Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 52 Menghadap mama tiri


__ADS_3

Cinta yang tak pernah diperjuangkan, maka cinta itu juga tak akan pernah dipersatukan. Pemikiran itu memang benar adanya. Tetapi bagi orang yang tidak terbiasa berjuang, perjuangan itu dirasa sangat sulit.


Masa kecil yang keras telah memaksa Wan Siang untuk selalu memperjuangkan diri, maka ia tumbuh menjadi pria yang pemberani dan tak gentar terhadap tantangan. Tetapi bagi Sun Kwan, pria yang lebih cenderung menikmati hidup dengan caranya sendiri, memilih jalan perjuangan membuatnya bagaikan seorang calon tentara yang takut memasuki medan perang.


Sun Kwan tak ingin Ai Lien mengira dirinya seorang pengecut. Atas dasar itulah, maka Sun Kwan memberanikan diri menghadap mama tirinya.


Ny. Liem adalah seorang ibu yang bagi Sun Kwan tak tersentuh. Baik raganya maupun perasaannya. Sun Kwan tidak ingat, kapan terakhir kali ia bersentuhan dengan mama tirinya itu. Wanita itu bagaikan ratu di atas singgasana yang agung, dengan tatapan angkuh dan tidak memiliki senyuman.


Kecantikannya tetap melekat, kecantikan yang misterius dan menggetarkan jiwa, membuat siapapun yang tinggal di rumah itu menjadi segan untuk mendekatinya. Bagaikan Bu Cek Tian (Wu Ze Tian), satu-satunya perempuan yang pernah memimpin kerajaan Tiongkok, tepatnya pada dinasti Tang.


Mama tiri Sun Kwan sedang duduk di sebuah kursi kayu dengan gaya khas peranakan, menikmati teh hangat dan kue. Dengan gugup Sun Kwan menghadap.


“Mama... saya ingin menyampaikan sesuatu.”


Ny. Liem agak terkejut karena anak tirinya itu, yang amat jarang berurusan dengannya, tiba-tiba berbicara langsung di hadapannya.


“Mau ngomong apa kamu?”


“Saya dan Nona Hu Ai Lien... telah menjalin hubungan, semoga Mama tidak keberatan dengan hubungan kami.”


Percayalah, Sun Kwan telah mempertaruhkan segalanya ketika mengatakan hal tersebut kepada Ny. Liem. Lantas Ny. Liem menatap tajam ke arah Sun Kwan yang tidak berani menatap langsung mama tirinya itu.


“Kamu, menjalin hubungan dengan Nona Hu? Apa kamu tidak malu, Sun Kwan?”


“Kenapa saya harus malu, Mama, sedangkan kami saling mencintai?”


Ny. Liem tersenyum mengejek, membuat hati Sun Kwan yang melihat senyum sinis itu menjadi ciut, tapi tetap mencoba menghadapinya.


“Nona Hu itu adalah anak perempuan tunggal, dia juga sangat cantik dan kaya. Apa kamu pikir, orangtuanya akan dengan mudah menyerahkan anak perempuan yang luar biasa itu kepada pemuda yang tak bermodal?”


Ny. Liem menusuk langsung ke jantung pertahanan diri Sun Kwan, sehingga Sun Kwan merasa harga dirinya jatuh dan terinjak-injak di bawah kaki mama tirinya.


“Untuk saat ini, saya memang belum punya apa-apa, tapi... saya ingin mencoba membuktikan bahwa saya bisa membahagiakan Ai Lien.”


“Tanpa modal, bagaimana kamu bisa membahagiakan Nona Hu?”


“Saya mencintainya, saya akan selalu menyayangi dan menjaga perasaannya tetap bahagia.”

__ADS_1


Ny. Liem kemudian tertawa, mendengar pernyataan Sun Kwan yang menurutnya begitu naif.


“Aku sungguh tidak tega melihat Nona Hu hidup dengan lelaki yang kurang pantas bersanding dengannya,” kata Ny. Liem tajam.


“Bukankah Mama sangat ingin menjadikan Ai Lien menantu?” tanya Sun Kwan.


“Benar, tapi jika pasangannya adalah Wan Siang. Dia sudah jadi pengusaha, punya modal. Jadi aku punya muka untuk menghadapi orangtua Nona Hu.”


“Maka akan aku jadikan dia pantas untuk mendampingi Nona Hu.”


Suara itu berasal dari Tn. Liem yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Sun Kwan. Ny. Liem mau tidak mau menatap ke arah suaminya.


“Bagaimana kau akan menjadikan anak ini pantas mendampingi Nona Hu?” tanya Ny. Liem kepada suaminya.


“Wan Siang sudah tak mau memimpin perusahaan kita, aku juga sudah tua, perusahaan itu akan aku serahkan kepemimpinannya kepada anak kedua kita, Sun Kwan.”


“Dia bukan anakku! Aku tidak rela menyerahkan perusahaan yang modalnya berasal dari harta warisan orangtuaku, jatuh ke tangan anak yang tidak pernah kukandung!”


Nada suara Ny. Liem meninggi, jelas sekali bahwa dia sedang marah besar. Sun Kwan sendiri menjadi takut dan gentar saat mendengar mama tirinya berkata sekeras itu. Harga dirinya terpukul lagi saat disebut bahwa ia bukanlah anak kandung Ny. Liem.


“Selama ini akulah yang mengelola dan mengembangkan usaha itu, aku juga punya hak untuk mengambil keputusan,” kata Tuan Liem tegas.


