
Badan Wan Siang terasa segar setelah dipijat oleh Si Manis. Laki-laki itu jadi tidak perlu lagi mendatangi rumah plesiran untuk mendapatkan pelayanan tersebut. Makanya hari itu ia tampak bersemangat dan bermaksud mengajak Manis pergi ke suatu tempat dengannya.
“Manis, siap-siap, ayo kita pergi,” kata Wan Siang.
“Ke mana, Tuan?”
“Aku mau beli obat.”
“Apa Tuan sedang sakit?”
“Bukan obat untuk penyakit. Aku ini suka minum-minum, dan minuman itu bisa merusak ginjalku. Sekali rusak, ginjal tidak bisa diperbaiki. Ada teman yang kasih saran supaya aku minum ramuan penguat ginjal, supaya ginjalku tidak cepat rusak. Aku mau beli ramuannya di toko obat.”
“Ginjal itu apa, Tuan?”
Karena tidak pernah sekolah, Manis tidak mengetahui banyak hal, bahkan organ tubuhnya sendiri. Wan Siang tidak menertawakannya karena ia sangat paham, banyak rakyat kecil seperti Manis yang tak pernah mendapat kesempatan memperoleh pendidikan yang layak.
“Ginjal itu organ dalam tubuhmu, letaknya di sini.”
Wan Siang menunjukkan di mana kira-kira letak ginjal dengan menyentuh pinggang Si Manis tanpa ragu-ragu, hingga membuat Manis tersentak kaget oleh sentuhan tangan pemuda itu.
“Saya mengerti sekarang,” ujar Si Manis dengan wajah malu.
Hari itu Wan Siang memakai baju tradisional Tiongkok berwarna biru berlengan panjang yang terbuat dari bahan sutra. Sedangkan Manis memakai kebaya putih dari kain katun dengan kain panjang batik bernuansa hitam.
Mereka berangkat ke daerah Pecinan Semarang dengan kereta kuda.
Dahulu orang Tionghoa dan pribumi hidup berdampingan dan saling membaur dengan penuh kedamaian. Namun pada tahun 1740 di Batavia terjadi pemberontakan yang dilakukan orang Tionghoa terhadap Belanda, karena tidak tahan dengan penindasan.
Pemberontakan itu sendiri gagal dan menyebabkan banyak orang Tionghoa dibantai. Sebagian berusaha kabur ke berbagai tempat untuk mencari selamat, di antaranya Kota Semarang yang dirasa lebih aman.
Karena pemberontakan itulah, pemerintah Belanda menerapkan kebijakan Wijkenstelsel, yaitu aturan yang menetapkan pemisahan pemukiman antara orang Tionghoa dan pribumi. Orang Tionghoa diharuskan tinggal di suatu daerah tertentu yang disebut sebagai Pecinan agar pergerakan mereka lebih mudah diawasi oleh pemerintah Belanda.
Mereka membangun rumah-rumah dengan model khas Tionghoa yang atapnya berbentuk seperti pelana. Karena orang Tionghoa memiliki jiwa bisnis yang kuat, maka pemukiman itu akhirnya bukan hanya menjadi area perumahan biasa, melainkan juga pusat bisnis yang menggerakkan laju perekonomian di Semarang.
Kereta kuda yang membawa Wan Siang dan Si Manis berhenti di Gang Warung, tepatnya di depan toko obat Toen Djien Tong yang berdiri sejak tahun 1800. Kemasyuran toko obat itu disebabkan karena peramu obat-obatannya seorang Shinse (tabib) lulusan sekolah tabib di Kwangtong, Tiongkok. Orang tinggal menyebutkan keluhan penyakitnya atau apa yang diinginkan, maka sang tabib akan dengan cekatan meramukan obat yang diperlukan.
__ADS_1
Ada juga orang yang mencari petunjuk tentang penyakitnya dengan cara pergi ke Kelenteng dan berdoa kepada dewa obat, yang paling terkenal adalah Dewa Poo Seng Tay Tee. Setelah berdoa kepada dewa obat, mereka mengocok bilah-bilah kayu tipis bernomor. Nomor yang keluar akan dicocokkan dengan kertas Ciam Sie (ramalan) yang tersedia di kelenteng.
