
Untungnya sakit Si Manis tidaklah lama. Pada saat Wan Siang pulang, Si Manis sudah bisa berkegiatan seperti biasa. Tetapi saat melihat Si Manis, Wan Siang merasa ada yang tidak beres. Gadis itu seperti menyimpan sesuatu, karena wajahnya menunjukkan mimik khawatir.
“Ada apa Manis, kelihatannya kamu sedang banyak pikiran?” Wan Siang mulai dapat mengerti perasaan Si Manis.
“Anu...e... mungkin karena saya baru sembuh. Kemarin saya sempat sakit Koh.”
Ganti Wan Siang yang wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
“Sakit apa?”
“Demam Koh, pusing sampai ndak bisa bangun.”
“Terus siapa yang ngurus kamu, pas kamu sakit?”
Kecurigaan Wan Siang bertambah saat Si Manis tidak langsung menjawab. Gadis itu sangat lugu, sehingga tak mungkin bisa menyembunyikan sesuatu dari Wan Siang yang cerdas.
“Kamu bilang saja yang sebenarnya,” ujar Wan Siang.
“Tapi Engkoh jangan marah ya...”
“Kalau kamu jujur, itu lebih baik.”
“Yang ngurus saya itu.... Sun Kwan.”
Wajah Wan Siang tiba-tiba seperti membeku, terbayang olehnya bagaimana Sun Kwan mendekati Si Manis saat ia tak ada di rumah.
“Benar-benar licik dia...” Wan Siang berkata lirih, nyaris tak terdengar oleh Si Manis.
“Engkoh jangan marahi Sun Kwan ya, dia cuma bermaksud baik,” ujar Si Manis, wajahnya kembali khawatir.
“Apa dia tahu kalau aku cuma ada di rumah hari Sabtu dan Minggu?”
“Tahu Koh, sebenarnya kami tidak sengaja ketemu di toko pakaian, terus dia saya beri tahu kalau Engkoh sekarang punya usaha di Kudus, pulangnya Sabtu dan Minggu.”
“Aku ngerti Manis, aku paham. Yang penting kamu sekarang sudah sehat.”
Wan Siang lalu mengumpulkan seluruh pembantunya. Si Manis takut kalau pemuda itu marah besar. Para pembantunya lebih ketakutan lagi.
“Saat Nona Manis sakit, di mana kalian semua?” tanya Wan Siang. Dia menahan suaranya agar nadanya tidak meninggi.
“Di...di... rumah, Tuan,” ujar para pembantu serempak.
“Kenapa tidak ada yang mengurusnya, sampai adikku harus turun tangan sendiri?”
“Kami pikir Nona ingin bangun siang, jadi....,” jawab kepala pembantu di rumah itu.
“Apa pernah dia bangun siang?”
“Tidak Tuan, biasanya Nona selalu bangun pagi.”
“Kalau ada yang tidak biasa, kenapa kalian tidak periksa?”
“Maafkan kami Tuan, kami salah.” Para pembantu itu minta maaf serempak, mereka semua menundukkan wajah.
“Kalau aku tidak di rumah, kalian harus jaga Nona. Dan jika adikku Sun Kwan datang sendirian mau ketemu dia, itu tidak diperbolehkan. Mengerti?”
__ADS_1
“Mengerti Tuan.” Kembali para pembantu itu menjawab secara bersamaan bak paduan suara.
Si Manis melihat Wan Siang dengan wajah serius menegur para pembantunya. Lelaki itu sebenarnya marah, tetapi dirinya yang sekarang sudah pandai mengendalikan diri.
Yang Si Manis tidak tahu adalah apa yang sedang dipikirkan Wan Siang. Lelaki itu berniat menemui adik tirinya dan memberi peringatan.
“Aku mau pergi sebentar,” Wan Siang pamit.
“Ke mana Koh?”
“Ke rumah teman.”
Wan Siang memang sengaja tak mengatakan yang sebenarnya, agar Si Manis tidak bisa mencegahnya menemui Sun Kwan.
Sebenarnya Wan Siang sudah sangat jarang pulang, jika ia pulang ke rumah pasti ada hal yang sangat penting. Saat itu Tuan dan Nyonya Liem sedang tidak ada di rumah karena menghadiri pesta pernikahan anak salah satu kawan mereka. Tetapi Sun Kwan dan Siaw Cing ada di rumah.
