Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 34 Ny. Liem bertemu Si Manis


__ADS_3

Ny. Liem tak bisa menerima kenyataan bahwa Wan Siang telah menolak Nona Hu dan malah menerima Si Manis, yang menurut Ny. Liem asal usulnya tidak jelas. Ia membayangkan kemungkinan buruk jika Wan Siang tetap ingin menikahi Si Manis. Bayangan saat orang membicarakan menantunya yang dari kelas bawah telah membuat batin Ny. Liem tersiksa.


Ia tak ingin hal itu terjadi, jadi siang itu ia pergi ke rumah Wan Siang untuk mencari Si Manis. Sengaja ia memakai pakaian yang indah dan perhiasan lengkap untuk menonjolkan kedudukannya sebagai orang kaya, tentu saja disertai sikap angkuh sebagai pelengkap, agar lawan bicaranya menjadi ciut di hadapannya.


Ny. Liem mengira, ketika ia datang dalam penampilan dan sikap seperti itu, Si Manis akan ketakutan dan menuruti semua kata-katanya.


Nyatanya saat Ny. Liem bertemu dengan Si Manis, gadis itu tampak tenang. Tentu jantung Si Manis berdebar-debar melihat penampilan dan tingkah Ny. Liem yang merasa lebih tinggi kedudukannya, tetapi itu belum membuat Si Manis ketakutan hingga ingin menangis.


“Selamat datang Nyonya,” sambut Si Manis setelah Ny. Liem mengatakan kepada pembantunya, ingin menemui perempuan bernama Si Manis.


“Jadi kamu yang bernama Si Manis itu?”


“Benar Nyonya, dulu kita pernah ketemu di sini.”


“Oh aku ingat, kamu perempuan yang aku minta membuat teh dulu itu kan? Apa yang kamu lakukan sampai anakku mau menjadikanmu gundik?”


“Maaf Nyonya, tapi Koh Wan Siang tidak pernah menganggap saya sebagai gundiknya.”


“Berani-beraninya kau menyebut majikanmu dengan panggilan Koh Wan Siang.”


“Dia yang suruh saya panggil dia seperti itu.”


Ny. Liem tentu saja kesal mendengar ada perempuan yang dianggapnya pembantu itu dengan lancar menjawab semua pertanyaannya, seolah ia itu perempuan terpelajar dari golongan priyayi. Biasanya perempuan seperti Si Manis akan menunduk-nunduk ketakutan hanya dengan melihat penampilan luar Ny. Liem saja.


“Aku ndak mau basa-basi lagi. Maksud kedatanganku ke sini karena aku pengen kamu cepat angkat kaki dari sini dan jauhi Wan Siang. Eh, kamu harus tahu diri ya, kamu itu tidak pantes jadi istrinya. Wan Siang mau aku kawinkan dengan Nona Hu, yang sederajat, yang lebih cocok jadi pendampingnya.”


Walaupun kaget dengan omongan Ny. Liem, Si Manis tetap berusaha tenang dan mendengarkan kata demi kata yang menyakitkan itu.

__ADS_1


“Tapi Engkoh menyuruh saya jaga rumah ini, saya harus nurut.”


“Kamu pikir ini rumah siapa? Ini rumahku, Wan Siang itu cuma aku suruh tempati rumah ini. Jadi terserah aku mau terima atau usir orang yang ada di rumah ini.”


Yang dikatakan Ny. Liem memang benar. Rumah yang ditempati Wan Siang adalah salah satu rumah miliknya, yang dibeli sebagai simpanan jangka panjang. Lagi pula punya rumah banyak adalah suatu simbol kekayaan yang nyata.


“Mohon tunggu sampai Engkoh pulang. Kalau saya tidak ada saat dia pulang, nanti dia bingung, Nyonya. Saya datang ke sini baik-baik, kalau saya harus pergi dari sini, saya juga mau pamit baik-baik,” pinta Si Manis.


Itu bukan pertama kalinya Ny. Liem mengusir orang, jadi ia tak mau menerima alasan apapun. Ia tak mau tahu dan tak ingin mempertimbangkan permohonan Si Manis.


“Kalau aku minta kamu pergi sekarang, ya sekarang! Tidak ada tawar menawar. Sana ambil barang-barangmu!” Nada suara Ny. Liem sudah tak bisa dikendalikan lagi, suara teriakannya bisa didengar semua orang lain yang ada di rumah Wan Siang, yang memang sejak tadi sudah menguping pembicaraan.


“Nyonya...”


“Plaakk!!!!”


Sebelum Si Manis bisa melanjutkan kata-katanya, Ny. Liem menampar pipi Si Manis, seolah Si Manis seorang budak yang bersalah kepada majikan.


Seumur hidup, Si Manis tidak pernah diperlakukan oleh sesama manusia seburuk itu. Ayah dan ibu Si Manis juga tak pernah berlaku kasar, apalagi sampai menamparnya. Karena itu pengalaman ditampar pertama kali dalam hidupnya, Si Manis menangis.


“Sakit kan kalau ditampar? Makanya kamu tidak usah mbantah! Awas, kalau kamu berani ngomong lagi, aku akan tampar lagi, sampai kamu nurut!”


