
Seiring dengan membesarnya perut Si Manis, ia jadi memiliki banyak pemikiran mengenai menjadi seorang ibu. Begitu pula, Wan Siang semakin sadar perannya sebagai seorang ayah. Walaupun Wan Siang memiliki masa kecil yang kurang menyenangkan karena ayahnya yang sibuk dan ibu yang selalu menekan, ia tak ingin anaknya kelak mengalami hal yang serupa.
Karena tidak tahu tentang jenis kelamin dan bagaimana rupa bayinya itu, Si Manis jadi sering berdoa kepada Tuhan agar anaknya memiliki paras yang menawan seperti ayahnya. Sebenarnya Si Manis sangat mengagumi wajah suaminya yang rupawan dan ingin anaknya dapat mewarisi keindahan wajahnya itu. Doa selanjutnya adalah supaya anak itu terlahir sempurna, tanpa kekurangan suatu apapun, juga memiliki budi pekerti yang baik.
Wan Siang sendiri juga ingin anaknya kelak dapat mewarisi kelembutan dan kebaikan hati Si Manis, karena ia mengagumi sifat istrinya itu.
Biasanya pada malam hari, Wan Siang punya waktu bercengkrama dengan istrinya di atas ranjang sebelum keduanya tertidur. Lelaki itu suka sekali mengelus perut Si Manis dan menciuminya.
“Saya selalu berdoa agar anak ini bisa punya wajah seperti Engkoh,” kata Si Manis.
“Kenapa kamu pengen anakmu punya wajah seperti aku, kamu kan mamanya.”
“Kalau anak ini wajahnya seperti Engkoh, nanti bakal banyak yang sayang sama dia. Kalau perempuan pasti cantik sekali, kalau laki-laki ya ganteng sekali. Seperti Engkoh.”
“Oh iya aku lupa, dari awal kan kamu suka lihat wajahku.” Wan Siang menatap lembut Si Manis, dengan pandangannya itu, membuat wajahnya semakin tampan di mata istrinya.
“Lagipula saya ini tidak merasa cantik, entah kenapa Engkoh bisa tertarik kepada saya. Kan dulu Engkoh bilang, saya dipanggil Si Manis bukan karena wajah saya manis.” Si Manis ingat betul kata-kata Wan Siang yang dulu itu.
Wan Siang juga ingat kata-katanya itu, lalu dia tertawa.
“Kamu tidak tahu, sebetulnya Paman A Seng itu lebih pintar menilai perempuan daripada aku. Jadi penilaian dia tentang kamu itu yang benar.”
“Berarti dulu Engkoh tidak terlalu banyak mikir kalau didekati perempuan?”
“Memang, dulu aku asal terima saja dijodohkan dengan Nona Sie, tanpa banyak pikir dan menilainya. Karena itu aku tidak bisa merasakan apa-apa waktu bertunangan. Aku pikir, orang dijodohkan itu sudah biasa. Dan sudah jadi nasibku akan dijodohkan juga.”
“Saya juga, saya pikir nanti kalau sudah dewasa akan ada orang yang datang ke rumah untuk melamar saya. Tidak tahu bagaimana rupanya.”
“Bayangkan kalau kita menikah dengan orang lain, tanpa kita mencintainya, Manis. Akankah hidup kita akan bahagia seperti ini?”
“Kata Ibu saya, tresno jalaran soko kulino, cinta bisa datang karena terbiasa. Jadi saya pikir, nanti siapapun yang melamar saya, pasti saya bisa mencintainya.”
“Pikiran seperti itu sama saja dengan bertaruh di meja judi. Kita tidak tahu apakah hasilnya menang atau kalah. Jika kita ternyata bisa mencintai orang yang dijodohkan berarti kita menang, kalau tidak, berarti itu penyesalan seumur hidup.”
“Pemikiran Engkoh juga tidak salah, karena saya juga melihat tetangga saya tidak bahagia setelah dijodohkan, seperti terpaksa menjalani rumah tangganya.”
“Apa jadinya jika kehidupan ini terbentuk tanpa didasari cinta?”
“Ya... rasanya seperti sayur tanpa garam Koh, anyep, hambar...”
__ADS_1
“Betapa bahagianya orang yang bebas memilih pasangan hidupnya, tanpa adanya paksaan, tentu kehidupan ini akan penuh dengan cinta.”
“Tapi cinta juga tidak selamanya melekat Koh, ada yang hari ini cinta, entah besok atau lusa, karena hati manusia itu berubah-ubah.”
“Mendapatkan itu mudah, tapi mempertahankan lebih susah. Aku harap kita berdua bisa bertahan seumur hidup untuk saling mencintai,” kata Wan Siang.
Saat Wan Siang dan Si Manis sedang menikmati hasil perjuangan cinta mereka, Sun Kwan sedang dihadapkan dengan masalah cinta itu sendiri. Ia tak meragukan cinta Ai Lien kepadanya, karena Ai Lien bukanlah jenis perempuan yang suka menyembunyikan perasaan. Ai Lien sering berkata bahwa ia menyukai dan mencintai Sun Kwan.
“Sun Kwan, aku mencintaimu,” kata Ai Lien. Kadang itu diucapkan dengan berbisik ke telinga Sun Kwan saat berada dalam keramaian, atau dinyatakan dengan jelas dan sepenuh hati saat mereka sedang berdua saja.
“Aku juga,” jawab Sun Kwan.
“Apa kamu sudah memberi tahu Papamu tentang hubungan kita ini?”
“Belum, aku sedang menunggu waktu yang tepat.”
