Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 5 Zaman Meleset


__ADS_3

Waktu terus berjalan, cepat bagi mereka yang penuh kesibukan dan lambat bagi mereka yang tidak tahu harus melakukan apa. Wan Siang tentu saja sibuk di rumah judinya, tak peduli kalau tahun itu perekonomian dunia sedang sulit.


Kesulitan perekonomian dunia pada Zaman Malaise atau sering disebut oleh orang pribumi sebagai Zaman Meleset dimulai dari tahun 1929. Berawal dari rontoknya bursa saham di Amerika. Harga saham yang tiba-tiba jatuh mendorong orang untuk menjual saham beramai-ramai. Peristiwa itu juga disebut sebagai Selasa Hitam (Black Tuesday).


Keruntuhan ekonomi di Amerika menjalar ke Eropa, mengakibatkan daya beli masyarakat menurun. Penurunan daya beli itu membuat barang-barang komoditas ekspor jadi tidak laku dan berimbas kepada laju perekonomian di Hindia Belanda.


Ekonomi Hindia Belanda pada 1930-an yang mengandalkan ekspor ke Amerika dan Eropa jelas sangat terpukul karena depresi besar. Harga sejumlah komoditas ekspor seperti gula, kopi robusta, dan karet langsung jatuh lebih dari setengahnya.


Jatuhnya harga barang-barang ekspor itu berimbas kepada rakyat kecil yang bekerja di perkebunan-perkebunan orang Belanda di Hindia Belanda, banyak di antara mereka menjadi pengangguran atau “werkloos” dalam istilah Belanda.


Rakyat kecil di perkotaan yang sebelum zaman meleset sudah hidup susah, bertambah susah.


Banyak yang hidup dengan mengandalkan uang setengah sen sehari, dan hanya mampu makan sekali sehari. Penderitaan seperti itu mendorong sebagian orang mendatangi penjara agar mereka dimasukkan ke dalamnya, setidaknya di penjara mereka masih bisa kenyang, sedangkan di luar mereka pasti kelaparan.


Perusahaan-perusahaan Belanda, Tionghoa, dan pribumi melakukan pemecatan massal dan memangkas gaji kuli-kulinya menjadi di bawah 10 sen atau paling banyak 15 sen sehari.


Penghasilan dari perusahaan kecil di pedesaan dan perkampungan juga turun antara 40–70 persen, sehingga kesulitan itu juga menjalar ke kehidupan rakyat di pedesaan. Banyak orang gelap mata dan melakukan berbagai tindak kejahatan. Tak heran banyak yang menyebut zaman meleset sebagai “zaman air mata”.


Zaman Meleset memberi pelajaran besar, bahwa negara yang sangat mengandalkan ekspor-impor akan gampang dirobohkan krisis global.


Seandainya Si Manis tahu kesulitan yang sedang terjadi, tentunya ia akan sangat berterima kasih kepada Wan Siang karena mau menampungnya, sehingga ia bisa makan makanan lezat tiga kali sehari. Usaha Wan Siang juga tampak baik-baik saja, karena sesulit apapun zaman itu, masih ada saja orang-orang yang punya uang untuk dijadikan taruhan di meja judi.

__ADS_1


Di dalam rumah Liem Wan Siang, Si Manis tumbuh dengan baik. Makanan yang bergizi membuat tubuhnya berkembang, yang tadinya ia begitu kurus, menjadi semakin padat berisi. Usia yang memasuki masa puber juga menyebabkan perubahan yang berarti pada dirinya. Siapa yang mengira kalau gadis yang tadinya kurus kering bisa memiliki tubuh yang sintal dengan payudara yang berkembang sempurna.


Karena payudara yang tampak membesar itu, baju-baju yang dibelikan Wan Siang tampak sempit dan semakin menonjolkan kemolekan tubuh Si Manis. Wajahnya juga menjadi semakin cantik dari hari ke hari. Perubahan ini mau tak mau membuat Wan Siang sering menoleh ke arahnya. Pemuda itu memang tidak suka perempuan kurus, tapi apa jadinya jika perempuan kurus yang ia pelihara itu berubah menjadi gadis cantik dengan tubuh sintal?


Setelah menyadari perubahan itu, Wan Siang jadi sering ingin cepat pulang ke rumah dan melihat Si Manis dalam balutan kebayanya. Sebagai laki-laki normal, tentunya pemandangan itu sangat menarik baginya.


Saat makan bersama, Wan Siang mulai memberikan perhatiannya dengan menyumpitkan potongan daging ke piring Si Manis.