Kertas Ciam Sie itu kemudian dibawa ke toko obat, layaknya resep yang hanya bisa dipahami oleh apoteker atau Shinse. Karena Ciam Sie itu kadang hanya berisi pantun atau syair Tiongkok. Shinse mengetahui obat apa yang harus diracik, beserta komposisi dan jumlahnya.
Saat memasuki toko obat “Toen Djien Tong”, Si Manis melihat banyak laci kayu di rak yang menempel ke tembok, guci-guci keramik berwarna biru putih berbentuk bulat bertutup dan toples-toples kaca untuk menyimpan aneka macam rempah. Setidaknya ada 350 macam jenis rempah, tetapi hanya sekitar 200 macam yang sering dipakai untuk racikan.
Di antara yang sering dipakai itu adalah Ma Huang yang berfungsi untuk melancarkan nafas, juga Pak Sok yang berkhasiat menghilangkan sakit di badan, Sa Jin untuk menyembuhkan penyakit maag, dan tentu saja Ginseng (Shi Yang Sen), tanaman obat dari Korea, kayu manis dan lain sebagainya.
Setelah menyebutkan keperluannya kepada sang Shinse, Wan Siang segera mendapatkan ramuan yang ia perlukan dalam takaran yang pas. Ramuan itu nantinya harus direbus bersama air dan diminum sesuai takaran.
Dari toko obat itu Wan Siang sepertinya tak ingin cepat pulang, ia melihat penjual payung kertas dan membelinya sebuah untuk dipakai berjalan-jalan menyusuri Gang Warung. Jalan itu disebut Gang Warung karena terdapat banyak toko atau warung di sepanjangnya. Si Manis berjalan di samping Wan Siang, sedang lelaki itu memayungi dirinya.
“Sini biar saya saja yang memayungi, Tuan,” kata Si Manis, merasa sungkan karena dipayungi.
“Biar aku saja yang membawa payung, aku kan lebih tinggi darimu,” jawab Wan Siang. “Kalau kamu yang pegang, nanti kepalaku malah kepentok payung. Begini lebih nyaman.”
Demikianlah Wan Siang dan Si Manis berjalan-jalan bersama menjelajahi Pecinan pada tengah hari yang cerah. Penampilan Wan Siang yang seperti Tuan muda dari keluarga kaya kontras dengan Si Manis yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Pemandangan mereka berjalan berpayung menarik perhatian orang-orang yang kebetulan melihat atau berpapasan dengan mereka.
Dua ibu Tionghoa yang sedang berjalan menuju Pasar "Gang Baru" membicarakan mereka berdua.
“Lihat itu yang sedang berpayung berdua, apakah tuan itu sedang berpayung dengan pembantunya?”
“Tetapi perempuan itu sepertinya masih sangat muda, seperti adiknya saja.”
“Tak salah lagi itu pasti bini muda, makanya dicari yang muda. Kau tahu Babah Ong pemiliki toko kain? Dia itu sudah tua bangka, tapi punya bini yang kelewat muda, seperti cucunya saja.”
“Iya, semua orang juga tahu itu. Memang begitulah tabiat lelaki, bini sudah tua diperlakukan seperti sepeda butut, lalu beli sepeda baru. Ya, tapi memang tidak semua seperti itu.”
“Perempuan itu pasti sangat senang menjadi bini mudanya si Tuan, lihat saja betapa tampan dan gagahnya. Aku sendiri kalau masih muda pasti mau jadi bini mudanya.”
“Hush! Jangan mimpi di siang bolong hahaha....”
Kedua perempuan setengah baya itu jadi tertawa-tawa tak jelas di jalan.
Saat berjalan berdua, Wan Siang memastikan sinar matahari panas terik yang biasa dirasakan di Semarang tidak mengenai kulit Si Manis.
