
Tio San Ing tumbuh menjadi seorang gadis belia yang cantik, namun tetap merasa kesepian seperti masa kecilnya. Ia merasa tak punya teman, tak bisa bergaul sebagaimana mestinya. Kekesalannya terhadap dunia membuatnya bertindak keras pada semua orang di sekelilingnya yang dianggapnya palsu, pura-pura baik, walaupun sebenarnya yang terjadi adalah mereka semua takut terhadapnya.
Tetapi hari itu ia mendengar kabar gembira. Ia telah dijodohkan dengan seorang pemuda, anak tunggal teman orang tuanya. Karena sama-sama memiliki anak tunggal dan sudah lama berteman baik, maka kedua pasangan itu menginginkan anak-anak mereka bersatu dalam pernikahan.
Pemuda itu bernama Liem Soei Ham, lelaki paling tampan yang pernah dilihat oleh Tio San Ing. Gadis itu menyukainya sejak pandangan pertama. Ia berharap, jika ia menikah dengan pemuda tampan itu, maka dirinya tidak akan merasa kesepian lagi. Namun Soei Ham tidak pernah menunjukkan kalau dirinya tertarik pada San Ing, walaupun gadis itu berusaha menampilkan diri secantik mungkin.
Itu karena Soei Ham telah memiliki kekasih, tetapi hubungan mereka tak direstui oleh orangtua si pemuda.
“Aku harus berterus terang, bahwa kau bukan gadis pertama dalam hidupku. Aku sudah mencintai orang lain, kuharap kau mengerti keadaanku.” Liem Soei Ham menjelaskan kepada Tio San Ing, akan cintanya yang sudah menjadi milik gadis lain.
“Aku tidak peduli. Yang penting aku bisa menikah denganmu.”
“Bagaimana kau bisa menikah dengan orang yang tidak memiliki perasaan terhadapmu?”
“Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku. Aku harap suatu hari nanti, kau bisa menerimaku dan mencintaiku.”
“Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa, tapi agar aku tak dianggap durhaka kepada orangtuaku, aku akan menikah denganmu. Sekarang kau tahu alasanku, kenapa aku menerima perjodohan ini.”
San Ing sangat senang karena pemuda itu mau menikah dengannya, walaupun Soei Ham belumlah mencintai San Ing. Gadis itu merasa ia punya kesempatan dan berharap suatu hari, kenyataan itu akan berubah. Dan Liem Soei Ham akan mencintainya juga.
Pernikahan itu akhirnya terjadi, tetapi sikap San Ing yang kikuk dan tidak tahu cara bergaul dan memperlakukan orang lain membuat Soei Ham kecewa. Walaupun gadis itu sudah berdandan secantik mungkin, tetap dia tidak mampu menggerakkan hati suaminya untuk mencintainya.
San Ing yang tadinya berharap pernikahan itu akan membuatnya tak kesepian lagi, ternyata salah besar. Suaminya sering bepergian dan meninggalkannya seorang diri di rumah. Pada akhirnya ia tahu bahwa suaminya itu masih menjalin hubungan dengan kekasihnya.
Wanita itu tak merasakan kebahagiaan pernikahan, malah pernikahan itu membuatnya menjadi semakin sedih. Tadinya ia tak pernah merasa sakit hati, karena tiada satupun orang yang dapat menyakitinya, karena kekuasaan yang ia miliki.
__ADS_1
Namun terhadap suaminya, San Ing tak punya kekuasaan itu. Ia tak bisa memarahi suaminya, sebab jika ia melakukannya, ia takut diceraikan. Wanita itu pada akhirnya harus mengorbankan perasaannya setiap saat tanpa bisa mengadukannya kepada siapapun. Puncaknya terjadi saat suaminya membawa pulang bayi hasil perselingkuhannya ke dalam rumah.
“San Ing, bayi ini adalah anakku. Ibu anak ini baru saja meninggal. Aku harap kau bisa menerimanya untuk tinggal bersama kita, biar bagaimanapun dia adalah adik Wan Siang.”
Saat itu San Ing merasa amat marah dan sedih, tetapi ia tak punya pilihan lain kecuali menerima bayi itu. Di luar dugaan, Wan Siang menyukai bayi itu dan menganggapnya adiknya sendiri.
Suatu hari San Ing memasuki kamar di mana bayi itu ditidurkan. Saat itu tidak ada pengasuh yang menjaganya. Dengan penuh kemarahan, San Ing menatap bayi yang diberi nama Sun Kwan itu. Wanita itu merasa hatinya bergejolak dan api kemarahan menyala-nyala di dalam dadanya. Lalu ia mengulurkan kedua tangannya hendak mencekik bayi itu.
Tangannya telah terjulur hingga ke depan dada Sun Kwan, sedikit lagi mencapai lehernya, dan dalam waktu sekejap anak itu bisa saja terbunuh karena sebuah cekikan yang mematikan. Namun, mata Sun Kwan tiba-tiba terbuka, menatap San Ing dengan pandangan polos dan tersenyum kepada ibu tirinya itu. San Ing kemudian menarik tangannya dan mengurungkan niat jahatnya. Lantas dia mendatangi pengasuh Sun Kwan dan mengatakan kepada semua orang agar Sun Kwan selalu dijauhkan darinya.
