
Seperti yang sudah direncanakan Wan Siang, ia akan mencari petunjuk arah hidupnya dengan pergi ke kelenteng. Sudah lama sekali ia tak berhubungan dengan dunia spiritual, sehingga jarang ke kelenteng.
Hari itu Liem Wan Siang memutuskan pergi ke kelenteng Kang Kee* yang terletak di tepi kali Semarang. Namun kelenteng Kang Kee lebih terkenal sebagai kelenteng Gang Lombok. Sebutan itu karena kelenteng tersebut berada di Gang Lombok, Pecinan Semarang, dan terdengar lebih akrab pula di telinga orang pribumi. Jalan itu sendiri, Gang Lombok, dinamai demikian karena dahulu di sana banyak terdapat tanaman lombok atau cabe.
Di jalan itu juga terdapat tempat industri makanan, juga sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat pertemuan orang-orang Kongkoan dan balai pengobatan.
Kelenteng Gang Lombok adalah kelenteng terbesar dan termewah pada zaman itu, di dalamnya ada banyak tempat penyembahan berbagai dewa. Awalnya kelenteng itu dibangun sebagai rumah untuk Dewi Kwan Sie Im Poo Sat, atau lebih dikenal sebagai Dewi Kwan Im, yang oleh umat Buddha dianggap sebagai Dewi Welas Asih.
Kelenteng Gang Lombok memiliki tiga ruangan, yaitu bagian tengah yang terdapat patung Buddha, Thian Siang Seng Boo, Kwan Sie Im Poo Sat dan Sam Poo Tay Djien (laksamana Cheng Ho). Di sayap kiri adalah tempat pemujaan Nabi Kong Hu Tjoe, Hok Tik Tjien Seng (Dewa Bumi), Kwan Seng Tee Koen (Dewa Perang) dan yang lainnya. Sedangkan sayap kanannya digunakan untuk memuja Poo Seng Tay Tee (Dewa Obat), Seng Ho Lo Ya (Dewa Pelindung Kota), Djay Sien Ya (Dewa Kekayaan) dan lain sebagainya.
Kelenteng Gang Lombok terbuka untuk masyarakat umum, tidak harus orang yang beragama Buddha, seperti fungsinya yaitu untuk menjaga keharmonisan seluruh lingkungan masyarakat. Maka Wan Siang mengajak serta Si Manis. Lagi pula Si Manis sudah lama tak diajaknya jalan-jalan, pasti gadis itu juga merasa bosan di rumah terus.
Wan Siang melakukan kegiatan sembahyang di kelenteng, pertama-tama bersujud dan berdoa di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini juga berlaku untuk orang yang beragama lain, mereka boleh berdoa menurut kepercayaan masing-masing.
Selesai berdoa, Wan Siang menancapkan hio di jambangan berkaki tiga yang terletak di bagian depan ruang tengah, lalu pergi ke altar Dewi Kwan Im. Ia melemparkan dua keping kayu berbentuk setengah lingkaran untuk meminta persetujuan Sang Dewi, sisi kayu yang dilemparkannya menunjukan sisi yang berbeda, pertanda permohonannya diterima. Lalu ia mengocok batang-batang bambu kecil dalam wadah sambil mengucapkan permohonannya.
Di setiap batang bambu tersebut terdapat nomor yang bisa dicocokkan dengan kertas Ciam Sie. Kemudian setelah mendapat satu bambu bernomor, Wan Siang harus melempar dua keping kayu berbentuk setengah lingkaran tadi untuk meminta persetujuan Dewa sekali lagi. Setelah mendapat nomor yang terdapat pada bambu, ia menukarnya dengan kertas Ciam Sie berisi syair, sebagai salah satu usahanya untuk memperoleh petunjuk langkah hidup selanjutnya.
Penjaga kelenteng berumur setengah baya membantunya mengartikan kertas Ciam Sie yang diperoleh Wan Siang. Lelaki itu tampak tersenyum dan menjelaskan isi dari kertas Ciam Sie tersebut.
“Wah, Ciam Sie Engkoh ini ciamik (bagus) lho. Perjodohan bagus, dekat. Rejeki juga bagus, tapi sepertinya rejekinya Engkoh tidak di sini, tetapi ada di arah barat dan timur,” kata sang penjaga kelenteng.
“Barat dan timur? Itu kan berlawanan, kok bisa rejeki ada di dua arah berlawanan?” Wan Siang bingung.
Selain bingung dengan arti rejekinya yang harus dicari di arah barat dan timur, ia cukup terkejut dengan hasil Ciam Sie mengenai perjodohannya. Lalu ia menatap ke arah Si Manis. Dia tidak sedang dekat dengan siapapun kecuali gadis Jawa itu, mungkinkah perjodohan yang dimaksud adalah akan adanya pertalian dengan gadis itu?
