Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 42 Kembali ke Kudus


__ADS_3

Walau sedang berbahagia dan menikmati masa awal menikah, Wan Siang dan Si Manis tetap harus kembali ke kenyataan, bahwa manusia perlu bekerja untuk melanjutkan hidup. Mereka berdua pergi ke Kudus dengan kereta tujuan stasiun Wergu.


Kehidupan baru pasangan itu telah dimulai. Mungkin kehidupan mereka akan sedikit berbeda dengan apa yang mereka lalui dulu, mengingat sebelumnya mereka juga sudah tinggal berdua. Yang pasti perasaan Wan Siang semakin sayang kepada Si Manis selaku istri sahnya dan calon ibu bagi anaknya kelak.


“Kamu jangan kaget ya, rumah yang aku sewa sekarang ini kecil dan tidak sebagus rumah yang dulu di Semarang,” kata Wan Siang.


“Yang penting bisa hidup bersama Engkoh, dan tidak berpisah lagi, itu sudah membuat saya bahagia,” jawab Si Manis.


Sebenarnya Wan Siang yakin kalau Si Manis pasti tidak akan mempermasalahkan rumah yang akan mereka tinggali itu, tetapi Wan Siang merasa ia kurang bisa memberikan yang terbaik bagi istrinya.


Rumah itu memang tidak terlalu besar, tapi bagi Si Manis, rumah itu sudah sangat layak untuk ditinggali sepasang suami istri yang belum punya anak. Kamarnya cuma ada satu, cukup untuk mereka berdua. Juga ada dapur, ruang tamu dan ruang tengah untuk bersantai.


“Sebenarnya ini tidak bisa disebut rumah tinggal, karena lebih banyak digunakan untuk urusan pekerjaan.”


Di rumah itu terdapat meja kerja yang dilengkapi lampu duduk. Di atas meja itu ada sempoa dan buku sebagai sarana untuk pembukuan keuangan usaha Wan Siang. Dia sendiri yang mengerjakan segala hal menyangkut pengeluaran dan pemasukan.


“Ini meja kerjaku. Biasanya aku bertemu rekanan pada siang hari dan mengerjakan pembukuan pada malam hari,” ujar Wan Siang.


“Engkoh pasti capek sekali, karena semua dikerjakan sendiri,” kata Si Manis.


“Usahaku awalnya masih kecil, aku juga tidak punya anak buah yang terdidik. Jadi aku pikir, tidak mengapa jika semua kukerjakan sendiri. Biar anak buahku yang menjaga gudang dan melakukan pekerjaan serabutan untuk keperluanku.”


Wan Siang lalu memperkenalkan Si Manis kepada anak buahnya yang selama ini menjaga rumah, seorang laki-laki pribumi yang masih muda, tetapi cakap dan rajin bekerja.


“Namanya Jasman. Dia dulu yang bertugas menjaga dan membersihkan rumah judi, sekarang kubawa ke sini untuk menjaga rumah ini. Jasman, ini adalah Nyonya Manis istriku.”


“Selamat datang Nyonya,” sapa Jasman yang pembawaannya ramah.


Si Manis tampaknya cepat akrab dengan Jasman, karena pemuda yang bisa disebut jongosnya Wan Siang itu juga orang Jawa, seperti Si Manis.


Jasman tidak bisa membaca dan menulis, tetapi dia pemuda yang jujur. Di rumah judi Wan Siang dulu terdapat brankas penuh uang, belum lagi di laci-lacinya. Tetapi hal itu tidak membuat Jasman tergiur untuk mengambil uang Wan Siang barang sepeser. Itulah yang membuat Wan Siang sangat bersimpati dan mempercayai Jasman. Karena itulah, Wan Siang sering memberinya uang tambahan untuk makan atau membeli rokok yang membuat hati Jasman senang dan setia kepada Wan Siang.


“Sebentar lagi mungkin Tuan A Seng datang,” kata Jasman.

__ADS_1


Selama Wan Siang pergi, Paman A Seng memang diserahi tugas untuk memegang urusan di Kudus. Dan memang tak lama setelah itu, Paman A Seng datang, bersiap-siap menggoda pengantin baru.


Paman A Seng tersenyum nakal saat melihat Si Manis dan Wan Siang.


“Wah... wah... pengantin baru sudah datang. Selamat ya,” sapa Paman A Seng.


“Terima kasih, Paman,” kata Wan Siang, diikuti oleh Si Manis.


“Bagaimana bulan madunya?”


“Ya, Paman tahulah rasanya pasti menyenangkan.”


“Bukan menyenangkan lagi, dunia serasa milik berdua, hahahaha....”


Candaan Paman A Seng membuat Wan Siang ikut tertawa dan Si Manis tersenyum sambil menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya tentu saja memerah.


“Wan Siang, jangan sering-seringlah mengajak Si Manis, nanti dia capek lho.”


“Jangan seperti Paman, dulu Paman sehari bisa tiga kali, seperti minum obat hahahaha....”


