Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Nona muda Liem: Pertemuan kedua


__ADS_3

Setelah menikah, Sun Kwan diminta tinggal di rumah keluarga Hu, karena Nona Hu adalah anak satu-satunya, dan orangtuanya ingin ia terus menemani mereka di hari tua. Ny. Liem dan Sun Kwan baru saja dekat sebagai ibu dan anak, tetapi Ny. Liem pada akhirnya memperbolehkan Sun Kwan untuk tinggal bersama keluarga Hu. Dengan pertimbangan Nona Hu adalah anak semata wayang yang punya kewajiban merawat orang tuanya.


Kerelaan Ny. Liem melepaskan Sun Kwan disambut gembira oleh keluarga Hu. Tetapi Nona Hu dan Sun Kwan berjanji untuk sering-sering mengunjungi rumah keluarga Liem, terutama pada hari libur. Setiap hari Sun Kwan tetap bekerja seperti biasa di kantor perusahaan ayahnya, tetapi kini sebagai pemimpin perusahaan, sesuai keinginan ayahnya dan telah disetujui juga oleh ibu tirinya.


Sun Kwan adalah anak laki-laki yang baik, sifatnya yang menyenangkan membuat Tuan dan Nyonya Hu terkesan dan merasa beruntung mendapatkan menantu laki-laki seperti dirinya.


Wan Siang dan Si Manis membuat kebijakan untuk tinggal di Kudus pada hari Senin, Selasa, Rabu dan Kamis, kemudian pulang ke Semarang pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu, agar tetap dekat dengan keluarga Liem di Semarang. Lagipula perjalanan dari Kudus ke Semarang juga tak terlalu lama, diperlukan kurang lebih 2 jam perjalanan dengan naik kereta api.


Karena kakak-kakaknya sudah berkeluarga dan pindah rumah, Siaw Cing jadi merasa kesepian. Ia sendiri sudah berusia 17 tahun. Kedua kakaknya sudah menikah, maka Tuan dan Ny. Liem jadi memikirkan tentang masa depan Siaw Cing.


“Sekarang tinggal Siaw Cing, ia juga harus menikah suatu hari nanti,” kata Ny. Liem.


“Tapi biarkan dia memilih pasangan hidupnya sendiri,” ujar Tn. Liem.


“Ya, walaupun begitu, bolehkah aku berharap agar Siaw Cing bisa menikah dengan orang yang bisa menjamin kesejahteraannya?”


“Maksudnya, pasangan Siaw Cing harus kaya?”


“Sebagai Mamanya, aku ingin dia bisa mendapatkan orang yang bisa membahagiakannya.”


“Kamu tidak salah, tetapi yang paling penting adalah Siaw Cing harus mencintai suaminya. Di keluarga kita, aku tak ingin ada istilah dipaksa menikah.”


“Iya... aku setuju. Cinta memang hal yang penting dalam pernikahan.”


Tuan dan Nyonya Liem mencapai pemahaman yang sama. Jadi mereka tak ingin menjodoh-jodohkan Siaw Cing, tetapi juga ingin terus memantau perkembangan Siaw Cing ke depannya.


***


Siaw Cing merasa kesepian setelah kedua kakaknya menikah dan pindah rumah. Agar Siaw Cing tidak bosan, Ny. Liem memintanya untuk berlatih menjahit dan menyulam. Biar begitu, Siaw Cing merasa menyulam dan menjahit bukan hal yang menyenangkan dan cepat membuatnya bosan.


Sebenarnya Siaw Cing adalah anak yang agak pendiam, tetapi memiliki perasaan yang peka. Walaupun kesepian, tetapi dia juga merasa lega karena kehidupan keluarga Liem jauh lebih baik dari sebelumnya. Papa dan Mamanya sudah berdamai dan hidup harmonis, yang menjadi kebahagiaan terbesar Siaw Cing.


“Nona... ada tamu mencari Nona,” kata seorang pembantu.


“Tamu?” tanya Siaw Cing.


Buru-buru Siaw Cing menuju ruang tamu dan ingin melihat siapakah gerangan itu.


Saat sampai di ruang tamu, di mana tamu itu duduk, Siaw Cing terkejut mendapati seorang pemuda Tionghoa yang memakai setelan jas hitam dan kemeja putih datang mencarinya.

__ADS_1


“Maaf, aku sudah lancang datang kemari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.”


“Kamu Antony yang kemarin itu kan?”


“Ternyata kamu masih ingat namaku, Nona Liem.”


“Panggil Siaw Cing saja.”


“Baiklah kalau begitu, Siaw Cing.”


“Lalu, ada masalah apa sampai kau mencariku kemari?”


“Tidak ada masalah apa-apa, aku cuma ingin bertemu. Waktu itu suasananya sangat ramai, sampai kita tidak sempat berbincang setelah memperkenalkan diri. Padahal aku ingin tahu banyak hal tentangmu.”


Siaw Cing heran, ternyata ada orang yang ingin tahu tentang dirinya.


“Aku biasa-biasa saja, kau tidak akan menemukan cerita yang menarik.”


“Kurasa tidak, aku merasa kau memiliki sesuatu yang membuatku penasaran.”


