Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 7 Sun Kwan membawa kue bulan


__ADS_3

Hari itu adalah pertengahan bulan September, bertepatan dengan festival kue bulan yang terjadi pada tanggal 15 bulan ke-8 menurut penanggalan Tiongkok. Perayaan tersebut merupakan lambang ungkapan rasa syukur orang Tionghoa terhadap musim panen, sekaligus mengandung harapan agar panen-panen di tahun berikutnya lancar. Di Tiongkok sendiri festival kue bulan biasanya terjadi pada musim gugur, karena itu festival kue bulan juga disebut sebagai festival musim gugur.


Setelah Sun Kwan dan Siaw Cing pergi ke kelenteng, Sun Kwan sengaja membeli kue bulan yang juga sedang marak dijual untuk dibawa mengunjungi rumah Wan Siang.


Wan Siang, seperti dugaan Sun Kwan dan Siaw Cing, memang tidak berniat pergi ke kelenteng, walaupun sedang ada perayaan besar. Biarpun begitu, karena sedang hari raya, maka Wan Siang sudah siap menerima kunjungan kedua adiknya itu.


Saat mereka berdua datang, Si Manis juga tampak menyambut baik kedatangan mereka. Sun Kwan merasa senang melihat Manis yang tampak cantik dengan memakai kebaya bercorak bunga-bunga kuning.


“Manis, aku bawakan kue bulan, semoga kau suka,” kata Sun Kwan sambil menyodorkan bungkusan yang dibawanya kepada Si Manis.


“Terima kasih, Tuan. Saya akan menaruhnya di piring untuk dimakan bersama,” ujar Manis, wajahnya tampak sumringah.


“Ide yang sangat bagus.”


Sun Kwan tampak lebih gembira lagi saat melihat gadis itu tersenyum karena diberi kue. Saat melihat Si Manis, entah kenapa aura kecantikannya semakin nyata di mata lelaki itu. Sun Kwan juga memperhatikan bahwa Si Manis tubuhnya sudah berubah menjadi semakin menarik, di balik kebayanya yang terlihat lebih sempit seiring dengan pertumbuhannya yang pesat.


Kulitnya yang tadinya agak kusam, kini berangsur-angsur menjadi lebih cerah dan sehat. Di rumah Wan Siang, Manis jadi lebih sering makan buah dan sayur, juga minum air putih yang memang sangat bagus bagi kulit. Air mandi di rumah Wan Siang juga berkualitas lebih baik dari air di rumah Manis yang dulu, sehingga itu juga berpengaruh kepada membaiknya kondisi kulit Si Manis.


Sun Kwan memang orang yang sangat memperhatikan rincian segala sesuatu, juga termasuk orang yang teliti. Karena itulah ia dipercaya ayahnya untuk menjadi juru pembukuan di perusahaan ayahnya. Walaupun ia bukan orang yang menyukai kerja perusahaan, tetapi ia menerima permintaan ayahnya untuk membantu di perusahaan keluarga sekedar untuk menghormati keinginan ayahnya itu. Sebab Wan Siang benar-benar tak bisa diandalkan karena sibuk mengurus rumah judinya sendiri.


Wan Siang, Sun Kwan, Siaw Cing, dan Si Manis duduk bersama di ruang tengah, dengan kue bulan di tengah-tengah mereka. Kue bulan disebut juga gwee pia dalam bahasa Hokkian, bentuknya bulat yang melambangkan keutuhan serta kesatuan, dan rasanya manis. Sun Kwan sengaja duduk di dekat Si Manis dan itu membuat Wan Siang jadi lebih mengawasi mereka berdua.


“Sebenarnya ada cerita di balik kue bulan ini, apa kau mau dengar?” kata Sun Kwan kepada Si Manis.


“Saya mau dengar Tuan.”


“Dalam festival kue bulan, ada cerita tentang Dewi Bulan yang bernama Siang Go (Chang E). Siang Go adalah istri Ho Gie (Hou Yi), seorang pemanah yang diturunkan ke Bumi untuk memanah matahari. Saat itu di Bumi tiba-tiba muncul 10 matahari, sehingga manusia kepanasan, dan sembilan matahari di antaranya harus dimusnahkan. Setelah Ho Gie berhasil memanah sembilan matahari, Dewi Kahyangan memberikan obat panjang umur kepada pasangan suami istri tersebut. Ho Gie yang hidup panjang umur dan dipuji-puji oleh masyarakat menjadi sombong. Melihat hal itu, Siang Go menjadi sedih dan meminum semua obat panjang umur. Siang Go tidak tahu bahwa meminum semua obat itu mengakibatkan tubuhnya menjadi semakin ringan sehingga ia naik ke Bulan dan menjadi Dewi Bulan.”


Sun Kwan menceritakan kisah itu dengan menatap wajah Si Manis lekat-lekat, dengan suara yang lembut. Gadis Jawa itu tampak senang mendengar cerita Sun Kwan, sehingga ia tersenyum dan membuat Sun Kwan semakin senang melihatnya.


