
Si Manis senang melihat suasana hati Wan Siang yang sedang baik, juga penasaran mengenai teman yang katanya baru dikunjungi oleh Wan Siang itu.
“Temannya tadi laki-laki apa perempuan Koh?” Tanya Si Manis.
“Kalau temanku perempuan memangnya kenapa, Manis?” Wan Siang balik bertanya.
Si Manis tiba-tiba terdiam, belum pernah dia menunjukkan mimik wajah seperti itu, wajahnya menunduk dan bibirnya mengerucut, membuat Wan Siang gemas sekaligus ingin tertawa.
“Engkoh tidak pernah cerita kalau punya teman perempuan.”
“Kalau aku cerita, nanti kamu marah.”
“Buat apa saya marah, kan itu urusan Engkoh. Teman-teman saya juga urusan saya sendiri.”
“Tapi kok mukanya cemberut begitu?” Wan Siang memperhatikan wajah Si Manis, sambil memegangi dagunya.
“Kamu tidak suka kalau aku punya teman perempuan ya?”
“Engkoh kan ganteng, pasti banyak perempuan yang kepengen jadi temennya Engkoh. Saya juga tak bisa mencegah.”
“Hahaha ... kamu cemburu ya?”
“Buat apa cemburu, cemburu itu tidak ada gunanya. Cuma bikin sakit hati, tapi orang yang dicemburui tetap seenaknya,” ujar Si Manis. Menurut Wan Siang, pernyataan Si Manis berbeda dengan isi hatinya. Pastilah calon istrinya itu cemburu, mendengar Wan Siang berkata punya teman perempuan.
“Cemburu itu tanda sayang, tapi tidak boleh berlebihan. Kalau cemburunya seperti kamu, malah bikin gemas,” Wan Siang terus saja menggoda gadis itu.
“Saya tidak cemburu Koh, kalau Engkoh mau punya teman perempuan selusin juga silakan!” Kali ini suara Si Manis agak meninggi.
Wan Siang antara ingin tertawa dan kasihan melihat Si Manis.
“Hahahaha ... temanku itu laki-laki, aku tadi cuma mau menguji kamu saja.”
“Engkoh ini sukanya mengerjai saya.”
“Kan aku sudah bilang, cemburu itu tanda sayang. Sekarang aku tahu kalau kamu bisa cemburu begini, aku jadi tidak meragukan rasa sayangmu ke aku.”
Setelah itu barulah Si Manis lega dan tersenyum lagi. Si Manis memang tidak tahu lingkaran pergaulan Wan Siang, tetapi selama ini dia yakin bahwa Wan Siang sedang tidak punya teman perempuan. Mendengar Wan Siang mengaku bertemu dengan perempuan membuatnya terkejut sekaligus cemburu.
Cemburu, seumur hidup Si Manis belum pernah mengalaminya. Tetapi yang dirasakan Si Manis saat cemburu kepada Wan Siang itu memang pengalaman pertama yang mengguncangkan jiwanya. Kenapa hatinya bisa begitu sakit, hanya dengan membayangkan ada seorang wanita yang berbicara penuh kedekatan kepada Wan Siang. Padahal itu hanya bayangan semata. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya jika hal itu betul-betul terjadi di dunia nyata, mungkin hatinya itu tak sanggup menanggungnya.
__ADS_1
“Mungkin sekarang kamu paham rasanya cemburu,” ujar Wan siang.
“Ya, saya mengaku sekarang. Tadi saya sempat cemburu. Aih ... rasa cemburu itu tidak enak.”
“Itulah yang pernah aku rasa waktu lihat Sun Kwan bawa kue bulan ke kamu, juga waktu membayangkan dia mengurus kamu yang sakit.”
“Ah ... sungguh, saya tidak ada maksud bikin Engkoh sedih. Waktu Sun Kwan bawa kue bulan, saya tidak ada perasaan apa-apa ke dia. Kemarin waktu dia mengurus saya sakit, saya juga tak ada perasaan itu. Saya mau menolak, tapi tidak enak, karena dia adiknya Engkoh.”