Karena itulah, Sun Kwan tidak pernah merasa dekat dengan ibu tirinya. Sebab San Ing tak mau berhubungan dengan anak itu dan tidak bersedia menganggapnya anak sendiri. Setiap kali ia dekat dengan bayi yang masih lemah itu, setiap kali pula ia ingin sekali membunuhnya.
Tetapi bagi Sun Kwan, yang ia tahu San Ing adalah ibunya, walaupun hanya sebatas ibu tiri. Ia tak memiliki kenangan bersama ibu kandungnya dan sepanjang pengalamannya dengan ibu tirinya, kenangan itu tak pernah membahagiakan.
“Aku tak bisa. Karena dia bukan anakku. Dia adalah buah kesalahanmu.”
Karena kekeraskepalaan istrinya, Tuan Liem menganggap wanita itu tak punya perasaan dan semakin tak mampu mencintainya. Seandainya ia bisa menghapuskan dendam dan bersikap baik, mungkin Tuan Liem akan berubah pikiran dan bisa mencintai istrinya.
Pernikahan yang dipaksakan bisa menjadi kesalahan terbesar dalam kehidupan manusia. Tak ada satu pun jaminan bahwa pernikahan karena paksaan itu akan berjalan dengan baik sesudahnya. Seperti yang terjadi dengan rumah tangga Tuan dan Nyonya Liem.
Tetapi walaupun kehidupan menjadi begitu getir, Sun Kwan akhirnya bisa tumbuh besar bersama saudara-saudara tirinya. Itu karena perhatian ayahnya yang besar terhadap Sun Kwan. Tuan Liem memberinya kasih sayang sebagai ayah yang sejati, mengajarinya berbagai hal sehingga anak itu bisa tumbuh menjadi anak yang memiliki budi pekerti dan juga cerdas. Tuan Liem berharap Sun Kwan bisa hidup dengan wajar seperti anak-anak lainnya, juga berharap anak itu kelak bisa menjalani hidup yang penuh kebahagiaan.
***
Penolakan Ny. Liem terhadap hubungannya dengan Ai Lien membuat Sun Kwan hidup dalam kegelisahan. Bahkan ia tidak berani mengabarkan berita tak menyenangkan itu kepada kekasihnya. Ia takut membuat Ai Lien sedih, sehingga selama dua minggu ia tak datang ke rumah kekasihnya.
__ADS_1
Pikiran Sun Kwan diliputi awan gelap pekat yang membuatnya selalu bersedih. Kesedihan yang berasal dari pikirannya itu membuat tubuhnya makin lama makin melemah hingga akhirnya dia jatuh sakit. Kini pemuda itu hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang, membuat Siaw Cing dan ayahnya bersedih.
Hati Ny. Liem sendiri belum bisa luluh dan ia semakin menutup diri, tak mau membicarakan masalah Sun Kwan lebih lanjut. Padahal ia tahu kondisi kesehatan Sun Kwan sekarang semakin menurun.
“San Ing, aku mohon... jika kau terus seperti ini, maka bisa jadi Sun Kwan kehilangan nyawa,” ujar Tn. Liem.
“Kenapa harus aku yang bertanggung jawab jika ia kehilangan nyawa?”
“Kau tahu, anak itu selalu banyak berpikir. Penyakit pikiran tidak kalah berbahayanya dengan penyakit badan. Kau telah membuatnya berpikir hal-hal yang menyedihkan, hingga ia tak punya harapan lagi untuk hidup berbahagia dengan Nona Hu.”
“Aku tidak peduli. Selama ini aku sudah membiarkannya hidup dan tumbuh besar bersama anak-anakku. Tidakkah kau tahu, selama itu pula aku menahan perasaanku, tidak membunuhnya saja sudah baik.”
“Kau ini manusia ataukah iblis, San Ing?”
Tuan Liem amat kecewa terhadap sikap istrinya. Sikap istrinya itu memang dipicu oleh hal-hal lain yang sudah menumpuk dan terpendam. Racun jiwa sudah mengendap dalam dirinya.
“Aku sempat ingin menjadi manusia yang penuh perasaan, tapi kau tak pernah memberikan kesempatan itu. Kau tak memberiku kasih sayang selayaknya seorang suami. Jika karena pengabaianmu dan pengkhianatanmu itu akhirnya aku menjadi iblis, jangan hanya bisa menyalahkan aku.”
“Jika Sun Kwan sampai meninggal karena kebencianmu, apakah kau tidak akan merasa menyesal seumur hidup?”
“Penyesalan hanyalah untuk manusia yang punya perasaan. Jika aku sekarang bagaikan iblis, maka kaulah orang yang membentukku menjadi seperti ini.”
“Jadi selama ini aku hanyalah menikahi sesosok iblis?”
Tuan Liem tak habis pikir dengan kata-kata istrinya yang tak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia seorang manusia.
__ADS_1