Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 10 Lagu untuk Wan Siang


__ADS_3

Peringatan dari ibunya tidak membuat Wan Siang lantas berkeinginan untuk menutup rumah judinya. Sebenarnya bukan hanya ibunya saja yang ingin Wan Siang berhenti jadi bandar judi. Ayah Wan Siang, Tuan Liem, juga ingin Wan Siang segera meninggalkan usaha itu, meskipun dulu dia sendiri juga bandar judi.


Ada alasan tertentu mengapa Tuan Liem ingin Wan Siang berhenti menjadi bandar.


Dulu ada orang yang berutang besar di rumah judinya. Karena tidak mampu membayar, orang yang berutang itu bunuh diri karena putus asa. Keluarga yang ditinggalkan yaitu istri dan dua anak yang masih kecil-kecil menjadi merana.


Tuan Liem sadar, judi bisa mendatangkan kemalangan bagi banyak orang, sehingga dengan penuh kesadaran ia menutup rumah judinya, walaupun penghasilan dari sana sangat besar. Lalu dia beralih ke usaha perdagangan luar negeri.


Meski begitu, Wan Siang yang ingin cepat kaya merekrut kembali anak buah ayahnya di rumah judi dulu, lalu mendirikan lagi usaha judi. Tadinya sang ayah berpikir, Wan Siang belum tentu sukses menjalankan usaha itu. Tetapi sungguh di luar dugaan, anaknya itu malah menjadi salah satu pemilik rumah judi dengan penghasilan terbesar di kota Semarang. Itu semua tidak lepas dari bimbingan Paman A Seng yang dulu menjadi tangan kanan ayahnya.


Paman A Seng tahu semua trik judi, sehingga memudahkan Wan Siang mendapat untung besar.


Tuan Liem merasa dirinya sudah semakin tua, dan ia harus segera memberi peringatan kepada anak sulungnya itu untuk kembali ke jalan yang benar. Sudah sepantasnya anak laki-laki sulungnya itu menggantikan dirinya memegang tampuk kepemimpinan dalam usaha keluarga.


Karena itulah Tuan Liem datang mengunjungi rumah Wan Siang. Lelaki Tionghoa itu masih gagah dan pembawaanya berwibawa. Rambutnya telah ditumbuhi uban tetapi tertata dengan rapi.


Kala itu Wan Siang dan Si Manis baru selesai makan malam, sehingga Tuan Liem dapat melihat penampilan Si Manis yang mengenakan kebaya merah, juga kalung berlian yang menghiasi lehernya. Ayah Wan Siang itu tidak tampak heran, tapi dia segera menyadari ada sesuatu yang berubah di anak laki-lakinya.


“Kemarin Mama kemari. Sekarang Papa. Ada masalah apa lagi?” Wan Siang bertanya.


“Papa setuju dengan mamamu, kau harus berhenti menjadi bandar judi. Sebagai anak laki-laki tertua, kau harus menggantikan posisi Papa di perusahaan keluarga kita.”


“Kenapa tidak Sun Kwan saja? Dia juga anak kandung Papa.”


“Sun Kwan hanya bisa menjadi juru pembukuan, tetapi tidak tahu caranya memimpin. Sedangkan kau, kau memiliki kemampuan itu.”


“Kalau itu masalahnya, kenapa tidak biarkan aku memimpin perusahaan, sekaligus menjalankan rumah judi?”


“Apa kau tidak tahu alasan Papa dulu menutup rumah judi, tak peduli berapa besar penghasilan Papa? Usaha judi mendatangkan kemalangan bagi banyak orang. Apa kau tak ingat seorang wanita dengan dua orang anak kecil yang menangis di hadapan Papa dulu, saat suaminya bunuh diri karena tak mampu melunasi utang judinya?”


“Aku ingat, tapi bukannya itu salah dia sendiri? Papa tak pernah memaksa dia berjudi dan berutang. Jadi itu semua bukan salah Papa.”


“Judi membuat orang kecanduan, Wan Siang. Jika sudah pernah menang sekali atau dua kali, mereka akan sulit dihentikan untuk terus mencoba peruntungan. Tak peduli setelah itu terus-menerus kalah. Harapan mereka sudah membutakan hati dan juga mengelabuhi nalar mereka sendiri.”


“Kalau tahu sudah tidak ada uang, maka sebaiknya mereka yang berhenti. Kenapa harus menyalahkan bandar?”


“Judi itu seperti candu yang merusak diri sendiri. Kita tak bisa menyuruh mereka berhenti begitu saja, bahkan diri mereka sendiri tidak mau berhenti. Sekali orang mengisap candu, mereka akan mencari cara untuk mendapatkan lagi dan lagi sampai tubuh mereka menjadi kurus kering. Tak peduli kaya ataupun miskin, mereka akan melakukan apa saja demi mendapat candu. Begitu pula judi, harapan akan kemenangan itu berubah menjadi kegilaan yang akhirnya menggerus jiwa orang menuju lembah hitam. Jika kau terus menjalankan rumah judi, sama saja kau menciptakan lembah hitam itu, Wan Siang.”


