Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 49 Kabar gembira


__ADS_3

Paman A Seng baru sempat berkunjung ke rumah Wan Siang. Laki-laki bertubuh gemuk itu senang sekali, keusilannya untuk menggoda Wan Siang dan Si Manis kambuh lagi.


“Tokcer sekali, baru kawin sebentar sudah mau punya anak,” kata A Seng sambil melemparkan senyum usilnya ke arah Wan Siang dan Si Manis.


“Kan semua karena usaha kami yang gigih dan pantang menyerah, Paman,” balas Wan Siang sambil menoleh ke arah Si Manis.


Sampai saat itu Si Manis masih terdiam, tetapi juga tersipu malu. Jika dua orang itu bertemu dan saling melempar candaan yang melibatkannya, ia selalu tak punya kata-kata untuk membalas.


“Tapi Paman tidak tahu, Si Manis sempat sedih waktu itu. Sudah tiga bulan menikah, tapi tak kunjung hamil.”


“Baru tiga bulan.... masih sebentar itu. Banyak lho suami istri yang menunggu bertahun-tahun sampai mereka punya anak.”


Si Manis mendengarkan penjelasan dari Paman A Seng yang banyak pengalaman hidupnya. Memang perkara punya anak itu tidaklah semudah membalik telapak tangan, kalau belum saatnya diberi ya tidak akan dapat. Walaupun segala daya upaya sudah dilakukan, karena semua ada masanya.


“Si Manis juga sempat kerepotan karena hamil, aku jadi kasihan.”


“Sekarang sudah mendingan Koh, bayi yang ada dalam perut saya juga makin lama makin berkembang baik.”


Si Manis memperhatikan kehamilannya yang kini berusia empat bulan, perutnya memang sudah kelihatan sedikit membesar. Di kehamilannya pada bulan keempat, perasaan dan selera makannya sudah semakin membaik. Dengan membaiknya selera makan, bayi yang dikandungnya tumbuh lebih pesat dari sebelumnya. Usia kandungan empat sampai enam bulan biasanya memang membuat kondisi tubuh dan perasaan lebih stabil. Tidak menutup kemungkinan, Si Manis bisa diajak untuk bepergian. Tetapi juga tetap dia tidak boleh terlalu capek.


Yang tidak diketahui Wan Siang adalah, Paman A Seng datang ke rumahnya dengan membawa misi dari Tuan Liem, yang sebelumnya bertanya ke pada Paman A Seng tentang keberadaan Wan Siang.


“Siaw Cing sering sedih memikirkan kakaknya yang menghilang. Apakah kamu tahu keberadaan Wan Siang?” tanya Tuan Liem kepada A Seng.


“Aku juga mau mengabarkan, bahwa Wan Siang sudah menikahi Si Manis secara sah. Sekarang mereka tinggal di Kudus, menyewa rumah bekas orang Belanda. Aku sudah diberitahu alamatnya,” jawab A Seng.


“Kalau begitu, kunjungilah mereka dan beritahu aku tentang keadaan mereka sekarang.”


Setelah mendapat perintah dari Tuan Liem, A Seng yang biasanya sibuk di Temanggung menyempatkan diri untuk mengunjungi Wan Siang dan istrinya. Ia senang melihat Wan Siang yang usahanya semakin berkembang dengan dibantu oleh Kim Hok dan A Ping. Juga karena Si Manis sudah hamil cucu pertama Tuan Liem.


Kala diberitahu perkembangan hidup Wan Siang dan istrinya, Tuan Liem turut merasa bahagia. Dan lebih bahagia lagi karena ia kini tahu alamat tempat tinggal Wan Siang di Kudus.


“Aku senang anak itu sudah semakin baik dan punya kehidupan yang bahagia,” ujar Tn. Liem.

__ADS_1


“Aku ingat, dulu kau selalu mengkhawatirkannya. Apalagi waktu dia masih suka minum dan judi,” kata A Seng.


“Dulu aku mengira anak itu tak ada harapan untuk hidup dengan baik.”


“Seandainya dia tidak bertemu perempuan bernama Si Manis itu, aku yakin hidupnya masih kacau.”


“Apa yang dilakukan Si Manis sampai anakku itu mau berubah?”


“Si Manis perempuan yang lembut dan sederhana, ia sangat sabar menghadapi Wan Siang yang suka berbuat seenaknya.”


“Ah, mereka itu seperti Yin dan Yang, yang satu begitu keras, yang satunya lembut. Karena itu mereka bisa hidup berdampingan dalam keselarasan. Dua hal yang berbeda, tetapi sebenarnya berpasangan. Istriku orang yang keras, jadi aku tidak boleh keras, agar kami dapat selalu hidup berdampingan.”


“Tapi aku juga sedih karena kau tampaknya selalu mengalah.”


“Mengalah bukan berarti kalah, A Seng. Apa jadinya kalau aku juga keras dan selalu ribut dengan istriku? Bisa-bisa hidup kami malah kacau, keluarga tercerai-berai. Wan Siang dan Mamanya sama-sama berwatak keras, saat mereka saling berhadapan, maka keduanya tercerai-berai.”