“Berarti benar, Paman dulu lebih parah dari aku. Kalau aku masih ada rasa kasihan sama Si Manis, takut dia capek. Jadi cukup dua kali sehari.”


Mendengar ucapan Wan Siang, Si Manis tambah malu, tetapi dia tidak bisa berkomentar apa-apa.


“Makanya Manis... kalau kamu kecapekan, jangan sungkan-sungkan untuk menolak Wan Siang.”


“Lho, Paman ini apa tidak tahu? Si Manis itu wanita yang kuat. Dia tidak pernah merasa capek dan bosan sama aku.”


Si Manis semakin tidak bisa berkata apa-apa, kemudian ia menarik pakaian Wan Siang sebagai tanda agar suaminya tidak bercerita lebih lanjut. Paman A Seng juga tahu kalau Si Manis sudah sangat malu, jadi dia tidak meneruskan menggoda sepasang pengantin baru itu.


“Karena kamu sudah kembali, berarti Paman langsung saja ke Temanggung ya,” kata Paman A Seng.


“Urusan dengan NV. Kwee Kiaw Tjin apa sudah beres Paman?”

__ADS_1


“Tenang saja, sudah Paman bereskan. Beruntung sekali kamu bisa bekerja sama dengan mereka, Paman yakin usahamu ini akan berkembang baik kalau punya banyak klien seperti mereka. Selain perusahaannya lumayan besar, mereka juga orang-orang yang enak diajak kerja sama. Mungkin karena sesama orang Tionghoa, jadi rasa persaudaraannya itu terasa kental.”


“Benar Paman, mereka itu orang-orang baik dan rendah hati. Terutama pemiliknya, Tuan Kwee itu sangat rendah hati dan gampang diajak kerja sama. Padahal dia termasuk salah satu orang kaya di Kudus.”


“Anggap saja itu rejekinya istrimu. Berarti tidak salah kan apa yang paman bilang dulu?”


Wan Siang tiba-tiba ingat tentang mitos orang Tionghoa yang jadi semakin kaya jika memiliki simpanan perempuan Jawa. Disebut simpanan karena memang jarang yang dijadikan istri sah akibat tuntutan dan penolakan dari keluarga besar, karena itu orang Tionghoa mengambil perempuan Jawa sebagai pasangan secara diam-diam.


Tetapi Wan Siang cukup berani untuk mengambil langkah, menjadikan seorang perempuan Jawa sebagai istri sahnya.


“Sekarang aku sadar sesuatu, Paman. Lelaki Tionghoa seperti aku ini, seandainya bisa jadi semakin kaya, bukanlah karena semata-mata memiliki perempuan Jawa sebagai pasangan. Tetapi istriku ini adalah orang yang sangat mendukungku dalam berusaha. Bersamanya aku merasa lebih bahagia dan semangat. Makanya aku semakin ingin giat bekerja untuk membahagiakannya,” ucap Wan Siang.


Paman A Seng memahami pemikiran Wan Siang. Mungkin mitos yang berkembang di masyarakat itu tidak terjadi begitu saja. Semua hal memiliki sebab dan akibat. Dari sebab dan akibat itu, masyarakat mempelajari pola-pola tertentu, kemudian berkembang menjadi mitos-mitos.


Hari pertama Wan Siang kembali ke Kudus sudah membuatnya kembali disibukkan oleh urusan perusahaannya. Sudah hampir jam 11 malam, tapi Wan Siang masih sibuk menghitung-hitung dengan sempoa dan menuliskan angka-angka pada sebuah buku.


Si Manis melihat Wan Siang belum bisa beristirahat, jadi dia mendekati suaminya itu.


“Istirahat dulu Koh, ini sudah larut malam.”


“Maaf, kalau sudah bekerja aku jadi lupa waktu.”


“Saya lebih mengkhawatirkan kesehatan Engkoh, bekerja memang perlu, tapi tubuh Engkoh juga butuh istirahat.”


“Dulu aku tidak sesibuk ini. Tapi memang, karena usahaku makin berkembang, jadi kesibukanku bertambah.”


“Mungkin Engkoh butuh dibantu orang lain, tidak mungkin Engkoh kerjakan semua sendiri.”


“Ya, aku tidak mau waktuku hanya habis digunakan untuk bekerja. Aku akan mencari orang yang cakap untuk membantuku.”


Ketika Wan Siang sudah berhenti bekerja dan tidur berdua dengan Si Manis di kamar, barulah ia merasa lelah. Ia sadar, jika ia terlalu lelah, maka ia tak mungkin bisa membahagiakan istrinya. Karena itu usul Si Manis tadi sangat masuk akal.


Wan Siang mulai berpikir untuk memasang iklan lowongan pekerjaan untuk tenaga pembukuan, juga mencari satu orang lagi yang bisa berhubungan baik dengan klien-kliennya. Dua orang itu tentunya akan penting bagi kemajuan perusahaan Wan Siang, jika ia behasil menemukan orang-orang yang tepat dan tentunya dapat dipercaya, seperti Jasman.

__ADS_1


__ADS_2