Suara ayahnya kali ini terdengar begitu dalam, sehingga mau tak mau Wan Siang menjadi terdiam hanya untuk mendengarkan. Sebenarnya ia juga mengerti hal itu, tetapi keinginan untuk menjadi kaya membuatnya menepis semua kebenaran yang ada.


“Lagipula kamu tahu kan, bagi bandar, judi itu bukan soal nasib baik dan buruk? Penjudi bisa untung bisa rugi, tapi bandar tidak bisa kalah. Orang menang kita potong uang kemenangannya, orang kalah kita tawari utang berbunga,” Tuan Liem melanjutkan.


“Jangan bilang kamu tidak tahu cara kita menjalankan rumah judi. A Seng itu jagonya mengakali permainan. Dia bisa bikin orang menang pada awal, sampai tidak bisa berhenti, lalu dibuat kalah terus sehingga yang dimenangkan kembali lagi. Seperti itulah, seperti mengisap darah orang-orang yang berjudi.”


“Selagi aku masih hidup, sudah menjadi kewajibanku mengingatkanmu. Meluruskan apa-apa yang bengkok di anak-anak Papa. Supaya jika suatu hari aku mati, aku akan punya muka untuk bertemu kembali dengan para leluhur di alam baka.”


“Bagaimana jika aku tidak mau Pa? Aku sudah membangun usaha itu dengan kerja keras. Usaha itu memberiku kebebasan untuk bertindak berdasarkan keinginanku sendiri. Dan jauh dari rumah bagiku sangat menyenangkan.”


“Kalau begitu carilah usaha lain. Jangan pernah kau meninggalkan keluarga kita. Jika Papa tiada, kau yang bertanggung jawab menjaga mereka semua. Terutama Mamamu dan adik perempuanmu Siaw Cing.”


“Apa aku tidak punya pilihan lain, harus menutup rumah judi?”


“Tidak ada pilihan. Tutup rumah judimu. Jika tidak, jangan salahkan Papa jika mengambil suatu tindakan yang diperlukan.”


Wan Siang mulai khawatir dengan pendirian Papanya. Tuan Liem adalah jenis orang yang akan bertindak sesuai dengan ucapannya. Jika ia sudah berkata akan bertindak, maka Wan Siang tidak akan bisa lolos dari tindakan itu.


Tetapi walaupun begitu, Wan Siang tidak juga menunjukkan tanda-tanda persetujuan atas keinginan ayahnya. Ia hanya terdiam.

__ADS_1


“Papa tadi lihat perempuan berkebaya merah, siapa dia?”


“Dia jimatku,” jawab Wan Siang. “Ayahnya kasih dia ke aku untuk menebus utang judi.”


“Tuh, kan? Rumah judimu sudah memisahkan anak itu dari keluarganya, Papa tidak ingin rumah judimu menyebabkan kemalangan terhadap lebih banyak orang lagi. Maka Papa ingin, mulai besok kau tutup rumah judi itu, Mengerti?”


Wan Siang tidak bergeming. Berat rasanya tiba-tiba harus mengakhiri usaha yang dibangunnya dengan kerja keras itu. Tetapi kenyataan bahwa karena utang, Si Manis harus berpisah dengan keluarganya memanglah benar. Jadi Wan Siang tidak bisa membantah perkataan ayahnya.


“Papa pergi dulu. Pikir baik-baik perkataan Papa,” Tuan Liem menutup pembicaraan, lalu pergi.


Malam itu Wan Siang tidak bisa tidur, ancaman ayahnya selalu terngiang-ngiang di benaknya. Waktu kecil, saat ia takut, ada pengasuh yang selalu menenangkannya, terutama jika ada hujan disertai petir. Ia akan menutup telinga dengan kedua tangan dan bersandar kepada pengasuhnya. Pengasuhnya akan menenangkan dirinya dengan menyanyikan lagu-lagu Jawa hingga ia jatuh tertidur.


Wan Siang meminta Si Manis menemaninya tidur. Hatinya diliputi kegelisahan sehingga ia tak ingin sendirian.


“Kenapa wajah Tuan cemberut begitu?” Si Manis bertanya saat melihat ekspresi Wan Siang yang sedang galau.


“Papaku ingin menutup rumah judi, tapi aku tidak mau.”


“Mungkin ia bermaksud baik.”


“Apa membuat anaknya sedih juga baik? Aku sudah bekerja keras, tahu-tahu disuruh berhenti.”


“Segala sesuatu pasti ada hikmahnya,” ujar Si Manis.


“Karena rumah judi itu aku bisa membawamu ke sini, dan kau bisa hidup layak.”