A Seng merenungi pemikiran Tuan Liem yang bijaksana. Ia sendiri berpikir, jika ia membalas istri-istrinya yang cerewet, tentunya mereka akan selalu bertengkar. Lebih baik diam atau membalas mereka dengan candaan, amarah itu bagaikan api, harus diredam dengan sikap kepala dingin yang laksana air. Mungkin itulah kenapa A Seng sangat lihai dalam bercanda.


Dari cerita A Seng, Tuan Liem tahu bahwa Wan Siang dan Si Manis saling cocok satu sama lain. Si Manis seperti penunjuk jalan bagi Wan Siang untuk menjalankan kehidupan dengan benar. Karena perempuan itu, Wan Siang jadi lebih bertanggung jawab. Karena semua lelaki di dunia ini, diharapkan menjadi pemelihara bagi pasangannya, sehingga diharapkan punya rasa tanggung jawab. Terlebih jika lelaki itu sudah punya keturunan, tentu tanggung jawabnya semakin besar pula.


Jika tak sanggup bertahan dari penderitaan dan pandangan buruk orang lain, ia bisa saja mengorbankan anaknya. Karena itu banyak terjadi pembunuhan terhadap anak yang baru lahir dan juga pengguguran terhadap bayi-bayi yang tak berdosa.


Tuan Liem senang karena Wan Siang menemukan seorang wanita yang dapat menuntunnya di jalan yang benar. Karena itu dia sepenuhnya merestui pernikahan antara Wan Siang dan Si Manis.


Kabar tentang keberadaan Wan Siang akhirnya sampai ke telinga Siaw Cing, membuat gadis itu senang bukan kepalang, terlebih lagi saat mendengar kabar bahwa Si Manis tengah mengandung keponakannya.


“Aku akan jadi seorang bibi?” Siaw Cing hampir tidak percaya, bahwa di usianya yang masih belia, ia akan jadi seorang bibi.


“Dan Papa akan punya cucu, cucu pertama Papa,” Tuan Liem juga terlihat bahagia.


“Kapan kita akan mengunjungi mereka, Pa?”


“Papa akan cari cara supaya kita bisa ke Kudus, Sun Kwan juga boleh ikut. Yang penting Mamamu jangan sampai tahu.”

__ADS_1


“Oh aku tahu, nanti kita pakai alasan kalau kita ingin plesiran ke luar kota, pada saat Mama harus pergi ke pesta temannya. Teman-temannya itu kan sering mengadakan pesta, Pa. Pasti Mama tidak mau ketinggalan.”


“Idemu sangat bagus. Nanti kita atur waktunya, begitu kita tahu kapan Mamamu harus pergi ke pesta temannya.”


Siaw Cing sudah bersekongkol dengan Papanya, lalu ia mengatakan rencananya itu kepada Sun Kwan. Sun Kwan sangat senang mendengar kabar terbaru Wan Siang, seolah itu melengkapi kebahagiaan yang sedang ia nikmati selama ini bersama dengan Ai Lien.


“Aku senang sekali mendengarnya,” kata Sun Kwan.


“Nanti kita akan bertemu Koh Wan Siang dan Si Manis, aku yakin, sekarang kalau Engkoh melihat Si Manis, tentunya perasaan Engkoh kepadanya sudah berubah,” ujar Siaw Cing.


“Sekarang aku menghormati Si Manis sebagai kakak ipar. Aku turut berbahagia dengan pernikahan mereka.”


“Berkat Nona Hu, sekarang Engkoh jadi lebih tampak bahagia.”


“Tapi aku masih kepikiran, apakah orangtua mereka bakal setuju kalau aku melamarnya. Aku kan belum mapan.”


“Apa Engkoh sudah bilang kepada Papa kalau Engkoh ingin melamar Nona Hu?”


“Belum.”


“Katakanlah rencana Engkoh itu kepada Papa. Aku yakin Papa mau membantu.”


“Tapi bagaimana dengan Mama? Aku takut dia tidak setuju.”


“Jangan pikirkan itu dulu, sekarang kita bertiga tampaknya ada di pihak yang sama. Aku, Papa dan Engkoh. Papa pasti akan mau membantu Engkoh.”


“Semoga saja, aku akan coba bilang ke Papa dulu.”


Siaw Cing berusaha meyakinkan Sun Kwan untuk berani mengatakan maksud hatinya kepada sang ayah. Menurutnya Tn. Liem adalah ayah yang baik. Siaw Cing juga tahu kalau selama ini Papanya sangat menyayangi Sun Kwan. Karena merasa bersalah ke mamanya Sun Kwan, lelaki itu jadi lebih menyayangi dan memperhatikan Sun Kwan dibandingkan Wan Siang.


****


Pengumuman dari Kak Otor:

__ADS_1


Halo para readers yang budiman, kali ini Kak Otor mau minta izin 3 hari untuk libur ya, dikarenakan Kak Otor harus pergi ke Bengkulu karena ada urusan keluarga. Tentunya di sana nanti ada banyak hal yang perlu Kak Otor kerjakan dan harus fokus dengan kegiatan di Bengkulu. Kak Otor akan kembali up pada hari Senin. Atas pengertiannya, Kak Otor ucapkan banyak terima kasih.


__ADS_2