Siaw Cing amat terkejut saat melihat Wan Siang dengan wajah dingin datang ke rumah, ia bahkan tidak tersenyum saat melihat Siaw Cing. Gadis itu merasa akan terjadi hal yang besar.
“A Cing, di mana Sun Kwan?” tanya Wan Siang kepada Siaw Cing.
“A..ada apa ini Koh?” Siaw Cing balik bertanya.
“Aku cuma mau kasih tahu dia sesuatu, biar dia tambah pinter.”
Batin Siaw Cing semakin tak enak. Dia terpaku menatap kakak sulungnya. Pertama, penampilan WanSiang berubah. Wan Siang memakai jas, kemeja, dan celana panjang, seperti orang Eropa. Kedua, jelas wajah Wan Siang menunjukkan rasa tidak suka atas sesuatu.
Pada saat itu Sun Kwan muncul. Ketika melihat Wan Siang, mimik wajah Sun Kwan juga berubah. Seolah kedua lelaki itu sedang berada di ring tinju, bersiap untuk baku hantam.
“Kamu pasti tahu kenapa aku datang,” ujar Wan Siang kepada Sun Kwan.
“Aku tahu, aku juga tidak ada niat lari Koh,” Sun Kwan menjawab kakaknya dengan segenap keberanian yang belum pernah dilihat Wan Siang sendiri.
“Sekarang aku mau tanya sama kamu, Sun Kwan. Apa maksud kamu datang sendirian ke rumahku untuk ketemu Si Manis, tanpa ngajak A Cing?”
“Aku memang mau ketemu dia secara pribadi.”
“Biar kamu bisa dekat-dekat dia, pegang-pegang dia pas dia sedang dalam posisi lemah ya?”
“Dia lagi sakit Koh. Apa menurut Engkoh, laki-laki yang ada di Kudus bisa ngurus perempuan yang sedang sakit di Semarang?”
“Kenapa tidak minta tolong pembantuku? Pembantu di rumahku itu ada lima, lima!” Emosi Wan Siang mulai terpancing dengan perkataan Sun Kwan.
Siaw Cing tahu, Wan Siang pasti juga akan berpikiran sama dengannya. Tetapi walaupun melihat Wan Siang sudah emosi, Siaw Cing masih terdiam sambil menunggu.
“Si Manis itu calon istriku, jadi kamu jangan berani-berani ketemu dia sendirian lagi.”
“Calon istri, apa Mama akan setuju Koh? Mama itu berulang kali punya rencana menjodohkan Engkoh dengan putri orang terpandang. Apa Engkoh bisa menikahi Si Manis?”
“Mama memang selalu punya rencana, tetapi jalan hidupku, aku yang memutuskan.”
“Kalau keputusan Engkoh itu menyebabkan Engkoh kehilangan keluarga, apa Engkoh sanggup?”
Sun Kwan tahu persis jalan pikiran Mamanya, sifat keras Nyonya Liem tidak akan mengizinkan anak sulung kebanggaannya menikahi seorang gadis biasa. Itu pasti akan menurunkan gengsinya.
“Aku tahu yang kamu butuhkan itu sebenarnya bukan Si Manis, tapi kasih sayang,” sindir Wan Siang.
__ADS_1
“Tapi aku mencintai Si Manis Koh.”
“Bagaimana kamu mencintai orang yang cintanya sudah diberikan ke lelaki lain?”
“Apa Si Manis sudah bilang bahwa dia mencintai Engkoh?”
“Ya, dan aku sekarang berjuang demi dia. Agar aku bisa cukup kuat untuk memberinya kehidupan yang layak di Kudus,” ujar Wan Siang.
Sun Kwan tiba-tiba merasa sangat sedih, karena mendengar rencana Wan Siang membawa Si Manis ke Kudus.
“Kalau aku masih Liem Wan Siang yang dulu, pasti aku hajar kamu kalau berani sentuh perempuan milikku. Tapi justru itu yang membuat aku mencintai gadis itu, dia beri aku kasih sayang. Aku bisa jadi manusia yang lebih baik. Mestinya kamu juga bisa menemukan perempuan yang tulus mencintaimu, yang memberimu kasih sayang secara tulus. Baru kamu bisa hidup bahagia.” Wan Siang berkata baik-baik kepada Sun Kwan.
Itu sungguh di luar perkiraan Siaw Cing. Wan Siang yang dulu pasti akan menghajar Sun Kwan. Tetapi kakak sulungnya itu agaknya sudah berubah, semenjak dia menemukan cinta dan memahami apa arti cinta yang sebenarnya. Cinta membuat orang lebih berperasaan.
