
Berita tentang sakitnya Sun Kwan telah didengar oleh Ai Lien melalui Siaw Cing. Adik Sun Kwan itu dengan perasaan remuk redam datang ke rumah Ai Lien dan menceritakan keadaan Sun Kwan yang terbaring lemah karena penyakit yang tidak bisa dijelaskan, setelah berusaha meminta restu kepada ibu tirinya.
“Akulah yang mendorongnya untuk berbuat berani. Sekarang karena keberaniannya itu kakakku sakit, aku turut merasa bersalah.” Siaw Cing menangis di hadapan Nona Hu.
Mendengar berita Sun Kwan sakit karena memperjuangkan cinta, Nona Hu yang biasanya tegar menjadi amat terpukul. Ia juga merasa bersalah karena telah mendorong Sun Kwan untuk meminta restu dan melamarnya.
“Aku menyuruh Sun Kwan untuk memberitahukan hubungan kami. Aku sempat meragukan keberaniannya karena lamanya waktu yang dia perlukan untuk mengatakannya kepada orangtuamu. Tetapi kalau keadaannya begini, aku mengerti mengapa ia seperti itu.”
“Nona Hu, kau harus berbuat sesuatu. Aku tidak ingin kehilangan Koh Sun Kwan. Kau pasti juga tak ingin kehilangannya.”
“Aku akan lakukan apapun untuk memperbaiki keadaan ini. Kalau perlu, aku akan memohon kepada Nyonya Liem.”
Itulah tekad Nona Hu yang kuat. Ia tak ingin menyerah kepada keadaan yang makin lama menjadi makin buruk.
Pertama-tama ia mendatangi orangtuanya sendiri dan menjelaskan tentang hubungannya dengan Sun Kwan.
“Papa... Mama... sebenarnya aku sudah lama menjalin cinta dengan Sun kwan, tolong restuilah hubungan kami.” Nona Hu memohon kepada kedua orangtuanya.
Orangtua Nona Hu saling berpandangan, lalu menatap anak perempuannya itu.
“Papa tahu Sun Kwan adalah pemuda yang baik, tapi... setahu Papa pekerjaannya adalah menjadi tenaga pembukuan di perusahaan keluarga yang kemungkinan akan diambil alih kakak laki-lakinya. Lalu apakah dia bisa menjamin kesejahteraanmu kelak?”
“Kakaknya tidak bersedia mengambil tanggung jawab itu dan kini telah pergi meninggalkan keluarga. Soal kesejahteraanku, aku percaya Sun Kwan bisa memenuhinya, dia adalah pemuda yang cerdas.”
“Tetap saja dia hanya seorang pegawai, sedangkan kau sudah terbiasa hidup dalam kemewahan. Apa bisa dia membiayai semua keperluan sama seperti yang selalu kami berikan?”
“Kalau perlu, aku akan menurunkan gaya hidup, aku rela hidup sederhana dan apa adanya asalkan bisa menikah dengan Sun Kwan.”
Nona Hu semakin menunjukkan tekadnya yang bulat, membuat orangtuanya terheran-heran. Ibunya menjadi khawatir jika pada masa depan, anak perempuannya itu hidup menderita.
“Ai Lien... nanti jika kau benar-benar hidup dalam kemiskinan, barulah kau akan menyesali keputusanmu,” kata mamanya.
“Aku tidak akan pernah menyesal, aku akan tanggung semua akibatnya. Bukankan aku kelak juga mendapat warisan? Aku bisa meneruskan usaha keluarga kita.”
“Pada zaman serba sulit ini, Papa sendiri khawatir dengan usaha kita. Apakah bisa bertahan sampai masa depan atau tidak. Karena itu Papa selalu ingin punya menantu yang bisa menjalankan usaha. Oleh sebab itu Papa terkesan kepada Wan Siang, dan ingin kalian menikah. Tapi Wan Siang ternyata memilih pergi. Sun Kwan belumlah teruji, Ai Lien....”
