
Semenjak pertemuan Sun Kwan yang tidak sengaja dengan Si Manis tempo hari, entah kenapa pikiran Sun Kwan menjadi tidak tenang. Siang malam terbayang wajah Si Manis yang semakin cantik saja, dengan penampilannya yang makin indah dipandang.
Sun Kwan menuangkan segala perasaannya di atas kertas. Ia melukis sosok Si Manis, lalu diwarnainya dengan cat air. Lukisan itu begitu hidup, walaupun hanya berdasarkan ingatan Sun Kwan. Dikaguminya lukisan itu, seolah sedang melihat foto berwarna yang kala itu memang belum ada di Hindia Belanda.
Tak hanya satu lukisan, beberapa lukisan akhirnya ia buat hanya demi memuaskan pikirannya dalam mengenang Si Manis. Tanpa ia ketahui, Siaw Cing melihat lukisan-lukisan itu saat tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.
Mata adik perempuan Wan Siang itu terbelalak melihat kakak tirinya yang tidak pernah dekat dengan wanita, malah melukis sosok wanita berkebaya, yaitu Si Manis.
Mengetahui kedatangan Siaw Cing, Sun Kwan terkejut, tetapi sudah tak punya kesempatan menyembunyikan lukisan-lukisannya. Dengan langkah pelan tetapi pasti, Siaw Cing menghampiri Sun Kwan.
“Apakah Koh Sun Kwan menyukai gadis itu?” tanya Siaw Cing. Tanpa menyebut nama, Sun Kwan sudah tahu siapa gadis yang dimaksud.
“Kenapa, apa aku tidak boleh menyukainya?” Sun Kwan balik bertanya.
“Tetapi Koh, gadis itu milik Koh Wan Siang. Koh Wan Siang pasti tidak ingin miliknya diambil begitu saja.”
“Gadis itu bukan istrinya. Menurutmu apa Mama akan setuju jika Koh Wan Siang menikahinya?”
“Aku tidak tahu masalah itu, yang aku tahu Koh Wan Siang menyayanginya. Dan bagaimana jika Si Manis juga menyukai Koh Wan Siang?”
Sun Kwan mengingat bagaimana Si Manis bukan lagi menyebut “Tuan”, melainkan “Koh Wan Siang”. Jelas hubungan Si Manis dan Wan Siang sudah semakin dekat. Tetapi pikiran Sun Kwan berusaha menolak semua itu, tak ingin menerima kenyataan yang ada.
“Kita tak tahu tentang masa depan, setidaknya sebelum semua terjadi, aku ingin berusaha,” ujar Sun Kwan dengan hati teguh.
“Hentikan Koh, berhentilah mengharapkan dia,” kata Siaw Cing, matanya berkaca-kaca hendak menangis.
“Apa karena kamu adik kandung Koh Wan Siang, sehingga kamu lebih mendukungnya?”
“Bukan! Aku cuma tidak ingin kedua kakakku bersaing dan bertengkar gara-gara perempuan.”
“Sebenarnya kami berdua sudah bersaing dari dulu, dan Koh Wan Siang pada akhirnya selalu menang. Aku selalu membiarkannya menang, bahkan kadang aku mengalah agar Mama berhenti memarahinya. Tapi... kali ini, aku sungguh-sungguh ingin berjuang.”
“Koh Sun Kwan tahu kan, bahwa harapan yang tinggi juga bisa menyakiti kita? Aku tidak ingin Engkoh terluka dan sakit. Engkoh sudah terlalu banyak menderita. Jadi sebelum Engkoh merasakan derita itu, tolong berhentilah.”
“Aku sudah terbiasa menderita, apalah artinya satu penderitaan lagi?” Sun Kwan tertawa sinis mengenai nasibnya sendiri.
“Aku sayang Koh Sun Kwan, mungkin rasa sayangku ini melebihi rasa sayangku kepada Koh Wan Siang. Makanya... aku tidak mau sekali lagi melihat Engkoh terluka.”
Sun Kwan menatap Siaw Cing, gadis itu tidak pernah mengatakan hal yang demikian, sedikit banyak perkataan itu menghibur hati si pemuda dan membuatnya tersenyum.
“Terima kasih karena telah menyayangiku, akhirnya ada satu hal yang bisa aku menangkan dari Koh Wan Siang, yaitu rasa sayangmu.”
“Karena itulah, aku mohon Engkoh dengarkan nasihatku.”
Sun Kwan diam saja, ia tak mengiyakan perkataan Siaw Cing. Gadis itu jadi semakin khawatir.
