
Wan Siang dengan dibantu oleh Kim Hok dan A Ping kini mulai merasakan hasil dari kerja kerasnya selama ini. Pemasukan dari usaha tembakaunya sudah terkumpul dan sebagian besar disimpan di bank. Pengeluaran untuk kehidupan sehari-hari juga terjamin dengan baik.
Setiap bulan Wan Siang memberikan uang bulanan kepada Si Manis, agar istrinya itu bisa membeli apapun yang dia suka. Tetapi walaupun kehidupan mereka sekarang telah berkelimpahan, Si Manis tetaplah wanita yang bersahaja. Uang yang diberikan suaminya hanya dipergunakan seperlunya, sisanya ia simpan di dalam lemari.
“Manis, bulan ini penghasilan kita lumayan besar, kamu mau minta apa?” tanya Wan Siang.
“Saya tidak kepikiran apa-apa Koh, uangnya disimpan saja.”
“Kamu masih saja seperti yang dulu, polos dan lugu. Beda sama perempuan-perempuan yang dulu aku kenal.”
“Bedanya Koh?”
“Dulu perempuan yang mendekati aku pasti bertanya, kamu usahanya apa? Dan kalau mereka tahu kalau aku banyak uang, lantas mereka minta ini dan itu. Karena itu aku selalu mempertanyakan ketulusan hati mereka.”
“Engkoh dari dulu banyak uang, wajar jika dilirik banyak perempuan.”
“Tapi... kita tidak pernah tahu rejeki kita, bayangkan kalau tiba-tiba kekayaanku habis, jika mereka hanya mengejar harta, tentu saat aku jatuh miskin, mereka akan dengan gampang meninggalkan aku. Kalau mereka melihat aku karena wajah, jika aku sudah tua dan jelek, mereka bisa berpaling ke lelaki lain. Karena tidak ada yang abadi di dunia ini. Beda kalau orang hatinya tulus.”
“Jadi Engkoh memilih saya, karena menurut Engkoh hati saya tulus?”
“Begitulah yang aku rasakan. Kamu hampir tidak pernah menuntut apa-apa dariku.”
“Ibu saya pernah bilang, kelak kalau punya suami, jangan banyak nuntut. Kalau suami kita mampu tentu tuntutan kita akan diberi. Tapi kalau suami tidak mampu, bisa-bisa dia berbuat jahat untuk memenuhi tuntutan kita.”
“Tapi walaupun aku mampu, kamu tidak pernah menuntutku juga,” ujar Wan Siang.
“Itu karena saya merasa cukup dalam hidup ini. Apa yang diberikan Engkoh tanpa saya minta, sudah lebih dari cukup, bahkan berlebih.”
__ADS_1
“Kadang manusia sulit sekali merasa cukup.”
“Kata Ibu saya, hawa nafsu itu semakin dipenuhi semakin lapar. Kalau merasa cukup, kita tidak perlu terus memberi makan hawa nafsu yang tidak kenyang-kenyang.”
Si Manis yang tumbuh dalam keluarga sederhana selalu diajari untuk selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki, sehingga pikirannya selalu tenang dan tidak merasa iri dengan orang lain.
Kondisi keuangan Wan Siang semakin membaik karena memiliki Si Manis yang tidak banyak menuntut. Hartanya terkumpul dan tidak heran kalau kekayaannya semakin banyak. Kondisi itu tampak alami, tetapi membuat Wan Siang berpikir kembali tentang wanita Jawa yang bisa menjadi jimat kekayaan. Kekayaan itu tidak terjadi begitu saja, tetapi terdapat penjelasan yang masuk akal di balik itu semua.
Selain tidak suka menuntut, Si Manis juga patuh dan memiliki kasih sayang yang besar untuk suaminya. Kehidupan mereka berdua menjadi penuh dengan cinta dan ketenangan. Dalam ketenangan, manusia dapat merasakan kebahagiaan yang sejati, sehingga rejekipun melimpah. Konon rumah tangga yang penuh dengan pertengkaran bisa mengakibatkan rejeki tidak lancar.
Sebagai suami, Wan Siang tidak tinggal diam begitu saja. Mengingat istrinya tidak suka menuntut, ia jadi memiliki berbagai cara untuk membahagiakan Si Manis.
Misalnya seperti hari ini, dia mengajak istrinya untuk berjalan-jalan sambil menikmati soto Kudus. Si Manis sebenarnya cukup mudah untuk dibahagiakan, dia suka diajak jalan-jalan dan melihat dunia luar, atau membelikan barang-barang dan perhiasan sebagai kejutan.
Kadang Wan Siang mengantar istrinya untuk berbelanja di Pasar Kliwon, jika ia ingin membeli kebaya baru. Pasar Kliwon paling ramai dikunjungi saat pasaran hari jatuh pada pasaran Kliwon, terutama hari Minggu Kliwon. Para pengunjungi akan memadati pasar, itulah kenapa disebut pasar Kliwon.
