Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 32 Nona Hu bertemu Si Manis (babak 2)


__ADS_3

Mendengar keterangan Si Manis, Nona Hu merasa hubungan perempuan itu dengan Wan Siang bukanlah hubungan biasa yang diawali dengan perkenalan yang umum terjadi. Si Manis mengatakan ia terpaksa tinggal dengan lelaki yang tak ia kenal.


“Bagaimana kau bertemu dengan Wan Siang, hingga terpaksa harus tinggal bersamanya?” Nona Hu bertanya karena penasaran.


“Bapak saya berutang kepada Koh Wan Siang karena kalah judi, dulu saat Engkoh masih punya usaha rumah judi. Engkoh mengambil saya karena bapak saya tidak bisa bayar utangnya.”


“Jadi kamu ke sini seperti seorang budak, apa kamu tidak ingin bebas?”


“Bagi orang luar, hubungan kami mungkin seperti budak dan majikan. Tapi Engkoh tidak pernah memperlakukan saya seperti budak, jadi pada akhirnya saya merasa diri saya ini bukanlah budak yang ingin bebas.”


Nona Hu semakin penasaran dengan detil hubungan Si Manis dan Wan Siang. Pikirnya, dia bisa lebih memahami Wan Siang dari Si Manis.


“Lalu bagaimanakah Wan Siang memperlakukanmu?”


“Engkoh awalnya memang kelihatannya galak, apalagi waktu masih suka minum, bikin saya takut. Tapi setelah rumah judinya ditutup oleh Papanya, dia jadi banyak mikir, pernah sampai bosan hidup, jadi keperluannya saya yang urus. Setelah itu dia baik sekali sama saya, begitulah Non.”


Secara singkat, padat dan jelas Si Manis menceritakan perkembangan Wan Siang dengan dirinya. Tentu cerita Si Manis bertolak belakang dengan sangkaan Nona Hu atas Wan Siang. Ketika diperkenalkan dengan Nona Hu, Wan Siang berkesan luar biasa seolah-olah dia memang sudah begitu sejak bayi.


Sedangkan menurut Si Manis, Wan Siang tampaknya dulu punya riwayat kehidupan yang kacau dan tidak terlalu baik. Tetapi saat itu wanita yang ada bersama Wan Siang adalah Si Manis. Nona Hu tak pernah melihat sisi buruk Wan Siang, sehingga dia langsung terpesona saat diperkenalkan untuk pertama kalinya. Yang dilihat Nona Hu pada saat itu adalah yang indah-indah saja.


“Tapi sekarang Koh Wan Siang sudah tidak kacau lagi, sudah baik dan beres hidupnya,” lanjut Si Manis.


“Aku bisa melihat itu, aku hampir-hampir tidak percaya kalau dia punya masa lalu yang tidak baik,” kata Nona Hu.


Menurut Nona Hu, sepertinya sudah banyak yang terjadi antara Si Manis dan Wan Siang. Dia ingin menanyakan sesuatu yang lebih pribadi, tapi awalnya sedikit ragu.


“Aku mau bertanya, tapi kuharap kamu tidak marah.”


“Tanya apa Non?”


“Apakah kalian sudah berhubungan seperti suami istri?”

__ADS_1


Si Manis tersipu malu mendengar pertanyaan Nona Hu yang cukup berani itu.


“Maksud Nona, apakah kami pernah berhubungan seperti orang yang sudah menikah?”


“Iya, maaf mungkin pertanyaanku kurang sopan.”


“Tidak pernah. Engkoh bilang dia sayang saya dan melindungi saya. Jadi dia baru mau begitu kalau kami sudah resmi menikah.”


Nona Hu sangat senang mendengarnya, hubungan Si Manis dan Wan Siang ternyata belum sampai ke tahap itu. Apalagi Si Manis sedang tidak dalam keadaan hamil atau punya anak. Tentu beban moral Nona Hu tidak akan berat jika ingin masuk dalam kehidupan Wan Siang.


“Berarti kita ada di situasi yang sama,” kata Nona Hu.


“Seandainya Wan Siang tidak jadi menikah denganmu, aku yakin banyak orang yang mau menjalin hubungan denganmu,” ujar Nona Hu lagi.


“Nona tidak usah pikirkan nasib saya. Saya juga berharap, Engkoh Wan Siang bisa bahagia, ada saya atau tidak.”


“Kamu sebenarnya bisa dapat laki-laki yang lebih tampan dan kaya.”


Nona Hu mengatakan hal itu agar pikiran Si Manis lebih terbuka untuk membuka kemungkinan-kemungkinan baru. Tetapi dalam hati dan pikiran Si Manis, tidak ada seorangpun yang dapat menggantikan posisi Wan Siang.


Itu karena Si Manis tidak suka berharap terlalu tinggi kepada dunia. Yang ia pikirkan adalah yang ada di hadapannya. Dia tak suka berandai-andai dan bermimpi.