__ADS_1
“Kenapa Papa dan Mama memikirkan dan takut akan masa depan yang tidak pasti untuk semua orang? Menurutku, jika aku tidak menikah dengan orang yang kucintai, masa depanku juga belum tentu bahagia, bahkan mungkin buruk.”
“Setidaknya kau tidak akan kekurangan,” sahut Nyonya Hu.
“Lalu apakah baik, selalu kenyang tapi hatiku menderita?” Ai Lien tidak mau kalah.
“Ai Lien... kau anak kami satu-satunya, Papa tidak mau sembarangan menyerahkanmu kepada orang yang belum tentu bisa menjamin kesejahteraanmu pada masa depan. Kalau kelak kau hidup kekurangan, bagaimana pertanggungjawaban kami kepada leluhur?”
“Kalau Papa dan Mama tidak mengizinkanku menikah dengan orang yang kucintai, maka aku bersumpah tidak akan menikah seumur hidupku. Biarlah keturunan keluarga kita berhenti sampai di sini. Jika itu terjadi, bagaimana Papa dan Mama kelak menjelaskannya kepada leluhur?”
Tuan dan Nyonya Hu tidak menyangka kalau Ai Lien akan mengancam seperti itu. Bersumpah untuk tidak menikah dan tidak melanjutkan keturunan adalah ancaman serius.
“Ai Lien... pikirkan lagi keputusanmu itu. Apakah akan baik untuk masa depanmu nanti? Kalau kau hidup sendirian, siapa nanti yang akan mengurusmu pada hari tua?”
“Bukankah kalau masalah uang, aku tidak perlu memikirkannya? Aku yakin warisan yang akan jatuh kepadaku akan bisa membiayai seluruh kebutuhanku. Ya... aku akan terus kenyang dan tak kekurangan suatu apapun. Jadi jangan khawatirkan masa depanku. Kalau aku tidak betah tinggal di rumah, aku bisa saja keluar dari rumah mewah ini dan menjadi biksuni hingga ajal menjemputku, dengan begitu aku tidak akan merasa kesepian, karena aku akan punya banyak teman di dalam wihara.”
“Oh tidak... membayangkanmu menjadi biksuni saja sudah membuat Mama sedih.”
“Yang Papa dan Mama takutkan bisa saja tidak terjadi, asalkan aku diizinkan menikah dengan Sun Kwan. Maka aku akan menjadi wanita yang bahagia dan keturunan keluarga ini dapat berlanjut.”
“Baiklah... kami merestui hubunganmu dengan Sun Kwan.”
“Terima kasih Pa... Ma... aku lega sekarang.”
Usaha Nona Hu tidak bisa berhenti sampai di situ saja. Tahap selanjutnya adalah datang ke rumah keluarga Liem dan memohon kepada Ny. Liem agar merestui hubungannya dengan Sun Kwan.
Gadis itu pertama-tama menjenguk Sun Kwan yang sedang sakit ditemani oleh Siaw Cing. Sun Kwan terbaring lemah di ranjang, tetapi tidak kehilangan kesadaran. Hanya saja wajahnya pucat pasi, seperti tidak punya gairah hidup.
“Sun Kwan... kau harus terus sehat, Mama dan Papaku telah merestui hubungan kita,” kata Ai Lien seraya memegangi tangan Sun Kwan yang terasa hangat.
“Aku senang... tapi, Mamaku belum bisa menerima hubungan kita. Ia malah semakin membenciku. Aku ingin sekali bisa seperti Wan Siang, pergi jauh dengan orang yang aku cintai. Tapi keadaanku sekarang tidak memungkinkan.”
Ai Lien sangat sedih melihat keadaan Sun Kwan yang lemah itu. Dengan keadaan demikian, tak mungkin bagi Sun Kwan untuk pergi jauh dan melanjutkan hidup dengan orang yang dia cintai.