Sementara itu di Semarang, Sun Kwan sedang mempersiapkan mentalnya untuk menghadap mama tirinya. Hatinya resah gelisah. Selama ini ia berusaha menghindari segala bentuk permasalahan dengan Ny. Liem. Akibatnya mereka jadi jarang berbicara satu sama lain. Pemuda itu tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
Di tengah kegalauan itu, Siaw Cing mendekati Sun Kwan.
“Sedang mikir apa Koh?” tanya Siaw Cing.
“Aku bingung, Papa suruh aku kasih tahu Mama soal hubunganku dengan Ai Lien.”
“Berarti Papa sudah tahu dan setuju soal hubungan Engkoh dengan Nona Hu?”
“Iya, aku sudah kasih tahu Papa. Sepertinya Papa tidak masalah. Tapi apakah Mama akan tidak mempermasalahkan juga?”
__ADS_1
“Aku sendiri tidak tahu Koh, tapi... coba lihat Koh Wan Siang, apapun yang terjadi, dia tetap berani menghadap Mama.”
“Koh Wan Siang itu pemberani, sedangkan aku...”
Sun Kwan merasa kecewa dengan diri sendiri karena sering ragu-ragu dalam bertindak, serta tidak memiliki keberanian seperti kakaknya. Mungkin karena sifatnya yang suka berpikir. Orang yang terlalu banyak berpikir cenderung banyak menimbang-nimbang dan lambat dalam bertindak. Berbeda dengan Wan Siang yang cenderung spontan, sehingga dapat lebih cepat mengambil keputusan dan tindakan.
Salah satu keputusan besar yang pernah diambil Wan Siang dan tanpa banyak pikir tentunya saat ia mengambil Si Manis sebagai pelunas utang. Orang yang seringkali spontan dalam bertindak juga tidak mudah ditebak langkahnya.
Si Manis saja tidak pernah berpikir kalau Wan Siang pada akhirnya mengambilnya sebagai istri sah. Padahal umumnya, seorang pemuda Tionghoa akan berpikir seribu kali untuk menjadikan seorang wanita pribumi sebagai istri sah. Sebab itu sedikit banyak berbeda dari tradisi keluarga yang sudah turun temurun, juga adat istiadat orang Tionghoa sendiri.
Tetapi untuk kasus-kasus tertentu memang pernikahan antara orang Tionghoa dan Pribumi tidak bisa dihindarkan, karena terjadinya pembauran dalam masyarakat. Hanya saja diperlukan niat dan tekad yang kuat untuk mewujudkannya.
“Engkoh mau tidak mau harus menjadi berani. Paling tidak anggap ini sebagai perjuangan hidup Engkoh,” ujar Siaw Cing menyemangati kakaknya.
“Ai Lien tentunya sangat pantas untuk kuperjuangkan.”
“Maka sekaranglah saatnya, jika Engkoh tidak bergerak sekarang, aku takut kesempatan Engkoh untuk hidup berbahagia akan melayang.”
Kata-kata Siaw Cing itu seperti peringatan bagi Sun Kwan, bahwa kesempatan itu cuma ada satu kali dan sebagai manusia yang mendapat kesempatan, harus dapat memanfaatkannya dengan baik.
Sekarang Wan Siang dan Si Manis telah bahagia, karena mereka menggunakan kesempatan yang diberikan dengan baik. Juga disebabkan karena pengambilan keputusan dan tindakan yang tepat.
Orang Jawa mengungkapkannya sebagai “Jer basuki mawa beya”, yang artinya keberhasilan memerlukan pengorbanan. Wan Siang telah mengorbankan banyak hal demi pernikahannya dengan Si Manis, kini giliran Sun Kwan. Paling tidak, Sun Kwan dituntut untuk mengorbankan perasaannya sendiri jika maksud dan tujuannya tidak dapat diterima oleh Ny. Liem.
Tidak ada jaminan bahwa Ny. Liem akan menerima keinginan Sun Kwan untuk melamar Ai Lien, bahkan bisa-bisa pemuda itu akan menerima hinaan dan perkataan yang menusuk hati dari mama tirinya. Tetapi jika ingin memperjuangkan cintanya, ia harus mampu mendengarkan semua yang mungkin ia dengar, dan menyiapkan hati agar bisa kuat seperti baja.
Setelah itu tinggal menyerahkan nasib percintaannya kepada takdir. Memang tidak semua orang ditakdirkan bernasib baik, tetapi tidak menutup kemungkinan, orang yang sekian lama tidak bernasib baik juga akan terus begitu, semoga angin perubahan ke arah yang lebih baik berpihak kepada dirinya. Itulah harapan Sun Kwan.
__ADS_1