“Lagipula, kalau ada laki-laki yang lebih tampan dan kaya dari Koh Wan Siang, belum tentu dia mau menerima saya yang orang biasa ini.”


“Wan Siang saja bisa menerimamu, aku yakin orang lain juga akan begitu.”


“Itu karena Engkoh lain daripada yang lain. Saya juga bingung, kenapa ia memilih saya. Bukankah dia juga bisa memilih gadis yang lebih cantik dan kaya dibanding saya, apalagi saya ini juga tidak terlalu pintar.”


Mendengar perkataan Si Manis, Nona Hu menjadi sadar akan sesuatu. Perempuan di hadapannya itu menampilkan diri sebagai pribadi yang sederhana, bahkan mengaku sebagai orang biasa yang tidak istimewa. Bukankah kalau Wan Siang mau, pasti banyak gadis yg lebih cantik dan kaya yang mau jadi kekasihnya? Tetapi Wan Siang tak memilih gadis seperti itu.


Kalau Si Manis berkata bahwa Wan Siang itu lain daripada yang lain, agaknya itu memang kebenaran yang sulit dibantah. Semakin dijelaskan tentang kepribadian Wan Siang, semakin Nona Hu tahu perbedaan Wan Siang dengan lelaki di luar sana yang berharap akan cintanya. Tetapi itu malah membuat Nona Hu kagum dengan Wan Siang dan pemikirannya yang tidak biasa. Ia menganggap Wan Siang adalah lelaki yang tak suka berpura-pura dan berhati tulus. Sosok idaman bagi Nona Hu.

__ADS_1


Nona Hu belum tahu bagaimana caranya menyentuh hati Wan Siang. Tetapi rasa kagumnya terhadap Wan Siang bertambah, dan bertambah pula keinginannya untuk dapat menjadi istri lelaki itu.


Lagipula Si Manis tidak terlihat sangat tergantung kepada Wan Siang, hanya menginginkan lelaki itu bahagia.


“Aku tahu kau hanya ingin Wan Siang bahagia dan tak mau membebani hidupnya,” kata Nona Hu.


“Iya Nona. Saya bahagia kalau Koh Wan Siang bahagia.”


Nona Hu merasa pembicaraannya dengan Si Manis sudah cukup, jadi ia pamit. Si Manis mengantarkannya sampai ke depan pintu dengan adab yang sopan dan baik, malah ia sempat melambaikan tangan pada gadis itu dan berkata: hati-hati di jalan.


Si Manis jarang sekali bisa menceritakan tentang hubungannya dengan Wan Siang kepada orang lain. Tetapi saat itu ia lakukan, ia merasa Wan Siang memanglah lelaki yang luar biasa. Kalau ia mau, tentunya ia bisa memilih istri seperti Nona Hu.


Di mata Si Manis, Nona Hu adalah gadis Tionghoa yang sangat cantik, kulit dan tubuhnya begitu indah dalam balutan busana yang indah pula. Ia juga memiliki kecerdasan dan kekayaan jauh di atas Si Manis. Tapi kenapa Wan Siang malah memilih mencintai dirinya yang biasa-biasa itu?


Kesadaran itu membuat Si Manis jadi memikirkan Wan Siang sepanjang hari. Betapa istimewanya lelaki yang berlatar belakang jauh berbeda dengan dirinya itu. Si Manis jadi sungguh merindukan Wan Siang, jauh lebih kuat daripada biasanya.


SERBA-SERBI:


Mon maap, buat para readers yang sudah menunggu-nunggu kelanjutan cerita ini sejak hari Sabtu. Dikarenakan ada masalah pada sistem di Noveltoon, maka bab 31 penayangannya jadi tertunda sampai hampir 2 hari. Sekitar jam 11 malam tanggal 22, Bab 31 yang sudah saya up sejak jam 9 pagi tanggal 21 baru bisa update.


Padahal saya lagi semangat update setiap hari dikarenakan jumlah view yang terus meningkat, itu tandanya semakin banyak readers yang membaca novel Tuan muda Liem.


Untungnya di tengah-tengah kegalauan karena sistem yang error dalam 2 hari ini, saat jalan-jalan, saya menemukan orang yang menjual lumpia khas Semarang. Saya membeli sekotak isi 5 dan rasanya tentu saja enak, seperti lumpia yang dibuat di Semarang. Lumayanlah, bisa jadi obat galau saya selama 2 hari ini. Walau saya sekarang tidak tinggal di Semarang lagi.


Jadi jangan heran kalau novel-novel saya akan banyak mengambil latar dan setting di Semarang, karena memang Semarang adalah kota yang paling saya pahami dengan baik, dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Sebab saya lahir dan tumbuh di Kota Semarang.


Berikut ini adalah penampakan lumpia yang saya beli kemarin:



Tetapi jika suasana sudah membaik dan saya bisa ke Semarang lagi, saya punya keinginan ke Gang lombok dan membeli lumpia Gang Lombok di dekat kelenteng Tay Kak Sie yang terkenal itu.

__ADS_1


__ADS_2