Wan Siang yang tidak pernah memikirkan tentang jodohnya tiba-tiba dibuat berpikir ke arah itu. Tetapi ia sendiri percaya bahwa setiap manusia itu punya jodohnya masing-masing, kalau tidak bisa bertemu di kehidupan sekarang, kemungkinan akan bertemu di kehidupan mendatang. Begitulah yang pernah diajarkan gurunya dulu.
Si Manis juga mendengarkan penjelasan Sang penjaga kelenteng tentang perjodohan dan rejeki, lantas secara spontan dirinya juga menoleh ke arah Wan Siang. Pada saat itulah keduanya saling menatap di saat yang sama. Tiba-tiba Si Manis tampak seperti sesuatu yang penting bagi Wan Siang, bukan sebagai jimat atau mainan yang menarik, melainkan sebagai orang yang selama ini telah menemaninya dalam suka maupun duka.
“Terima kasih atas penjelasannya,” ujar Wan Siang kepada penjaga kelenteng. Pemuda itu memberikan beberapa lembar uang kepada penjaga kelenteng sebagai ucapan terima kasih.
Lelaki penjaga kelenteng itu bukan main gembiranya saat menerima uang kertas yang jumlahnya tidak sedikit dari Wan Siang. Pemuda itu memang tampak seperti tuan muda dari keluarga kaya dan bersifat royal. Apalagi pada zaman meleset, tentu uang menjadi hal yang begitu berharga.
__ADS_1
“Semoga Engkoh banyak rejeki, orang yang suka memberi pasti rejekinya bagus, semoga Engkoh berbahagia dengan Cacik-e.” Sang penjaga kelenteng menoleh kepada Si Manis, yang dia anggap kekasih Wan Siang, dan memanggilnya Cacik yang bisa dipadankan dengan sebutan “Mbak” bagi orang pribumi.
Setelah menyelesaikan urusannya di kelenteng Gang Lombok, tak lengkap rasanya jika tidak membeli makanan yang termashyur di dekat kelenteng, yaitu lunpia Gang Lombok. Warung lunpia itu berukuran kecil, buka setiap pagi dan tutup pada sore hari sebelum Matahari terbenam. Tetapi warung lunpia itu bisa saja sudah tutup pada siang hari kalau dagangannya sudah habis terjual. Terdapat dua jenis lunpia, yaitu lunpia basah dan goreng, lengkap dengan acar dan saus manis.
Lunpia Gang Lombok dikenal sebagai lunpia yang tiada duanya, pertama kali dibuat oleh seseorang bernama Tjoa Thay Yoe, pemuda asal Hokkian yang menetap di Semarang. Awalnya ia membuat lunpia dengan cita rasa dari daerah asalnya untuk menyambung hidup. Kemudian ia menikah dengan wanita pribumi bernama Warsih.
Sejak itu Tjoa Thay Yoe dan istrinya meracik resep lunpia yang disesuaikan dengan lidah orang setempat. Dan lahirlah lunpia Gang Lombok yang termasyhur itu. Lunpia itu memiliki rasa yang sedikit manis, dengan isi irisan rebung, telur, daging ayam, udang dan piehie (sejenis ikan asin). Karena itu ramai orang berpendapat bahwa lunpia Semarang adalah makanan hasil perkawinan budaya Jawa dan Tiongkok.
Rebung atau bambu muda dipercaya membawa hawa im (dingin) yang berkhasiat untuk menambah tenaga. Telur, udang, dan ikan piehie mengandung hawa panas yang dipercaya meningkatkan daya seksual. Bawang merah dan putih meningkatkan daya tahan tubuh, selada dan daun bawang membuat wajah bersih dan awet muda, serta memanjangkan nafas.
Sesampainya di rumah, Wan Siang dan Si Manis memakan lunpia Gang Lombok itu. Sepertinya gadis itu sangat menyukai rasanya. Ia tentu saja pernah makan lunpia, tetapi sekedar lunpia murah yang dijual di pasar. Kali itu ia dapat merasakan lunpia terenak di kota Semarang.
“Apa kamu dengar kata penjaga kelenteng tadi?” tanya Wan Siang kepada Si Manis.
“Iya, saya dengar.”
“Lalu bagaimana pendapatmu?”
“Saya tidak tahu, saya tidak mengerti tentang rejeki yang asalnya dari barat dan timur.”
“Oh, soal itu saya pikir, mungkin Tuan akan segera bertemu jodoh,” ujar Si Manis sesuai yang terlintas di benaknya.
“Menurutmu siapa jodohku?”
“Mana saya tahu Tuan.”
“Aku kan cuma dekat sama kamu, kalau jodohnya kamu bagaimana?”
Si Manis mau tidak mau tersipu malu, siapa sangka kalau Wan Siang berpikir seperti itu.
