
Seperti yang dijanjikan Wan Siang, akhirnya Si Manis bisa pulang dan menengok ayahnya. Mereka berdua pergi mengendarai dokar dan sepanjang perjalanan Si Manis tak henti-hentinya tersenyum. Wan Siang melihat Si Manis terus menerus tersenyum karena kegirangan, membuat wajahnya tampak cantik. Konon wanita yang hidupnya bahagia akan semakin cantik, mungkin karena mereka lebih sering tersenyum dan pikiran mereka selalu sehat, sehingga tidak cepat tua.
Wan Siang sangat senang melihat Si Manis yang tampak cantik. Wan Siang tak henti-hentinya memperhatikan parasnya yang kini memancarkan aura kedewasaan disertai keanggunan perempuan Jawa. Tubuhnya yang semakin elok dalam balutan kebaya mahal disertai perhiasan akan membuat setiap orang yang memandangnya mungkin akan mengira kalau dia seorang priyayi jika sendirian. Tetapi karena Si Manis pergi ditemani seorang lelaki Tionghoa dengan penampilan kaya, jelas ia akan dianggap sebagai gundik kesayangan lelaki itu.
Begitulah syak wasangka orang-orang di kampung Si Manis kala dokar yang mereka tumpangi memasuki perkampungan dengan jalan yang sempit. Rumah-rumahnya tak ada yang bagus, berderet-deret, kadang dipisahkan oleh blumbang yang penuh tanaman kangkung. Kangkung yang tumbuh seperti hama di blumbang kadang berguna bagi penduduk setempat, sebab mereka bisa memanennya untuk dijadikan masakan seperti tumis kangkung atau bobor kangkung, yaitu sayur kangkung yang dimasak beserta campuran santan kelapa dan air, dengan diberi rempah berupa kencur.
Dokar yang ditumpangin Wan Siang dan Si Manis juga mengundang decak kagum anak-anak kampung yang kebetulan lewat, mereka mengikuti bagian belakang dokar seperti rombongan sirkus. Beberapa di antara mereka juga tak memakai baju atasan. Sementara para wanita di kampung itu serta merta mendapat bahan gunjingan yang segar.
“Lihat itu Si Parjiyem, sudah kaya dia. Bajunya bagus, perhiasannya besar-besar,” ujar seorang ibu yang menggendong anaknya.
“Rupanya sudah jadi gundiknya orang kaya, pantas sekarang tidak pernah kelihatan.”
“Iya, aku pikir dia kerja di tempat yang jauh, ternyata jadi gundik, ckckck.....”
Zaman itu, di mata masyarakat pribumi, walaupun seorang gundik tampak seperti orang kaya dan berkedudukan, tetap saja ia seorang gundik, perempuan yang dianggap tidak terhormat dalam tatanan masyarakat. Seringkali seorang gundik menjadi bahan pergunjingan, walau kadang orang-orang itu juga membicarakan penampilan dan kekayaannya. Padahal yang menggunjingkan juga rata-rata melarat, tetapi mereka merasa lebih baik dan terhormat dari yang digunjingkan.
Para tetangga Si Manis mulai berkumpul di depan rumah salah satu warga dan menjadikan Si Manis bahan gunjingan. Tiba-tiba mereka jadi makhluk yang serba tahu, menguliti sejarah hidup Si Manis dari bayi sampai dewasa.
“Padahal dulu ibunya cuma penjual bubur di depan rumah, dan ayahnya kuli panggul di pelabuhan, siapa sangka anaknya sekarang jadi kaya,” ujar seorang perempuan paruh baya yang dulu kenal baik dengan ibu Si Manis.
“Tapi kan dia cuma gundik, kalau itu sinyo sudah punya istri, bisa-bisa Parjiyem dibuang, dikembalikan ke tempat asalnya.” Orang yang berkata demikian merasa Wan Siang masih terlihat muda, sehingga belum tentu sudah menikah.