“Tapi hidup layak, bukan berarti juga bahagia.”


“Apa kamu tidak bahagia bisa tinggal di sini?” Wan Siang bertanya penasaran.


“Kalau saya sedang makan enak, saya selalu teringat Bapak. Bagaimana hidupnya sekarang, saya tidak tahu. Makanan jadi terasa tidak enak di mulut saya.”


“Apa kau bisa bahagia hidup di rumah yang jelek dan kekurangan makanan?”


“Bahagia itu letaknya di hati, entah kenapa walaupun rumah saya jelek dan makan seadanya, saya bisa bahagia. Saya punya teman banyak, bisa bermain sore-sore, apalagi kalau terang bulan, kami bisa bermain sampai malam, juga menyanyi bersama.”


Kala menceritakan itu, Wan Siang melihat Si Manis tersenyum. Hanya dengan mengingat teman-temannya saja gadis itu bisa tersenyum. Wan Siang mulai berpikir, apakah selama ini gadis itu membencinya karena memisahkannya dari teman-temannya? Dengan begitu gadis itu tak bisa bertemu dengan teman-temannya lagi, tak bisa bermain dan bernyanyi.


“Apa kamu bisa nyanyi?” tanya Wan Siang.


“Oh, saya suka nyanyi, Tuan.”


“Kalau begitu coba nyanyi, aku mau dengar.”


“Tapi suara saya tidak bagus, saya malu.”


“Jangan malu, ayo nyanyi.”


Dengan agak ragu-ragu, Si Manis mulai mengingat syair lagu yang sering ia nyanyikan bersama teman-temannya di kampungnya dulu.


“Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir


Tak ijo royo-royo


Tak sengguh penganten anyar


Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi

__ADS_1


Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro


Dodotiro-dodotiro kumintir bedah ing pinggir


Dondomano jrumatono kanggo sebo mengko sore


Mumpung padang rembulane


Mumpung jembar kalangane


Sun surako surak hiyo”


(Bangunlah, bangunlah


Tanaman sudah bersemi


Demikian menghijau bagaikan pengantin baru


Anak gembala, anak gembala


Panjatlah pohon belimbing itu


Biar licin dan susah tetaplah kau panjat


Untuk membasuh pakaianmu


Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak


Di bagian samping


Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore


Mumpung bulan bersinar terang


Mumpung banyak waktu luang


Ayo bersoraklah dengan sorakan iya)


Jika Si Manis mengatakan suaranya jelek, itu sama sekali tidak benar. Justru suaranya sangat merdu dan menenangkan di telinga Wan Siang. Hati Wan Siang yang tadinya begitu sedih dan tidak tenang, berubah menjadi damai. Seperti saat pengasuhnya menyanyikan lagu Jawa ketika dirinya ketakutan pada hari hujan disertai petir menyambar-nyambar. Lelaki itu kembali merasakan ketenangan hati yang telah lama direnggut darinya, pada hari ketika pengasuhnya diusir oleh Sang Mama.


“Suaramu lumayan juga, nanti kamu harus sering-sering nyanyi ya,” pinta Wan Siang.


“Tidak juga, Tuan. Suara saya masih kalah bagus sama teman-teman saya di kampung.”


“Aku tidak peduli dengan suara teman-temanmu. Yang penting kamu sering nyanyi buat aku.”


Wan Siang mengeluarkan sesuatu dari lemarinya, ia memberikan beberapa lembar uang kepada Si Manis.


“Ini saweran buat kamu,” kata Wan Siang.


Si Manis terkaget-kaget melihat uang itu, Wan Siang memberikan 5 lembar uang kertas dengan nilai pecahan masing-masing 1 gulden.


Pada zaman ketika orang digaji di bawah 10 sen sehari, Si Manis menerima uang sebanyak 5 gulden yang nilainya sama dengan 500 sen dari Wan Siang. Tiba-tiba ia teringat ayahnya, kira-kira apa saja yang bisa ia beli untuk diberikan kepada ayahnya dengan uang sebanyak 5 gulden itu?


“Aku seneng dengar nyanyian kamu, sekarang kamu nyanyi lagi lagu yang tadi,” perintah Wan Siang.


Si Manis kali ini menyanyi dengan penuh kerelaan, mungkin bahagia karena diberi uang saweran oleh Wan Siang. Gadis itu berniat menyimpan uang itu untuk diberikan kepada ayahnya di kampung.

__ADS_1


Karena nyanyian itu, Wan Siang yang tadinya tidak bisa tidur, berangsur-angsur mulai mengantuk kemudian jatuh tertidur. Si Manis memperhatikan wajah Tuannya.Walaupun tertidur, wajah Wan Siang masih saja cemberut. Gadis itu mengerti kalau Wan Siang sedang banyak pikiran.


__ADS_2