“Jangan khawatirkan aku, Siaw Cing.”
“Lalu sekarang, apa yang akan Engkoh lakukan?”
Sun Kwan kembali diam, pertanyaan itu tidak dijawabnya. Malah ia berusaha mengakhiri percakapannya dengan gadis itu.
__ADS_1
“Kembalilah ke kamarmu, tidurlah. Aku juga sudah sangat mengantuk,” ujar Sun Kwan. Dengan terpaksa Siaw Cing kembali ke kamarnya. Hatinya merasa sedih karena Sun Kwan tak mau mempertimbangkan nasihatnya.
Sun Kwan merasa ia telah memulai hal yang menyulut perselisihan, tetapi dia yang telah lama dipaksa untuk kalah, kali ini memiliki hasrat untuk memperjuangkan kebahagiaannya sendiri. Sesungguhnya manusia memang berhak memperjuangkan kebahagiaan masing-masing, tak peduli berapa pun harga yang harus dibayar dan apa saja yang perlu dikorbankan jika memang perlu.
Sun Kwan mendekap satu lukisan Si Manis di dadanya. Ia berharap dapat menemui Si Manis di dalam mimpi.
Malam itu Sun Kwan bermimpi bertemu Si Manis, yang tersenyum khusus untuknya. Seolah gadis itu juga menginginkan dirinya dan mencintainya. Perasaan Sun Kwan sangat bahagia, seolah itu adalah kenyataan.
***
Tanpa sepengetahuan Siaw Cing, Sun Kwan pergi ke rumah Wan Siang pada hari Rabu. Siang itu Ia datang dengan membawa oleh-oleh berupa pia cap “Bayi” yang dibelinya dari toko pia “Tjiang Goan” di Gang Besen yang terkenal enak.
Ia tahu, menemui Si Manis ketika Wan Siang tengah berada di Kudus bukan sesuatu yang baik, tetapi ia rela merendahkan dirinya menempuh jalan itu demi melihat gadis yang dicintainya. Pemuda itu sungguh sudah kehilangan akal sehat.
Kala Sun Kwan datang, yang membukakan pintu adalah seorang pembantu.
“Tuan sedang tidak ada di rumah,” ujar pembantu itu.
“Aku tahu, di mana nona rumah ini?” Sun Kwan bertanya.
“Nona... ini sudah siang, tapi dari tadi dia belum keluar dari kamar, tak biasanya begini.”
Hanya dengan mendengar perkataan pembantu itu saja, Sun Kwan cepat-cepat masuk tanpa menghiraukan aturan. Ia langsung ke kamar Si Manis.
Si Manis terbaring lemah di ranjangnya, seperti orang yang sedang menggigil kedinginan. Sun Kwan memeriksa dahi Si Manis, dan seperti dugaannya, gadis itu demam tinggi.
“Manis... kamu demam.”
“Sun Kwan, kenapa kamu ke sini? Koh Wan Siang cuma di rumah hari Sabtu dan Minggu,” ujar Si Manis dengan suara pelan.
“Aku tidak bermaksud bertemu Koh Wan Siang, aku ingin menemuimu.”
“Tapi... apakah baik, bertemu saya saat Koh Wan Siang tidak ada?”
“Kamu sedang sakit, sebaiknya jangan banyak berpikir dulu. Biar aku carikan obat.”
Melihat perempuan yang sedang sakit seorang diri, Sun Kwan tak berpikir panjang. Ia pergi ke toko obat dan membeli obat yang diperlukan untuk menurunkan panas Si Manis. Ia merebus sendiri obat itu dan meminumkannya kepada Si Manis.
Kemudian seperti yang dilakukan Wan Siang, Sun Kwan menyiapkan baki berisi sepiring makanan dan air putih. Namun ketika Sun Kwan hendak menyuapi gadis itu, Si Manis menolak. Si Manis lebih memilih berusaha makan sendiri walaupun agak sulit, sebab harus menahan rasa pusing yang luar biasa.
Sun Kwan mengkompres dahi Si Manis dengan kain yang dibasahi oleh air untuk membantu menurunkan panas. Adik tiri Wan Siang itu menunggui Si Manis hingga panasnya turun. Seperti seorang dokter, Sun Kwan berulang kali memeriksa kening gadis itu hingga demamnya mereda.
Si Manis merasa sakit, tetapi juga sangat bingung. Sun Kwan sangat telaten mengurusnya, membuat gadis itu tak enak hati.
“Sun Kwan, terima kasih, tapi sebenarnya saya sungguh tak enak hati merepotkanmu seperti ini,” ujar Si Manis.