“Belum tentu, kalau dia jadi istri simpanan, dia bisa ikut sama itu sinyo sampai tua.”
Para perempuan penggunjing semakin lama semakin berkhayal tentang masa depan Si Manis, padahal Si Manis sendiri belum terbayang tentang masa depan yang akan dijalaninya.
Akhirnya dokar berhenti di depan satu rumah kecil yang seluruhnya terbuat dari kayu. Pintu rumah itu juga tampaknya sudah rusak, sebab perlu usaha lebih untuk menggesernya, karena sudah terlalu melorot ke bawah. Wan Siang-lah yang menggeser pintu yang sudah aus itu agar Si Manis bisa masuk tanpa merasa kesulitan. Lantai rumahnya masih berupa tanah dan ruangan di rumah itu juga tidak banyak. Hanya ada satu kamar tidur, ruang dapur dan ruang serba guna di bagian tengah yang diberi tikar untuk duduk.
Wan Siang tidak menyangka kalau sebelum tinggal di rumahnya, Si Manis tinggal di rumah sederhana itu, yang kayu-kayunya juga tampak lapuk dimakan usia.
Pertama-tama Si Manis mencari ayahnya. Kebetulan hari itu hari Minggu, biasanya ayahnya akan libur bekerja. Tetapi sebenarnya sudah lama ayahnya tidak bekerja, sebelum ia terpikir pergi ke rumah judi milik Wan Siang.
Ayah Si Manis dipecat dari pekerjaan kuli pelabuhan karena perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan pekerja, akibat malaise yang membuat pelayaran menjadi sepi. Uang yang dijadikan taruhan berjudi adalah uang pesangon terakhirnya.
Pikiran ayah Si Manis waktu itu sedang kalut, ia sudah dipecat, juga memiliki penyakit asma yang kian hari kian memburuk. Ia takut kalau tak bisa menghidupi anak perempuannya lagi, lalu ia berpikir untuk menyerahkan anaknya kepada orang kaya dengan dalih menjadi pelunas utang.
__ADS_1
Saat berjudi dengan Wan Siang, pemuda itu dapat mendengar tarikan nafas ayah Si Manis yang tidak lancar dan berbunyi-bunyi seperti yang sering terjadi di orang yang sesak nafas.
Wan Siang teringat percakapannya dengan ayah Si Manis waktu bertemu di rumah judi miliknya dulu.
“Kamu sakit?” tanya Wan Siang saat itu.
“Iya Tuan, sakit asma. Sudah agak parah.” Jawab ayah Si Manis.
“Sudah diobati?”
“Sudah Tuan, ke dukun. Tapi tidak sembuh-sembuh.”
Maka ketika melihat ayah Si Manis terbaring di ranjang dengan nafas yang tidak teratur dan berbunyi makin parah, Wan Siang tidak heran. Penyakit asma itu memang kian hari kian buruk, apalagi kalau malam hari dan udara dingin.
“Bapaaaak!” pekik Si Manis yang sangat sedih melihat keadaan bapaknya yang tinggal tulang berbalut kulit, serta kesulitan mengatur nafas.
“Kamu pulang, Nduk...” jawab ayahnya dengan suara lemah.
“Iya, aku kangen sama bapak.”
“Bapak juga kangen, tapi Bapak tidak bisa ke mana-mana, Bapak lagi sakit.”
“Bulik Ningsih,” sapa Si Manis.
“Parjiyem, sudah lama tidak ketemu,” ujar bibinya.
Ningsih melihat perubahan dalam diri Si Manis yang sangat mencolok, wajahnya semakin cantik, badan padat berisi, kebayanya bagus dan juga memakai perhiasan yang tampak mahal. Lalu bibi Si Manis itu melirik ke arah Wan Siang yang sedang terpaku menyaksikan pertemuan keluarga itu. Ningsih tentu saja sudah tahu apa yang terjadi dengan Si Manis, berdasarkan pengakuan dari ayah Si Manis sendiri.
“Bapakmu sudah sakit parah Nduk, syukurlah kamu datang.”
