Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 22 Pernyataan cinta


__ADS_3

Kerinduan Wan Siang terhadap Si Manis agaknya memang tak mungkin dibendung lagi, oleh sebab itu ia ingin gadis itu tidur bersamanya saat sedang berada di rumah Semarang. Si Manis sepertinya sudah merelakan jiwa dan raganya untuk Wan Siang, ia mengizinkan lelaki itu tidur di sebelahnya pada malam hari.


“Kata Non Siaw Cing, Engkoh dulu pernah punya tunangan ya?” Tanya Si Manis.


“Iya, namanya Nona Sie,” jawab Wan Siang, wajahnya datar saat mengingat mantan tunangannya.


“Kenapa tidak jadi nikah?”


“Nona Sie selingkuh, mungkin karena sering aku abaikan.”


“Engkoh tidak sayang dia?”


Wan Siang menatap Si Manis dalam-dalam, ia membuka tusuk konde sanggul perempuan itu sehingga rambutnya yang lebat, panjang, hitam berkilauan menjuntai, semakin menampilkan keelokan Si Manis di mata lelaki itu. Tangan Wan Siang yang putih, dengan jemari yang indah dan lembut mengelusnya pelan-pelan, penuh kasih sayang.


“Aku tidak pernah sayang sama perempuan, seperti sayangnya aku sama kamu. Tidak pernah cinta sama perempuan, seperti cintanya aku sama kamu.” Wan Siang berkata demikian sambil terus membelai rambut indah Si Manis. Gadis itu mendengarkan dengan seksama sambil hatinya dipenuhi rasa haru.


“Saya tidak pernah merasa berharga, apakah saya cukup pantas buat Engkoh?”


“Cinta bukan soal pantas atau tidak pantas, cinta soal perasaan. Secantik dan sepantas apapun perempuan itu, kalau aku tidak cinta, ya aku tidak mau.”


“Apakah Nona Sie dulu cantik Koh?”


“Kalau soal cantik, dia cantik. Beda sama kamu.”


“Bedanya?”


“Bedanya....kamu jauuuuuh lebih cantik dari dia. Makanya aku suka sama kamu.”


“Engkoh sekarang pintar merayu. Dulu saya kira Engkoh galak,” kata Si Manis sambil mengingat hari-hari pertamanya dibawa ke rumah Wan Siang.


“Sampai sekarang aku juga galak kok.”


“Tidak, sekarang Engkoh baik. Saya suka Koh Wan Siang yang sekarang.”


“Kamu juga cinta sama aku?”


Diberi pertanyaan seperti itu, Si Manis menjadi tak kuasa mengangkat wajahnya. Ia ingin menyembunyikan wajah cantiknya yang sedang tersipu itu jauh-jauh dari pandangan Wan Siang.


“I...iya Koh.” Akhirnya, setelah mengumpulkan keberanian, gadis itu mampu menjawab pertanyaan lelaki Tionghoa itu.


“Nanti kalau aku sudah siap, kamu mau kan kawin sama aku?”


“Memangnya orangtua Engkoh bakal setuju? Saya ini bukan siapa-siapa.” Si Manis berkecil hati.


“Biar aku yakinkan orangtuaku, kamu serahkan saja ke aku. Mungkin tidak gampang, tapi kamu lihat saja usahaku nanti. Aku tidak rela kalau kamu sampai kawin sama orang lain.”


Wan Siang yang tadinya tidak pernah berpikir tentang pernikahan, memang berubah pikiran sejak ia sering merindukan Si Manis. Menurutnya obat segala rasa rindu adalah dengan menikahi gadis itu, sehingga ia tak perlu lagi diserang penyakit rindu yang menderanya setiap hari. Kerinduan seperti dua sisi mata uang, di satu sisi menyakitkan, tetapi juga indah. Perasaan yang sungguh membingungkan.


“Setiap hari di Kudus aku susah tidur karena ingat kamu, makan juga kurang enak kalau tidak ditemani kamu,” ujar Wan Siang.


“Saya juga Koh, kalau malam suka memikirkan Engkoh. Siapa yang ngurus hidup Engkoh di sana, bagaimana makannya, pakaiannya?”


“Aku senang kamu bisa mikir seperti itu,” ujar Wan Siang sambil jemarinya mengusap-usap pipi Si Manis.

__ADS_1


“Apa aku orang pertama yang kamu cintai?” Tanya Wan Siang.


“Sebelumnya saya tidak pernah pikir soal lelaki, Koh, jadi... iya.”


“Kamu juga wanita pertama yang aku cintai, sejak aku kenal apa itu cinta.”


Setelah saling mengutarakan perasaan, berbagi rasa galau yang melanda jiwa, mereka lebih mengerti perasaan satu sama lain, kemudian terciptalah perasaan bahagia yang menghapuskan segala rasa gundah di hati.