“Kau pernah berkata, aku seperti Mulan. Aku adalah gadis pemberani.”
__ADS_1
“Ya, aku sangat mengagumimu karena itu.”
“Aku akan memperjuangkan cinta kita di hadapan Mamamu.”
“Jangan, Ai Lien... dia akan menyakitimu. Aku tidak bisa membayangkan kau terluka, biar aku saja yang terluka.”
“Aku tidak peduli. Bahkan kini aku siap mati, seperti Mulan di medan pertempuran.”
Perasaan Sun Kwan menjadi semakin pilu, entah apa yang akan dilakukan ibu tirinya terhadap Ai Lien jika gadis itu menghadapnya.
“Mama dan Papa kandungku telah berbuat kesalahan besar kepada Mama tiriku, tidak mengapa jika aku menanggung semua ini sendirian. Aku tidak bisa menyalahkan Mama tiriku yang sakit hati. Ia berhak marah.”
“Tapi ini tidak adil untukmu. Bukan kau yang bersalah...”
Ai Lien menggenggam tangan Sun Kwan yang denyut nadinya semakin melemah. Penyakit pikiran itu benar-benar mempengaruhi tubuh dan organ-organ di dalam tubuhnya.
“Aku adalah anak yang lahir karena kesalahan. Walaupun aku ingin sekali mengubah kenyataan itu, tapi tetap tidak bisa. Karena kesalahan orangtua kandungku, seorang wanita hidup dalam penderitaan. Oleh karena itu, aku berusaha menjadi anak tiri yang baik, agar wanita itu bisa mencintaiku. Tapi cinta memang tidak bisa dipaksakan.”
“Aku juga tahu itu. Cinta tak bisa dipaksakan. Tetapi keadilan harus tetap ditegakkan. Aku akan berjuang agar kau mendapat keadilan. Kau tidak bersalah, maka kau tidak pantas menerima hukuman ini.”
“Aku bersedia menjadi penebus kesalahan orangtua kandungku.”
“Seharusnya orang yang bersalahlah yang menanggung akibat semua kesalahannya, aku tidak terima kalau kau yang menjadi korban dengan alasan menebus kesalahan orang lain.”
“Dunia memang dari dulu bukan tempat yang pas untuk pencari keadilan. Aku sendiri merasa, Sam Pek dan Eng Tay tidak pantas berakhir seperti itu. Bukankah seharusnya mereka bisa berbahagia? Mereka orang-orang baik dan saling mencintai. Tapi takdir berkata lain.”
“Jangan berputus asa. Jangan berpikir kalau takdir kita buruk. Manusia berhak mengejar kebahagiaan hingga tetes darah terakhirnya. Maka aku mohon, teruslah hidup untukku.”
“Jika aku terus hidup dalam keadaan selemah ini, aku hanya menjadi beban bagi dirimu dan orang lain. Mungkin kematian akan lebih baik.”
“Sun Kwan... kalau kau terus membicarakan tentang kematian, kau akan membuatku sedih. Aku sudah berjanji kepada orangtuaku, jika tak diperbolehkan menikah dengamu, maka aku tidak akan menikah dengan siapa pun, sehingga keturunan keluargaku tak akan berlanjut.”
“Ai Lien, jangan berjanji seperti itu. Aku tidak ingin merusak masa depanmu dan keluargamu.”
“Kalau kau tak ingin nasibku berakhir tragis, maka aku minta agar kau terus hidup.”
__ADS_1
Perkataan Ai Lien dengan nada setengah memaksa, membuat Sun Kwan semakin tak berdaya. Nyawanya bagaikan digantung antara langit dan bumi. Di satu sisi ia ingin sekali pergi meninggalkan dunia ini dan terbebas dari penderitaan. Di sisi lain, ada orang yang akan menderita jika ia berakhir dengan kematian itu sendiri.