
Setelah kepergian Wan Siang, terjadi perubahan perasaan terhadap kedua adiknya. Siaw Cing sering bersedih, sehingga membuat ayahnya khawatir. Kadang gadis itu ditemukan termenung sendiri dengan wajah cemberut.
“Kau sedang sedih Siaw Cing?” tanya Tn. Liem.
“Aku rindu dengan Koh Wan Siang,” jawab Siaw Cing.
Setelah menjawab itu, Siaw Cing tiba-tiba menangis mengingat kebersamaannya dengan Wan Siang sejak kecil hingga remaja.
“Aku ingin ketemu Koh Wan Siang lagi, mungkin sekarang dia sudah menikah dengan Si Manis. Seharusnya aku bisa menyaksikan mereka berbahagia.”
“Papa yakin dia pun juga merindukanmu, kau adalah adik kesayangannya.”
“Apa Papa sebenarnya setuju jika dia menikahi Si Manis?”
“Kakakmu itu lebih pemberani dari Papa, jika Papa dulu cukup berani seperti dia, mungkin Papa akan menikah dengan Mamanya Sun Kwan. Tapi...Papa pasti tidak akan ketemu kamu, Siaw Cing.”
“Apa Papa menyesal, karena sudah menikah dengan Mama?”
“Tidak ada yang perlu disesali, ini semua sudah takdir. Apa manusia bisa menolak takdir?”
“Aku kadang bingung dengan perasaanku terhadap Mama. Kadang dia tampak menyebalkan, tetapi dia juga perhatian. Kadang dia sangat bersemangat membelikanku banyak baju bagus, mendandaniku, tapi dia juga suka marah kalau aku tidak menuruti keinginannya. Entah dia itu sebenarnya sayang padaku apa tidak.”
“Saat kau lahir, seingatku dia sangat bahagia. Dia memang ingin seorang anak perempuan.”
Memang benar apa yang dikatakan Tn. Liem, istrinya selalu menginginkan anak perempuan. Sejak Siaw Cing lahir, wanita itu dapat sedikit mengeluarkan perasaan keibuannya. Ia mencurahkan perhatian kepada Siaw Cing, dengan membelikannya banyak pakaian bagus, juga mendandani dan menata rambutnya.
Karena itu, Siaw Cing tidak bisa benar-benar membenci Mamanya. Dari ketiga anaknya, Siaw Cinglah yang paling ia perhatikan. Walaupun kadang ia juga suka memaksakan seleranya kepada gadis itu.
“Papa akan mencari kabar tentang Wan Siang, tetapi sebaiknya Mamamu jangan sampai tahu.”
Karena perkataan ayahnya itu, secercah harapan muncul sehingga membuat Siaw Cing ceria lagi.
“Terima kasih Papa...” Kata Siaw Cing sambil memeluk Tn. Liem erat-erat.
***
__ADS_1
Sementara itu Sun Kwan yang sudah menjalin pertemanan dengan Nona Hu tengah mendapatkan berbagai pengalaman dari kawan barunya itu. Kesukaan mereka hampir sama, jadi tidak sulit untuk membuat Nona Hu dapat mengenal Sun Kwan lebih jauh.
Nona Hu sangat mengagumi kemampuan Sun Kwan dalam melukis. Karena itulah Nona Hu meminta Sun Kwan melukis dirinya di kediamannya, saat kedua orangtuanya tidak ada di rumah.
Sun Kwan membawa peralatan melukisnya, berupa kertas, kuas dan cat air. Nona Hu duduk di sebuah kursi bergaya peranakan yang di sisi kanannya terdapat guci keramik berwarna biru putih yang cukup besar. Gadis itu duduk sambil tersenyum menghadap Sun Kwan, memakai Cheongsam berwarna merah dan memakai gincu berwarna senada dengan pakaiannya.
Di mata Sun Kwan, tentu pemandangan yang paling menarik di dalam lukisannya adalah Nona Hu sendiri. Gadis itu sangatlah cantik. Ketika melukis, entah kenapa jantung Sun Kwan jadi berdebar-debar tak karuan. Ia berusaha menenangkan diri dan memusatkan perhatian ke lukisannya.
Selama dilukis, perhatian dan mata Nona Hu juga hanya tertuju kepada Sun Kwan. Pemuda itu semakin dilihat semakin tampan dan menarik. Nona Hu baru menyadari kalau Sun Kwan memiliki mata yang lembut dan bibir yang indah, bentuk hidungnya juga bagus. Lama-lama ia juga tak bisa memungkiri, bahwa Sun Kwan, sahabat barunya itu adalah pria dewasa yang menarik.
Sun Kwan pemuda yang ramah dan mudah tersenyum kepada siapa saja, senyumnya memang sangat manis, dan berbicara dengan Sun Kwan yang ramah akan membuat perasaan siapa saja akan menjadi lebih enak.
Nona Hu sudah tidak lagi menunjukkan raut wajah cemberut, bahkan dia sedikit banyak sudah melupakan perasaannya terhadap Wan Siang. Itu karena perhatian Sun Kwan kepadanya. Lambat laun, seorang gadis yang sedih karena cintanya bertepuk sebelah tangan akan merasa bahagia jika ada seorang pemuda yang baik dan perhatian kepadanya.
“Sudah selesai,” kata Sun Kwan, saat selesai melukis.
