
Semua orang bisa melihat, terjadi perubahan besar di diri Ny. Liem. Wanita itu pagi-pagi sudah bangun dan meminta pembantunya untuk memasak sup sarang burung walet untuk Sun Kwan. Ilmu pengobatan di Tiongkok percaya bahwa sarang burung walet bisa menyehatkan tubuh.
Karena banyak pikiran, tubuh Sun Kwan menjadi melemah dan kesehatannya terganggu. Ny. Liem berharap anak tirinya itu cepat pulih jika banyak makan sup sarang burung walet yang khasiatnya sudah sangat terkenal.
Ny. Liem belum pernah merawat Sun Kwan saat sedang sakit, bahkan ketika Sun Kwan masih kecil dulu. Kini Ny. Liem mau turun tangan sendiri, setelah sup sarang burung walet selesai dimasak, ia meniup-niup sup dan menyuapkannya ke mulut Sun Kwan.
Sun Kwan sangat bahagia dengan perhatian dari mamanya itu, ia terus tersenyum kepada Ny. Liem seolah Ny. Liem benar-benar mamanya kandungnya sendiri. Sup itu sendiri terasa lezat, tapi tak sebanding dengan kebahagiaannya mendapatkan kasih sayang Ny. Liem. Rasanya seperti terlahir kembali dan menjadi bayi yang mendapat kasih sayang dari ibu kandung sendiri.
“Maaf sudah merepotkan Mama,” kata Sun Kwan.
“Mama tidak merasa repot. Keinginan Mama adalah supaya kau cepat sembuh, biar hati Mama menjadi tenang.”
“Mama tidak usah khawatir, keadaanku sudah lebih baik, karena hatiku kini sangat bahagia.”
Hati yang bahagia memang bisa menjadi obat segala jenis penyakit, juga meningkatkan kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit yang hendak bersarang pada tubuh seseorang. Karena Sun Kwan sudah tidak lagi berpikir hal-hal yang menyedihkan, tubuhnya makin lama makin sehat dan kuat.
Nona Hu dan Siaw Cing bisa melihat perubahan Ny. Liem dan sangat berterima kasih atas apa yang dilakukan wanita itu.
“Aku sangat senang karena Mama kini telah banyak berubah. Mama seperti yang selama ini kuharapkan,” kata Siaw Cing.
Nona Hu tak kalah senangnya karena mendengar dari mulut Sun Kwan bahwa Ny. Liem sudah memberikan restu untuk mereka. Mereka tak lama lagi akan dinikahkan. Tetapi Ny. Liem menginginkan Sun Kwan memulihkan diri dulu, sebelum ia menikah dengan Nona Hu. Bagaimanapun juga hari pernikahan adalah hari yang akan sangat melelahkan bagi sepasang pengantin, Ny. Liem tak ingin Sun Kwan menikah dalam kondisi sakit dan mengakibatkan kesehatannya memburuk.
“Saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada Anda, Nyonya. Nyonya membuat saya sangat bahagia hingga rasanya ingin menangis,” kata Nona Hu dengan mata berkaca-kaca.
“Jadilah istri yang baik bagi Sun Kwan, itu saja yang kuinginkan,” ujar Ny. Liem.
“Bolehkah aku memeluk Nyonya?”
Ny. Liem mengangguk, dan Nona Hu menghambur memeluk wanita itu dengan tulus. Ny. Liem belum pernah merasa begitu dicintai dan diinginkan, sehingga pelukan yang tulus dari Nona Hu membuatnya sangat terharu. Gadis yang sebentar lagi menjadi menantu perempuannya itu, telah membuat Ny. Liem berbahagia.
__ADS_1
***
Tuan Liem juga melihat perubahan diri istrinya. Ia tak tahu apa yang membuat istrinya itu berubah begitu banyak. Tuan Liem jadi merasa takjub sendiri. Seolah San Ing yang bersikap aneh dan dingin kepada Sun Kwan itu telah pergi entah ke mana.
Di dalam kamar, pada malam hari menjelang tidur, Tuan Liem memutuskan untuk mengajak istrinya berbicara.
“San Ing... aku sudah salah menilaimu. Ternyata kau bukanlah iblis, seperti yang aku katakan tempo hari. Maafkan aku,” kata Tuan Liem.
“Kau tidak sepenuhnya salah, aku mungkin sempat menjadi iblis yang tidak berperasaan.”
“Seperti yang pernah kau katakan kepadaku juga, sedikit banyak akulah yang membentukmu, jika kau pernah berpikiran dan berbuat buruk, aku adalah orang yang patut disalahkan.”