“Aku senang bisa merawatmu. Waktu Koh Wan Siang tidak ada, kau sakit. Entah kenapa hari ini aku ingin sekali menemuimu, bukankah ini takdir?”
“Kalau Koh Wan Siang tahu, entah apa yang dipikirkannya.”
“Yang jelas, dia tidak berhak marah. Menurutmu, apa dia yang berada jauh di sana, bisa merawatmu kalau sedang sakit seperti sekarang ini?”
__ADS_1
Si Manis terdiam, sebab apa yang dikatakan Sun Kwan tidak salah. Tetapi dari segi kepantasan memang tidak baik. Si Manis sangat bingung memikirkannya. Ia menyalahkan diri sendiri, kenapa harus sakit pada saat yang tidak tepat.
“Sekarang panasmu sudah turun, aku bisa pulang dengan tenang.”
Sun Kwan akhirnya pamit setelah hari beranjak petang. Hatinya sangat senang karena bisa melihat Si Manis seharian. Para pembantu di rumah Wan Siang tidak berani berkata apa-apa, sebab Sun Kwan adalah adik majikan mereka. Mereka memutuskan untuk merahasiakan kejadian hari itu. Sebab kalau Wan Siang sampai tahu, tentu akan menimbulkan salah paham. Belum lagi, seluruh pembantu akan dimarahi oleh Wan Siang karena dianggap kurang memperhatikan Si Manis, hingga Sun Kwan harus turun tangan sendiri.
***
Sun Kwan masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang amat bahagia. Belum pernah ia bisa sedekat itu dengan Si Manis, juga dalam waktu yang lama. Kepergian Wan Siang di Kudus malah ia jadikan kesempatan emas untuk mendekati gadis impiannya.
Ia tahu apa jadinya jika Wan Siang tahu. Tentu kakak tirinya itu akan marah, sebab ia mengerti bahwa Wan Siang juga punya perasaan kepada Si Manis. Sebagai seorang lelaki, ia bisa memahami perasaan Wan Siang kepada Si Manis.
Namun Sun Kwan tidak peduli lagi, ia bersedia menghadapi segala bahaya. Ia siap menghadapi Liem Wan Siang.
Siaw Cing melihat Sun Kwan yang baru pulang. Ia mencurigai sesuatu, karena itu ia bertanya sediri kepada kakaknya.
“Koh Sun Kwan dari mana?” tanya Siaw Cing curiga.
“Aku menemuinya,” jawab Sun Kwan dengan wajah tenang.
“Apakah di sana juga ada Koh Wan Siang?”
“Tidak, dia sendirian, dan sedang sakit. Koh Wan Siang hanya ada di rumah hari Sabtu dan Minggu karena ada pekerjaan di Kudus.”
“Apakah Engkoh sadar apa yang Engkoh lakukan, bagaimana jika Koh Wan Siang tahu?”
“Aku tidak takut dengan Koh Wan Siang.”
“Aku mengagumi Koh Sun Kwan karena Engkoh berbudi luhur, seharusnya Engkoh tidak menemui dia saat Koh Wan Siang tidak ada.”
Siaw Cing seperti mewakili kata hati setiap orang yang melihat kejadian antara Sun Kwan dan Si Manis hari ini.
“Lalu, kalau dia sakit dan Koh Wan Siang tidak ada, memangnya aku bisa membiarkannya?”
“Engkoh bisa suruh pembantu di sana untuk mengurus Si Manis.”
“Aku tidak mau. Aku ingin mengurus gadis itu, karena aku sangat peduli dengannya, aku mencintainya.”
“Cinta itu akan menyakiti Engkoh, seperti pisau yang tajam.”
“Aku akan menahan sakitnya, sakit karena rasa cinta itu.”
Menurut Siaw Cing, Sun Kwan telah banyak berubah karena cinta. Sun Kwan sudah tidak peduli lagi batas-batas norma, bahkan tak mempedulikan diri sendiri. Yang jelas itu membuat Siaw Cing sangat sedih.
Curcol:
Sebenarnya jari telunjuk kak otor habis kena benda tajam sehingga harus diplester, padahal itu jari yang biasa digunakan untuk mangetik. Jadi hari ini kak otor menggantikan jari telunjuk dengan jari tengah dalam mengetik, agar hari ini tetap bisa up seperti biasa.
Doakan jari telunjuk di tangan kanan kak otor cepat sembuh ya, karena aneh banget ngetik pake jari tengah.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kak otor dengan memberi like, komen dan vote ya. Kalian luar biasa, kak otor sayang sama kalian semua :)
__ADS_1