
Setelah pertemuan kedua itu, Siaw Cing dikejutkan dengan datangnya hadiah-hadiah dari Antony yang diantarkan ke rumah keluarga Liem oleh jongos keluarga Gwie. Dalam hati Siaw Cing berpikir, kenapa harus suruh orang mengirim hadiah untuknya dan kenapa Antony mengirim hadiah kepadanya walaupun dia tidak sedang berulang tahun?
Yang datang berupa karangan bunga, atau kotak hadiah berisi buku, kue dan yang terakhir adalah gaun putih gaya Eropa. Bersamaan dengan gaun putih itu terdapat amplop berisi sepucuk surat perihal permintaan Antony agar Siaw Cing menemaninya pergi ke suatu pesta, dengan mengenakan gaun hadiah itu. Pesta itu sendiri diadakan hari Sabtu, pukul tujuh malam, sekitar tiga hari lagi sejak gaun itu diterima Siaw Cing.
“Ada-ada saja orang itu. Baru sekali datang ke sini, permintaan sudah macam-macam,” gumam Siaw Cing.
Tetapi karena gaun itu sangat cantik, Siaw Cing jadi penasaran ingin mencobanya. Dibawalah gaun putih itu ke kamar dan dipakainya. Gadis itu heran, kenapa gaun itu pas di badannya, seolah Antony sudah paham betul ukuran tubuh wanita, membuat Siaw Cing jadi curiga.
“Apa dia datang ke sini dulu sambil meneliti bentuk dan ukuran tubuhku?”
Entah kenapa Siaw Cing senang sekali melihat dirinya dalam gaun putih pemberian Antony, seperti seorang putri raja dari negeri dongeng. Antony punya selera yang bagus dalam hal berpakaian, dan ternyata bisa memilih gaun yang indah untuk seorang gadis remaja.
***
Antony harap-harap cemas di rumahnya. Ia takut kalau Siaw Cing tidak suka hadiah-hadiah yang ia berikan. Apalagi hadiah itu diberikan dengan perantara seorang jongos, bukan diberikan sendiri. Ia juga tak mengerti, kenapa ia punya keinginan untuk memberikan hadiah-hadiah itu untuk seorang gadis yang baru bertemu dua kali dengannya.
Yang membuat Antony lega adalah tak ada satu pun hadiah yang dikembalikan. Berarti Siaw Cing menerimanya dengan baik.
Soal mengajak ke pesta pada hari Sabtu malam, Antony bagaikan bertaruh di meja judi. Ia punya rencana menjemput Siaw Cing di rumahnya pukul setengah tujuh malam. Gadis itu bisa saja menerima ajakannya, atau malah memarahinya dan menyuruhnya pulang.
Siaw Cing amat membuat Antony penasaran, hingga menyita pikiran pemuda itu siang dan malam. Gadis itu begitu apa adanya dan tak mudah memberi perhatian kepada Antony. Padahal biasanya para gadis berlomba-lomba untuk merebut perhatiannya dengan penampilan mereka.
Antony sudah terbiasa dengan berbagai macam pesta sejak kecil, dari pesta ulang tahun hingga pesta yang diadakan oleh para pejabat Hindia Belanda untuk anak-anak mereka. Pesta yang penuh dengan hingar bingar dan kehidupan elit kelas atas. Semua gadis berdandan, bibir mereka diolesi oleh gincu aneka warna dengan bedak tebal, alis dibentuk begitu rupa dan pipi merah hasil polesan. Mereka semua tampak cantik bak boneka, hingga susah mencari wajah-wajah asli. Semua bersembunyi di balik topeng riasan yang tebal.
Namun Siaw Cing pada pesta pernikahan kakaknya tampil begitu polos, dengan kulit khas remaja yang tampak murni dan tidak berlebihan. Nyonya Liem tadinya ingin mendandani Siaw Cing, tapi anak perempuannya itu tak mau didandani secara berlebihan, cukup bedak tipis-tipis dan sedikit sekali gincu dengan warna merah muda yang mendekati warna asli bibirnya sendiri. Alisnya masih asli, tak pernah sekalipun dicukur atau digambar dengan pensil. Begitulah kemurnian wanita yang selama ini ingin dilihat oleh Antony Gwie.
***
“Mama, ada seorang pemuda yang mau mengajakku pergi ke pesta, bagusnya aku terima atau tidak ajakannya?” tanya Siaw Cing kepada Nyonya Liem.
Ny. Liem kaget mendengar Siaw Cing berkata demikian. Tidak ada hujan, tiada angin tiba-tiba secara ajaib ada seorang lelaki yang bermaksud mengajak gadis polos itu berpesta.
“Siapakah dia, yang dengan percaya diri mengajak anak Mama?”
__ADS_1
“Aku juga heran Ma. Padahal baru dua kali ketemu, sudah berani ngajak keluar berpesta. Mungkin dia bukan orang asli Semarang, tingkahnya itu tidak mencerminkan pemuda Semarang pada umumnya.”
“Siapa namanya?”
“Dia bilang namanya Antony Gwie.”
Nyonya Liem tak asing lagi dengan nama marga di belakang nama Antony itu, tapi ia belum begitu yakin apakah itu marga Gwie yang terkenal.
“Bagaimana penampilannya?”
“Memakai pakaian gaya Eropa, seperti Koh Wan Siang sekarang dan logatnya itu, sepertinya agak beda dengan logat orang Semarang pada umumnya.”
Orang yang sejak kecil di sekolahkan di Belanda seperti Antony tentu akan memiliki gaya bahasa dan logat yang berbeda dengan pemuda Tionghoa yang lahir dan tinggal di Semarang pada umumnya. Tetapi setahu Ny. Liem, anak-anak keluarga Gwie memang disekolahkan di Belanda agar menerima pendidikan terbaik.
