
Bulan-bulan pertama Si Manis mengandung adalah masa yang paling menantang bagi dirinya sebagai seorang wanita. Perubahan perasaannya sering tidak terduga, kadang ia merasa bahagia karena telah berhasil mengandung benih laki-laki yang dicintainya. Di sisi lain, ia kadang merasa sedih kala sendirian, terutama ketika Wan Siang sedang bekerja di luar.
Ia ingin sekali mengungkapkan semua perasaan dan keluhannya kepada keluarga terdekat, sewaktu merasa pusing, susah makan dan tiba-tiba sedih tanpa sebab. Ia sengaja menyembunyikan keluhannya dari Wan Siang, sebab ia tak ingin membebani suaminya. Tetapi manusia memiliki keterbatasan, kadang ia menangis sendirian.
Dalam pengetahuan orang Jawa, seorang wanita hamil diharapkan memiliki mar dan marmati. Mar adalah daya pendorong saat seorang ibu mengejan ketika melahirkan jabang bayi, sedangkan marmati adalah daya yang membuat seorang ibu memiliki kesabaran untuk memelihara jabang bayi di kandungannya, sekaligus menahan rasa sakit saat melahirkan.
Tetapi walaupun begitu, wanita tetap makhluk Tuhan yang kadang merasa lemah, meskipun kadang memiliki kekuatan tak terduga, bahkan melebihi laki-laki. Apalagi semenjak Si Manis sering mual dan muntah, dia jadi lemah dan tidak berdaya.
Jika suatu cerita berhenti pada waktu pemeran utamanya menikah, bisa dibilang cerita itu belum bisa menggambarkan kehidupan yang sesungguhnya. Karena banyak orang berkata, awal kehidupan sebenarnya itu pada saat seseorang menikah. Tantangannya pasti sangat berbeda dibandingkan saat belum menikah.
Wan Siang dan Si Manis sedang menghadapi kenyataan hidup, yang bisa dibilang membahagiakan, tetapi bukan pula jenis kebahagiaan yang sempurna tanpa cela. Sebab kebahagiaan seperti itu tidak mungkin ada di dunia, melainkan hanya ada di dalam surga, setelah seseorang mengalami kematian. Itu juga masih tergantung amal perbuatan.
Si Manis malam itu menyelinap keluar kamarnya meninggalkan Wan Siang yang tertidur lelap di sampingnya. Ia merasa pusing dan lemah, sebab hanya mampu makan sedikit, akibat lidahnya yang merasa kurang enak mengecap makanan. Segala hal terasa salah, misalnya hidungnya jadi terlalu peka terhadap bau, sehingga bau yang seharusnya wajar menjadi terasa tajam menusuk hidung. Makanan yang tadinya selalu nikmat, menjadi tidak enak. Padahal Si Manis sedang butuh banyak makan. Rasa pusing, mual, dan muntahnya juga begitu menyiksa.
Si Manis sedih memikirkan kondisi tubuhnya yang lemah dan tidak dapat makan banyak. Ia takut anaknya tidak bisa berkembang baik di dalam perutnya. Perempuan itu menangis karena sudah berada dalam ambang batas kesabaran perasaannya.
“Aku kangen Bapak dan Ibu...” Si Manis menggumam dalam kesendiriannya.
Bapaknya meninggal karena penyakit asma yang dideritanya, sedangkan ibunya meninggal ketika melahirkan bayi yang seharusnya menjadi adik Si Manis. Bayi itu meninggal beberapa menit setelah dilahirkan, disusul ibunya yang kehilangan banyak darah.
Si Manis saat itu baru berumur delapan tahun, dan saat mendengar ibu dan adiknya meninggal di hari yang sama, langit seakan runtuh menimpanya. Kemudian kenangan pahit itu sering terbayang di dalam benaknya, bagaimana kalau ia bernasib sama seperti ibunya?
Bayangan-bayangan kelam tentang kematian menghantui Si Manis, membuat dirinya khawatir secara berlebihan.
Tetapi malam itu Wan Siang terbangun ketika menyadari Si Manis tak berada di sampingnya. Ia mencari-cari istrinya dan menemukan wanita itu di ruang tengah, sedang duduk sambil menghapus air matanya seorang diri.
“Manis... kenapa menangis?” tanya Wan Siang.
“Maaf Koh, saya tidak bermaksud membuat Engkoh khawatir,” jawab Si Manis.
“Kalau ada apa-apa bilang saja, aku kan suamimu.”
Si Manis kembali menangis, kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Wan Siang dengan sigap berusaha menenangkannya dengan memeluk istrinya.
__ADS_1
“Saya takut Koh...”
“Takut apa?”
“Dulu ibu saya meninggal karena melahirkan. Saya takut, kalau saya juga bernasib sama.”
Zaman itu angka kematian ibu dan bayi memang masih sangat besar, sehingga seorang wanita belum tentu bisa selamat dari proses persalinan yang penuh penderitaan. Kebanyakan mereka melahirkan di rumah dengan bantuan dukun bayi atau bidan setempat, dengan peralatan yang kurang memadai.
Wan Siang dapat memahami ketakutan istrinya, sebab hal serupa juga tak asing di dalam keluarganya. Mamanya Sun Kwan juga meninggal setelah melahirkan, untung Sun Kwan waktu itu selamat.
