Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 30 Penolakan


__ADS_3

Pernyataan Wan Siang jelas sangat memukul harga diri Nona Hu yang tadinya datang dengan penuh percaya diri. Tetapi cinta memang membuat orang tidak bisa berpikir jernih. Sudah tahu hati tersakiti, tetap saja perasaan cinta yang terlanjur datang tak bisa hilang.


“Apa ini artinya kau menolakku?” tanya Nona Hu.


“Aku hanya ingin menasihati, di antara kita tidak ada penerimaan atau penolakan. Sebelum Nona mengarah ke situ, pertama-tama saya ingin memperingatkan diri Nona untuk bisa mengambil langkah yang tepat.”


Wan Siang masih berusaha menjaga sikapnya. Sebagai seorang lelaki yang lebih berperasaan, tentu ia mengerti keadaan Nona Hu. Lelaki itu tak bermaksud merendahkan seorang wanita yang datang untuk meminta hatinya. Wan Siang yang dulu mungkin akan tega berkata-kata yang lebih menyakitkan hati.


“Aku sendiri tak peduli tentang hubunganmu dengan Si Manis. Tetapi kau bisa pegang kata-kataku, jika kau menerimaku sebagai istri, aku berjanji tak akan memisahkan kalian. Asalkan kau mau menerimaku juga untuk ada di sisimu.”


Rasa heran Wan Siang terhadap Nona Hu semakin menjadi-jadi. Gadis itu bukannya mundur dan menyerah, malah berusaha mengadakan tawar menawar dengannya.


“Jika itu yang terjadi, bukankah kau seperti minum racun? Jangan menyakiti diri sendiri, Nona Hu.”


“Demi bisa bersamamu, aku rela.”


“Sebenarnya apa yang kau sukai dariku? Bahkan kita baru saja kenal.”


“Aku tidak tahu. Tetapi sejak melihatmu untuk pertama kali, aku langsung jatuh cinta.”


“Jangan mudah percaya pikiran sesaat. Bisa saja itu menyesatkan.”


“Tapi aku memahami perasaanku. Hanya kau yang aku suka di dunia ini.”


“Dari tadi kau selalu membicarakan tentang keinginanmu. Apakah kau tidak mau tahu perasaan orang lain, keinginanku, keinginan Si Manis?”


“Apa kau sungguh tak menginginkanku?”


“Jika pertanyaanmu seperti itu, maka sebaiknya aku tegaskan di sini, bahwa jawabanku adalah tidak.”


Nona Hu seperti dijatuhkan sampai tersungkur di tanah. Harga dirinya hancur. Ia menangis di hadapan Wan Siang, seperti anak kecil yang bonekanya hilang diambil orang. Ia tak tahu bagaimana harus bangkit dari keterpurukannya.


Jika Wan Siang berkata bahwa dirinya pada umumnya hanya punya sedikit perasaan, maka sikap dinginnya di hadapan Nona Hu saat gadis itu menangis sangat tepat menggambarkan hal itu. Hatinya tak tergerak sedikit pun, tak berusaha menghentikan tangisan Nona Hu.


Menurut Wan Siang, jika Nona Hu sampai menangis, maka penyebabnya adalah gadis itu sendiri. Nona Hu sendiri yang datang ke rumah Wan Siang dan meminta sesuatu. Terserah Wan Siang untuk menerima atau menolak keinginan Nona Hu. Yang menyakiti Nona Hu bukanlah Wan Siang, melainkan harapan gadis itu yang telah terlebih dahulu melambung tinggi.

__ADS_1


Nona Hu tak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Semakin dia berkata-kata, semakin hatinya akan sakit. Maka ia memutuskan untuk pulang, ditemani oleh Sun Kwan.


Sun Kwan melihat Nona Hu yang matanya merah dan berair karena menangis. Ia ingin sekali meredakan kesedihan yang sedang melanda gadis itu.


“Jangan bersedih, Nona Hu,” ujar Sun Kwan seperti bisa merasakan rasa patah hati gadis itu.


“Ini pertama kalinya aku menyukai seseorang dan orang itu tidak menyukaiku. Aku sungguh manusia yang menyedihkan,” jawab Nona Hu.


“Seandainya kakakku itu belum mengenal Si Manis, aku yakin ia akan menerimamu.”


“Sepertinya perempuan bernama Si Manis itu sangat berarti baginya. Apakah kau juga kenal dengan Si Manis itu?”


“Ya, seandainya kakakku tidak menginginkannya, tentu aku akan senang bila bisa hidup bersama Si Manis. Dia adalah cinta pertamaku.”


Nona Hu heran, ternyata Sun Kwan juga menganggap Si Manis istimewa.


“Apa istimewanya gadis itu, apa dia sangat pintar?”


“Tidak juga. Aku yakin kau jauh lebih pintar darinya. Gadis itu begitu sederhana. Apakah kau juga bisa menjelaskan, kenapa kau bisa menyukai kakakku?”


“Aku juga begitu, aku menyukai Si Manis sejak pertama kali melihatnya. Karena itulah aku bisa memahami perasaanmu.”


