
Bab ini mengandung adegan 21+. Bagi yang belum cukup umur atau tidak ingin membaca, bisa dilewatkan.
****
Seminggu telah berlalu. Selama itu pula Wan Siang masih menahan dirinya untuk tidak menyentuh Si Manis. Tetapi ibarat orang yang berpuasa, tentu akan ada saat berbuka, dan hari inilah saatnya.
Wan Siang bangun lebih dulu pada hari Senin pagi. Si Manis bangun beberapa saat setelahnya. Si Manis heran melihat Wan Siang sudah duduk di kursi dan menatapnya sambil berpakaian lengkap, seolah sudah bersiap-siap hendak pergi.
“Engkoh mau ke mana?” tanya Si Manis, yang masih agak mengantuk.
“Kamu lupa ya, ini kan hari pengambilan surat nikah,” jawab Wan Siang sambil tersenyum.
Seolah baru tersadar dari mimpi, Si Manis membelalakkan matanya dan menyadari situasi yang sedang terjadi. Ini adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu dan diingatkan terus kepadanya oleh Wan Siang. Pantas saja lelaki itu begitu semangat bangun pagi dan bersiap-siap pergi ke kantor catatan sipil.
“Kamu tunggu saja di sini. Aku akan segera pulang, membawa surat itu,” Wan Siang tersenyum lagi, senyumannya membuat Si Manis merinding.
“I... iya Koh, hati-hati di jalan.”
“Kamu mandi saja dulu, dan siap-siap menunggu aku pulang.”
Ketika Wan Siang telah pergi, tinggallah Si Manis dengan perasaan kacau balau. Ia tahu saatnya sudah tiba, tak bisa diundur lagi barang sedetik. Sebagai gadis perawan, belum ada orang yang pernah memberitahunya tentang tata cara menjalani hidup sebagai istri.
“Aku harus bagaimana?”
Si Manis bertanya-tanya, tapi tak ada seorangpun yang menjawab. Selama ini dia tidur menemani Wan Siang, tetapi bila menjadi seorang istri, ia akan mengalami sesuatu yang sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Yang jelas ia harus bisa melayani Wan Siang dengan tubuhnya.
Selagi pikiran Si Manis menjadi semakin kacau, ia memutuskan untuk mandi, mendinginkan kepalanya, berusaha menganggap apa yang akan terjadi tak perlu ditakuti dan wajar. Bukankah semua istri di dunia ini juga mengalaminya dan mereka baik-baik saja? Begitu yang dipikirkan Si Manis.
“Aku akan baik-baik saja,” kata Si Manis demi menguatkan dirinya sendiri.
***
Beberapa jam kemudian terdengar ketukan di pintu. Si Manis yakin kalau itu Wan Siang. Pria itu sudah cukup lama pergi, dan kalau keperluannya hanya mengambil surat, pasti dia saat ini sudah kembali.
Dengan hati berdebar, Si Manis membuka pintu kamar. Lalu tampaklah sosok Wan Siang yang entah kenapa, sekarang jadi begitu diwaspadainya.
Setelah membuka pintu, Si Manis mundur dan setengah berlari menuju kursi lalu duduk di sana. Pandangannya menuju ke lantai, tak sanggup menatap Wan Siang yang sekarang sedang berjalan mendekatinya.
Jika pada hari pertama, saat Si Manis dibawa ke rumah Wan Siang, lelaki itu memerintahkan gadis itu untuk melihat ke arahnya. Kali ini, Wan Siang berlutut di hadapan Si Manis demi melihat wajahnya.
“Kenapa jadi takut melihatku lagi?” Tanya Wan Siang.
“Hari ini saya tidak mungkin selamat dari Engkoh, jadi saya was-was,” jawab Si Manis.
__ADS_1
Wan Siang ingin tertawa sekeras-kerasnya, tetapi demi menjaga perasaan Si Manis, lelaki itu menahan dirinya. Ia membimbing Si Manis untuk berdiri. Wajah gadis itu memang sedang ketakutan.
Wan Siang mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya dan memperlihatkannya tepat di depan mata Si Manis.
“Ini surat nikah kita. Kita resmi suami istri sekarang. Apapun yang terjadi kepadamu akan mendapat jaminan hukum, jadi kenapa harus takut?”
