Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 11 Penyerbuan


__ADS_3

Tuan Liem, ayah Wan Siang, terkenal sebagai pribadi yang saklek. Sekali memutuskan suatu hal, maka hal itu akan betul-betul dikerjakannya. Dirinya sudah memutuskan untuk menutup rumah judi milik anaknya dan itulah yang dikerjakannya.


Ia menyuruh temannya, pemilik perguruan silat Tong Pang, untuk melakukan itu. Tuan Besar Liem berteman dengan Lie Kuan Tay, pemilik perguruan silat itu, sejak muda. Lie Kuan Tay setuju dengan maksud Tuan Liem untuk memberi pelajaran kepada anak laki-lakinya agar kembali ke jalan yang benar.


“Kamu tidak usah khawatir, aku akan bantu kamu ngurus anak itu. Kalau diberi peringatan baik-baik tidak bisa, ya terpaksa harus dengan cara lain yang lebih ampuh,” kata Lie Kuan Tay.


“Aku tidak ingin ada korban jiwa, sebaiknya pakai tangan kosong. Ini cuma urusan menutup rumah judi, bukan urusan hidup dan mati,” balas Tuan Liem.


“Serahkan semuanya padaku, nanti kamu tinggal tahu beres, pokoknya kamu tidak bakal kecewa.”


Pembicaraan itu terjadi sehari sebelumnya. Lie Kuan Tay kemudian bersama sepuluh anak buahnya mendatangi rumah judi milik Wan Siang, yang seperti biasa dijaga oleh centeng-centengnya.


Lie Kuan Tay pria setengah baya yang tetap mempertahankan budaya Manchu dengan masih mengenakan tocang atau kepang rambut. Pakaiannya berupa Twie Kim, yaitu baju koko berkancing lurus sebanyak lima buah di bagian depannya. Pembawaannya itu selalu membuat gentar, sebab semua orang tahu ia pemilik perguruan silat Tong Pang yang termashyur, sekaligus menjadi guru silat di sana.


Wan Siang adalah salah satu murid Lie Kuan Tay, tetapi sudah lama ia tidak ikut berlatih karena sibuk dengan urusannya di rumah judi. Sebagai murid, Wan Siang termasuk berbakat di bidang bela diri, walaupun tidak giat berlatih.


Lie Kuan Tay tahu kemampuan bela diri Wan Siang mungkin bisa mengalahkan murid-muridnya yang lain, maka itu Tuan Lie sengaja ikut dalam rombongan penyerbu itu jika dipikir perlu untuk menghadapi Wan Siang sendiri. Nanti murid-muridnya tinggal mengurus centeng-centeng Wan Siang yang kebanyakan orang pribumi, yang biasanya cuma mengandalkan badan besar serta senjata tajam, tetapi minim pengetahuan ilmu bela diri.


Setelah diberitahu oleh Paman A Seng terkait kedatangan gurunya di halaman rumah judi miliknya, Wan Siang segera keluar menyambut.


“Ada angin apakah sehingga Guru datang kemari?” Tanya Wan Siang.


“Papamu menyuruhku untuk menutup tempat ini, sebaiknya kau turuti saja keinginannya,” jawab Lie Kuan Tay.


“Bagaimana kalau aku tidak mau?”


“Papamu cuma ingin mendidikmu jadi anak baik, Guru tidak ingin ada kejadian yang tidak diinginkan, apalagi pertumpahan darah. Jadi aku minta secara baik-baik, tutuplah rumah judi ini sekarang juga.”


“Sayang sekali pemikiranku berbeda dengan Papa.”


“Kalau kau sudah tidak bisa diberitahu secara baik-baik, jangan salahkan Guru jika harus bertindak sesuai keinginan papamu.”


Lie Kuan Tay lantas memerintahkan kesepuluh muridnya untuk membubarkan para penjudi yang sedang asyik, tetapi tentu saja centeng-centeng Wan Siang tidak tinggal diam. Orang lari berhamburan setelah permainan mereka diacak-acak dan para pesilat itu mengusir mereka dengan galak. Para centeng Wan Siang berusaha menghentikan tindakan para murid Lie Kuan Tay dengan mengayunkan golok, memukul, serta menendang. Tetapi tak satupun serangan mereka yang mengenai sasaran. Malah pukulan dan tendangan para centeng dibalas dengan jurus-jurus silat yang mementahkan serangan-serangan mereka.