“Makan yang banyak, jangan sampai sakit,” ujarnya.


Si Manis tampak heran dengan perubahan sikap Wan Siang, tetapi ia menerima begitu saja potongan daging yang diberikan lelaki itu.


“Hari ini aku capek sekali, nanti pijat aku di kamar ya?”


“Apa Tuan habis minum-minum lagi?” Kata Si Manis.


“Tidak, kau pikir aku lagi mabuk?”


“Tuan tidak pernah meminta saya memijat dalam keadaan sadar seperti ini.”


“Semua selalu ada awalnya, anggap saja hari ini awal pekerjaan barumu di rumah ini.”

__ADS_1


“Iya, Tuan.”


Si Manis tahu kalau dari awal dirinya diberikan kepada lelaki Tionghoa itu tanpa menyadari apa saja yang mungkin bisa terjadi kepada dirinya. Ia sudah diberi kehidupan yang layak oleh Wan Siang dan tidak heran jika lelaki Tionghoa itu akan meminta sesuatu kepadanya. Tetapi sesuatu itu tak pernah terpikirkan oleh Si Manis. Ternyata lelaki Tionghoa itu minta dipijat. Saat mabuk saja Si Manis sangat gemetaran, bagaimana kalau saat pria itu tengah sadar?


Liem Wan Siang memanggil Si Manis ke dalam kamarnya dengan cara baik-baik pada pukul sembilan malam. Saat itu benar-benar menegangkan sehingga membuat jantung Si Manis nyaris meloncat keluar.


Wan Siang membuka baju atasannya dan tidur tengkurap. Manis melihat tubuh bagian atas Wan Siang yang begitu kokoh, tetapi memiliki kulit yang putih dan lembut. Manis yang terbiasa melihat punggung ayahnya yang berwarna coklat kehitaman, menjadi tertegun saat melihat punggung Wan Siang yang indah itu.


Lalu ia mulai menyentuh kulit lelaki itu, betapa lembut dan terawatnya majikannya itu. Pada saat yang sama, Wan Siang dapat merasakan sentuhan jemari Si Manis yang lembut dan hangat, tetapi juga memiliki kekuatan saat mulai menekan tubuhnya saat memberikan pijatan.


Keduanya seperti tersengat aliran listrik pada awalnya. Tetapi segala hal memang butuh penyesuaian. Setelah itu segalanya jadi lebih lancar, kecanggungan dalam diri Manis berkurang, dan kenyamanan dirasakan pada tubuh Wan Siang. Lelaki itu merasa keletihannya terobati dengan pijatan Si Manis yang memang sangat menyenangkan baginya.


Wan Siang tengkurap dengan nyaman di ranjangnya. Dirasakannya tangan gadis itu memijat seluruh tubuhnya. Memang agak kasar, namun entah mengapa tangan gadis itu terasa hangat. Itu membuat pijatannya lebih enak. Wan Siang bukan pertama kali dipijat oleh perempuan, kadang ia minta dipijat di tempat pelesiran oleh gadis-gadis penghibur. Tak disangka dia menemukan rasa yang sama ketika dipijat Manis. Bukan hanya kenyamanan tubuh. Melainkan juga ... rangsangan. Gairah dalam tubuhnya terpancing ketika merasakan sentuhan perempuan.


Setelah selesai, Wan Siang kembali mengenakan pakaiannya dan Si Manis duduk di tepi ranjang.


“Apa saya sudah boleh kembali ke kamar saya, Tuan?”


“Iya, tetapi kapanpun aku panggil, kau harus siap datang dan memenuhi keinginanku.”


Wan Siang yang tidak terbiasa berbasa-basi mengatakan keinginannya itu dengan mudah. Saat itu Si Manis mulai berpikir bahwa dirinya sudah ditakdirkan menjadi wanita peliharaan Wan Siang dan harus siap memenuhi keinginan laki-laki itu. Rumah Wan Siang bukanlah rumah penampungan tuna wisma atau panti asuhan. Jika seorang perempuan masuk ke dalamnya dan mendapat berbagai kenyamanan dan makanan, sudah barang tentu ia juga harus dapat melakukan sesuatu untuk Si pemilik rumah.

__ADS_1


Tetapi Si Manis lega, karena Wan Siang sudah tidak lagi melemparkan pandangan sinis atau berkata-kata yang tidak enak didengar. Justru perilakunya semakin lama semakin baik, membuat rasa takutnya terhadap lelaki itu makin lama makin terkikis.


Sementara Wan Siang sendiri, mulai memperhatikan tanggapan tubuhnya kepada gadis itu...


__ADS_2