
Wan Siang yang tadinya terlelap, akhirnya bangun dan melihat sesosok perempuan. Tak salah lagi, dia adalah Si Manis yang sejak tadi dicari-carinya.
“Manis... Manis... akhirnya kamu datang juga,” ujar Wan Siang yang memandangi Si Manis. Ia ingin sekali langsung memeluk gadis itu, tapi ia sadar bahwa dia sedang berada di perkampungan yang penduduknya suka berada di luar rumah. Karenanya ia menahan diri barang sejenak.
“Masuk dulu Koh,” kata Si Manis. Gadis itu tak enak kepada Wan Siang yang sudah menunggunya sampai ketiduran.
Si Manis dan Wan Siang akhirnya masuk ke dalam rumah, tak lupa menutup pintu agar para tetangga tidak tahu apa yang bisa saja terjadi di dalam rumah.
Sesudah terbebas dari pandangan orang-orang kampung, Wan Siang bisa melepaskan rasa rindunya kepada Si Manis. Ia memeluk tubuh gadis itu erat-erat seolah tak ingin ditinggal pergi lagi.
“Manis, aku tadi cari kamu ke mana-mana sampai aku capek. Aku pikir kamu hilang, karena waktu aku ke sini tadi siang, kamu tidak ada.”
“Engkoh ke sini tadi siang? Saya tidak di rumah karena pergi ke rumah Bulik di kampung sebelah. Saya bosan sendirian di rumah, apalagi bapak saya sudah tidak ada. Rasanya sedih dan sepi.”
Wan Siang lalu teringat bahwa mamanya sempat menampar Si Manis dan mengusirnya, perasaan Wan Siang jadi sedih.
“Mamaku sudah menampar dan mengusirmu. Aku betul-betul minta maaf, karena tidak mampu melindungimu.”
“Bukan salah Engkoh, jangan minta maaf. Saya tidak apa-apa. Saya sekarang sudah senang bisa lihat Koh Wan Siang lagi.” Si Manis melingkarkan tangannya ke tubuh Wan Siang.
“Manis, ayo kita kawin.”
Mendengar hal itu dari mulut Wan Siang secara tiba-tiba, membuat Si Manis gelagapan.
“Tapi mamanya Engkoh saja baru menampar dan mengusir saya. Perkawinan kita tidak akan direstui dia.”
“Aku sudah meninggalkan keluarga dan rumah itu, rumah yang aku tinggali itu adalah rumah orangtuaku. Waktu tahu mamaku mengusirmu, aku tidak mau tinggal di situ lagi.”
“Tapi... tapi... Engkoh juga tidak bisa tinggal di rumah ini.”
Si Manis mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dalam rumahnya. Rumah itu sangat jelek, tak akan cocok ditinggali Wan Siang walau untuk sehari saja.
“Koh... rumah saya jelek, tempat tidurnya keras, mana tega saya suruh Engkoh tinggal di sini.”
Wan Siang tersenyum saat melihat Si Manis panik dengan keadaan yang baru saja mereka hadapi. Karena dirinya, Wan Siang jadi kehilangan keluarga dan rumah sekaligus.
“Saya juga sedih dengar Engkoh meninggalkan keluarga demi saya.”
“Tidak usah banyak pikiran, Manis. Hidup itu penuh pilihan sulit. Sebagai laki-laki, aku harus bisa memutuskan, mana yang penting dan tidak. Buatku sekarang kamulah yang penting, kamu itu sumber kebahagiaanku.”
“Tapi tetap saja Koh, saya kepikiran, nanti Engkoh mau tidur di mana malam ini?”
“Ayo kemasi barang-barangmu. Kita berdua tidak akan tinggal di sini, aku punya satu tempat yang bagus untuk kita tinggali sementara.”
Kala itu Si Manis tak bisa mengira kira-kira di mana mereka akan tinggal. Seperti seorang pangeran, Wan Siang membawa Si Manis pergi dari rumah itu dengan menaiki dokar. Lalu sepanjang perjalanan, Wan Siang yang memang sudah mengantuk dari tadi, meletakkan kepalanya di bahu Si Manis dan memejamkan mata. Hatinya diliputi kedamaian saat bisa menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu.
Sebelum dokar itu melesat pergi, Wan Siang membisikkan tempat tujuan kepada kusir, yang dibalas anggukan oleh si kusir.
__ADS_1
Dokar itu melaju dengan santai, seolah ikut meninabobokkan Wan Siang yang sedang menumpang sambil tertidur. Si Manis tidak keberatan jika pundaknya diperlakukan sebagai bantal oleh Wan Siang, karena mengerti bahwa lelaki itu seharian sudah kelelahan.
Hari itu banyak sekali peristiwa yang dialami Wan Siang. Tentunya dia tak menceritakan tentang bagaimana ia menangis di rumah makan saat kehilangan Si Manis. Mungkin karena gengsi, sedikit banyak darah Ny. Liem mengalir di tubuh Wan Siang, berikut sifat gengsinya. Tetapi sikap gengsi Wan Siang itu masih wajar jika dibandingkan dengan mamanya.
Dokar itu akhirnya melintasi Bodjongweg (sekarang Jl. Pemuda), yang di kanan kirinya ditumbuhi pohon-pohon asam. Juga terdapat jalur trem di tengah jalan beraspal di sepanjang jalannya. Dokar akhirnya berhenti di satu bangunan besar nan megah.
