
Begitulah awal mula Parjiyem diboyong ke rumah Tuan Muda Liem. Harusnya ia senang bisa tinggal di rumah baru yang keindahannya bak istana, tetapi bukan itu yang dirasakan si gadis Jawa yang baru beranjak remaja tersebut. Pada malam hari ia terus saja menangis dan merasa sendiri. Orang-orang yang baru ditemuinya seluruhnya asing dan ia tak tahu bagaimana harus menghadapinya.
Parjiyem ibarat burung di dalam sangkar, yang pemiliknya secara asal-asalan membeli burung itu dari seorang lelaki yang butuh pelunasan utang. Burung itu kesepian di dalam sangkarnya, padahal seharusnya ia bisa terbang atau berteman dengan burung lain di alam bebas.
Di tempat itu, Parjiyem selalu berada di dalam kamarnya, sekali-kali keluar untuk melihat keadaan di dalam rumah. Penampilannya memang lusuh, karena bajunya memang jelek, seperti kata Wan Siang. Orang Tionghoa senang melihat perempuan berpakaian indah dengan warna-warna cerah, sedangkan pakaian Parjiyem hanya kebaya berwarna gelap atau putih kusam karena seringnya dicuci pakai.
Matahari kembali terbit, menandakan hari baru, dan seperti kata Wan Siang hari sebelumnya, Parjiyem akan dibelikan baju-baju baru. Pagi itu Wan Siang melihat gadis itu duduk di lantai seperti orang sedang melamun. Para pelayan sibuk menghidangkan makanan dengan berbagai macam lauk pauk.
“Kenapa diam di situ? Sini makan dulu,” Wan Siang memerintah bak raja kepada dayang-dayang.
“Iya, Tuan.” Tapi Parjiyem tetap duduk di lantai.
“Sini duduk di meja makan denganku,” perintah Wan Siang.
“Ndak pantes, Tuan,” Parjiyem tak berani.
“Ayo duduk sini,” kata sang tuan muda, lebih keras. Parjiyem tak berani menolak meski seumur-umur dia tak pernah makan semeja dengan orang kaya; dia duduk di kursi di depan Tuan Muda Liem Wan Siang.
Parjiyem tidak pernah melihat makanan dihidangkan sebanyak itu di atas meja makan. Dulu ia terbiasa makan nasi dengan satu jenis sayuran, kalau beruntung, sayur itu akan ditemani oleh sejenis lauk. Jarang sekali ia makan daging karena harganya mahal, paling-paling setahun sekali kalau kebagian sumbangan daging kurban pada hari raya Idul Adha.
Sekarang yang terpampang di hadapannya, selain nasi, juga ada hidangan berupa sayur sebanyak dua jenis, lauk sebanyak empat jenis, salah satunya adalah bebek panggang kesukaan Wan Siang. Jika begini makanan sehari-hari majikannya, tak heran kalau pria itu tumbuh dengan baik disertai kecerdasan yang tinggi pula. Sedangkan Parjiyem memang tampak kurus kering dan tak merasa pintar.
Parjiyem menyendok sayur dan lauk sedikit-sedikit, kebiasaan di rumahnya dulu, ia dilarang mengambil lauk banyak-banyak agar tidak cepat habis, sebab makanan itu harus bisa dimakan sepanjang hari. Sedangkan Wan Siang selalu menyantap makanan yang segar, makanan yang di masak pada pagi hari hanya untuk makan pagi. Pada siang hari ia terbiasa makan di luar dan saat malam akan dimasakkan menu yang berbeda lagi.
“Makan yang banyak, badanmu itu kurus sekali. Habiskan sayur dan lauk-pauknya,” kata Wan Siang. Demi menuruti keinginan Wan Siang, Parjiyem mengambil lagi sayuran dan lauk yang terhidang, lalu mulai makan. Seumur hidup, ia baru merasakan makanan yang sebegitu enaknya.
“Aku tidak suka perempuan yang terlalu kurus, tidak enak dilihatnya,” ujar Wan Siang.
“Badan saya dari dulu memang begini,” jawab Parjiyem.
__ADS_1
“Makanya kau harus makan banyak di sini, agar tidak kurus lagi, ya.”
“Kalau Tuan tidak suka perempuan kurus, mengapa Tuan mengambil saya?”
“Aku ini memang tidak suka perempuan kurus, tapi aku mengambilmu bukan karena tertarik. Aku mau buktikan kata-kata orang kepercayaanku, kau tidak perlu tahu masalah itu.”
Parjiyem semakin bingung dengan kata-kata Wan Siang, tetapi ia takut untuk bertanya lagi, jadi ia melanjutkan makan sebanyak yang ia mampu. Setelah itu ia diajak ke toko pakaian milik orang Tionghoa di daerah Pecinan. Wan Siang memerintahkan si pemilik toko untuk memilihkan beberapa lembar baju yang cocok untuk Parjiyem, tetapi ia ingin baju-baju itu berwarna cerah. Sekarang gadis itu punya banyak pakaian baru.
"Bajumu jelek-jelek, mulai sekarang kamu pakai baju yang lebih pantas dipakai," kata Wan Siang.
Wan Siang membelikan setidaknya sepuluh stel kebaya dengan kain panjang yang cocok. Semuanya berwarna cerah, disertai motif-motif yang menarik, termasuk dua buah kebaya berwarna putih bersih.