__ADS_1
“Tuan, kita mau ke mana lagi?”
“Ada sesuatu yang aku mau beli, nanti kau juga akan tahu,” jawab Wan Siang.
Dari jalan Gang Warung, Wan Siang dan Si Manis berjalan berpayung menuju Gang Pinggir, masih di sekitar area Pecinan. Jalan Gang Pinggir terkenal sebagai daerah pusat penjualan perhiasan. Selain itu banyak terdapat rumah makan, pabrik makanan, dan berbagai toko yang menjual bermacam-macam kebutuhan.
Wan Siang membawa Manis memasuki salah satu toko perhiasan di Gang Pinggir. Toko itu banyak menjual perhiasan dari emas, tetapi juga menjual perhiasan yang terbuat dari batu giok yang didatangkan dari Tiongkok.
“Apakah di sini ada gelang giok?”
“Ada Tuan, dan dalam berbagai ukuran,” jawab si pedagang dengan ramahnya, terlebih lagi karena Wan Siang terlihat seperti orang kaya.
Lelaki pedagang itu mengeluarkan beberapa gelang giok, dari yang berwarna hijau muda hingga hijau tua.
“Manis, kau pilih satu gelang. Yang mana yang paling kau suka?” kata Wan Siang.
Manis tidak mengira kalau Wan Siang bermaksud membelikannya gelang dari batu giok. Harga gelang batu giok asli bisa sangat mahal.
Si Manis memilih satu gelang berwarna hijau sedang yang sesuai dengan ukuran pergelangan tangannya. Warna hijau gelang giok itu sangat cocok dengan kulit Si Manis yang berwarna sawo matang. Permukaan gelang itu terasa dingin dan agak berat, menandakan kalau gelang itu terbuat dari batu giok yang berkualitas tinggi.
Setelah membayar gelang itu, Wan Siang dan Si Manis keluar dari toko perhiasan dan pergi ke restoran untuk makan siang. Hidup bersama Wan Siang memang tak akan jauh-jauh dari urusan makan enak.
“Terima kasih, Tuan sudah memberi saya gelang ini,” kata Si Manis.
“Tanganmu itu berbakat, jadi tak ada salahnya kalau aku menghiasinya dengan gelang giok.”
Mendengar itu Si Manis jadi tersipu malu, juga jadi mengingat peristiwa dirinya diperintahkan memijat tubuh Wan Siang. Dari peristiwa itu, Si Manis jadi mengenal diri lelaki itu, pertama-tama dari tubuhnya.
Wan Siang selalu membayar wanita-wanita yang memberikan pelayanan kepadanya di rumah pelesiran dengan sejumlah besar uang, tetapi tak ada satu pun yang pernah diberinya gelang giok. Tentu saja harga gelang giok itu tak sebanding dengan jumlah uang yang pernah diberikan lelaki itu kepada wanita lain. Yang jelas harga gelang giok jauh lebih mahal.
Wan Siang sendiri juga tidak tahu mengapa ia kepikiran membelikan Si Manis sesuatu yang sangat berharga, tetapi itu menjadi gambaran bagaimana Wan Siang menghargai apa yang sudah Si Manis lakukan kepada dirinya.
“Aku ingin mulai sekarang kau terus memakai gelang itu,” kata Wan Siang.
“Baik Tuan.”
__ADS_1
“Jika kau mematuhiku, aku tak hanya akan memberimu gelang ini. Aku akan memberikan hal-hal lain yang pasti kau suka. Jika aku senang karena kau, maka kau juga akan aku senangkan,” Wan Siang berkata seolah-olah sedang melakukan perjanjian tak tertulis dengan Si Manis.
Si Manis masih belum sepenuhnya memahami omongan Wan Siang, tetapi ia mengerti apa artinya mematuhi. Mematuhi berarti dia harus mengerjakan apa saja yang disuruh lelaki itu dengan segenap jiwa dan raganya. Gadis itu tidak benar-benar tahu apa yang kelak akan terjadi kepada dirinya.