Semua golok centeng-centeng Wan Siang berhasil direbut. Dengan tangan kosong sangat mustahil mereka dapat mengalahkan para murid Lie Kuan Tay. Akhirnya serangan mereka berhasil dilumpuhkan. Tak lama kemudian para centeng sudah bergeletakan dalam keadaan babak belur, tidak ada yang mampu melawan lagi.


Melihat kejadian itu, Paman A Seng bertindak cepat. Selain berusaha menyelamatkan diri, ia juga berusaha menyelamatkan sebanyak-banyaknya uang yang masih tersisa di dalam rumah judi. Diambilnya kain taplak, lalu diraupnya uang yang berceceran sebanyak mungkin. Setelah itu kain taplak yang sudah dipenuhi uang diikat dan dibawanya kabur ke tempat yang lebih aman.


Melihat para centengnya dikalahkan, Wan Siang sangat kesal.


“Sialan! Sekarang tidak ada pilihan lain, aku akan bertarung dengan Guru,” kata Wan Siang. Pemuda itu maju dan mulai melancarkan jurus-jurus untuk menyerang gurunya sendiri.

__ADS_1


“Hentikan, Wan Siang, aku tidak ingin kita bertarung.”


“Guru sudah menantangku sejak awal. Guru yang mulai, aku hanya berusaha membela diri.”


Setelah itu, terdorong amarah yang meluap-luap dari dalam dirinya, Wan Siang menerjang gurunya. Lie Kuan Tay yang sangat mahir dalam ilmu bela diri tentu dengan mudah membaca jurus demi jurus Wan Siang, sehingga yang ia lakukan adalah berusaha menangkis serangan itu sebisa mungkin.


“Kenapa hanya menangkis? Ayo serang aku, Guru. Kita bertarung secara jantan.”


“Kau tidak akan sanggup mengalahkan aku. Jika aku menyerang, kau akan terluka, jadi hentikanlah perlawananmu ini.”


Tetapi walaupun Wan Siang jarang berlatih, ia masih ingat jurus-jurus mematikan yang diajarkan Lie Kuan Tay, sehingga gurunya itupun terdesak dan mau tidak mau harus melancarkan serangan untuk menghentikan Wan Siang secepat mungkin.


Pukulan dari Lie Kuan Tay mendarat di wajah Wan Siang, menyebabkan pipinya memar dan sudut mulutnya berdarah. Wan Siang hampir tidak percaya kalau ia dihajar gurunya sendiri. Luka itu menyakitkan, tetapi lebih menyakitkan lagi jika disebabkan orang yang termasuk dekat dengannya.


Hati Wan Siang menjadi sangat sakit, sehingga tanpa terasa air mata jatuh dari kedua matanya. Sang guru mengambil papan nama rumah judi Wan Siang dan mematahkannya. Berakhir sudah usaha judi Wan Siang yang ia bangun bersama Paman A Seng.


Wan Siang tidak akan dapat melupakan peristiwa itu seumur hidupnya. Ia pulang ke rumah seperti orang yang sedang patah hati, menendang-nendang tanah dalam perjalanan, berusaha meluapkan semua rasa sakit dan kecewa yang sedang dirasakannya.


Selain menendang-nendang tanah dan mengumpat, ia juga berusaha mengobati rasa sakit hatinya dengan minum-minum, agar peristiwa mengesalkan itu lekas pergi dari pikirannya.


Si Manis melihat ada yang tidak beres dengan Wan Siang. Selain luka di wajah lelaki itu, ia juga melihat Wan Siang yang tidak biasanya menangis, saat itu sedang menangis sambil mabuk.


“Aku benci Papa, aku benci Guru. Kenapa kalian semua tega menghancurkan aku?” Tentu saja tidak akan ada yang menjawab pertanyaan itu, sebab Wan Siang sedang sendirian, hanya ditemani botol arak dan cawan kecil.


Walaupun Si Manis pada umumnya takut jika Wan Siang mabuk, kali itu ia malah merasa kasihan. Ia tidak pernah melihat pemuda itu terluka sambil menangis, jadi ia datang dengan wajah yang khawatir.


“Apa yang terjadi kepada Tuan?” Tanya Si Manis.


“Aku dipukul guruku, papaku memerintahkannya menutup rumah judiku, sekarang usahaku sudah hancur. Aku harus bagaimana?”