“Kalau itu saya tahu Koh, tapi...”
“Kamu bilang, bersedia jadi istriku kan? Sekarang kamu benar-benar telah menjadi istriku yang sah. Dan kamu harus memandangku sebagai seorang suami, jangan takut.”
Dengan memberanikan diri, Si Manis menatap Wan Siang yang sudah menjadi suami sahnya. Wan Siang memegang pipi Si Manis, mendekatkannya ke depan wajahnya, sehingga hidung mereka beradu. Si Manis dapat merasakan hembusan nafas Wan Siang yang hangat, yang kini bibirnya yang kemerahan itu bersiap-siap untuk menjelajahi bibir Si Manis.
Meskipun statusnya telah resmi menjadi suami istri, Si Manis masih saja merasa gugup, apalagi saat Wan Siang memasukkan lidah ke dalam mulut Si Manis, yang rasanya begitu lembut dan hangat. Gadis itu tak bisa menolaknya, malah dia mulai beradaptasi dengan ciuman Wan Siang yang makin lama makin dalam itu. Beberapa saat kemudian, Wan Siang melepaskannya.
“Aku ingin melakukannya malam hari, agar namanya menjadi malam pertama,” kata Wan Siang.
Si Manis menjadi gelagapan saat dilepaskan oleh Wan Siang, pipinya merah merona.
***
Malam telah tiba, Wan Siang dan Si Manis telah selesai makan malam. Lalu mereka berdua berganti pakaian yang nyaman untuk tidur. Keduanya meletakkan kepala di atas bantal masing-masing, tidur bersebelahan di atas ranjang hotel.
Si Manis merasa sebentar lagi Wan Siang akan mengambil haknya sebagai seorang suami atas dirinya.
“I... iya... memang sudah malam,” ujar Si Manis gugup.
“Ini malam pertama kita sebagai suami istri.”
Si Manis bukannya tidak tahu apa maksud Wan Siang berkata demikian. Ia cuma bersikap seperti pepatah, kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu.
“Oh iya, aku lupa kalau kamu memang belum tahu harus bagaimana,” kata Wan Siang sambil memiringkan tubuhnya sambil menatap wajah Si Manis yang pura-pura bodoh.
“Engkoh mau apa?” Si Manis menatap curiga ke arah Wan Siang yang jemarinya mulai melancarkan aksi membuka kancing kebayanya.
“Aku mau meresmikan hubungan kita sebagai suami istri.”
Si Manis semakin gugup saat Wan Siang berhasil membuka seluruh kancing kebayanya, dan kini tampaklah pakaian dalamnya yang berwarna putih berbahan katun seperti korset. Wan Siang juga harus membuka pakaian dalam itu untuk melihat tubuh istrinya tanpa penutup apapun.
Kali ini Si Manis sudah tidak memasang wajah pura-pura bodoh lagi, namun berganti dengan wajah penuh kecemasan. Karena perbuatan Wan Siang, kini setengah tubuhnya menjadi telanjang, untuk pertama kalinya, Wan Siang dapat melihat tubuh bagian atas istrinya yang mempesona itu. Ia tersenyum bahagia, seperti baru saja menemukan harta karun.
Sementara Si Manis merasa itu adalah saat yang menegangkan, apalagi saat Wan Siang mulai menyentuh kulitnya yang tidak terlindungi oleh pakaian itu. Bulu romanya merinding menghadapi sentuhan Wan Siang yang kulitnya juga sangat lembut.
Bibir lelaki Tionghoa itu kini mulai menciumi leher istrinya dan turun ke pundak, lalu ke dua benda yang bentuknya seperti bukit. Si Manis tak bisa lagi bersikap santai, ia merasakan hal-hal yang membuatnya mulai mendesah pelan, membuat Wan Siang semakin bahagia dan bersemangat.
__ADS_1
Selanjutnya tangan Wan Siang berusaha melepas kain panjang yang menutupi pinggul hingga kaki Si Manis. Saat itulah Si Manis betul-betul kaget.
“Tunggu dulu Koh...”
“Kenapa?”
“Jangan terlalu bersemangat ya Koh, saya ... belum pernah melakukan hubungan seperti ini.”