“Jangan lama-lama, nanti aku diambil orang,” kata Ai Lien dengan maksud bercanda.
Setelah Ai Lien mengatakan hal itu, wajah Sun Kwan langsung bersedih. Hatinya menjadi ciut karena ia benar-benar takut kehilangan Ai Lien. Melihat wajah Sun Kwan yang pilu, Ai Lien mau tidak mau harus merayunya.
“Hei, kenapa sedih?”
“Aku takut kalau kamu benar-benar diambil orang.”
“Kalau orangtuamu memaksa bagaimana?”
“Tidak ada yang bisa memaksaku, termasuk orangtuaku. Tapi aku juga ingin supaya kau memperjuangkan cinta kita. Perjuanganmu akan kuanggap sebagai bukti kalau kau benar-benar mencintaiku.”
Perkataan Ai Lien itu membuat Sun Kwan memiliki pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan. Ai Lien seperti sengaja menguji cintanya. Karena itulah Sun Kwan memberanikan diri untuk menemui ayahnya.
Ketika itu Tuan Liem sedang duduk di teras rumah, menikmati teh di sore hari. Dengan agak ragu-ragu, Sun Kwan memberanikan diri untuk duduk di kursi teras, tak jauh dari tempat Tuan Liem berada.
Tuan Liem menuangkan teh di sloki kosong untuk Sun Kwan.
“Coba teh ini, oleh-oleh teman Papa yang baru pulang dari Makau.”
“Teh ini enak,” kata Sun Kwan.
Tuan Liem memiliki kebiasaan minum teh pada pagi dan sore hari, sebab teh memiliki berbagai macam khasiat seperti memperkuat gigi, memperkuat daya tahan tubuh, mencegah tekanan darah tinggi, menangkal lemak yang tidak baik dalam darah dan mencegah pertumbuhan penyakit mematikan, yang pada masa depan disebut kanker.
__ADS_1
Karena itulah Tuan Liem pada usianya yang tak lagi muda masih tampak sehat, walaupun sebenarnya ia kadang merasa tubuhnya tak sebugar dulu lagi.
“Papa... sepertinya aku harus memberitahukan sesuatu kepada Papa.”
“Biasanya kamu tak banyak bicara, kali ini pasti ada sesuatu yang penting.”
“Iya, apakah Papa setuju jika aku menjalin hubungan dengan Nona Hu Ai Lien?”
Tuan Liem meletakkan dulu slokinya yang terbuat dari keramik berwarna putih itu di atas meja, sebelum membahas perkara Sun Kwan.
“Maksudmu Nona Hu yang sempat diperkenalkan kepada Wan Siang?”
“Aku tahu ini agak memalukan, tapi... aku dan Nona Hu menemukan kecocokan setelah Wan Siang... menolaknya.”
“Kenapa kau harus malu?”
“Aku... aku selalu begini, mendapatkan sesuatu setelah sesuatu itu tidak disukai Wan Siang.”
Sun Kwan ingat masa kecilnya, bahwa ia selalu mendapatkan barang-barang bekas Wan Siang. Dengan alasan barang itu masih cukup bagus untuk dipergunakan Sun Kwan, entah itu pakaian ataupun mainan. Tuan Liem juga mengingat peristiwa-peristiwa itu dalam masa kecil Sun Kwan.
“Tentu ada yang berbeda. Wan Siang belumlah berhubungan dengan Nona itu, jadi kau tidak perlu malu.”
“Begini Papa. Sebenarnya aku sudah lama menjalin hubungan dengan Nona Hu, dan aku ingin melamarnya, apakah... Papa setuju dengan hubungan kami, dan bersedia membantu aku?”
Tuan Liem memandang anak keduanya itu dengan tatapan lembut. Ternyata anaknya yang berhati lembut itu sudah cukup punya keberanian untuk mengutarakan keinginan dan isi hatinya.
“Kau juga anak Papa, selama ini soal perjodohan Wan Siang yang lebih didahulukan karena dia anak pertama. Sekarang Wan Siang sudah menikah. Jadi sekarang sudah tiba giliranmu.”
“Jadi... jadi Papa akan membantuku kali ini?”
“Papa akan berusaha.”
“Tapi bagaimana dengan Mama?”
“Ada baiknya kau memberitahu dia. Paling tidak agar ia tahu status hubunganmu dengan Nona Hu. Bukankah dia dulu sangat ingin menjadikan gadis itu menantunya? Semoga dia bahagia mendengar kabar ini.”
Keinginan Tuan Liem ini membuat hati Sun Kwan agak ciut, sebab yang akan dia hadapi adalah mama tirinya yang sikapnya tak dapat ia tebak. Dulu Ny. Liem memang sangat ingin menjadikan Nona Hu menantunya, tapi apakah sikapnya akan sama jika yang ingin melamar gadis itu adalah anak tirinya? Sedangkan selama ini, Ny. Liem selalu membedakan perlakuan antara anak tiri dan anak kandungnya sendiri.
Kak Otor menyapa:
__ADS_1
Halo para readers yang budiman, akhirnya Kak Otor sudah pulang lagi setelah mendaki gunung, melewati lembah, dengan pemandangan sungai mengalir indah ke samudra, seperti Ninja Hatori.
Tentu saja banyak cerita tentang Bengkulu yang ingin Kak Otor bagi, tapi karena Kak Otor hari ini capek, jadi cerita soal Bengkulunya besok saja ya. Maaf, Kak Otor tidak bisa crazy up, karena memang selain idenya sedikit, Kak Otor juga masih banyak kerjaan hari ini, mana tenaganya juga lagi limited edition banget. Mon maap ya huhuhu.... :(