“Ya sudah, tanya saja apa yang mau ditanya.”


Antony merasa Siaw Cing adalah anak perempuan yang paling santai dari semua perempuan yang pernah ia temui. Bahkan sikapnya sedikit seperti anak lelaki.


“Memangnya ada apa denganku?”


“Ya, kamu seperti tidak peduli penampilan, dan berkata apa adanya, tanpa dibuat-buat.”


Siaw Cing jadi memperhatikan penampilannya, ia hanya memakai baju rumahan sederhana, wajahnya polos tanpa pulasan bedak dan gincu, juga tak memakai perhiasan seperti kebanyakan nona muda dari keluarga berada.


Semenjak Siaw Cing mengutarakan kepada mamanya kalau sebenarnya dia tak suka memakai perhiasan, Ny. Liem membebaskan dia dari keharusan memakai perhiasan demi status sosial. Juga membebaskannya untuk memakai pakaian yang ia suka, termasuk sepatu. Barulah Siaw Cing bisa merasa bebas dan menjadi diri sendiri.


“Ya, aku memang begini, tidak ada yang istimewa kan?”


“Tidak, menurutku kau istimewa, karena lain daripada yang lain.”


Raut wajah Siaw Cing masih datar dan tidak menunjukkan kalau ia tertarik dengan Antony yang penampilannya memukau itu. Padahal wajah Antony juga tergolong tampan, ciri khas keluarga Gwie, yang terkenal dengan paras mereka yang rupawan. Tetapi di depan Siaw Cing, Antony merasa bagaikan rakyat jelata dengan wajah biasa-biasa saja.


Padahal, karena besarnya perusahaan keluarga Gwie, seluruh keluarga itu sangat dihormati di kalangan orang Tionghoa di Semarang.

__ADS_1


“Selama ini kau ke mana saja? Kenapa aku tidak pernah melihatmu di pesta-pesta?”


“Aku tidak suka pesta, aku lebih suka di rumah.”


Padahal setelah pertemuan yang pertama dengan Siaw Cing, Antony Gwie berharap dia bisa bertemu dengan gadis itu lagi di pesta seseorang, di mana keluarga Gwie memang sering sekali mendapat undangan pesta. Tetapi Siaw Cing tak ditemukan di pesta mana pun yang dihadiri Antony.


“Karena tak bisa bertemu lagi di pesta, makanya aku datang kemari.”


“Sudah kubilang kan, aku tidak menarik. Tak suka berdandan dan ke pesta. Aku ini orang yang membosankan, lebih baik kuberitahu dulu dari sekarang, daripada kau kecewa nanti,” kata Siaw Cing dengan wajah acuh tak acuh.


Antony Gwie malah tertawa mendengar kata-kata Siaw Cing. Mana ada wanita yang terang-terangan bilang kalau dia tidak menarik dan membosankan. Yang ada, mereka semua akan tampil sebaik mungkin untuk menarik perhatian laki-laki, terlebih yang punya reputasi tinggi seperti Antony.


“Memangnya ada yang lucu dengan kata-kataku?” tanya Siaw Cing.


“Tidak, hanya saja kata-katamu itu sangat menggelitik pikiranku. Sepertinya kau sangat unik dan berpikir dengan cara yang berbeda dengan gadis kebanyakan.”


“Bilang saja kalau aku aneh, tidak usah diperhalus.”


“Tidak, tidak. Siapa yang bilang kau aneh?”


Pertemuan pertama saja menurut Siaw Cing sudah aneh. Setelah bicara lagi dengan Antony, tak disangka pembicaraan mereka malah semakin aneh, pikir Siaw Cing.


“Eh Siaw Cing, bolehkah aku main lagi kapan-kapan ke sini? Aku senang bicara denganmu,” ujar Antony.


“Aku kira kamu sudah kapok bicara denganku. Terserah saja...” jawab Siaw Cing.


Antony merasa sangat senang karena Siaw Cing tidak mengusirnya, dan memberikan kesempatan baginya berbicara dan datang lagi.


Karena Siaw Cing tidak punya kegiatan berarti dan tak ada hal besar yang harus dipikirkannya, maka ia membiarkan Antony datang mengunjunginya sekali-sekali. Siaw Cing sendiri juga heran, kenapa ada orang yang bisa-bisanya ingin tahu tentangnya, seperti wartawan surat kabar.


***


Tanpa sepengetahuan Siaw Cing, Tuan Liem memperhatikan anak perempuannya dan tamunya itu. Tuan Liem tersenyum, melihat anak perempuannya bersikap begitu santai di depan seorang calon pewaris utama NV Gwie Ting Tjiang yang memiliki perusahaan rokok terbesar di kota Semarang.


Siaw Cing memang tak tahu apa-apa tentang perusahaan keluarga Gwie, dan itu membuatnya merasa punya kebebasan untuk bertingkah polah sesuka hati. Seandainya Ny. Liem mengetahui pertemuan Antony dan putrinya, tentu ia akan senang bukan kepalang. Tetapi sayangnya Ny. Liem melewatkan kesempatan itu karena sedang pergi mengunjungi rumah keluarga Hu.



Siaw Cing

__ADS_1



Antony Gwie


__ADS_2