“Tenanglah Manis... saat ini memang kamu harus banyak bersabar, aku tahu kamu mengalami masa yang sulit.”
Wan Siang tahu kalau Si Manis mengalami berbagai kesulitan, apalagi kalau pagi tiba, pasti Si Manis akan sering-sering ke kamar mandi untuk muntah, membuatnya lemah dan wajahnya menjadi pucat pasi.
“Kamu jangan suka berpikir tentang kematian. Kalau kamu sedih, nanti anak kita yang ada di dalam perutmu juga akan sedih. Sekarang pikirkan yang membahagiakan saja, bayangkan kalau anak itu lahir. Pasti kamu akan senang lihat wajahnya.”
“Kira-kira wajahnya bakal seperti siapa ya?”
“Mungkin seperti kamu, kamu kan mamanya.”
Secara tidak langsung, Wan Siang mendengarkan Si Manis yang sedang memuji dirinya.
“Tapi aku juga kepengen kalau anakku punya wajah seperti ibunya yang ayu.”
“Anak kita nanti laki-laki apa perempuan ya Koh?”
“Laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting kamu yang menjadi mamanya.”
Kata-kata Wan Siang ternyata cukup ampuh untuk menghibur Si Manis. Pikiran Si Manis tentang kematian lambat laun memudar, berubah menjadi pemikiran tentang lahirnya kehidupan baru, bayinya yang nanti akan dilahirkan.
Segala permasalahan hidup memang awalnya berasal dari pikiran, lalu membuat kondisi badan menjadi buruk. Setelah mencoba berubah pikiran, dengan memikirkan hal-hal baik, kondisi tubuh Si Manis menjadi lebih baik. Setiap masalah juga terdapat penyelesaiannya.
Misalnya saat Si Manis merasa mual dan ingin muntah, ia akan merasa lebih enak jika mengisap permen dari campuran asam jawa dan gula pasir. Kala merasa lemah ia akan memperbanyak memakan sayur dan buah-buahan. Sebab lidah Si Manis cenderung dapat menerima berbagai jenis sayuran dan buah-buahan, karena itu pembantunya sering membuatkan rujak buah, urap dan pecel sayur.
__ADS_1
Wan Siang juga sering menanyakan kondisi tubuh dan kejiwaannya. Apakah dia sedang merasa senang atau sedih. Selain tubuh yang sehat, kondisi kejiwaan seorang ibu juga sangat penting.
“Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya Wan Siang.
“Sudah jauh lebih baik Koh, sekarang saya sudah tidak berpikir yang aneh-aneh.”
“Kalau ada apa-apa, jangan sungkan-sungkan untuk cerita. Sekarang kamu dan bayi kita adalah tanggung jawabku.”
“Iya Koh, tetapi bagaimana dengan pekerjaan Engkoh sendiri? Saya juga ingin Engkoh bisa cerita tentang pekerjaan Engkoh.”
“Aku baru saja terima pegawai baru, yang nanti akan banyak bantu aku memasarkan tembakau dan menjalin kerja sama dengan pabrik rokok. Dia keponakan Paman A Seng, namanya A Ping. Orangnya lucu seperti Paman A Seng.”
“Oh ya...saya jadi penasaran, orangnya kayak apa.”
“Bisa dibilang, dia itu seperti paman A Seng tapi lebih muda.”
Setelah menemukan Oey Kim Hok sebagai tenaga pembukuan yang bisa diandalkan, Wan Siang akhirnya bertemu dengan orang yang tepat untuk membantunya dalam hal pemasaran, yaitu A Ping. Bentuknya kurang lebih mirip Paman A Seng, tubuhnya agak gempal dan jenaka.
Begitu berkenalan dengan A Ping, Wan Siang segera menemukan kecocokan, seolah ia sudah mengenal A Ping dalam waktu yang lama. A Ping juga sangat pandai bicara dan membuat orang tertarik dengan apa yang ia bicarakan. Selain itu A Ping juga punya ide-ide segar.
“Begini Tuan, saya ada ide yang mungkin bisa Tuan pertimbangkan,” kata A Ping.
“Katakan.”
“Saya akan coba menawarkan tembakau milik Tuan ke bagian pembelian pabrik-pabrik rokok, tapi... sepertinya alangkah baiknya kalau kita sedikit mendorong orang bagian pembelian itu.”
“Dengan cara apa?”
“Kita beri mereka komisi paling tidak satu persen dari total pembelian. Pasti mereka akan semangat mengusulkan pembelian tembakau kita kepada pemilik pabrik rokoknya.”
Wan Siang memikirkan usul A Ping yang menarik itu, kemudian dia berbicara lagi.
“Dan untuk membuatmu bersemangat menjual, aku akan berikan komisi sebanyak satu persen dari setiap transaksi yang berhasil,” ujar Wan Siang.
__ADS_1
Seketika mata A Ping menjadi bersinar, kepalanya langsung menghitung-hitung, kira-kira berapa uang yang bisa ia terima dari menawarkan tembakau milik Wan Siang.
Strategi Wan Siang sebenarnya cukup bagus. Walaupun keuntungannya bisa berkurang dua persen dalam setiap transaksi, tapi kalau dilihat dari kemungkinan banyaknya transaksi yang akan berhasil, bisa jadi ia akan mendapat keuntungan dengan jumlah yang lebih besar dari sebelumnya.