“Kenapa tidak ada yang bilang kalau keadaan Bapak sudah begini?”
“Bapakmu yang larang, dia bilang tidak mau bikin kamu susah. Lagipula Bapakmu sudah malu karena bikin kamu jadi jaminan utang. Dia tidak berani ketemu kamu, apalagi minta bantuan.”
“Tapi kan aku anaknya, anak satu-satunya.”
__ADS_1
“Itu maunya bapakmu, Bulik tidak bisa apa-apa.”
Si Manis dan bibinya berada di sisi ranjang pembaringan. Sang bibi berusaha menyuapkan makanan pada ayah Si Manis, tetapi makanan itu tidak tertelan. Semua orang di sana menjadi khawatir.
“Gawat, bapakmu sudah tidak bisa makan, Bulik takut keadaannya makin buruk. Katanya kalau tidak bisa lagi menelan makanan, itu tanda.... Mbahmu dulu juga begitu,” Ningsih jadi khawatir.
Lalu terdengar bunyi nafas yang tarikannya semakin berat dan putus-putus.
“Parjiyem... Bapak minta maaf ya Nduk, Bapak sudah salah,” ayah Si Manis berusaha berbicara walaupun dengan usaha yang sangat berat.
“Parjiyem maafkan Bapak,” kata Si Manis dengan berurai air mata.
“Terima kasih Nduk, sekarang bapak bisa pergi dengan tenang. Bapak sudah kangen kepengin ketemu ibumu.”
“Di Pecinan ada tabib yang bagus, mari kita berobat ke sana,” kata Wan Siang.
“Saya tidak kuat lagi Tuan. Tuan tolong jaga anak saya, kalau saya tidak ada,” pesan ayah Si Manis.
“Aku janji,” jawab Wan Siang yang membuat batin ayah Si Manis lega.
“Bapak tidak boleh pergi... pokoknya tidak boleh...,” tangis Si Manis semakin menjadi-jadi.
“Nduk, itu ibumu sudah nunggu bapak di dekat pintu, bapak mau pergi sama ibumu sekarang. Kamu jaga diri baik-baik ya.”
Si Manis melihat ke arah pintu, tapi tidak ada siapa-siapa. Sebenarnya ayah Si Manis memang sudah dekat dengan ajal sehingga tersingkap mata batinnya, sampai dapat melihat hal-hal gaib yang tak dapat dilihat oleh orang biasa.
Makin lama nafas ayah Si Manis makin berat, lalu hilang sama sekali, disertai hilangnya detak jantungnya. Ayah Si Manis telah meninggal dunia.
“Sepertinya Bapakmu memang menunggu kamu Nduk, sekarang kamu sudah datang, Bapak sudah tenang,” ujar Bulik Ningsih.
“Bapak... Bapak bangun Pak. Aku sekarang punya uang, aku mau kasih ke Bapak. Nanti kita masak yang enak ya Pak, kita ke pasar beli baju baru buat Bapak, baju Bapak kan sudah banyak yang sobek...” Si Manis berusaha mengguncang-guncangkan tubuh ayahnya yang sudah tak bernyawa itu dengan hati yang pilu, tetapi tidak ada tanggapan.
Hati Si Manis sangat terguncang, ia seperti tak memiliki pegangan hidup. Entah kenapa hati Wan Siang juga turut bersedih, walaupun dia hanya sebentar berurusan dengan ayah Si Manis, tapi ia juga turut merasa kehilangan.
Demi menenangkan Si Manis, Wan Siang memeluk gadis itu, dan Si Manis menangis di dada Wan Siang yang kokoh. Lelaki itu mencoba untuk tegar, agar Si Manis juga ikut menjadi tegar.
__ADS_1
“Tenanglah, agar bapakmu juga tenang di alam sana,” kata Wan Siang lembut.
Si Manis tak menjawab, saat itu Wan Siang menyadari bahwa gadis itu telah pingsan dalam pelukannya.