Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 18 Mulai lagi dari awal


__ADS_3

Setelah membaca iklan rokok Cap Bal Tiga, Wan Siang tertarik untuk pergi ke sebuah warung yang menjual rokok. Rupanya di warung itu juga ditempel iklan yang sama seperti yang ada di tugu.


“Mau beli apa Koh?” Tanya Si Penjual.


“Rokok Cap Bal Tiga, bagaimana supaya bisa dapat sepeda?”


“Engkoh beli lima bungkus rokok, tukar lima bungkusnya dengan satu kupon undian, nanti kupon itu setiap bulan diundi di Kudus. Kalau beruntung akan dikabari dan ongkos pulang pergi ke Kudus untuk mengambil hadiah sepeda ditanggung NV Bal Tiga Nitisemito. Selain itu juga akan diajak berkeliling di pabrik rokoknya.”


“Kalau begitu aku beli lima bungkus, siapa tahu dapat sepeda.”


“Silakan, silakan Koh, semoga beruntung.”


Wan Siang mengisi formulir kupon undian dan menyerahkan kepada pemilik warung, untuk diikutkan pengundian sepeda bulan ini. Hadiahnya betul-betul lumayan, sepeda Simplex baru dilengkapi lampu dan pompanya.


Setelah itu Wan Siang mengajak Si Manis ke rumah Paman A Seng. Rumahnya di Gang Cilik, Pecinan Semarang, tak begitu jauh dari Gang Warung.


Saat itu Paman A Seng sedang bermain dengan anaknya. Dia begitu senang melihat Wan Siang datang, kemudian dia melemparkan senyuman yang aneh kepada pemuda itu saat melihatnya menggandeng Si Manis.


“Tumben kamu datang, nggandeng perempuan lagi,” ujar Paman A Seng.


“Kalau tidak digandeng, nanti dia hilang, aku yang repot,” jawab Wan Siang dengan wajah datar.


“Hahahha....ya repot, soalnya nyari yang manis-manis seperti ini susah lho,” seloroh Paman A Seng.


Si Manis jadi tersipu malu disindir begitu oleh Paman A Seng, tak berani berkomentar barang sepatah dua patah kata.


“Paman, aku dapat ide untuk usaha baru kita.”


“Wah, apa itu?”


“Hari ini aku beli lima bungkus rokok Cap Bal Tiga, tapi bungkusnya sudah aku tukar dengan satu kupon undian biar dapat sepeda. Ini rokoknya semua buat Paman.”


“Kamu mau usaha undian berhadiah? Bagus juga itu. Kamsia* buat rokoknya.”


“Bukan. Paman lihat tidak, rokok selalu laris? Kalau mau usaha yang selalu banyak pembelinya ya, usaha yang ada hubungannya dengan rokok. Tidak peduli zaman lagi susah, semua orang selalu beli rokok. Tidak peduli kaya atau miskin. Artinya usaha di bidang ini akan jalan dan tak terpengaruh zaman meleset.”


“Benar juga, usaha rokok tidak kena zaman meleset, karena tidak jualan ke luar negeri. Pembelinya ada di sini semua. Tapi apa kamu mau bikin pabrik rokok?”


“Tidak juga, bikin pabrik rokok kan itu butuh modal besar sekali. Aku tidak sekaya Nitisemito. Tapi kita bisa tawarkan kerja sama ke perusahaan-perusahaan besar itu.”


“Kerja sama dalam bentuk apa?”


“Kita sediakan tembakau bahan bakunya. Kita cari tembakau yang bagus dengan harga yang bagus juga, pasti mereka mau bekerja sama dengan kita.”


“Kamu tahu kan, pabrik rokok biasanya ada di daerah Kudus, Rembang dan sekitarnya. Kalau kebun tembakau itu banyak ada di Temanggung.”


Tiba-tiba Wan Siang teringat Ciam Sie yang dulu dia dapat dari kelenteng Gang Lombok, mengenai rejeki yang berasal dari timur dan barat.


“Aku baru ingat, kemarin dulu aku ke kelenteng Gang Lombok, menurut penjaga kelenteng, aku bakal dapat rejeki bagus, tapi rejekinya berasal dari barat dan timur. Kudus itu letaknya di timur, sedangkan Temanggung itu di barat. Mungkin ini memang jalan baru untuk kita, yang jelas bisa kita coba.”


Raut wajah Paman A Seng berubah menjadi gembira dan bersemangat.


“Kalau begitu nanti coba aku datangi temanku yang ada di Temanggung, mungkin dia tahu tentang perkebunan tembakau di daerah itu.”


“Kalau ada kenalan di Temanggung, lebih bagus lagi, Paman. Nanti kalau usaha kita sudah lancar, kita pekerjakan lagi anak buah kita dari rumah judi dulu. Kita mulai lagi dari awal.”