Di depan bangunan itu terdapat gapura dan pilar yang dihiasi gemerlap lampu-lampu yang memeriahkan suasana malam. Si Manis tak pernah melihat pemandangan malam yang begitu indah, lampu-lampu yang menghiasi gedung megah di jalan itu.
Tempat itu adalah Hotel Du Pavillon, salah satu hotel termewah di Semarang kala itu. Konon R.A. Kartini pernah menginap di sana dan sangat takjub dengan keindahannya, terutama karena lampu-lampu hiasnya.
“Koh, bangun... kita sudah sampai.”
Wan Siang yang sudah terlalu nyaman, sekali lagi harus bangun dan menuruni dokar. Setelah membayar sejumlah uang kepada kusir, Wan Siang menggandeng tangan Si Manis dan membawanya masuk ke dalam gedung megah itu.
Perasaan Si Manis kala itu hampir sama dengan yang dirasakan R.A. Kartini pada waktu memasuki Hotel Du Pavillon, bagaikan memasuki negeri dongeng.
Di hotel itulah Wan Siang menaruh kopernya. Ia telah mempersiapkan segalanya dalam upaya penjemputan Si Manis. Ia tak tega Si Manis tinggal sendirian di kampungnya, hingga membuat Wan Siang perlu menyewa satu kamar hotel untuk ditinggali dengan Si Manis.
Si Manis masih saja takjub saat diajak masuk ke dalam kamar hotel. Salah satu keunggulan hotel itu adalah terdapat kamar mandi di masing-masing kamar, dilengkapi dengan saniter modern, yang tak kalah dari hotel-hotel yang ada di Eropa.
Si Manis seperti rakyat jelata yang dijemput oleh pangeran tampan dan dibawa ke istananya. Karena sudah berkegiatan yang melelahkan seharian, Wan Siang mau tidak mau harus mandi. Sementara Wan Siang mandi, Si Manis menata pakaiannya dan juga milik Wan Siang ke dalam lemari.
Setelah selesai mandi, Wan Siang berganti pakaian dengan kaos putih polos dari kain katun yang nyaman untuk dipakai tidur.
“Manis, mulai sekarang kamu ikut ke mana saja aku pergi,” kata Wan Siang.
“Tidak, aku mau kawin dulu di sini sama kamu.”
“Maksud Engkoh, sekarang juga, di sini?”
Wan Siang tertawa geli dengan pola pikir Si Manis yang sederhana.
“Aku akan menyewa tempat ini selama yang diperlukan, sampai urusan perkawinan kita di kantor catatan sipil selesai. Aku juga perlu mengurus surat identitas dirimu. Setelah itu baru kita ke Kudus.”
Aturan pernikahan pada zaman kolonial Hindia Belanda cukup sederhana. Mempelai pria dan wanita hanya wajib mencatatkan diri sebagai suami istri di kantor catatan sipil. Jika pernikahan itu disertai perayaan, maka urusan di kantor catatan sipil dilakukan setelah perayaan selesai. Setelah mendapatkan surat nikah, barulah pernikahan itu diakui negara dan terlindungi secara hukum.
Surat nikah zaman kolonial Hindia Belanda hanya berbentuk sehelai surat keterangan, tanpa disertai potret kedua mempelai.
Wan Siang berpikir, ia dan Si Manis butuh tempat tinggal, sementara surat-surat itu diurus. Tentunya Wan Siang tak ingin prosesnya terlalu lama, karena ia ingin statusnya dengan Si Manis sebagai suami istri menjadi jelas sesegera mungkin.
“Selama surat itu belum jadi, kau masih bisa selamat dariku, Manis. Tapi setelah surat itu jadi, aku jadi punya hak atas dirimu sebagai suami yang sah,” Wan Siang menggoda sambil melemparkan senyuman yang aneh.
“Maksudnya nanti Engkoh dan saya jadi harus berhubungan seperti suami istri?”
“Pastinya...”
__ADS_1
“Aduh kok saya jadi takut ya, kan saya tidak pernah...”
Pikiran Si Manis mendadak jadi kacau, hingga berpikir yang tidak-tidak. Wan Siang ingin sekali melanjutkan menggoda Si Manis, tetapi apa daya, dirinya yang kelelahan sudah sangat mengantuk. Apalagi kamar hotel itu sangat nyaman, dilengkapi kasur yang empuk. Membuat Wan Siang jadi jatuh tertidur lagi.
Bantu Kak Otor ya...
Jadi Kak Otor lagi ikut lomba update tim, dan Kak Otor ada di tim B.
Caranya mudah, para readers bisa bantu Kak Otor dengan memberikan vote, dengan cara sebagai berikut:
Klik baner biru tersebut
Lalu akan muncul gambar seperti ini, lalu klik vote.
Klik jumlah vote yang ingin diberikan, lalu klik vote lagi.
Step terakhir adalah klik konfirmasi
Keterangan:
Jika mengikuti step-step di atas, maka vote dari para readers akan dimasukkan ke dalam lomba dan otomatis juga akan masuk ke dalam kolom vote seperti biasanya.
__ADS_1
Kalau vote dg cara biasa, votenya tidak bisa masuk ke dalam score lomba.
Sebelumnya Kak Otor mengucapkan terima kasih and happy reading 😊❤