“Kenapa kau masih saja membedakan Sun Kwan dengan anak-anak kita yang lain, sedangkan sejak bayi dia telah aku bawa ke sini? Sejak bayi dia telah menganggapmu mamanya, bahkan dia tidak tahu wajah mamanya sendiri.”


Tn. Liem menjadi sedih mendengar kekeraskepalaan istrinya, yang selalu membedakan Sun Kwan, yang sama-sama darah dagingnya sendiri.


“Jangan kira aku bisa melupakan perlakuanmu padaku, hingga lahir anak haram ini.”


“San Ing, cukup!!!”


Tn. Liem tak bisa menerima sebutan “anak haram” yang terlontar dari mulut istrinya, hingga ia membentak istrinya menggunakan nama gadis wanita itu.


“Seharusnya kamu menyesal telah melakukan dosa itu, tapi sedikit pun kau tidak pernah meminta maaf kepadaku, dan malah membawa anak itu kemari. Setiap kali aku melihat wajahnya, tiap kali juga aku merasa sakit, seperti ditusuk dengan belati. Apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku?”


“Kau tahu hubunganku dengan Mamanya Sun Kwan. Aku sudah menjelaskannya kepadamu sebelum kita menikah. Tapi kamu masih bersikeras untuk menikah denganku. Kau tahu cinta sejatiku adalah mamanya Sun Kwan. Tapi kau tidak mau melepaskan aku dari belenggu perjodohan denganmu.”


“Itu karena... karena aku sangat mencintaimu, aku sudah berusaha untuk membuatmu mencintaiku, tapi kau tidak pernah menghargai usahaku.”

__ADS_1


“Cinta tidak bisa dipaksakan, itulah kenyataannya.”


“Bahkan setelah wanita itu mati pun kau tidak pernah mencintaiku. Karena anak itu ada di sini, kau jadi tidak bisa melupakannya bukan? Aku benci anak itu.”


“Papa... Mama... berhentilah bertengkar....”


Sun Kwan sudah tidak tahan lagi mendengar pertengkaran antara ayah dan ibu tirinya, semakin mereka melanjutkan pertengkaran, semakin sakitlah hati Sun Kwan. Hati pemuda itu begitu rapuh, sehingga tak kuat lagi menahan itu semua. Air matanya menetes di kedua pipinya, lalu jatuh terduduk di lantai karena tiba-tiba badannya menjadi lemah.


Pemuda itu mengingat kisah tragedi cinta Sam Pek dan Eng Tay, kini ia betul-betul mengerti perasaan Sam Pek, bagaimana sakit hatinya mendengar cintanya tak disetujui yang berujung pada melemahnya kondisi tubuh.


Ny. Liem pun menangis setelah mengutarakan perasaannya yang selama ini ia pendam. Sakit hati dan dendam yang ia bawa di dalam hatinya selama puluhan tahun telah membuat batinnya tersiksa. Ia menyadari, bahwa sampai saat itu pun suaminya belum dapat mencintainya. Mereka berdua hidup serumah, tubuh mereka setiap hari bertemu di ranjang. Tetapi entah kenapa hati mereka jauh, sangat jauh bagaikan terpisah ribuan mil.


Tn. Liem merasakan batinnya yang biasanya tenang, kini bergejolak. Ia merasa bersalah ke ibu kandung Sun Kwan, sehingga ia ingin anak yang dilahirkan dapat merasakan kebahagiaan, tidak bernasib malang seperti ibunya.


“San Ing... aku mohon padamu, maafkanlah aku... Sun Kwan tidak berdosa, jangan lagi membencinya. Aku berlutut memohon kepadamu.”


Tuan Liem tiba-tiba merendahkan diri dan berlutut di hadapan istrinya yang menangis dan hatinya masih mendendam. Sekarang Tuan Liem tak punya pilihan lain kecuali berlutut dan meminta maaf kepada istrinya yang selama puluhan tahun merasa sakit hati.


“Kenapa kau berlutut demi anak itu? Jangan rendahkan dirimu seperti ini,” kata Ny. Liem sambil berlinang air mata.


“Aku berlutut agar kau bisa melepaskan dendam itu, agar kau tidak merasa sakit hati. Aku bersalah kepadamu, dan aku tidak ingin kesalahanku itu membuatmu menghukum seorang anak yang tidak berdosa,” ucap Tuan Liem.


“Berdirilah... jangan berlutut seperti itu.”


Karena di dalam hati masih memiliki rasa cinta kepada suaminya, Ny. Liem menyuruh suaminya bangkit.


“Aku ingin pergi ke kamar,” lanjut Ny. Liem.


Wanita itu sudah tak ingin melanjutkan pembicaraan lagi. Ia meninggalkan Tn. Liem dan Sun Kwan dan beranjak masuk ke dalam kamarnya.


Tuan Liem membimbing Sun Kwan untuk berdiri.


“Sun Kwan, kau harus kuat. Lelaki sejati tak boleh lemah. Ini baru awal usahamu. Jangan pernah berhenti berusaha untuk mengejar kebahagiaanmu.”


“Papa... sepertinya Mama tidak menginginkanku menjadi anaknya. Ia tak suka aku berhubungan dengan Ai Lien.”


“Mamamu sedang marah. Semoga kemarahannya cepat mereda.”

__ADS_1


Tuan Liem berusaha menghibur Sun Kwan dan berharap kemarahan istrinya itu hanya sementara. Bagaimanapun juga telah terjadi peristiwa besar dalam keluarga itu, tentunya ada pihak-pihak yang masih terbawa amarah dan belum bisa menerima kenyataan. Tuan Liem berharap, waktu bisa menyembuhkan sakit hati dan dendam akhirnya bisa terhapuskan.


__ADS_2