“Bagus, bagus! Tenang saja, Paman A Seng siap membantu. Lagipula Paman juga perlu uang buat kasih makan anak istri,” kata Paman A Seng sambil mengangkat tinggi-tinggi anaknya.


“Paman pasti perlu uang banyak, karena banyak anak, banyak istri juga!” sindir Wan Siang. Kedua laki-laki Tionghoa itu tertawa.


***


Wan Siang merasa lebih bersemangat dari sebelumnya. Sekarang di benaknya sudah ada cita-cita baru, menjadi tauke tembakau. Konon tauke tembakau bisa mendapat keuntungan dua puluh persen dari hasil penjualan tembakau dari petani ke pabrik rokok. Apalagi bisnis rokok sedang bagus dan tak kena imbas lesunya perekonomian dunia.


Karena semangat itu, pola hidup Wan Siang juga berubah. Ia bangun pagi dan melatih tubuhnya dengan berolahraga. Wan Siang melatih jurus-jurus silat yang dulu pernah ia pelajari. Ia sadar, untuk dapat merubah segalanya, pertama-tama yang harus diubah adalah diri sendiri dulu.


Sudah lama pula ia tak meminum arak, sehingga kewarasannya semakin meningkat. Ia mulai membaca lagi buku-buku pengetahuan untuk mengasah otaknya. Wan Siang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi orang yang lebih hebat lagi. Menjadi lebih sehat dan cerdas itu penting dalam perubahan hidup yang akan dilaluinya.

__ADS_1


Melihat perubahan Wan Siang yang semakin luar biasa dari hari ke hari, Si Manis jadi lebih mengaguminya. Pria itu seperti bukan orang yang sama seperti di rumah judi dulu. Dengan kehendak sendiri, Si Manis menyediakan air putih dan buah-buahan setelah Wan Siang berolahraga. Saat itu Wan Siang bertelanjang dada, dan tampaklah bentuk dadanya yang kekar dan kokoh, otot-ototnya terbentuk dengan baik. Membuat hati Si Manis berdesir.


“Koh, ini air putih dan buah, biar segar,” kata Si Manis.


“Terima kasih, kok kamu jadi perhatian sekarang?”


“Saya mau mendukung Koh Wan Siang, sekarang Engkoh jauh lebih baik dari pada dulu. Saya ikut senang.”


“Memangnya dulu aku bagaimana?”


“Dulu Engkoh suka mabuk-mabukan, sekarang tidak pernah lagi. Koh Wan Siang juga lebih baik sama saya.”


“Oh ya, kalau aku jadi lebih baik, apa kamu mau jadi lebih baik juga sama aku?”


“Ya iya Koh. Pokoknya saya mau jadi pendukungnya Engkoh, kalau Engkoh perlu sesuatu dari saya, tinggal bilang saja.”


Wan Siang tersenyum, otaknya yang semakin cerdas itu berputar. Memikirkan apa yang sedang ia inginkan dari Si Manis.


“Sudah lama aku tidak dinyanyikan dan didongengi sama kamu, aku ingin kamu nyanyi dan ndongeng lagi kayak dulu.”


Menyanyi dan mendongeng adalah kebiasaan Si Manis waktu dulu di kamar Wan Siang. Tetapi dulu Si Manis dengan agak terpaksa melakukannya, karena ia harus menuruti Wan Siang sebagai majikan.


“Tapi kalau kamu menolak juga tidak apa-apa. Aku kan sekarang bukan majikanmu ,” ujar Wan Siang.


“Saya mau Koh.”


Wan Siang agak terkejut dengan pernyataan Si Manis.


“Benar? Kamu tidak terpaksa kan kali ini, kamu rela?”


“Saya rela Koh, saya rela kalau itu bikin Engkoh senang.” Si Manis berkata sambil tersenyum, sehingga Wan Siang tidak perlu mempertanyakan lagi soal kerelaannya.


***


Hubungan Si Manis dan Wan Siang juga seperti dimulai lagi dari awal. Rasa kesal dan terpaksa yang dulu pernah dirasakan Si Manis saat merasa dijual oleh ayahnya telah sirna, berganti dengan hubungan atas dasar kerelaan dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Wan Siang pun begitu, pengalamannya mengenal belas kasih ia dapatkan dari Si Manis yang mau mengurusnya saat ia sedang terpuruk. Lalu rasa belas kasih di dalam hatinya berubah menjadi sayang, akhirnya kasih sayang itu kini ada di hati Wan Siang. Bukan rasa sayang dari seorang kakak kepada adiknya, jelas beda dengan perasaannya kepada Siaw Cing.


Si Manis memutuskan untuk bernyanyi dan mendongeng lagi untuk Wan Siang, sebagai pengantar tidurnya. Ia berbaring di sisi Wan Siang, mulai menyanyikan lagu-lagu yang dihapalnya, juga bercerita tentang kisah Andhe-andhe Lumut, tentang seorang pangeran yang mencari istri.