“Aku tahu posisimu waktu itu memang sulit. Sebenarnya daripada menyalahkan Sun Kwan, aku lebih menyalahkan diriku sendiri. Kenapa aku tidak ada pas kamu sakit.”
Wan Siang menjadi bersedih atas ketidakmampuannya untuk terus ada di sisi orang yang disayanginya. Sejak rumah judinya ditutup, entah kenapa hidup bagai penuh perjuangan baginya. Dulu saat ada rumah judi, dia tak perlu kerja keras, uang pun cepat didapat. Kadang ia rindu masa-masa di rumah judi. Tetapi ia tak mungkin menjalankan rumah judi itu lagi.
Dengan ditutupnya rumah judi itu, Wan Siang dan Si Manis bisa menjadi dekat satu sama lain. Di satu sisi, Wan Siang bersyukur dengan adanya kejadian itu. Di sisi lain, ia juga merasa sedih karena harus berpisah pada waktu-waktu tertentu dengan Si Manis karena usaha barunya di bidang tembakau.
Ada yang bilang, hidup itu penuh perjuangan. Semakin keras usaha yang dilakukan menuju kesuksesan, semakin puas pula rasanya jika kesuksesan itu bisa diraih. Karena itu Wan Siang juga memahami, saat dia mendapat uang banyak di rumah judi, karena tidak dilakukan dengan penuh perjuangan, perasaannya jadi biasa-biasa saja saat menerima sejumlah besar uang setoran.
Berbeda dengan usaha pengepul tembakaunya, walaupun keuntungan didapatkan dengan penuh susah payah, tetapi ketika mendapat uang, jiwanya merasa puas berkali-kali lipat. Seolah uang itu sama berharganya dengan sebongkah emas.
Sewaktu mengingat kejadian hari itu dengan Sun Kwan, Wan Siang juga lebih mengerti dirinya yang baru. Dirinya yang sekarang jauh lebih terkendali dan tidak gegabah. Dulu kalau ada masalah dengan orang, dia tak segan-segan baku hantam.
Misalnya saat masih berlatih silat dengan Lie Kuan Tay. Kalau ada salah satu temannya yang dihajar orang, ia tanpa pikir panjang akan turut menghajar orang yang menyerang temannya. Lalu ketika ia membuat onar di sebuah kedai arak, Wan Siang juga tak akan segan-segan menyerang orang yang mencoba menghentikannya.
Tuan Liem sering memarahi Wan Siang karena perilaku buruk anak sulungnya itu. Tetapi Wan Siang tak mau mendengar dan tetap saja berbuat onar. Saat Wan Siang mulai menggeluti bidang rumah judi, dirinya mulai lebih terkendali. Tak lagi berbuat onar di kedai arak. Sebab ada Paman A Seng yang ikut mendampingi agar Wan Siang lebih terkendali.
Karena itulah, Tuan Liem awalnya membiarkan Wan Siang dengan usaha rumah judinya. Ternyata rumah judi itu mampu meredam kebiasaan Wan Siang berbuat kekacauan. Di sana Wan Siang lebih fokus untuk belajar bermain judi dan mengumpulkan uang. Tuan Liem sengaja meminta Paman A Seng untuk mendampingi sekaligus mengawasi anaknya itu.
“A Seng, aku minta kau urus anak itu. Jangan sampai berulah lagi,” kata Tuan Liem.
“Aku ini orang kepercayaanmu semasa kau membuka rumah judi itu. Selamanya, kau bisa mempercayakan Wan Siang kepadaku. Aku akan menjaganya seperti anakku sendiri,” ujar Paman A Seng.
“Seandainya anak itu mau mendengarkan kata-kata Papanya sendiri.”
“Aku tidak tahu masalah di dalam keluargamu, sampai anak itu tak mau dengar kata-kata orang tuanya sendiri.”
“Masalah anak itu sudah muncul dari kecil. Mamanya sangat keras dalam mendidiknya, dan aku terlalu sibuk. Mungkin ini juga kesalahanku, yang tak punya waktu mendidiknya, sehingga jarak kami menjadi jauh. Jarak hati kami.”
“Ya ... istrimu itu memang seperti itu, aku sendiri tidak mengerti mengapa kau mau menikah dengannya,” ujar A Seng.