Wan Siang mengawasi gelagat Sun Kwan yang tidak biasa. Adik tirinya itu jarang sekali punya teman perempuan, tetapi kenapa ia repot-repot menceritakan kisah tentang Dewi Bulan kepada Si Manis? Jadi Wan Siang menganggap itu hanya siasat agar Sun Kwan bisa berdekatan dengan Si Manis.


Karena berpengalaman hidup di dunia hitam, Wan Siang jadi dapat menilai berbagai macam tabiat orang. Gelagat Sun Kwan terhadap Si Manis juga dapat dengan mudah dinilai oleh Wan Siang.


“Ayo..ayo... makan kuenya, sayang sekali kalau kue ini cuma dilihat saja,” kata Wan Siang membuyarkan perhatian setiap orang.


Semua orang jadi mengalihkan perhatian ke kue bulan dan memakannya mengikuti perintah Wan Siang.


“Apa kuenya enak, Manis?” tanya Wan Siang.

__ADS_1


“Rasanya manis, enak Tuan.”


“Kalau kau suka, aku bisa membelikan lagi.”


Sun Kwan menoleh ke arah Wan Siang, walaupun tidak ada kata yang meluncur dari kedua lelaki itu, tetapi dari tatapan Sun Kwan, Wan Siang dapat menilai kalau adik tirinya itu seperti tidak bersenang hati.


***


Setelah selesai dengan urusan kue bulan, Sun Kwan nampaknya punya cara lain untuk menarik perhatian Si Manis. Ia mengeluarkan peralatan yang biasa ia gunakan untuk membuat lukisan dan kaligrafi. Sun Kwan sengaja membawa peralatannya dalam tas kecil untuk menunjukkan kebolehannya dalam melukis cepat.


Siaw Cing selalu senang saat Sun Kwan mulai mengeluarkan alat-alat untuk menggambar, di antaranya ada kuas, kertas, dan tinta dalam bak, selain itu juga ada stempel yang melambangkan nama Sun Kwan sebagai penanda dalam setiap karyanya.


“Manis, Koh Sun Kwan sangat hebat dalam melukis cepat, kau lihat ya, bagaimana nanti dia melukis,” Siaw Cing tampak antusias.


Manis juga penasaran dengan apa yang akan dilakukan Sun Kwan beserta peralatannya.


“Aku akan melukis sesuatu untuk Manis,” kata Sun Kwan.


“Nanti aku juga minta dilukiskan sesuatu,” kata Siaw Cing.


“Iya, nanti kau juga akan dapat lukisan,” Sun Kwan menjawab permintaan adik perempuannya.


“Hebat sekali!” pekik Si Manis.


“Ini namanya melukis kilat,” ujar Siaw Cing.


“Lukisan ini untukmu Manis, huruf-huruf ini berarti sukses, bahagia, sesuai keinginan. Ini juga semacam doa dariku, semoga kau selalu bahagia dan semua keinginanmu terkabul,” kata Sun Kwan sembari memberikan kertas hasil lukisannya kepada Si Manis. Gadis itu merasa sangat senang, ia merasa lukisan dengan harapan dan doa untuknya itu sebagai hadiah yang sangat berarti.


“Ini bagus sekali, terima kasih Tuan.”


Wan Siang merasa kesal karena tidak bisa menyaingi keahlian Sun Kwan yang memang sangat hebat dalam seni lukis. Karena itu ia cuma bisa terdiam, dan mengawasi Sun Kwan seperti elang yang mengincar mangsa.


Setelah itu Sun Kwan melukis bunga teratai untuk Siaw Cing, bunga teratai adalah bunga kesukaannya.


Sun Kwan tidak mempelajari keahlian melukis kilat dari guru pribadi yang didatangkan ke rumah. Karena keinginannya yang selalu ingin belajar, ia mendengar ada guru lukis kilat yang tinggal di Gang Warung. Guru itu bersedia menerima murid dan mengajarkan keahliannya dengan membayar sejumlah uang. Jika Sun Kwan mampu melukis dengan sempurna dalam waktu satu menit, maka gurunya mampu melakukan hal seperti Sun Kwan dalam waktu tiga puluh detik. Sebuah catatan waktu yang belum berhasil dicapai oleh murid-muridnya.


Kebanyakan yang belajar kepada guru itu adalah pemuda-pemuda yang ingin menarik hati para gadis dengan hasil lukisannya. Juga bisa ditambahkan dalam surat-surat yang mereka kirimkan untuk si gadis impian. Hal-hal kecil seperti itu kadang sangat berarti bagi perempuan dan mampu meluluhkan hati mereka. Agaknya Sun Kwan mencoba mengambil hati Si Manis dengan keahliannya itu.


Lagi-lagi Wan Siang merasa terdesak dengan kelakuan Sun Kwan, kala melihat Si Manis tampak tertarik dengan lukisan itu. Padahal Wan Siang baru saja membelikannya gelang giok yang mahal, tetapi Si Manis tidak menunjukkan ekspresi yang sama seperti saat ia menerima lukisan dari Sun Kwan. Padahal dari segi harga, jelas lukisan itu tidak sebanding dengan gelang giok yang Wan Siang berikan.

