
Setelah rumah judinya diobrak-abrik, Wan Siang benar-benar mengalami penurunan semangat hidup, hingga berada di titik terendah dalam hidupnya. Luka memar di wajah karena dihajar gurunya berangsur-angsur pulih, tetapi hatinya sama sekali belum membaik. Ia berharap ada yang bisa menghibur hatinya yang sedang kacau itu. Untunglah ada Si Manis. Dengan adanya gadis itu, paling tidak kesumpekan hati Wan Siang berkurang.
Keadaan Wan Siang membuat Si Manis menjadi iba dan peduli, Wan Siang jadi punya alasan untuk meminta gadis itu melakukan sesuatu yang ia inginkan.
Wan Siang bangun pada pagi hari, tetapi ia tak beranjak dari tempat tidurnya. Si Manis yang melihatnya jadi heran.
“Apa Tuan tidak ingin melakukan sesuatu?” tanya Si Manis, yang sejak tadi tak melihat pergerakan Wan Siang.
“Melakukan apa? Kan aku sudah bilang kalau aku lagi malas hidup, termasuk bergerak,” ujar Wan Siang dengan raut wajah datar.
“Bagaimana kalau Tuan mandi? Biar badan segar.”
“Kalau kamu yang mandikan, baru aku mau.”
Mendengar hal itu, sontak raut wajah Si Manis berubah. Tadinya ia masih berlaku seperti layaknya perawat rumah sakit yang menghadapi pasien, dengan memberi perasaan simpati atas keadaan pasien sekedarnya demi menjalankan tugas. Sekarang permintaan Wan Siang menjadi hal yang perlu ditinjaunya lebih dalam lagi.
“Kamu bilang mau ngurus aku?” Wan Siang menagih janji Si Manis.
“Iya, tapi... Tuan kan sudah besar, bisa mandi sendiri.”
“Ya sudah, kalau begitu aku mau diam saja sampai ada laba-laba membuat jaring di badanku.”
“Saya siapkan air mandi dan pakaian, tapi nanti Tuan pergi ke kamar mandi sendiri ya?”
“Tidak mau, aku maunya dimandikan.”
Si Manis semakin terdesak, seperti tidak punya pilihan lain. Tetapi akhirnya ia benar-benar menyiapkan air mandi hangat di bak mandi Wan Siang yang terbuat dari logam agar Wan Siang bisa berendam di dalamnya, lalu menyiapkan satu stel pakaian.
Si Manis akhirnya memenuhi permintaan Wan Siang, dengan satu syarat. Ia akan memandikan Wan Siang dengan mata tertutup, sehingga tidak akan bisa melihat tubuh tuannya. Gadis itu berusaha untuk tidak menyentuh bagian tubuh yang tidak seharusnya ia sentuh.
Demi menolong Wan Siang yang sedang sedih dan kecewa, Si Manis rela untuk berpura-pura buta untuk mengurus lelaki itu. Tetapi walaupun matanya tertutup, ia tak bisa menghindari perasaan berdebar-debar di jantung kecilnya. Jantungnya terpacu lebih cepat dari yang seharusnya hingga menimbulkan semburat merah muda di kedua pipinya, disebabkan aliran darah yang mengalir lebih cepat pula. Wajahnya memerah karena malu dan itu semua disaksikan oleh Wan Siang.
Walaupun Si Manis memejamkan mata, dan dunia menjadi gelap seketika dalam penglihatannya, pikirannya tak bisa berhenti menciptakan gambaran tentang tubuh Wan Siang yang pernah ia lihat sebelumnya. Itu memicu jantung Si Manis bereaksi di luar dugaan.
Wan Siang tersenyum dan menikmati pemandangan bagaimana gadis itu dengan perasaan kalang kabut memandikannya. Pipinya yang memerah membuat gadis itu tampak semakin cantik, seperti memakai pemerah pipi alami. Saat Si Manis menutup matanya, Wan Siang bisa puas memperhatikan wajah gadis itu.
Walaupun memandikan dengan mata tertutup, itu tak lantas membuat Si Manis bisa menghindari menyentuh kulit Wan Siang yang lembut. Setiap kali tangannya menyentuh kulit halus Wan Siang saat menyabuninya, tangan itu menjadi gemetar, perasaannya sungguh kacau dibuatnya.
Lelaki itu tidak menyangka bahwa kemalangan yang sedang dialaminya membuatnya punya alasan untuk lebih dekat dengan Si Manis, yang biasanya selalu berusaha menghindarinya.
