
Nona Hu sudah membuat janji pertemuan dengan Sun Kwan, tentunya dengan maksud agar pemuda itu mau mengantarkannya ke rumah Wan Siang. Gadis itu telah merias diri begitu rupa, memakai cheongsam berwarna merah muda yang menggambarkan suasana hatinya yang sedang jatuh cinta.
Gadis itu pertama-tama pergi ke rumah keluarga Liem untuk bertemu Sun Kwan. Pada saat dia datang, Ny. Liem ada di rumah, dan terkejut saat melihat Nona Hu mencari Sun Kwan. Ny. Liem khawatir, jangan-jangan perkiraannya meleset. Walaupun gadis itu diperkenalkan dengan Wan Siang, tetapi dia malah mendekat ke Sun Kwan.
Meski begitu Ny. Liem merasa dirinya harus tetap tenang melihat kejadian hari itu, karena ia juga tidak bisa melarang-larang Nona Hu seperti ia melarang-larang anaknya sendiri.
“Nona Hu cantik sekali hari ini,” sapa Ny. Liem, memaksakan diri untuk tersenyum.
“Terima kasih Nyonya, hari ini saya ingin bepergian ditemani Sun Kwan.” Kata Nona Hu.
“Kalau boleh tahu, mau pergi ke mana?”
“Ke rumah Wan Siang, sebab saya dengar dia tidak tinggal di sini.”
Batin Ny. Liem merasa lega, sebab Nona Hu bermaksud pergi ke rumah Wan Siang. Itu berarti pancingannya tempo hari pada hari ulang tahunnya telah disambut oleh gadis itu. Serta merta Ny. Liem menjadi lebih ramah, seolah-olah dengan menantunya sendiri.
“Sun Kwan, kamu antar Nona Hu ke rumah Wan Siang, biar mereka bisa lebih saling mengenal,” kata Ny. Liem kepada Sun Kwan.
“Baik Mama.” Sun Kwan menjawab seperlunya.
Sun Kwan memulai perjalanannya ke rumah Wan Siang dengan kereta kuda. Sepanjang perjalanan Nona Hu tampak bahagia. Kali itu Nona Hu pergi tanpa ditemani pelayan wanitanya, jadi ia merasa lebih bebas.
“Sun Kwan, bagaimana penampilanku hari ini?” tanya Nona Hu.
Sun Kwan memperhatikan lagi penampilan Nona Hu dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan merasa gadis itu sempurna tanpa cela. Rupanya Nona Hu jika dipandang dari dekat memang sangat cantik, kulitnya putih mulus, senyumnya sangat manis disertai dua lesung pipit di kedua pipinya.
Beberapa saat Sun Kwan terpana dengan kecantikan nona itu, apalagi Sun Kwan belum pernah bepergian dengan seorang gadis berdua saja selain Siaw Cing adiknya. Wanita itu juga berbau harum. Lelaki manapun pasti akan jatuh hati padanya, jika didekati. Tetapi Sun Kwan berusaha mengembalikan akal sehatnya. Bagaimanapun juga, Nona Hu sudah menunjukkan rasa tertariknya kepada Wan Siang.
“Hari ini Nona terlihat cantik, siapapun pasti akan senang memandang Nona,” kata Sun Kwan.
“Kau membuatku tersanjung, tapi terima kasih, karena aku jadi percaya diri. Ini pertama kalinya aku ingin mendekati seorang laki-laki. Bagaimana pendapatmu tentang perempuan yang mengambil langkah pertama untuk mendekati lelaki?”
__ADS_1
“Apakah Nona merasa malu melakukannya?”
“Apakah yang kulakukan ini sesuatu yang memalukan?”
“Menurutku tidak memalukan, justru Nona terlihat pemberani,” jawab Sun Kwan.
“Seharusnya orang memang tidak usah malu untuk mengakui pikiran-pikirannya sendiri, itu seperti menerima diri sendiri. Jadi, kau berpikir aku adalah gadis pemberani, seperti Hua Mu Lan?”
Sun Kwan tersenyum mendengar perkataan Nona Hu. Hua Mu Lan adalah seorang gadis pemberani yang menyamar untuk menggantikan ayahnya yang sakit-sakitan dalam berperang. Lelaki itu juga merasa heran karena Nona Hu tahu tentang Hua Mu Lan. Tentunya gadis itu memiliki pengetahuan yang luas di bidang sastra.
“Agak berbeda, sebab Nona tidak perlu menyamar sebagai laki-laki.”
Nona Hu tersenyum manis kepada Sun Kwan, sebab lelaki itu mengerti tentang apa yang ia bicarakan. Sangat menyenangkan bertemu orang yang bisa memahami pengetahuan dan pemikiran-pemikiran kita. Seperti halnya Nona Hu yang sangat menikmati pembicaraannya tentang berbagai hal yang diketahuinya bersama Sun Kwan.
***
Kereta kuda yang ditumpangi Sun Kwan dan Nona Hu telah sampai di depan rumah Wan Siang. Kala itu baru pukul delapan pagi lebih beberapa menit. Wan Siang dan Si Manis sedang berada di ruang tengah, Wan Siang meminum kopi dan membaca surat kabar hari Minggu, ditemani Si Manis yang juga membaca surat kabar sambil meminum teh. Di hadapan mereka ada sepiring pisang goreng.
Melihat kedatangan Nona Hu yang tiba-tiba ditemani Sun Kwan, Wan Siang dan Si Manis terkejut. Mau tidak mau mereka berdua meletakkan surat kabar yang sedang dibaca dan menemui Nona Hu.