“Kita ini sudah sama-sama tua, Soei Ham. Yang aku butuhkan sekarang hanyalah keluarga yang bisa menemaniku pada hari tua. Persetan dengan masa lalu.”
“Tapi... masa lalu itu pasti menyakitkan bagimu San Ing. Akulah penyebab penderitaanmu selama ini. Kau berhak menghukumku, karena kesalahanku dan kelakuan burukku dahulu.”
“Ya, kadang aku ingin sekali menghukummu. Tapi apa keuntungan yang akan kudapatkan dengan menghukummu? Sun Kwan dan Siaw Cing sangat membutuhkanmu sebagai ayah. Dan aku... aku tak ingin menjadi janda.”
Ny. Liem memang melihat usaha itu dalam diri suaminya, bahwa setelah Sun Kwan dibawa pulang, Tuan Liem tak pernah lagi berkhianat kepadanya. Tak ada lagi orang ketiga dalam rumah tangga mereka, walaupun sebagai orang yang kaya dan terpandang, Tuan Liem bisa dengan mudah mencari wanita lain untuk bersenang-senang.
“Kini... melihatmu sebagai wanita yang baik dan lembut kepada anak-anak, membuat diriku merasakan sesuatu yang seharusnya aku rasakan sejak hari pertama kita menikah.”
Ny. Liem tidak begitu mengerti apa maksud perkataan suaminya, kemudian suaminya itu mendekatinya dan memeluknya erat-erat. Pelukan yang tulus dan hangat itu serta merta mencairkan kebekuan hatinya selama ini. Wanita itu kini merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Mereka memang pernah bercinta, sehingga lahirlah anak-anak dari rahim Ny. Liem. Tetapi Tuan Liem hanya melakukannya sebagai kewajiban agar keluarganya mendapat keturunan, begitu pun Ny. Liem. Tetapi pelukan Tuan Liem kali itu mengandung perasaan. Tunas-tunas cinta mulai tumbuh di dalam hati keduanya.
Malam itu bagaikan malam pengantin baru bagi Tuan dan Nyonya Liem. Mereka tahu, usia mereka tak lagi muda. Tetapi perasaan mereka seolah kembali muda karena cinta yang bersemi kembali.
Sentuhan Tuan Liem membuat hati dan tubuh istrinya bergetar, membuat wanita itu luluh dan tak sanggup membenci lagi. Seperti kapas yang menyerap air. Cinta itu juga menyerap semua kebencian yang tersisa di dalam hati Ny. Liem. Mereka berdua bercinta pada malam yang dipenuhi sinar bulan keperakan, dengan segenap perasaan yang mereka punya.
__ADS_1
Setelah selesai, mereka masih saja tidur berdekapan di bawah selimut. Tuan Liem melihat istrinya tersenyum, wajahnya yang cantik kini menjadi semakin sempurna di mata suaminya.
“Inilah yang aku inginkan selama ini,” kata Ny. Liem.
“Aku akan selalu ada di sisimu dan membahagiakanmu, San Ing.”
***
Sun Kwan dan Nona Hu menjadi dua insan yang sangat berbahagia karena restu yang diberikan Ny. Liem. Mereka sepertinya tak sabar untuk menikah.
“Sun Kwan, kau harus cepat pulih. Aku ingin kita segera menikah,” kata Nona Hu dengan wajah bersinar-sinar.
“Sepertinya kau bersemangat sekali,” goda Sun Kwan.
“Tentu saja, ini pertama kalinya aku akan menikah. Pengalaman baru untukku.”
“Ini juga akan jadi pengalaman baru untukku.”
“Aku penasaran, kau akan jadi suami yang bagaimana?”
“Ya, aku tetap akan menjadi Sun Kwan yang biasanya.”
“Maksudmu Sun Kwan yang pemalu dan tak berpengalaman?”
Sun Kwan jadi tersipu malu mendengar perkataan Nona Hu yang terus terang itu. Kemudian ia membayangkan apa yang mungkin terjadi kalau mereka sampai menikah. Nona Hu jadi curiga kepada Sun Kwan, karena sejak tadi ia tak berhenti tersenyum.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Aku memikirkanmu, Ai Lien...”
__ADS_1
Nona Hu jadi ikut tersenyum, bahkan ia tertawa, sehingga gigi-giginya yang putih kelihatan. Mereka berdua akhirnya tertawa bersama-sama. Siaw Cing yang melihatnya menjadi bingung. Bagaimanapun juga gadis itu masih polos dan lugu.