Malah dia berlama-lama mandi. Ketika Si Manis bilang sudah selesai, dia sengaja meminta bersihkan dan gosok lagi bagian ini dan itu. Si Manis pun kembali menyentuh bagian-bagian yang diminta dibersihkan, lengan, dada, dan beberapa lagi yang seharusnya belum pantas disentuh lawan jenis, tapi Wan Siang sengaja suruh pegang.
Si Manis baru berani membuka mata saat ia sudah selesai memakaikan pakaian kepada Wan Siang.
“Sudah selesai Tuan,” kata Si Manis disertai perasaan lega di hatinya.
“Kerja bagus,” ujar Wan Siang dengan melemparkan senyuman yang aneh.
Setelah memandikan, tugas Si Manis berikutnya adalah menyiapkan makanan dan minuman, karena Wan Siang hanya mau makan kalau disuapi. Jadi begitulah rutinitas yang harus dihadapi Si Manis setiap harinya, dua kali memandikan dan tiga kali menyuapi dalam sehari. Sungguh pekerjaan yang merepotkan untuk seorang gadis yang baru beranjak dewasa.
__ADS_1
“Saya harap keadaan Tuan semakin membaik,” kata Si Manis setelah selesai memberikan sarapan.
“Kenapa, apa aku bikin repot kamu?”
“Biar semua kembali berjalan dengan wajar.”
“Jadi menurutmu memandikan dan menyuapi aku itu tidak wajar? Bukankah itu biasa dilakukan perawat?”
“Tapi saya bukan perawat, saya tidak bisa bersikap seperti perawat.”
“Kenapa tidak bisa?”
“Saya malu, dada saya jadi deg-degan, saya jadi takut.”
Wan Siang tersenyum mendengar keluhan Si Manis. Gadis itu tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan. Pengetahuan Si Manis tentang diri sendiri sangat sedikit, tapi Wan Siang yang tahu lebih banyak menjadi mengerti bahwa semburat merah di pipi gadis itu terjadi karena jantungnya yang memompa darah lebih cepat ke otak.
Jadi lelaki itu mendengarkan Si Manis bercerita tentang keadaan dirinya dengan pura-pura tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Tenang saja, itu tidak bahaya.”
“Benar, tidak bahaya Tuan? Saya takut...”
“Jangan takut, kamu tidak akan mati karena itu. Justru aku yang bakal mati kalau tidak diurus.”
“Makanya saya mau ngurus Tuan, saya takut Tuan mati.”
“Apa nyawaku ini berharga? Aku ini sudah banyak bikin kamu susah, tapi kamu mau aku tetap hidup.”
“Kalau kamu mau repot mengurusku, aku pasti akan hidup terus.”
***
Siang itu Paman A Seng dan para anak buah Wan Siang di rumah judi datang, ingin tahu keadaan Wan Siang setelah dihajar oleh gurunya sendiri. Paman A Seng merasa luka di wajah Wan Siang mulai membaik, tetapi ia berpikir pemuda itu kondisi mentalnya masih belum kembali seperti semula.
Paman A Seng juga membawa taplak meja berisi uang yang sempat diselamatkannya dari rumah judi pada hari naas itu.
“Untung aku masih sempat menyelamatkan uang kita,” ujar Paman A Seng.
“Paman memang cerdas,” kata Wan Siang.
“Ini sudah termasuk uang yang ada di dalam laci dan brankas. Bisa jadi modal usaha kita selanjutnya.”
“Tapi aku sedang tidak mau buka usaha baru, Paman.”
Wan Siang membuka taplak berisi uang yang jumlahnya tidak sedikit itu, sebagian ia bagikan kepada Paman A Seng dan anak buahnya.
“Ini, anggap saja pesangon. Kalian buka usaha biar bisa hidup,” kata Wan Siang dengan bijak.
“Lalu kamu bagaimana?” tanya Paman A Seng kepada Wan Siang.
__ADS_1
“Aku mau diam dulu.”
“Mau sampai kapan? Kamu ini pemimpin kami, dan masih banyak orang yang menggantungkan hidup ke kamu. Kamu harus bangkit, Wan Siang.”
Wan Siang memikirkan perkataan Paman A Seng yang ada benarnya itu. Tetapi jiwanya memang sedang rapuh, hatinya masih sakit.
“Aku sudah dihajar oleh guruku yang disuruh oleh Papaku sendiri. Aku ini sedang hancur, aku perlu waktu Paman. Gelas pecah kan tidak bisa langsung utuh lagi, perlu waktu untuk disusun ulang. Aku sedang berusaha menata diriku.”