Dua wanita dengan latar belakang yang berbeda itu akhirnya beradu pandang. Sesaat mereka mengagumi kecantikan masing-masing. Di mata Si Manis, Nona Hu adalah gadis Tionghoa yang sangat cantik dan tampak bersinar, dengan kulit berwarna putih cerah. Sedangkan di mata Nona Hu, Si Manis tampak begitu anggun. Tanpa riasan berlebihan, Si Manis sudah tampak cantik, kecantikan alami yang membuat orang tak akan bosan memandangnya.
“Eh...e... maaf aku datang tanpa memberitahu lebih dulu,” kata Nona Hu gugup.
Wan Siang melihat ke arah Sun Kwan, sebab karena adiknya itulah Nona Hu bisa tahu alamat rumahnya.
“Silakan masuk,” kata Si Manis yang memperlihatkan keramahan selayaknya tuan rumah. Lagi pula tak baik membiarkan tamu hanya berdiri di depan pintu, apalagi kalau orang itu adalah seorang gadis. Begitu pikir Si Manis.
Nona Hu lalu duduk di kursi yang ada di seberang kursi Wan Siang duduk tadi, mereka berhadap-hadapan. Si Manis mengerti situasinya akan sangat canggung jika ia berada di dekat Wan Siang. Karena itu ia mohon pamit untuk membiarkan Wan Siang berbicara dengan Nona Hu. Sedangkan Sun Kwan memilih untuk duduk di teras depan rumah.
“Bolehkah aku bertanya, siapa gadis itu?” tanya Nona Hu kepada Wan Siang.
__ADS_1
“Namanya Si Manis, kami telah lama tinggal bersama,” jawab Wan Siang dengan wajah datar.
Nona Hu tentu saja terkejut, ia tak tahu kalau lelaki yang amat dia sukai itu ternyata telah memiliki simpanan seorang gadis Jawa. Kepercayaan dirinya mendadak turun karena mengira, jangan-jangan Wan Siang lebih menyukai gadis Jawa seperti Si Manis. Nona Hu merasa usahanya merias diri hari itu sia-sia. Sebab Wan Siang tampak acuh kepada dirinya, seperti hari ketika mereka diperkenalkan. Berbeda dengan pandangan Sun Kwan terhadap dirinya di atas kereta kuda tadi.
“Sebenarnya apa maksud kedatanganmu kemari, Nona Hu?” Tanya Wan Siang.
“Aku ingin bertemu denganmu, aku ingin mengenalmu.”
“Bukankah kita sudah berkenalan pada hari ulang tahun mamaku?”
“Aku ingin tahu tentang dirimu, Wan Siang. Kau membuatku selalu memikirkanmu siang dan malam.”
Dengan segenap keberanian yang dimiliki gadis itu, ia mencoba mengungkapkan apa yang dia rasakan setiap hari. Semenjak ia berkenalan dengan Wan Siang, hanya wajah lelaki itu saja yang terbayang dalam benaknya.
“Seharusnya Nona memikirkan sesuatu yang lebih penting daripada aku.”
“Aku tidak pernah berpikir tentang lelaki, sebagaimana aku memikirkanmu. Sepertinya aku sudah gila karena menyukaimu.”
Wan Siang sendiri terkejut dengan keterusterangan Nona Hu. Memang dia seorang gadis yang pemberani, seperti Hua Mu Lan. Kini Nona Hu telah berada di medan peperangan untuk memperebutkan hati Liem Wan Siang. Bedanya, Nona Hu menggunakan taktik menyerang, sedangkan Si Manis lebih memilih bertahan.
“Kendalikan dirimu Nona, jangan berpikir seperti itu. Sebelum kau benar-benar kehilangan akal,” Wan Siang menasihati.
“Aku tidak peduli kalau kau sudah tinggal bersama dengan Si Manis itu, asalkan kau menyisakan ruang di hatimu untukku.”
“Perasaanku sangat terbatas, mungkin hanya sedikit. Di hatiku ini tidak ada ruangan sebesar yang kau pikirkan.”
“Walaupun hanya sedikit, sesedikit apa pun, berilah aku kesempatan.” Nona Hu memohon.
“Sayangnya, ruangan itu hanya cukup untuk satu orang. Kau harus mencari ruangan lain untuk dirimu, aku yakin banyak ruang yang masih kosong di luar sana yang bisa menerimamu Nona.”
Mata Nona Hu tampak berkaca-kaca. Namun apakah ia akan menyerah begitu saja, tak ada yang sanggup menerka. Gadis itu tidak pernah jatuh cinta seperti saat itu. Ia benar-benar ingin memiliki Liem Wan Siang, keinginan itu agaknya sudah menjadi obsesi.
__ADS_1
Anehnya, walaupun Wan Siang sudah bersikap dingin kepada Nona Hu, gadis itu tetap tak bisa melepaskan rasa kagumnya terhadap lelaki itu. Tak peduli sesakit apapun hatinya, rasa cinta Nona Hu kepada Wan Siang tak kunjung menghilang dari dalam hatinya.
“Lebih baik aku merasa sakit daripada tak merasakan apa-apa. Kau membuatku merasa seperti manusia yang memiliki perasaan,” kata Nona Hu dengan berlinang air mata. Wan Siang saat itu yakin, gadis di hadapannya itu sudah kehilangan akal sehatnya.