Wan Siang menghentikan sejenak kegiatannya melucuti pakaian bagian bawah istrinya, ia tahu Si Manis sedang panik.
“Percayakan dan pasrahkan tubuhmu kepadaku, tapi awalnya memang akan sakit. Jadi kamu harus tahan.”
Si Manis mengingat kembali nasihat Ny. Tan, bahwa ia harus kuat menghadapi apa pun jika memang mencintai Wan Siang. Kali ini serangan itu datang dari Wan Siang sendiri. Walaupun sudah diperkirakan, tetapi Si Manis tidak pernah menyangka apa yang sebenarnya akan dialami dan dirasakannya.
Setelah seluruh tubuh Si Manis tak tertutup oleh sehelai kain pun, Wan Siang mulai membuka bajunya sendiri, sehingga mereka bagaikan Adam dan Hawa di tengah-tengah surga Eden.
Sebenarnya itu bukan pertama kalinya Si Manis melihat seluruh tubuh Wan Siang. Dulu karena kelakuan Wan Siang yang mengerjainya, ia jadi harus melihat pemandangan yang seharusnya ia lihat malam itu. Tetapi melihat saja tentunya berbeda dengan merasakan. Si Manis menutup matanya, sama seperti dulu.
“Kok tutup mata, masih takut lihat badanku?”
“Sekarang takutnya tidak cuma karena lihat badan Engkoh, tapi... ini pertama kalinya bagi saya, perasaan saya kacau sekali.”
“Kamu tenangkan diri ya...”
Si Manis berusaha melawan ketakutannya sendiri, sembari Wan Siang terus menjamah tubuhnya. Baru kali itu sekujur tubuhnya mendapat sentuhan seperti itu, dari seorang laki-laki. Ternyata rasanya memang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Si Manis sendiri. Gadis itu sendiri sampai hampir menangis saat mengalami bagaimana bagian dalam tubuhnya dijelajahi dan terkoyak hingga darah menetes di atas sprei putih milik Hotel Du Pavillon.
Wan Siang sendiri bukannya tanpa kesulitan melakukannya. Ia butuh waktu yang cukup lama untuk menembus tubuh Si Manis yang masih perawan. Tetapi karena tidak ingin menyakiti istrinya lebih parah lagi, ia berusaha melakukannya sehalus mungkin. Namun tetap saja, Si Manis sampai mau menangis dibuatnya. Untungnya Wan Siang tahu apa yang harus dilakukan, dia tidak berbuat kasar dan berusaha membuat Si Manis nyaman serta menikmati. Tentu, karena masih pengalaman pertama, belum selancar itu.
Saat semuanya telah terjadi, Wan Siang menatap wajah istrinya yang tubuhnya ditutupi oleh selimut berwarna putih. Kini hubungan mereka menjadi lebih dalam dari sebelumnya. Si Manis tak lagi perawan karena perbuatan Wan Siang, tapi itu membuat Wan Siang semakin mencintainya dan ingin selalu melindunginya.
Lelaki itu membelai rambut istrinya yang tergerai dan menghapus keringat yang ada dikeningnya.
“Maaf ya kalau tadi aku membuatmu sakit.”
“Tidak apa-apa, sekarang saya sudah menjadi milik Engkoh seutuhnya, sudah tidak ada yang bisa saya sembunyikan lagi.”
“Nanti lama-lama tidak sakit kok, kalau kamu sudah terbiasa.”
“Memangnya saya bisa kabur dari Engkoh kalau Engkoh mau melakukannya lagi?”
“Kamu tidak akan mau kabur kalau sudah terbiasa. Sekarang ayo kita mandi berdua.”
Setelah selesai melakukan ritual malam pertama yang menyakitkan bagi Si Manis dan memuaskan bagi Wan Siang, mereka berdua membersihkan diri di kamar mandi. Si Manis dulu amat ketakutan saat harus memandikan Wan Siang di rumah lelaki itu. Tak disangka, mereka sekarang malah mandi berdua, rasanya sangat menyenangkan. Setelah itu mereka tidur kembali, lebih nyenyak daripada tidur pada malam-malam sebelumnya. Berdekapan, sebagai sepasang suami istri.
__ADS_1