“Paman ngerti. Ya sudah, kamu istirahat dulu saja. Nanti kita bisa kerja sama lagi lain waktu.”
Begitulah pendapat Paman A Seng. Sepertinya Wan Siang memang perlu menarik diri barang sebentar untuk kembali menyusun dirinya dari puing-puing kehancuran. Dan kala dirinya hancur seperti itu, kebetulan ada seorang gadis yang berperan penting dalam menata kembali kehidupanya, yaitu Si Manis.
***
Ketika malam tiba, Wan Siang hanya mau tidur jika ditemani Si Manis, itupun harus didongengi terlebih dahulu atau dinyanyikan lagu-lagu pengantar tidur seraya meninabobokkannya.
Tetapi kadang-kadang juga mereka menyempatkan diri berbincang barang sejenak.
“Manis, apa kamu kangen sama teman-temanmu di kampung?”
“Kadang-kadang, Tuan. Tapi akhir-akhir ini saya tidak kepikiran mereka.”
“Apa aku tidak bisa jadi gantinya teman-temanmu itu?”
“Tuan sudah jadi orang yang lebih saya pikirkan daripada teman-teman saya. Seharian saya selalu memikirkan keadaan Tuan, sampai tidak kepikiran teman.”
“Apa aku ini sudah kau anggap lebih dari sekedar teman?” tanya Wan Siang sembari memperhatikan raut wajah Si Manis.
Si Manis tampak sedang berpikir, ia sendiri bingung, mengapa mulutnya dengan lancar bisa mengatakan hal-hal yang selama ini hanya ada dalam hatinya. Gadis itu serta merta memperhatikan Wan Siang yang tengah menatapnya lekat-lekat dengan tatapan yang lembut.
“Saya tidak tahu. Tapi saya sekarang lebih banyak pikirkan Tuan daripada yang lain. Tiap hari saya harus ngurus Tuan mandi dan makan. Itu saja sudah bikin saya sibuk.”
“Apa kamu keberatan mengurus aku?”
“Saya tidak bisa keberatan, hidup Tuan lebih penting dari keberatan saya.”
“Kalau aku selamanya bergantung ke kamu, apa kamu keberatan?”
“Saya tidak ada pilihan lain. Dari awal, bapak saya ngasih saya kepada Tuan, jadi sekarang saya ini punyanya Tuan.”
“Ya, kamu punyaku. Kamu harus ingat itu.”
Wan Siang mendekatkan wajahnya kepada Si Manis yang sedang tenggelam dalam pemikirannya. Yang sedang bingung dengan perubahan perasaannya. Gadis itu belum bisa memahami mengapa yang ada dalam pikirannya kebanyakan adalah Wan Siang.
Padahal ia dulu lebih sering memikirkan bapak dan teman-temannya yang selalu ia rindukan. Benarkah ia sudah tidak ingin lagi bermain seperti dulu? Sudah lama ia tak bermain, sehingga bermain bukanlah hal yang menurutnya penting. Lagipula bermain adalah kegiatan anak-anak sekedar untuk mengisi waktu luang. Gadis itu merasa bukan lagi sebagai anak yang butuh bermain. Ia akhirnya menyadari kalau dirinya sudah beranjak dewasa.
Tetapi menjadi dewasa itu adalah lompatan kehidupan yang begitu penting dan besar bagi kehidupan setiap orang. Lebih mudah menjadi anak-anak yang tak perlu banyak memikirkan tentang masa depan. Menjadi dewasa adalah proses mengenali jati diri, kebanyakan bergantung dengan lingkungan sekitar.
Lingkungan Si Manis saat itu sangat berbeda dengan lingkungannya yang dulu. Perubahan hidup dan upaya mengenal diri sendirinya sangat ditentukan oleh lingkungan yang tak jauh dari kehidupan seorang pemuda bernama Liem Wan Siang.
__ADS_1
Mungkin karena suasana yang begitu tenang dan begitu dekatnya posisi Wan Siang dengan Si Manis, pemuda itu terdorong melakukan sesuatu yang amat sangat mengejutkan si gadis. Wan Siang mendekatkan bibirnya yang kemerahan ke bibir Si Manis yang lembab, lalu menciumnya dengan lembut.
Mata Si Manis menjadi membelalak karena rasa terkejutnya, tanpa bisa kabur kemana-mana. Gadis itu merasakan betapa lembutnya bibir Wan Siang yang sedang memperawani bibirnya.