
Kereta lokomotif yang ditumpangi Si Manis dan Wan Siang akhirnya tiba di Stasiun Wergu Kudus yang terletak di Jalan Wergu (kini jalan Agus Salim), setelah sebelumnya berhenti di Demak. Kemudian dengan autobus, mereka meneruskan perjalanan menuju pabrik rokok Bal Tiga Nitisemito yang beralamat di Langgardalem, Kampung Jagalan, Kudus.
Di bagian depan pabrik tersebut tertulis: Sigareten Fabriek ‘M. Nitisemito’, Koedoes. Wan Siang dan Si Manis disambut oleh pegawai untuk memulai perjalanan berkeliling pabrik rokok, dimulai dari ruang kontrolir, yaitu ruang pemeriksaan tembakau yang dikirim dari luar daerah seperti Muntilan, Magelang, Kendal, Blabakan dan lain sebagainya, tetapi yang paling banyak berasal dari Temanggung, setelah melalui beberapa tahap.
Tahapan itu adalah pemetikan, penyimpanan (biasanya dalam waktu 5 hari), yang apabila daun tembakau sudah berwarna kuning kemerahan, daun disobeki, dipisahkan dari tangkainya, yang jelek dibuang. Setelah itu daun digulung dan diikat per 10 lembar. Selanjutnya melalui tahap perajangan, beberapa ikat tembakau dijejalkan ke mulut papan berlubang untuk dipotong dengan pisau besar dan hasil rajangannya ditadahi oleh tampah berukuran besar.
Rajangan tembakau tadi dicampur dengan gula pasir agar lentur, 10 kg gula pasir untuk 1 kuintal tembakau. Baru setelah itu memasuki proses penganjangan, yaitu rajangan tembakau ditarik memanjang, ditata di atas papan-papan tipis dengan kawat saring lalu dijemur. Setelah kering dan berwarna kemerahan kawat saring berisi tembakau itu diletakkan semalaman di tempat terbuka, dibiarkan kena embun pagi. Kemudian tembakau diambil, digulung dan dimasukkan ke keranjang bambu yang dilapisi oleh pelepah pisang kering.
Tentunya proses yang panjang tadi dilakukan oleh pemasok, pabrik hanya menerima hasil jadinya saja, semua itu nanti diperiksa di ruang kontrolir.
Untuk membuat rokok, selain tembakau, juga diperlukan cengkeh, saus dan klobot kering.
Tembakau yang sudah melalui proses pemeriksaan di ruang kontrolir, diberi ramuan saus yang terdiri dari sari buah-buahan, kopi, rempah-rempah dan masih banyak lagi. Saus itu disemprotkan ke tembakau. Yang jelas sausnya dibuat berdasarkan resep rahasia yang hanya diketahui oleh pemilik, yaitu Pak Nitisemito sendiri, juga beberapa anggota keluarganya.
Sebelum cengkeh dicampurkan ke olahan tembakau tadi, pertama-tama cengkeh harus dibersihkan dulu, dengan direndam ke dalam air agar lunak dan mudah digiling. Lalu dicampur dengan tembakau dengan perbandingan 2 banding 1, atau setengah bagian dari tembakaunya.
Cengkeh yang digunakan oleh pabrik rokok Bal Tiga berasal dari Zanzibar, Afrika, yang tidak memiliki banyak kandungan minyak dan lebih kuat cita rasanya, dibandingkan dengan cengkeh yang berasal dari dalam negeri.
Tahap selanjutnya adalah pembungkusan rokok, dengan bahan utama klobot atau kulit jagung. Klobot yang dipakai kebanyakan berasal dari Purwodadi dan Demak. Yang paling bagus mutunya berasal dari Unda’an, tetapi sayangnya pasokan dari daerah itu sedikit, sehingga harus dicampur dengan klobot dari daerah lain.
Berikutnya proses pelintingan, yang kebanyakan dikerjakan oleh kaum wanita. Para wanita duduk berhadap-hadapan di meja-meja pendek berukuran setengah meter persegi. Di kanan kiri mereka terdapat tumpukan klobot dan bakul rotan berisi bahan campuran tembakau. Para pekerja ini diawasi oleh mandor berpakaian putih yang berjalan hilir mudik.
Proses pelintingan itu dilakukan dengan cara menaruh campuran tembakau di atas klobot berbentuk segi tiga yang telah disetrika, lalu digulung dengan hati-hati dan diikat kedua ujungnya dengan menggunakan jinggo atau benang pengikat klobot.
Pabrik dibuka pukul 06.30 dan tepat pukul 07.00 para buruh pabrik harus siap bekerja. Tetapi para mandor dan kontrolir harus harus sudah sampai di pabrik pukul 04.30 pagi.
Setelah proses pelintingan, dilanjutkan proses pemotongan kelebihan tembakau yang ada di ujung rokok agar lebih rapi. Kemudian dilanjutkan ke proses pengemasan ke dalam longsong atau kemasannya. Setelah selesai, produk rokok itu dikirim ke gudang di Jongenstraat dan disalurkan ke agen-agen penjual.
Wan Siang dan Si Manis tertegun dengan pemandangan yang mereka lihat di pabrik rokok. Wan Siang menganggapnya ilmu baru, atau mungkin jalan baru. Paling tidak, kini ia sudah tidak buta mengenai dunia tembakau dan rokok.