__ADS_1


***


Sun Kwan dan Siaw Cing menghabiskan waktu nyaris seharian di rumah Wan Siang. Hingga waktu makan malam tiba, mereka masih berada di sana dan memutuskan untuk makan malam bersama. Karena hari itu adalah hari raya, tentu hidangan yang disajikan juga istimewa.


Terdapat tiga jenis sayuran yang terhidang: tumis kangkung, cah kailan dan pokcoy rebus dengan tumisan bumbu bawang putih. Serta lima jenis lauk yang terdiri dari bebek panggang, ayam rebus, tumis daging sapi, tumis kerang bambu dan ikan gurame goreng.


Wan Siang, Sun Kwan dan Siau Cing menikmati hidangan itu dengan sumpit, tetapi Si Manis makan dengan menggunakan tangan.


Wan Siang membiarkan Manis makan dengan tangan karena ia paham betul orang pribumi memang terbiasa makan dengan menggunakan tangannya. Tetapi melihat hal itu, Sun Kwan yang duduk di sebelah Si Manis merasa ingin mengajarinya makan dengan sumpit.


“Manis, begini caranya makan dengan sumpit,” Sun Kwan memberikan contoh bagaimana menyumpit makanan dengan baik dan benar.


Manis berusaha mengikutinya, tetapi gagal. Itu membuat Sun Kwan tergerak untuk mengajar Si Manis lebih lanjut, ia membimbing jari-jari Si Manis dengan tangannya. Karena kesabaran dan ketelatenan Sun Kwan, Si Manis akhirnya berhasil menyumpit makanan, walaupun masih kaku, tapi nyatanya ia sudah tampak berhasil.


Wan Siang sendiri heran, kenapa kalau Sun Kwan yang mengajari, Si Manis jadi bisa menggunakan sumpit. Padahal dirinya pernah berusaha mengajari gadis itu memakai sumpit di kedai mie, tapi gagal.


Sejak kecil Wan Siang dan Sun Kwan memang selalu bersaing dalam segala hal, bahkan omelan yang diterima Wan Siang dari ibunya kebanyakan disebabkan karena Wan Siang kalah bersaing dengan saudara tirinya itu. Untuk itu Wan Siang selalu dituntut untuk belajar lebih keras agar bisa mengalahkan Sun Kwan.


Saat ini bukan omelan ibunya yang membuat Wan Siang ingin mengalahkan Sun Kwan, melainkan karena seorang gadis Jawa yang tengah mencuri perhatiannya. Si Manis menjadi seperti medali emas berkilauan yang siap diperebutkan oleh kedua lelaki itu.


Wan Siang mungkin tengah memiliki tubuh Si Manis, karena gadis itu terpaksa tinggal serumah dengannya. Tetapi dia juga ingin perhatian dan hati gadis itu. Wan Siang ingin gadis itu hanya menoleh kepadanya dan melihatnya sebagai satu-satunya lelaki yang diinginkan.


Wan Siang tidak suka melihat Si Manis tersenyum dan menoleh kepada lelaki lain, walaupun itu adiknya sendiri. Terlebih Sun Kwan jelas tampak ingin menarik perhatian gadis itu. Persaingan masa kecil mereka ternyata belum selesai, malah menjadi semakin meruncing.


“Kalian tidak berencana menginap di sini kan?” tanya Wan Siang kepada Sun Kwan dan Siaw Cing.


“Sepertinya tidak Koh, besok pagi ada temanku yang mau datang ke rumah,” kata Siaw Cing.


“Kalau begitu kalian tidak boleh pulang terlalu larut, Sun Kwan... kau jaga Siaw Cing baik-baik ya?”


“Baik Koh, setelah makan malam kami akan pulang,” ujar Siaw Cing lagi, yang membuat Wan Siang sangat lega.


Pertanyaan Wan Siang itu jelas-jelas tanda untuk mengusir Sun Kwan secepat mungkin, dengan menggunakan Siaw Cing sebagai dalih. Wan Siang sendiri memang ingin kedua adiknya itu segera pulang agar ia punya waktu untuk berduaan saja dengan Si Manis.


Si Manis tidak tahu betapa Wan Siang ingin sekali menarik gadis itu setiap kali ia berdekatan dengan dengan Sun Kwan. Perasaan seperti itu belum pernah dialami Wan Siang seumur hidupnya. Padahal ia dulu sering bersama para gadis yang bekerja untuk menemani berbagai macam jenis lelaki, tetapi itu tidak membuat hatinya terusik.


Si Manis adalah gadis yang lugu dan masih murni, kehidupannya bagai kertas putih. Wan Siang ingin kertas putih polos itu hanya diisi oleh namanya saja.


Author menyapa:

__ADS_1


Untuk mendukung Author, sudilah kiranya para readers memberikan dukungan berupa like, komen dan rate bintang 5, agar Author semakin semangat dalam menulis kisah ini. Terima kasih :)


__ADS_2