Wan Siang merengkuh tubuh Si Manis yang amat sangat dikaguminya, pinggangnya yang ramping, dadanya yang terbentuk sempurna, membuat pandangan Wan Siang tak bisa lepas dari perempuan Jawa yang anggun itu.


Si Manis merasa ingin menangis karena bahagia. Dulu Wan Siang terasa begitu menyilaukan di matanya, karena sungguh tampan dan berkarisma, seolah berasal dari dunia yang berbeda. Tetapi pria tampan itu kini tengah memeluknya dengan hangat, tiada lagi jarak. Cinta adalah kekuatan dahsyat yang mampu menyatukan dua jenis manusia yang sangat berbeda.


Mereka berdua seperti kapal yang menemukan tempat untuk berlabuh. Jangkar telah diturunkan, tali sudah ditambatkan. Seperti hati Si Manis dan Wan Siang yang sudah sama-sama saling bertautan.


Yang paling menyakitkan adalah perpisahan pada hari Senin, kala Si Manis harus melepaskan Wan Siang kembali ke Kudus. Namun kali itu perpisahan terasa amat berat bagi keduanya. Si Manis, bagaikan seorang istri yang telaten, menyiapkan segala keperluan Wan Siang, termasuk pakaian-pakaiannya yang dimasukkan ke dalam koper.


“Hati-hati di jalan Koh,” ucap Si Manis sambil mencium punggung tangan Wan Siang, selayaknya istri yang patuh.


“Kamu juga jaga diri baik-baik ya, calon istriku.”


Si Manis mengangguk-angguk sambil tersenyum, sebenarnya ia juga tidak ingin berpisah seperti itu. Namun ia mengerti kalau lelaki yang dicintainya itu harus pergi untuk memperjuangkan cita-citanya, yang juga bertujuan memperjuangkan cintanya. Selain itu dia juga tersipu karena untuk pertama kali disebut sebagai calon istri.


***


Setelah melepaskan kepergian Wan Siang, Si Manis belajar dengan gurunya, Nyonya Tan yang berbadan ramping dan penuh perhatian kepada dirinya.


Seusai menyelesaikan tugasnya dalam pelajaran berhitung, Si Manis terpikir untuk menanyakan sesuatu kepada gurunya.


“Nyonya, bolehkah saya bertanya?”


“Bukan soal pelajaran, tetapi soal hubungan.”


Nyonya Tan memperhatikan Si Manis dengan lebih seksama, bersiap menerima pertanyaan yang hendak dilontarkannya.


“Apa Nyonya kenal keluarga Koh Wan Siang?”


“Tentu, dulu aku mengajar di sana, saat Wan Siang masih kecil.”


“Bagaimanakah keluarganya itu, nyonya?”


“Keluarganya...sebagian besar baik, Tuan Liem orang baik, tetapi mama Wan Siang, Nyonya Liem, itu orang yang agak sulit dihadapi,” ujar Ny. Tan.


“Sulit bagaimana, nyonya?”


“Sifatnya angkuh, kata-katanya sering menyakiti orang. Aku saja harus berhati-hati agar tak salah bicara dengan dia. Aku harap kamu tidak pernah berurusan dengan dia, kalau bukan karena diminta Tuan Liem yang baik, aku tentu tidak akan mengajar di sana.”


“Tapi nyonya, jika kelak saya jadi istri Koh Wan Siang, saya pasti akan selalu berurusan dengannya.”


Ny. Tan terkesiap, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan muridnya. Ia mengira Liem Wan Siang hanya akan sebatas menjadikan perempuan itu gundiknya. Tetapi urusannya akan lain jika Wan Siang hendak memperistrinya.


“Apa Wan Siang sudah berniat menikah denganmu?”


“Iya nyonya,” ujar Si Manis.

__ADS_1


“Kalau begitu, kamu harus menyiapkan hatimu saat menghadapi mamanya. Jika memang mencintai Wan Siang, kamu harus setegar batu karang. Harus siap diterjang ombak. Karena begitulah sifat mamanya, seperti ombak yang selalu siap menghantam batu karang.”


Tiba-tiba Ny. Tan jadi mengkhawatirkan nasib murid perempuannya itu. Bagaimanapun juga wanita itu adalah salah satu saksi betapa buruknya sifat Ny. Liem. Nyonya Liem tak segan-segan memarahi Wan Siang di depan gurunya jika tak memahami pelajaran. Dia teringat satu kejadian masa lalu.


“Bodoh kamu ya, begitu saja ndak ngerti!” bentak Ny. Liem kepada Wan Siang suatu hari.


Ny. Tan yang waktu itu masih muda sangat miris melihat kelakukan Ny. Liem yang kasar. Sebagai guru dan wanita bijak, ia berusaha mendamaikan hati Ny. Liem.