Wan Siang belum pernah membelikan baju untuk anak remaja dan ia sedikit merasa seperti orangtua bagi Parjiyem. Tiba-tiba ia teringat adik perempuannya, namanya Siaw Cing. Umur Siaw Cing tak jauh dari Parjiyem dan ia sangat menyayangi adiknya itu.
Setelah pergi ke toko pakaian, Lelaki Tionghoa itu mengajak Parjiyem makan siang di satu kedai yang mie-nya terkenal enak. Walaupun Wan Siang orang kaya dan bisa selalu makan di restoran-restoran mahal, tetapi ia tak pernah malu untuk makan di kedai kecil asal makanannya enak. Kedai mie itu juga masih berada di daerah Pecinan Semarang sebagai pusat bisnis orang-orang Tionghoa.
“Ini kedai mie paling enak di sini, kau harus coba,” kata Wan Siang.
Orang Tionghoa sangat suka makanan enak, karena makanan dianggap unsur penting dalam kehidupan mereka. Apalah artinya hidup dan bekerja keras kalau tidak bisa makan enak, paling tidak itu yang ada di pikiran Wan Siang. Sedangkan bagi Parjiyem, makanan enak adalah kemewahan. Bisa makan tiga kali sehari sekedar untuk hidup saja sudah bagus.
Saat mereka kembali ke rumah, di dalam rumah Wan Siang sudah ada Paman A Seng. Paman A Seng terkejut saat melihat Wan Siang berjalan bersisian dengan seorang gadis remaja.
“Sudah tidak jalan dengan nonik-nonik lagi kamu?” tanya paman A Seng kepada Wan Siang.
“Aku lagi malas sama nonik-nonik, mereka semua sama saja.”
“Maksudnya, karena mereka semua minta dinikahi?”
“Aku sedang tidak berpikir ingin menikah, tidak minat dengan pernikahan. Lebih enak jadi orang bebas.”
__ADS_1
“Tidak mau seperti aku, sudah menikah tapi tetep bisa punya beberapa gundik?” kata A Seng.
“Paman A Seng kan sering pusing karena itu,” ledek Wan Siang.
“Pusing iya, tapi senang juga iya, hahaha...” Paman A Seng tertawa tanpa henti, perut gendutnya terguncang dan mata sipitnya jadi tambah sipit.
Paman A seng mulai memperhatikan Parjiyem, dia tak habis pikir kenapa gadis Jawa kurus itu sampai bisa ada di rumah Wan Siang.
“Siapa namamu, Nduk?” tanya paman A Seng.
“Parjiyem, Tuan.”
“Manis juga anak ini, bagusnya dipanggil Si Manis saja,” kata Paman A Seng kepada Wan Siang.
Begitulah awal mula Paman A Seng memberi julukan kepada Parjiyem. Setelah itu Paman A Seng selalu menyebut-nyebut Parjiyem sebagai Si Manis. Dengan begitu Wan Siang juga terbiasa dengan julukan itu. Lama-lama nama asli Parjiyem tidak disebut-sebut.
Parjiyem mohon diri untuk pergi ke kamarnya, dengan begitu Paman A Seng dan Wan Siang bisa bercakap-cakap berdua saja.
“Jadi dia itu simpananmu sekarang?” tanya Paman A Seng.
“Paman A Seng kan pernah bilang kalau orang Tionghoa bisa kaya raya kalau punya simpanan perempuan Jawa. Aku mau coba buktikan sendiri.”
“Ya, itu memang katanya orang, tapi sudah banyak yang membuktikan. Lha menurutmu, kenapa banyak orang Tionghoa punya gundik orang Jawa? Ya memang begitu yang dirasakan.”
“Aku dapat anak itu sebagai bayaran utang bapaknya. Tapi sepertinya bapaknya sengaja kasihkan anaknya kepadaku. Bapaknya itu pernah bilang dia sudah sakit-sakitan, tidak tahu sampai kapan bisa bertahan hidup, tapi dia punya anak perempuan yang harus dipelihara. Dia juga kalah terus kalau judi, utangnya banyak.”
“Jelas sengaja dia, mungkin karena merasa bakal mati sebentar lagi, jadi dia cari orang untuk diserahi anak perempuannya. Pasti dia mau anaknya dipelihara orang kaya seperti kau,” Paman A Seng berpendapat.
Wan Siang selalu percaya kepada pendapat paman A Seng. Ibaratnya dalam novel Tiga Kerajaan (Sam Kok), jika Liem Wan Siang adalah Lauw Pie (Liu Bei), maka paman A Seng adalah Cukat Liang (Zhuge Liang). Cukat Liang adalah ahli siasat perang yang cerdas dan andal, juga orang yang dapat dipercaya. Karena strategi dan pendapat Cukat Liang, Lauw Pie bisa menjadi raja kerajaan Siok (Shu), satu dari tiga kerajaan besar di Tiongkok waktu itu.
__ADS_1
Kala itu Wan Siang menganggap Parjiyem sebagai sekadar jimat kekayaan. Ia harus memastikan bahwa gadis Jawa itu terus berada di dalam rumahnya, dan seluruh kebutuhan gadis itu terpenuhi.