Nona Hu beranjak dari kursi dan berjalan ke arah Sun Kwan, ia melihat hasil pekerjaan pemuda itu.
“Ini bagus sekali, aku benar-benar puas!” pekik Nona Hu girang.
“Lukisan pesananmu sudah jadi, silakan ambil.”
“Lukisan ini akan aku pasang di kamarku. Aku bingung, berapa harga yang harus kubayar untuk lukisan seindah ini.”
“Tidak usah membayar. Asal kau tetap mau berteman denganku, itu sudah cukup. Karena... aku bahagia menjadi temanmu, Nona Hu.”
Sun Kwan memang menjadi lebih sering tersenyum dan perasaannya bahagia karena menjalin pertemanan dengan Nona Hu yang cerdas dan ceria. Gadis itu tak malu untuk mengungkapkan pendapatnya tentang berbagai hal. Sedikit banyak sifatnya yang pemberani membuatnya tidak malu-malu.
“Eh.... mulai sekarang, panggil aku Ai Lien saja, panggilan Nona Hu itu terlalu resmi.”
“Ai Lien, nama yang indah.”
Pergantian panggilan nama, dari Nona Hu menjadi Ai Lien memang sekilas tampak tak berarti. Tetapi bagi Nona Hu, itu adalah tanda bahwa gadis itu telah mengizinkan Sun Kwan untuk lebih jauh mengenal dirinya.
Ai Lien menginginkan Sun Kwan datang ke rumahnya sekali dalam sepekan, biasanya pada hari Minggu ketika Sun Kwan tengah libur bekerja. Mereka berdua tidak selalu bertemu di rumah Ai Lien, tapi juga keluar berjalan-jalan. Ini adalah pengalaman pertama Ai Lien menjalin hubungan yang dekat dengan laki-laki.
__ADS_1
Karena orangtua Ai Lien sudah mengenal orangtua Sun Kwan, maka mereka tak keberatan jika pemuda itu mengajak Ai Lien untuk pergi keluar.
Sun Kwan juga sangat menikmati saat-saat pertemuan dengan Ai Lien yang makin lama makin menarik di matanya. Dahulu saat gadis itu masih menyukai Wan Siang, ia tak berpikir bisa sedekat itu dengan Ai Lien. Tetapi karena penolakan kakaknya, sekarang Ai Lien menjadi lebih dekat dengan dirinya. Sedikit banyak, Sun Kwan berterima kasih kepada Wan Siang dan Si Manis yang kini sudah menikah. Cintanya kepada Si Manis juga sudah menjadi masa lalu yang tak mungkin kembali lagi.
Siaw Cing tahu hubungan Sun Kwan dan Ai Lien sudah semakin dekat, karena diceritakan oleh Sun Kwan.
“Kalian ini sudah semakin dekat, tapi belum juga ada kata cinta, ckckck...” Siaw Cing mendecakkan lidahnya, menyindir Sun Kwan.
Mendengar sindiran Siaw Cing, Sun Kwan bagaikan tertampar.
“Maksudmu, aku harus menyatakan cinta, begitu?” tanya Sun Kwan.
“Ya, apa Engkoh mau didahului orang lain lagi?”
Siaw Cing mengingatkan masa lalu antara Sun Kwan dan Wan Siang. Wan Siang-lah yang lebih dulu menyatakan cinta kepada Si Manis.
“Tapi... bagaimana kalau ternyata Nona Hu...eh...maksudku, Ai Lien, ternyata tidak menyukaiku?”
“Bagaimana kalau sebenarnya dia sedang menunggu Engkoh menyatakan cinta?”
Pertanyaan Sun Kwan malah dibalas pertanyaan pula oleh Siaw Cing. Sun Kwan semakin bingung.
“Menurut Engkoh, kalau ada seorang gadis yang setiap minggu membiarkan dirinya diajak pergi oleh seorang pemuda, itu bukan berarti apa-apa?”
“Tapi Ai Lien selalu menganggapku teman.”
“Tentu saja dia menganggap Engkoh itu temannya, karena Engkoh belum pernah menyatakan cinta. Setelah Engkoh menyatakan cinta, baru status hubungan kalian bisa ditentukan, entah menjadi kekasih ataukah malah berpisah.”
“Aku takut kalau dia menolakku. Mungkin dia tidak mau berteman denganku lagi.”
“Coba saja dulu, kali ini Engkoh harus berani mengungkapkan perasaan. Sekarang aku tanya, apa Engkoh memang menyukai Nona Hu?”
“Aku... aku menyukainya...”
“Kalau begitu tunggu apa lagi? Pertemuan selanjutnya, Engkoh harus menyatakan cinta. Aku sendiri juga penasaran, sebenarnya dia itu menganggap Engkoh apa.”
__ADS_1
Tantangan Siaw Cing membuat hati Sun Kwan yang lembut itu menjadi berdebar-debar, padahal dia belum mengutarakan perasaannya terhadap Ai Lien.
Yang jelas, malam itu Sun Kwan jadi tidak bisa tidur. Pikirannya sibuk membayangkan, bagaimana sebaiknya dia menyatakan perasaannya kepada Ai Lien. Tetapi ia juga perlu menyiapkan mental, seandainya gadis itu menolak cintanya. Mau tidak mau, Sun Kwan harus berani mengambil risiko.