“Sabar Tuan....“ Hanya itu yang mampu meluncur dari mulut Si Manis.


Setelah itu Wan Siang kembali menenggak arak, ia terus minum sampai jatuh tertidur di kursi. Si Manis begitu kasihan kepada lelaki itu. Gadis itu mengambil selimut dan menutupkan selimut itu ke badan Wan Siang agar ia tidak kedinginan. Kebetulan hari sudah malam dan udaranya dingin.


Gadis itu memang ingin Wan Siang cepat tidur, lelaki itu sudah cukup merana seharian.


***


Wan Siang terbangun pada tengah hari, kepalanya pusing, tetapi sudah sepenuhnya sadar. Pada saat terbangun, ia kembali ingat peristiwa penutupan rumah judinya dan kembali merasa kesal. Biasanya pada jam itu Wan Siang sudah berada di rumah judinya, tetapi karena usahanya itu ditutup ia jadi tak mau ke mana-mana.


Pandangannya menjadi kosong seperti orang linglung. Hatinya sangat terguncang. Lantas ia pindah ke kamar.

__ADS_1


Si Manis tahu Wan Siang sudah bangun di saat matahari sudah hampir tepat di atas kepala, lelaki itu melewatkan sarapan pagi. Manis khawatir kalau-kalau Wan Siang lapar, sebab perutnya belum diisi apa-apa selain arak yang habis diminumnya sejak kemarin.


Terdorong atas kekhawatiran itu, Manis menghampiri Wan Siang di kamarnya sambil membawa baki berisi sepiring makanan dan segelas air putih.


“Tuan belum makan dari semalam, sebaiknya Tuan makan dulu, nanti perut Tuan sakit.”


Wan Siang melirik Si Manis beserta baki yang dibawanya, tetapi sama sekali tidak berselera makan.


“Ayo Tuan dimakan, apa perlu saya suapi?”


Sebenarnya Wan Siang tidak berselera makan, tetapi perutnya yang kelaparan mengkhianati dirinya. Dari tadi perutnya itu berbunyi-bunyi sebagai tanda kelaparan yang nyata.


Wan Siang tidak menjawab, tetapi ia membuka mulutnya sebagai tanda ia ingin makan dengan disuapi.


Si Manis senang melihat Wan Siang kini setidaknya mau membuka mulut, sehingga ia bisa memasukkan makanan ke dalamnya. Wan Siang belum pernah disuapi oeh ibunya sendiri, hanya ada 2 orang yang pernah menyuapinya, pengasuhnya dan sekarang Si Manis.


“Kenapa kau peduli kepadaku?” tanya Wan Siang.


“Sejak kemarin Tuan menangis sambil mabuk, siapa yang tidak kasihan? Jangankan saya, cicak di dinding pun pasti kasihan melihat keadaan Tuan.”


“Memangnya kamu tahu perasaan cicak?”


“Cicak juga makhluk hidup, walaupun kecil, pasti dia juga punya perasaan.”


Wan Siang agak geli mendengar kata-kata Si Manis yang aneh itu, setelah kesedihan bertubi-tubi yang dialaminya.


“Aku sedang malas hidup,” ujar Wan Siang.


“Tidak boleh malas hidup Tuan, nanti banyak yang sedih kalau Tuan kenapa-kenapa.”


“Apa kau juga bakal sedih kalau aku mati?”


“Pasti sedih, karena Tuan mati sia-sia hanya karena malas hidup. Saya juga belum pernah dengar ada orang mati hanya karena malas hidup.”


“Aku akan jadi orang pertama yang mati karena malas hidup.”


“Jangan ya Tuan, jangan berpikir seperti itu.”


Melihat wajah Si Manis yang khawatir, Wan Siang jadi tertawa geli.


“Kalau kamu ingin aku hidup, kamu harus mau mengurus aku, biar aku tetap hidup. Karena aku memang lagi malas. Aku butuh orang lain yang mau mengurusi kehidupanku.”

__ADS_1


“Saya akan urus Tuan, agar Tuan tidak mati sia-sia.”


Begitulah tekad Si Manis, terdorong rasa iba melihat keadaan Wan Siang. Maka ia memutuskan mulai saat itu akan mengurus segala keperluan Tuan Muda Liem, yang benar-benar sedang tidak ingin mengerjakan apa-apa dalam hidupnya.


__ADS_2