Mendengar kata-kata Wan Siang yang lembut dan penuh perasaan, membuat hati Sun Kwan luluh. Matanya berkaca-kaca, karena rasa sedih dan haru. Ia bersedih karena cintanya kandas, sekaligus terharu karena kakak tirinya berbicara dari hati ke hati.
Sun Kwan akhirnya memahami mengapa Liem Wan Siang tidak mau melepaskan Si Manis. Sebab Wan Siang telah menemukan kebahagiaannya yang sejati. Sun Kwan iri terhadap kakaknya yang telah bahagia karena cinta. Ia pun ingin merasakan hal yang sama, disayangi dan berbahagia pada akhirnya.
“Sun Kwan, walaupun kamu adik tiriku, biarpun kita sudah dipaksa bersaing dari kecil, tetapi aku ini tetap kakakmu. Waktu kamu masih bayi dan dibawa ke rumah ini, aku sangat senang. Sejak itu aku merasa sayang terhadapmu.”
Sun Kwan mencoba mengingat segala kejadian yang dialaminya pada waktu kecil bersama Wan Siang. Ketika ia dimarahi oleh Mama tirinya, Wan Siang datang dan menghiburnya.
“Mama memang begitu, suka marah-marah. Kamu jangan nangis lagi ya, aku juga sering dimarahi Mama, nanti kamu juga terbiasa. Sekarang ayo kita main lagi.”
Kemudian Sun Kwan bisa kembali tersenyum, karena merasa ada orang yang merasa senasib sepenanggungan dengannya. Orang itu adalah Wan Siang.
Tiba-tiba Sun Kwan tidak bisa membendung air matanya. Ia menangis, mengingat kebodohannya tempo hari. Rasa haus kasih sayang yang tak kunjung didapatkannya dalam hidup mendorongnya melakukan hal-hal bodoh.
Melihat Sun Kwan menangis, hati Wan Siang luluh. Ia memeluk adik tirinya itu dengan penuh kasih sayang.
“Aku menyayangimu, Sun Kwan,” kata Wan Siang sambil menepuk-nepuk punggung Sun Kwan.
Sun Kwan semakin terharu, dalam pelukan itu, ia bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari kakak tirinya.
Melihat pemandangan itu, Siaw Cing jadi ikut menangis. Ia akhirnya mendekat dan memeluk kedua kakak laki-lakinya.
“Huwaaa.... aku jadi terharu. Koh Wan Siang, Koh Sun Kwan, aku juga sayang kalian,” kata Siaw Cing.
“Maafkan aku Koh Wan Siang, maafkan aku...” Sun Kwan sungguh menyesal dan menyadari kebodohannya.
Setelah kejadian itu, Sun Kwan tak lagi melukis sosok Si Manis. Ia menyimpan semua lukisan Si Manis yang pernah ia buat di dalam peti, seolah ingin menguburnya di dalam kotak itu. Sekarang ia melihat Si Manis sebagai calon kakak iparnya. Menghormati gadis itu seperti ia menghormati Wan Siang. Memang seperti itulah yang seharusnya.
Sun Kwan telah melepaskan harapan dan rasa cintanya akan Si Manis. Tetapi sebagai gantinya, ia mendapat kasih sayang yang selama ini diharapkannya, kasih sayang dari saudara-saudaranya. Bagaimanapun keluarga adalah sesuatu yang sangat berharga bagi Sun Kwan.
***
Wan Siang pulang ke rumah dengan perasaan yang berbeda, ia berangkat dengan marah, tetapi pulang dengan hati yang berbahagia. Ia tersenyum dan Si Manis turut berbahagia melihat calon suaminya itu tampak bahagia.
“Sudah ketemu sama temannya Koh?”
“Sudah.”
“Teman lama ya Koh? Lama tidak ketemu pasti banyak yang dibicarakan.”
“Iya, teman lama yang tiba-tiba pulang. Aku senang dia kembali lagi.”
__ADS_1
“Saya juga ikut senang kalau Engkoh senang.”
Wan Siang sekarang menyadari, apa arti Si Manis bagi dirinya. Gadis itu bukan sekedar jimat, melainkan juga sumber kebahagiaan dan kasih sayang dalam hidupnya. Seperti pelita yang menerangi hidupnya yang sebelumnya gelap dan pekat. Pelita itu membuatnya melihat berbagai hal yang indah yang ada di dunia ini.