“Tuan jangan bercanda, saya orang miskin, mana bisa jadi jodoh orang kaya. Cocoknya jadi pembantunya Tuan,” Si Manis sendiri tertawa saat mengatakannya.
Si Manis belum pernah melihat ada orang miskin di kampungnya bisa menikah dengan orang kaya. Hal seperti itu sepertinya cuma ada dalam dongeng. Di kampung Si Manis, para gadisnya rata-rata menikah dengan orang yang sederajat, sama-sama miskin dan hidup bersama penuh perjuangan membanting tulang.
__ADS_1
“Aku tidak mau kalau kamu jadi pembantuku, sejak awal juga kamu bukan pembantuku. Tapi aku tidak keberatan kalau kamu bantu aku sesuatu,” ujar Wan Siang.
“Apa ada yang bisa saya bantu?”
“Kamu jangan pergi, terus mengurus aku dan menemani aku.”
“Memangnya saya bisa pergi ke mana lagi Tuan?”
“Apa kamu tidak pernah ingin pulang?” Tanya Wan Siang.
Si Manis berpikir lagi, sudah lama dia tidak pulang. Sebenarnya ia memang ingin sekali pulang ke rumah, menengok bapaknya dan bertemu lagi dengan teman-teman masa kecilnya. Tetapi kehidupan membawanya ke arah lain, tiba-tiba ia terdampar di rumah Wan Siang.
“Saya memang kadang ingin pulang, saya kangen bapak dan teman-teman,” Si Manis menunduk wajahnya menyiratkan kerinduan akan kampung halaman.
“Ya Sudah, kamu boleh pulang besok, tapi aku temani,” ujar Wan Siang.
Si Manis mengira Wan Siang akan melepaskannya begitu saja, kembali ke rumah untuk selamanya. Tetapi nyatanya Wan Siang memperbolehkannya pulang dengan syarat ditemani oleh pemuda itu. Biar begitu, gadis itu tetap senang karena akhirnya ia diberi kelonggaran dan besok dia bisa bertemu dengan bapaknya.
Kepergian Wan Siang ke kelenteng Gang Lombok seperti titik balik di kehidupannya. Ia mulai serius memikirkan tentang kehidupannya, yang sebelumnya cuma ia anggap sebagai permainan. Nyatanya hidup itu memang bukan permainan untung rugi, melainkan perjuangan untuk memperoleh hasil sesuai yang diharapkan.
Sebab tidak ada seorang pun yang tahu perputaran roda nasib. Wan Siang sempat menjadi orang yang sukses menjalankan rumah judi, lalu nasibnya berbalik dan membawanya ke titik terendah, sebab kini ia hanyalah seorang pengangguran.
Suatu ketika Paman A Seng mengunjunginya di rumah, dan membahas perihal kedudukan Si Manis sebagai jimat kekayaan Wan Siang.
“Menurutmu bagaimana, kamu kan tadinya menganggap Si Manis sebagai jimat kekayaan, lalu ada kejadian seperti ini dan sekarang kamu malah jadi pengangguran,” kata Paman A Seng.
Sebenarnya perkataan Paman A Seng memang ada benarnya, awalnya Si Manis dibawa ke rumah untuk dijadikan jimat kekayaan. Tetapi sepertinya sesuatu berjalan tidak seperti harapan.
“Paman benar, sekarang aku sedang terpuruk walau aku membawa gadis itu dengan tujuan sebagai jimat kekayaan. Tetapi entah kenapa, justru dengan kehadiran gadis itu, aku merasa lebih bahagia. Dulu aku sukses dan punya uang banyak, tapi hidupku terasa hampa. Setiap hari kalau tidak mabuk ya main judi. Sekarang aku bisa lebih sering tertawa, rasanya hidupku lebih menyenangkan daripada dulu.”
“Sebenarnya untuk apa kita cari uang banyak-banyak? Ya biar kita bahagia. Yang penting itu adalah hasil akhirnya, bahagia atau tidak. Uang hanyalah salah satu perantara kebahagiaan. Tapi kebahagiaan itu sendiri bisa disebabkan banyak hal. Setiap kebahagiaan yang kita rasakan merupakan rejeki dan karunia yang kadang tidak bisa ditukar dengan uang.”
Paman A Seng yang kenyang dengan asam garam kehidupan kadang-kadang bisa berpikir dengan bijak. Kebijakasanaannya bukan karena ia tak pernah salah, tetapi karena tahu dua sisi kehidupan, gelap dan terang, maka pengetahuannya mencakup ilmu kehidupan yang luas dan beragam. Sesungguhnya pengalaman hidup adalah guru yang paling berharga.
__ADS_1
Keterangan:
Kelenteng Kang Kee: sekarang lebih dikenal sebagai kelenteng Tay Kak Sie, di Gang Lombok, Pecinan Semarang. Salah satu kelenteng yang banyak dikunjungi oleh turis hingga kini.