“Jangan dimarahi nyonya, nanti juga dia mengerti, saya akan jelaskan lagi soal pelajaran itu kepada Wan Siang.”


“Aku ini mamanya, aku juga berhak mendidiknya. Kalau tidak dikerasi, anak ini akan malas belajar, nanti jadi bodoh dan tertinggal dari Sun Kwan.”


“Setiap anak punya bakat masing-masing, tidak baik membandingkan satu anak dengan anak lain.”


“Tapi anakku tidak boleh kalah sama anak lain, apalagi Sun Kwan. Dia harus lebih unggul segala-galanya dari anak itu. Titik!”


Ny. Tan masih sangat mengingat kejadian itu, bagaimana Ny. Liem menekan Wan Siang. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika anak laki-lakinya itu terpikir untuk menikahi seorang perempuan yang tidak sederajat dengannya. Tiba-tiba hatinya merasa iba memikirkan nasib Si Manis. Gadis itu sangat baik dan tampak rapuh. Jika Ny. Liem sekali saja menghantamnya, pasti dia akan hancur berkeping-keping. Tetapi jika Wan Siang cukup kuat melindunginya, mudah-mudahan Si Manis masih selamat.


Ny. Tan punya firasat, mungkin sebentar lagi akan terjadi badai besar, seperti halnya badai di lautan, ombak akan semakin keras menghantam batu karang.


“Apa pun yang terjadi, kamu harus siap. Kamu harus kuat,” ujar Ny. Tan sambil tangannya memegang tangan Si Manis, seolah ingin menyalurkan kekuatan kepada gadis Jawa itu.


“Iya Nyonya.”


Si Manis tidak tahu apa yang akan dihadapinya, tetapi ia mengingat pesan gurunya itu, bahwa apapun yang terjadi, ia harus kuat. Harus setegar batu karang. Berapa kalipun ombak menghadang, batu itu tak akan bergeser sedikitpun.


***


Setelah belajar dengan Ny. Tan, biasanya Si Manis punya waktu luang. Dia kepikiran mengenai pesan gurunya barusan, bahwa dia mungkin akan menghadapi kesulitan. Si Manis biasa memperhatikan firasat seperti itu, karena dia percaya ada orang-orang yang cukup bijak untuk menerawang masa depan.


Dia ingat apa yang diajarkan ayahnya kalau akan menghadapi masalah. Meski mereka orang kecil dan tak berpendidikan, mereka punya kepercayaan bahwa manusia harus selaras dengan jagat, eling dengan Sang Maha Kuasa yang menguasai seluruhnya.


Oleh karena itu sesudah belajar, Si Manis pergi ke kamarnya, lalu duduk bersimpuh di lantai dan bersemedi. Dia mengosongkan batin, mencari kedamaian dengan cara-cara yang diajarkan leluhur orang Jawa sejak dulu. Seperti bapak dan ibunya yang menjalankan kepercayaan orang-orang jawa zaman dulu, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa yang biasa disebut Kejawen.


Sesudah hatinya tenang, Si Manis bersiap pergi keluar. Kali itu ia ingin ke toko pakaian di Gang Warung. Di satu toko langganannya ia hendak membeli kemeja baru untuk Wan Siang. Tetapi siapa sangka ia malah bertemu dengan Sun Kwan di sana.


“Manis, kebetulan sekali kita ketemu di sini,” Sun Kwan menyapa.


“Apa kabar Tuan?” Tanya Si Manis.


“Panggil Sun Kwan saja, tidak usah pakai Tuan sama aku. Di mana Koh Wan Siang?”


“Koh Wan Siang, kalau Senin sampai Jumat ada di Kudus, dia punya usaha baru di sana. Kerja sama dengan pabrik rokok.”


Sun Kwan memperhatikan cara Si Manis menyebut Wan Siang, sepertinya gadis itu sudah semakin dekat dengan kakak tirinya.


“Oh begitu, jadi sekarang dia tidak ada di rumah?”


“Benar, dia baru ada di rumah Semarang hari Sabtu dan Minggu.”


Sun Kwan baru tahu, sebab Wan Siang sama sekali tidak memberitahu keluarganya tentang usaha baru yang sedang digelutinya. Tetapi karena pertemuan dengan Si Manis itu, Sun Kwan jadi tahu.


“Kapan-kapan aku dan Siaw Cing mau mampir untuk mengunjungimu,” kata Sun Kwan.

__ADS_1


“Saya senang kalau Anda mengajak Non Siaw Cing berkunjung, sudah lama saya tidak ketemu dia.”


Si Manis yang polos tidak pernah mencurigai isi hati seseorang. Seperti halnya ia tidak tahu bahwa ada hati lain yang mendambakannya, hati seorang Sun Kwan.


__ADS_2