Keluarga Gwie memiliki anggota keluarga yang tinggal di Belanda, yang bisa menampung Antony sembari menjalani pendidikan di sana. Pemuda itu selama di Belanda tinggal dengan paman dan bibinya. Pamannya orang Belanda yang menikah dengan adik perempuan ayah Antony.
Walaupun Antony sudah lama tinggal di Belanda, tetapi ia tak berkeinginan menikah dengan seorang gadis Eropa. Ia tetap bercita-cita pulang ke Semarang dan membantu usaha keluarga, serta menikah dengan seorang perempuan Tionghoa.
Antony sudah kembali pulang dan bekerja di perusahaan keluarganya sesuai keinginannya, namun ia tak kunjung menemukan gadis Tionghoa di Semarang yang ia suka, sampai ia melihat Siaw Cing pada pesta pernikahan Sun Kwan.
***
Nyonya Liem barulah percaya bahwa Antony adalah anak keluarga Gwie yang terkenal itu saat datang menjemput Siaw Cing. Ny. Liem menemui Antony saat lelaki itu datang, sementara Siaw Cing masih bersiap-siap di dalam kamarnya. Ny. Liem mengusulkan kepada Siaw Cing agar menerima ajakan Antony, karena wanita itu penasaran dengan sosok Antony.
Ny. Liem tentu tahu Antony adalah anak dari pemilik NV Gwie Ting Tjiang, karena pernah melihatnya bersama Tuan Gwie di pesta pernikahan Sun Kwan, hanya saja ia tidak tahu kalau namanya adalah Antony.
“Oh, rupanya kau adalah anak Tuan Gwie, aku baru tahu kalau namamu adalah Antony,” kata Ny. Liem.
“Sebenarnya Antony hanya nama panggilan saja, bukan nama lahir saya. Nama saya yang sebenarnya adalah Gwie Ting Tjiang, sama dengan nama perusahaan keluarga saya.”
“Jadi nama Antony seperti nama samaran begitu?”
“Hahaha... benar Nyonya, agar orang tidak mengingat saya sebagai nama perusahaan.”
__ADS_1
Sekarang Ny. Liem memahami asal-usul nama Antony. Mendengar kenyataan itu hatinya senang bukan kepalang, bagaikan mendapat durian runtuh. Sepertinya Antony menyukai Siaw Cing, yang mana itu hal yang sangat baik. Sesuai harapan Ny. Liem. Hanya saja Siaw Cing masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Siaw Cing akhirnya keluar dan menemui Antony yang mengenakan setelan jas serba putih, sebagaimana warna gaun yang dihadiahkan Antony untuk Siaw Cing, yang kini sedang dipakai gadis itu.
Siaw Cing tampak cantik, walau tampil tanpa riasan berlebihan. Kali itu ia mau memakai perhiasan untuk melengkapi gaunnya. Kalau perhiasan dipakai sebentar tidaklah mengapa, pikir Siaw Cing.
Antony memperhatikan Siaw Cing dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gadis itu sangat mempesona malam itu, jauh sekali dengan penampilannya sehari-hari di rumah.
Seperti seorang pangeran dari negeri dongeng, Antony menengadahkan tangannya agar Siaw Cing mau memberikan tangannya untuk digandeng. Siaw Cing menoleh ke arah mamanya dulu untuk minta persetujuan, Ny. Liem mengangguk sehingga gadis itu akhirnya mau memberikan tangannya untuk Antony.
“Aku senang kau mau menerima undanganku ke pesta.”
“Sebenarnya ini pesta apa?” tanya Siaw Cing.
“Pesta ulang tahun anak Residen Semarang.”
“A... Apa?!”
Siaw Cing tidak menyangka kalau ia akan dibawa ke pesta kalangan atas Semarang. Residen adalah satu tingkat di bawah Gubernur Jenderal dalam sistem pemerintahan Hindia Belanda. Pemegang jabatannya orang Belanda. Tak heran kalau Antony memberinya hadiah berupa gaun bergaya Eropa.
Ny. Liem tersenyum melihat tingkah Siaw Cing yang masih begitu awam dengan pergaulan kalangan atas di Semarang.
“Nanti kau akan terbiasa, jangan gugup begitu,” nasehat Ny. Liem kepada Siaw Cing.
“Kenapa tak bilang dulu kalau kita akan ke pesta anak Residen, aku sekarang jadi gugup sekali,” kata Siaw Cing kepada Antony.
“Maaf, aku sengaja tidak mengatakannya sebagai kejutan.”
“Ya... sekarang aku terkejut sungguhan, sepertinya kau puas.”
Antony tertawa mendengar Siaw Cing berkata begitu. Siaw Cing mau tidak mau harus berjalan dalam gandengan Antony sesuai etiket gaya barat. Siaw Cing tidak pernah mengira kalau ia harus mengalami hal-hal mengejutkan seperti ini dalam hidupnya. Hidupnya benar-benar berubah dengan kedatangan Antony Gwie.
Antony datang ke rumah keluarga Liem dengan mengendarai mobil Daimler berwarna hitam. Hanya orang-orang yang sangat kaya saja yang bisa punya mobil kala itu. Keluarga Siaw Cing saja hanya punya kereta kuda. Mobil Daimler harus dipesan dulu dari Eropa, dan harganya serta pengirimannya tentu tidaklah murah.
__ADS_1
Kini Antony dan Siaw Cing duduk di jok belakang sopir, di dalam hatinya Siaw Cing begitu gugup karena ini pertama kalinya ia pergi dengan seorang laki-laki, ke pesta anak Residen pula.