Si Manis memang tak berniat berkata-kata lagi, sepertinya mama Wan Siang itu memang wanita kejam dan tak punya perasaan. Pada waktu kecil ia tega membunuh binatang, apalagi cuma menampar anak orang yang dianggap rendahan, tentu itu sangat mudah dilakukannya. Tak pernah dia berpikir mengenai segala akibatnya.


Si Manis lalu masuk ke dalam kamarnya, mengemasi pakaiannya, kemudian memasukkannya ke dalam tas jinjing. Ia membawa serta uang yang dimilikinya dan perhiasan yang pernah diberikan Wan Siang. Tak ada niat sedikitpun untuk menjual perhiasan-perhiasan itu. Jika Si Manis membawanya serta, itu karena ia menganggap semua perhiasan itu adalah kenang-kenangan dari orang yang ia cintai.


Si Manis juga belum pernah merasa terusir sepanjang hidupnya. Tetapi ia yakin, semua hal di dunia sifatnya tidak kekal, hanya titipan semata. Maka ia coba mengikhlaskan apa-apa yang direnggut darinya, termasuk harus meninggalkan rumah Wan Siang pada hari itu.

__ADS_1


Ketika Si Manis hendak keluar dari rumah, Ny. Liem masih berada di dalam ruangan, agar dapat menyaksikan sendiri kalau gadis itu memang benar telah pergi.


“Saya pamit Nyonya.”


Walaupun hati Si Manis sakit, ia tetap berpamitan dengan Ny. Liem. Bagaimanapun wanita itu adalah orang yang telah melahirkan Wan Siang, lelaki yang sangat dicintainya. Ny. Liem tidak mau membalas ucapan Si Manis.


Si Manis akhirnya keluar dari rumah yang menyimpan sejuta kenangan bagi dirinya dan Wan Siang. Ia ingat bagaimana ia dulu datang ke rumah itu. Ia berjalan di belakang Wan Siang dengan kepala menunduk, dan tetap menunduk sampai Wan Siang memerintahkannya untuk mengangkat kepala.


Kala Si Manis keluar dari rumah itu, ia telah menjadi perempuan yang jauh berbeda dari dirinya yang dulu. Di rumah itu, ia diberi makanan yang cukup, pakaian yang layak, juga kasih sayang dan ilmu pengetahuan. Tak ada alasan baginya untuk menundukkan kepala, maka Si Manis menyongsong dunia dengan kepala tegak sambil keluar dari rumah Wan Siang.


Namun walau Si Manis mencoba bersikap setegar mungkin, ia tetap tak mampu membendung air mata yang terus tumpah dari kedua matanya. Sebab di rumah yang baru ia tinggalkan itu ada banyak kenangan bersama Wan Siang.


“Manis, pokoknya kamu jangan pernah meninggalkan aku ya?”


“Memangnya kenapa saya harus meninggalkan Engkoh, kan saya sudah bilang. Saya akan ikut Engkoh ke mana pun Engkoh pergi.”


“Janji ya?”


“Janji Koh.”


Pertanyaan tadi pernah terlontar dari mulut Wan Siang dan dijawab seperti itu oleh Si Manis. Tetapi gadis itu jadi sedih karena tidak bisa memenuhi janjinya. Kira-kira apa yang terjadi jika Wan Siang tahu kalau dirinya kini telah pergi? Si Manis semakin sedih, air matanya semakin deras mengalir di kedua pipinya.


Yang membuat Si Manis masih kuat menatap dunia adalah pesan dari Ny. Tan, guru pribadinya. Jika ia memang benar-benar mencintai Wan Siang, maka ia harus sekuat batu karang. Berapa kalipun ombak menerjang, batu itu tetap teguh. Sebagaimana cintanya kepada Wan Siang yang selalu akan ia pegang teguh, walau apapun yang terjadi.


Rupanya peringatan Ny. Tan akan sifat buruk Ny. Liem terbukti benar adanya. Si Manis sebenarnya sudah berusaha mempersiapkan diri jika suatu hari ia benar-benar bertemu dengan mama Wan Siang. Tetapi ia tak pernah berpikir bahwa ia akan ditampar dan diusir oleh wanita itu.


Di Kudus, Wan Siang sedang melakukan pertemuan bisnis dengan koleganya di rumah makan untuk membahas masalah kontrak dengan satu perusahaan rokok di kota itu, milik orang Tionghoa, yang sedang membutuhkan pemasok untuk pabrik rokoknya yang lumayan besar.

__ADS_1


Wan Siang merasa kerja samanya dengan perusahaan itu akan membuat usahanya semakin berkembang pesat. Keinginannya untuk segera mempersunting Si Manis dan membawanya ke Kudus semakin lama semakin terasa nyata, seolah itu akan segera terjadi.


Perasaan bahagia yang sedang dialami Wan Siang sungguh berlawanan dengan perasaan Si Manis. Dengan menumpang dokar, Si Manis terus saja menangis sepanjang perjalanan menuju rumah di kampungnya. Sebab tak ada lagi tempat untuk ia kembali, kecuali rumah kecil itu.


__ADS_2