__ADS_1
Setelah selesai melakukan perjalanan di dalam pabrik rokok, tibalah saatnya hadiah berupa sepeda Simplex diberikan. Pegawai pabrik mengambil potret Wan Siang dengan sepeda yang baru saja didapatkannya itu sebagai bahan promosi, juga sebagai tanda bukti bahwa sepeda betul-betul sudah diberikan kepada pemenang undian. Si Manis ikut merasa girang saat melihat sepeda itu.
Sepedanya berupa sepeda onthel dengan roda besar, dan dipasangi boncengan sehingga bisa dinaiki dua orang.
Sesampainya di Semarang, Wan Siang jadi punya kegiatan baru dengan Si Manis, yaitu tiap pagi bersepeda berboncengan keliling kota. Mereka melalui jalan-jalan besar beraspal, salah satunya di Bodjongweeg (sekarang Jl. Pemuda) yang permukaannya lebih halus dan nyaman untuk bersepeda.
Di Bodjongweeg, mereka juga bisa melihat trem dalam kota yang kadang melintas di atas rel yang ada di tengan jalan. Jika ada trem sedang lewat, Wan Siang yang membonceng Si Manis berhenti sejenak.
“Kamu pegangan yang kencang ya, biar tidak jatuh,” perintah Wan Siang saat memulai bersepeda dengan Si Manis.
“Iya Koh,” Si Manis menurut.
Pengalaman bersepeda dengan Wan Siang sungguh pengalaman yang menyenangkan, Si Manis bisa melihat suasana tengah kota Semarang. Kadang ia melihat orang-orang Belanda berlalu lalang, sebagian naik mobil yang didatangkan dari Eropa.
Sepanjang perjalanan, Si Manis duduk menyamping sambil tangannya memeluk perut dan pinggang Wan Siang, membuat jantungnya berdebur seperti ombak bergulung-gulung di lautan. Wan Siang juga merasakan hal yang sama, perasaan mereka menyatu di atas sepeda barunya.
Wan Siang menuliskan huruf-huruf alfabet Latin sebagai dasar pembelajaran. Ia meminta Si Manis untuk mengikutinya melafalkan huruf-huruf itu. Huruf alfabet yang terdiri dari 26 simbol itu pertama-tama yang harus dihapalkan Si Manis.
Setelah hapal huruf alfabet, proses selanjutnya adalah menuliskan huruf-huruf itu di kertas. Dalam proses, Wan Siang membimbing Si Manis dalam upayanya menggunakan pena dengan benar. Tangannya tak lepas dari Si Manis saat berusaha menuliskan huruf-huruf itu dengan benar. Dalam posisi seperti ini, Si Manis dapat mencium aroma tubuh Wan Siang yang sangat ia sukai. Lelaki itu begitu harum, entah minyak wangi apa yang ia gunakan.
Dikarenakan terlena dengan harum tubuh Wan Siang, Si Manis sering kehilangan fokus, sehingga Wan Siang harus mengembalikan perhatiannya lagi.
“Manis... kamu melamun, kok berhenti nulis?” Tanya Wan Siang, wajahnya juga sangat dekat dengan Si Manis dalam posisi mengajar menulis.
“Ah, maaf Koh, habis...”
“Habis apa?
“Habis ada bau wangi, dari mana asalnya ya?”
__ADS_1
“Yang jelas bukan dari setan,” kata Wan Siang sambil menahan tawanya.
Wan Siang tidak tahu kalau Si Manis bisa sepolos itu, mengendus-endus bau wangi yang datang dari tubuh Wan Siang. Pria itu baru saja membeli minyak wangi dari Pekojan, Semarang. Kawasan Pekojan ditinggali orang keturunan Arab, yang banyak menjual berbagai macam jenis minyak wangi.
“Kamu suka baunya?”
“Iya Koh, baunya enak,” kata Si Manis yang masih berusaha mengendus-endus bau tersebut. Mungkin karena terlalu bersemangat, hidungnya itu sampai menempel ke pipi Wan Siang.
“Hahahaha.....” Wan Siang akhirnya tak kuat lagi menahan tawanya.
“Maaf Koh, tidak sengaja.”
Si Manis malu sekali, entah sekarang wajahnya sudah berubah seperti apa, mungkin merah seperti kepiting rebus saking malunya. Proses belajar mengajar jadi buyar gara-gara hal sepele seperti itu.
“Aku lagi coba minyak wangi baru, ternyata kamu suka baunya. Selain itu juga akhir-akhir ini aku suka pakai pomade untuk rambut.”
“Pantas rambut Engkoh kok tambah rapi saja. Tapi rasanya dulu Engkoh tidak sewangi dan serapi sekarang.”
“Sekarang kan lain keadaannya.”
“Lain bagaimana Koh?”
“Kan sekarang aku harus sering dekat kamu, biar kamu betah.”
“Saya malu Koh, masak Engkoh yang laki-laki saja wangi, tetapi saya yang perempuan tidak.”
“Siapa bilang kamu tidak wangi, bau tubuhmu tanpa memakai minyak wangi saja sudah memabukkan.”
Kini giliran Wan Siang yang mengendus-endus tubuh Si Manis, membuat gadis itu merinding dibuatnya. Indra penciuman Si Manis sudah terpikat oleh aroma Wan Siang.
__ADS_1