Si Manis menyanyikan lagu saat ibu sang pangeran memperkenalkan para gadis cantik yang mencoba peruntungannya agar dipilih menjadi istri sang pangeran.


Sang ibu menyanyi memperkenalkan:


Putraku si Andhe Andhe Andhe lumut.


(Putra saya si Andhe Andhe lumut).


Temuruno ono putri kang unggah-unggahi.


(Turunlah ada seorang putri yang ingin bertemu).


Putrine, ngger, sing ayu rupane.


(Seorang gadis nak, yang cantik wajahnya).


Klenthing Abang iku kang dadi asmane.


(Klenthing Merah itu namanya).


Pangeran menjawab:


Duh ibu, kulo dereng purun.


(Wahai ibu, saya belum mau).


Duh, ibu kulo mboten mudhun.

__ADS_1


(Wahai ibu, saya belum mau turun).


Nadyan ayu sisane si Yuyu Kang-Kang.


(Walaupun cantik sisa si Yuyu Kang-Kang).


Para wanita cantik ditolak sang pangeran karena semua wanita itu mau dicium oleh Yuyu Kang-Kang, siluman penjaga sungai berbentuk kepiting sawah, sebagai syarat agar bisa menyeberangi sungai untuk sampai ke istana sang pangeran. Ciuman itu meninggalkan bekas di pipi para gadis cantik itu. Sang pangeran bisa melihat tanda itu dan menolak para gadis cantik itu.


Lalu datanglah Klenthing Kuning. Sang ibu menyanyi lagi:


Putraku si Andhe Andhe Andhe Lumut.


(Putra saya si Andhe-Andhe lumut).


Temuruno ono putri kang unggah-unggahi.


(Turunlah ada putri yang mau bertemu).


Kerene, ngger, kang olo rupane.


(Ke sinilah nak, yang jelek wajahnya).


Klenthing Kuning iku kang dadi asmane.


(Klenthing Kuning itulah namanya).


Pangeran menjawab:


Duh, ibu, kulo sampun purun.


(Wahai ibu saya mau).


Duh, ibu kulo purun mudhun.


(Wahai ibu saya mau turun).


Nadyan olo putri niki pilihan kulo.


(Walaupun jelek itulah pilihan saya).


Akhirnya pilihan sang pangeran jatuh pada Klenthing Kuning, satu-satunya gadis yang tidak mau dicium oleh Yuyu Kang-Kang, walaupun wajahnya tidak cantik. Dengan keris pusaka, Klenthing Kuning bisa mengalahkan Yuyu Kang-Kang dan akhirnya sampai ke tempat pangeran tanpa dicium oleh sang siluman. Dengan keris yang sama, air sungai dapat disurutkan sehingga dapat dilewati Klenthing Kuning.


Wan Siang sangat menyukai kisah Klenthing Kuning dan lagu yang dinyanyikan Si Manis, seolah dia adalah raja yang mendengarkan kisah 1001 Malam dari Shehrazad, seorang wanita yang piawai dalam bercerita.


Kisah Klenthing Kuning memang sangat terkenal di kalangan rakyat, bertujuan untuk mendidik anak-anak perempuan mereka agar menjaga kesucian dan menghindari laki-laki hidung belang. Karena anak perawan dianggap berharga. Apalagi kalau anak tersebut memiliki paras yang elok, tentu nilainya lebih tinggi lagi.


“Manis, dari mana kau mempelajari semua kisah-kisah yang pernah kau ceritakan kepadaku?” Wan Siang bertanya.


“Dari bapak dan ibu, mereka suka mendongengi saya sebelum tidur,” jawab Si Manis.


“Jadi bukan dari bacaan?”


“Tidak Koh, saya tidak bisa membaca.”


Wan Siang sangat memahami betapa tidak meratanya pendidikan waktu itu. Yang bisa mengenyam pendidikan adalah orang-orang kaya, sedangkan di kalangan pribumi, hanya orang dari kelas priyayi saja. Rakyat jelata seperti Si Manis kebanyakan tak berpendidikan dan buta huruf. Mungkin itu juga keinginan pemerintah Hindia Belanda, tak ingin bangsa pribumi menjadi cerdas. Yang terdidik pun diarahkan untuk membantu pemerintahan, dengan bekerja sebagai abdi negara bergaji rendah.


Itu mendorong Wan Siang untuk berbuat sesuatu untuk Si Manis.


“Kalau aku ajari baca tulis, apa kamu mau?”


“Mau Koh, tapi saya tidak tahu apakah saya bisa.”


“Kamu pasti bisa. Kamu pandai menghafal, itu juga kecerdasan. Pada dasarnya pikiranmu itu cerdas.”


Si Manis memperhatikan Wan Siang yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh kasih sayang dan harapan. Wan Siang telah memulai kembali hidupnya ke arah yang lebih baik, ia juga ingin Si Manis bisa berkembang ke arah yang lebih baik pula.


Keterangan:

__ADS_1


Kamsia: terima kasih.


__ADS_2