Nona Hu berusaha menenangkan diri, dan menatap ke arah Sun Kwan. Pemuda itu tampan dan cerdas, tetapi nasib percintaannya juga buruk, seperti halnya dirinya.


“Jadi kau ditolak juga oleh Si Manis itu? Padahal... kau ini tampan, pintar dan baik hati.”


Sun Kwan merasa senang mendengar pendapat Nona Hu tentang dirinya.


“Aku belum pernah menyatakan cinta pada Si Manis, tapi aku tahu kalau dia tidak mencintaiku. Cintanya hanya untuk kakakku, dan kakakku berencana untuk menikahinya.”


“Menikahinya?” Nona Hu terperanjat.


“Apakah kakakmu itu serius? Apakah hubungan mereka sudah disetujui orangtua kalian?”


“Orangtua kami belum tahu tentang hubungan mereka. Aku yakin akan sulit mendapatkan persetujuan mereka, terutama Mamaku. Sepertinya Mama lebih ingin kau yang menjadi istri Wan Siang.”

__ADS_1


Kala mendengar hal itu, serta merta harapan tumbuh di hati Nona Hu. Hubungan Wan Siang dan Si Manis akan sulit mendapat restu dari pihak keluarga Wan Siang, karena Ny. Liem lebih berpihak kepada Nona Hu.


Harapan yang tadinya sudah hancur berkeping-keping seperti menyatu kembali. Selama Wan Siang dan Si Manis belum menikah secara resmi, maka Nona Hu merasa masih memiliki kesempatan itu. Apapun masih bisa terjadi.


“Sun Kwan, selama Wan Siang belum menikah secara sah, aku merasa masih memiliki kesempatan menjadi istrinya. Hubungan kakakmu dan gadis itu akan sulit diterima oleh pihak keluargamu.”


“Aku pikir tadi kau sudah menyerah, Nona Hu.”


“Apa menurutmu aku gadis yang gampang menyerah?”


“Tapi kuperingatkan sejak sekarang. Cinta kakakku kepada Si Manis itu sangat kuat, aku tak tahu apa yang akan mereka lakukan seandainya orangtuaku tidak menyetujui.”


Nona Hu ketika itu masih berpikir seperti kebanyakan orang. Banyak anak yang terpaksa melepaskan cintanya saat orangtua tak menyetujui hubungan mereka dengan kekasihnya. Biasanya anak keluarga kaya takut tak mendapat warisan atau tak dianggap anak lagi oleh keluarganya jika tidak menurut.


Sayangnya Nona Hu belum mengenal Wan Siang dengan baik. Dia pikir Wan Siang akan menurut kepada orangtuanya, seperti sebagian besar anak keluarga kaya yang tak mau kehilangan kedudukan tinggi di mata masyarakat. Tak sedikit di antara anak-anak itu yang menggantungkan hidup kepada orangtuanya yang kaya.


Bahkan Tuan Liem, ayah Wan Siang sendiri, pada akhirnya tidak dapat menikahi wanita yang dicintainya karena kendala restu orangtua. Hubungan keluarga sangat penting dalam masyarakat Tionghoa, bahkan jika hubungan keluarga itu sudah terputus karena kematian. Para anak keturunan tak akan memutus hubungan begitu saja. Mereka akan terus mengenang para leluhur dan mengadakan penghormatan di depan altar para leluhur di rumah masing-masing.


***


Si Manis mendekati Wan Siang setelah kepergian Nona Hu. Gadis itu tetap tenang walaupun tahu ada seorang perempuan yang mendatangi dan mengharapkan cinta lelaki yang dicintainya.


“Nona itu tadi pulang sambil menangis, aku kasihan,” ujar Si Manis.


“Itu akibat perbuatannya sendiri,” kata Wan Siang dengan suara datar.


“Engkoh bisa tetap tenang ya kalau melihat perempuan menangis di depan Engkoh.”


“Aku sudah sering melihat perempuan menangis di hadapanku, mereka memang suka menangis kalau keinginannya tak terpenuhi, seperti anak kecil saja.”


Wan Siang mengingat kembali beberapa peristiwa saat para perempuan yang mengharapkan cintanya menangis karena tak mendapatkan Wan Siang pada akhirnya. Terutama Nona Sie, mantan tunangannya dulu.


Setelah kejadian dengan Nona Sie itu, Wan Siang seperti ingin balas dendam dengan perempuan. Ia menerima perempuan yang ingin dekat dengannya, tapi setelah hubungan berjalan beberapa lama dan perempuan itu berharap untuk dijadikan istri, Wan Siang segera memutuskan hubungan itu. Akibatnya perempuan-perempuan itu menangis di hadapannya.


Seandainya ada satu saja di antara perempuan itu yang tulus mencintainya, tentu Wan Siang tak akan berbuat sekejam itu. Wan Siang melakukannya karena tahu maksud mereka sebenarnya. Para perempuan itu hanya mengejar harta. Wan Siang tidak bisa menerima perempuan yang ingin menjadi istrinya hanya karena harta. Dia sengaja menguji, tetapi semua perempuan itu gagal dalam ujiannya. Hanya Si Manis yang lolos dalam ujian itu.

__ADS_1


__ADS_2