaikan keluarga sendiri.”


Tadinya Ny. Liem ingin mencurahkan segala kegalauan hatinya. Di luar dugaan, jangankan mendapat simpati dari suaminya, malah ia merasa disalahkan.


“Kau selalu tak sejalan denganku, percuma saja aku bicara tentang masalahku,” ujar Ny. Liem.


“Seandainya jalan pikiranmu itu baik, tentu aku akan mendukungmu. Tetapi kau selalu memikirkan hal-hal aneh yang tidak semestinya kau pikirkan.”


“Hal aneh? Ini menyangkut keluarga besar kita. Apa kau tidak peduli dengan kehormatan keluarga kita?”


“Apakah kehormatan keluarga itu selalu berhubungan dengan pernikahan? Sekarang lihatlah diri kita ini. Kita dinikahkan dengan meriah, pernikahan antara dua keluarga yang terpandang. Tetapi apa yang terjadi setelah itu?”


Nyonya Liem tidak perlu menjawab pertanyaan suaminya, sebab jawaban pertanyaan itu semua sudah dirasakannya sejak lama. Pernikahannya tidak membawa kebahagiaan, sebab sebenarnya ia dan suaminya tidaklah sehati.


Nyonya Liem waktu itu seperti Nona Hu, jatuh cinta pada Tn. Liem saat diperkenalkan, lalu mereka dijodohkan. Bedanya Tn. Liem tidak bisa menolak keinginan orang tuanya soal perjodohan itu, sehingga mengorbankan cinta sejatinya.


Sekarang istrinya membicarakan masalah perjodohan Wan Siang, Tn. Liem malah acuh tak acuh.


“Jadi, apakah kau menyesal menikah denganku?” tanya Ny. Liem kesal.


“Jangan bertanya hal yang memancing pertengkaran, kita ini sudah sama-sama tua. Aku sendiri sekarang ingin hidup tenang.”


Jika Tn. Liem menjawab pertanyaan istrinya yang sesuai dengan hati nuraninya, ia yakin istrinya itu akan marah besar, dan ujung-ujungnya tak akan menghasilkan kebaikan bagi rumah tangganya. Memang sejak menikah dengan istrinya itu, ia tak bisa merasakan kebahagiaan. Karena itulah ia memutuskan untuk kembali berhubungan dengan kekasihnya yang dulu, hingga lahir Sun Kwan.


“Aku beritahu kau, jika kau ganggu kesenangan anakmu, bisa saja kau malah kehilangan dia. Apa kau siap ditinggalkan anak laki-laki kebanggaanmu itu?”


“Astaga, sekarang kau malah menakut-nakuti aku.”


Ny. Liem menjadi marah dan kesal. Sudah berpuluh-puluh tahun hidup bersama dengan suaminya, tetapi ia tak pernah seiring sejalan dengan suaminya itu.

__ADS_1


Tn. Liem tak mau ambil pusing dalam masalah perjodohan Wan Siang. Itu membuat Ny. Liem menjadi semakin kalut. Di dalam benaknya, ia terus berpikir bagaimana caranya memisahkan Wan Siang dan Si Manis. Tetapi biasanya orang cenderung ceroboh jika mengambil keputusan dalam keadaan pikiran sedang kacau.


__ADS_2