“Setiap keluarga punya masalahnya masing-masing, begitu juga keluargaku.”
__ADS_1
Tuan Liem tak menjelaskan lebih rinci lagi tentang permasalahan keluarga yang dimaksud. Yang jelas A Seng saat itu paham kesulitan Tuan besar Liem dalam mengatur keluarganya. Sebagai orang kepercayaan, ia bertekad untuk menjadi orang yang bisa membimbing Wan Siang, menggantikan Tuan Liem yang dari kecil tak pernah merasa dekat dengan anak sulungnya itu.
***
Hati Wan Siang begitu dipenuhi rasa cinta dan kebahagiaan, seperti anugerah yang diturunkan dari langit.
Kadang cinta datang pada saat yang tiada disangka-sangka. Waktu itu Wan Siang sedang tak berpikir tentang perempuan di dalam rumah judinya. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan anak perempuan dengan tubuh kurus, baju lusuh, dan rambut kusut.
Keadaan anak perempuan itu jauh dari kata menarik, sehingga Wan Siang tak berniat menjadikannya gundik pemuas nafsu. Anak perempuan itu juga begitu takut kepadanya. Yang ada dalam pikiran Wan Siang adalah sedikit rasa kasihan melihat keadaan perempuan yang menyedihkan itu.
Ketika Parjiyem masih sering menangis pada awal-awal ia datang ke rumah Wan Siang, lelaki itu tak menghentikan tangisannya. Ia tak tahu cara membujuk perempuan untuk berhenti menangis. Lalu ia berpikir, kalau anak itu dibelikan baju bagus dan diajak jalan-jalan keluar, mungkin suasana hatinya akan jauh lebih baik.
Kemudian dengan dalih ingin mengganti baju-baju Parjiyem yang jelek, Wan Siang mengajaknya keluar dan berjalan-jalan. Sejak hari itu, Parjiyem berhenti menangis. Wan Siang jadi bisa tidur nyenyak karena tak harus mendengar suara perempuan menangis di malam hari.
Kini perempuan kecil yang dulu menangis saat dibawa ke rumah Wan Siang, menjadi perempuan yang sering tersenyum kepadanya. Membawa sejuta kebahagiaan di hati Wan Siang.
“Manis, aku senang kamu ada di sini. Entah apa yang akan terjadi padaku kalau kamu tak ada,” ujar Wan Siang.
“Engkoh kan orang kaya, pasti Engkoh tetap bahagia walaupun tak ada saya.”
“Memangnya semua orang kaya itu bahagia?”
“Orang kaya itu setahu saya selalu berpakaian bagus, ganteng dan cantik, mau apa saja bisa beli, seperti orang yang berasal dari dunia lain.”
“Itu yang terlihat, apa kamu tahu apa yang ada di hati mereka?” Tanya Wan Siang.
“Tidak, siapa yang bisa tahu isi hati orang?”
“Bahagia atau tidak, hanya orang itu yang tahu, dan tidak bisa dinilai dari kulit luar. Mungkin kamu lebih banyak berbahagia dari pada aku. Kamu punya teman-teman baik, orangtua yang peduli.”
“Ya, saya bahagia walau hidup sederhana. Dan mulai menangis waktu dibawa kemari.” Si Manis jadi mengingat saat-saat dia pertama di bawa ke rumah Wan Siang.
“Hidupku biasanya kacau, dan menjadi lebih baik saat kamu kemari.”
Kata-kata Wan Siang itu membuat Si Manis terdiam seribu bahasa, banyak hal yang terlintas di pikirannya.
“Tapi Koh, saya cuma menangis sebentar di sini. Setelah itu hidup saya jauh lebih bahagia dibanding dulu.” Si Manis melanjutkan mengungkapkan isi hatinya.
Mendengar hal itu, Wan Siang merasa sangat gembira. Si Manis juga merasakan hal yang sama. Kemudian Wan Siang menidurkan Si Manis di ranjang. Memandangnya dengan penuh kasih sayang dan menciumi pipinya. Gadis kecil kurus kering itu berubah menjadi seorang putri yang cantik jelita di mata Wan Siang.
__ADS_1