
Siaw Cing buru-buru menarik tangannya yang dari tadi digandeng oleh Antony.
“Sebenarnya aku tidak perlu digandeng, kaki dan tanganku baik-baik saja, bisa jalan sendiri,” kata Siaw Cing.
“Di Eropa, ini sudah biasa. Oh... aku lupa, ini di Semarang, beda dengan Belanda. Ngomong-ngomong adakah laki-laki yang pernah menggandengmu?” tanya Antony.
“Ada.”
“Siapa?”
“Dua kakakku. Tapi itu dulu, waktu aku masih kecil.”
“Setelah besar, kamu pernah digandeng siapa?”
“Tidak ada, aku tidak punya teman laki-laki.”
Betapa bahagianya hati Antony ketika mendengarnya, gadis itu ternyata masih murni. Pantas saja ia tidak begitu mempedulikan penampilan, ternyata memang tidak ada dorongan untuk melakukanya.
“Pantas saja, ternyata kamu masih polos. Bagus.”
“Kau bilang apa, bagus?”
“Iya bagus, berarti aku punya kesempatan untuk jadi teman laki-lakimu yang pertama.”
“Siapa bilang aku setuju untuk menjadikanmu teman. Kita hanya kenalan, kalau kamu sudah terbukti baik sebagai kenalan, baru aku akan menganggapmu teman.”
“Kalau begitu, beri aku waktu dan kesempatan untuk membuktikan diri sebagai kenalan yang baik.”
“Sebenarnya ini aku sudah berbaik hati kepadamu, mau diajak pergi ke pesta orang yang tidak aku kenal. Pasti bakal canggung sekali, uh,” dengus Siaw Cing.
“Ternyata kau adalah perempuan yang sulit ditaklukkan.”
Siaw Cing menoleh ke arah Antony yang dari tadi tak lepas dari memandangi wajahnya dengan mata yang berbinar-binar.
“Jadi tujuanmu ingin menaklukkan aku?”
“Maaf kalau kata-kataku agak menyinggung, seharusnya aku tidak bilang menaklukkan. Aku cuma ingin dekat denganmu,” ujar Antony.
“Ada ribuan gadis di luar sana. Bahkan aku saja tidak menganggap diriku cantik, kenapa memilih aku untuk kau dekati?”
“Karena kau berbeda, dan siapa bilang kau tidak cantik?”
“Hahaha... Koh Wan Siang dulu sering bilang, hei Siaw Cing adikku yang paling jelek. Lalu Koh Sun Kwan bilang, Siaw Cing adikku yang lucu. Tidak ada yang bilang aku cantik.”
“Berarti aku orang pertama yang menganggapmu cantik.”
Siaw Cing seperti nyaris kehilangan kata-kata saat mendengar Antony berkata begitu, tiba-tiba ia merasa malu, pipinya menjadi panas seketika. Kemudian ia mencoba mengatur nafas agar hatinya jadi lebih tenang. Kata-kata macam apa itu hingga bisa mengacaukan hatinya?
“Sepertinya kau ini amat pandai merayu dan menaklukkan wanita ya?”
__ADS_1
“Tidak juga, aku ini orang yang suka mengutarakan apa yang ada dalam pikiranku. Kalau aku bilang cantik, ya berarti kamu cantik sungguhan.”
Perasaan Siaw Cing jadi semakin kacau, lalu ia menangkupkan kedua telapak tangannya ke depan mukanya sendiri, ia belum pernah merasa begitu malu seperti saat itu, sampai dalam hati berulang kali dia berkata “Aiya!”
“Kau ini sudah pernah punya berapa kekasih?” tanya Siaw Cing.
“Aku sejak kecil tinggal di Belanda, aku kenal dengan banyak gadis Belanda, tapi... karena cita-citaku menikah dengan perempuan Tionghoa Semarang, seperti ibuku, jadi aku tidak pernah punya kekasih.”
“Kau kira, aku bisa kau bohongi?”
“Aku tidak suka bohong, apa untungnya bohong denganmu?”
Siaw Cing terdiam lagi, kalau dari cara bicaranya yang lugas dan tanpa ragu, sepertinya Antony tidak berbohong.
“Bukankah banyak gadis Tionghoa di Semarang ini, kenapa mengajak aku ke pesta?”
“Karena, kau satu-satunya yang menarik perhatianku. Aku tidak tertarik dengan yang lainnya. Boleh dibilang, aku suka denganmu.”
“Apa?!”
Siaw Cing tak menyangka kalau laki-laki itu dengan mudahnya berkata seperti itu, sekarang bukan hanya hati Siaw Cing yang kacau, bahkan jantungnya seperti mau lepas.
“Kuharap kau juga menyukai aku, jadilah istriku,” kata Antony.
“Aku heran... kenapa ada orang sepertimu di dunia ini. Rasa percaya dirimu itu, terlalu tinggi.”
“Iya...tapi, kau berkata begini saat kita baru tiga kali ketemu. Baru tiga kali bertemu, sudah meminta aku jadi istri, sungguh mengejutkan.”
“Kalau begitu, kau butuh berapa kali pertemuan lagi, supaya mau jadi istriku?”
“Ini... ini bukan masalah berapa kali ketemu. Ini masalahnya, aku saja tidak tahu siapa dirimu. Aku tidak mau membeli kucing dalam karung. Sejauh ini aku cuma tahu kalau namamu adalah Antony Gwie.”
Antony Gwie tertawa mendengar pengakuan Siaw Cing. Ia memang belum banyak menceritakan tentang dirinya kepada Siaw Cing, pantas saja gadis itu begitu kaget saat ia berkata ingin menjadikannya istri.
“Oh... jadi itu masalahnya. Eh... apakah kau tahu rokok merk “Kapal Lajar”?
“Ya, aku juga tahu pabriknya di mana, semua orang di Semarang juga tahu itu,” ujar Siaw Cing.
“Permulaan yang bagus. Nah... aku bekerja di pabriknya.”
“Oh, jadi pekerjaanmu di pabrik rokok itu, di bagian apa?”
“Pabrik rokok itu sebenarnya adalah perusahaan bernama NV. Gwie Ting Tjiang, dan Gwie Ting Tjiang itu adalah namaku. Pendirinya adalah Papaku, Gwie Sin Boen.”
Siaw Cing terperangah mendengar penjelasan Antony, lalu dia memperhatikan seisi mobil itu, mobil itu tentunya milik keluarga Gwie yang memang sangat kaya raya.
“Tuan, kita sudah sampai,” kata sopir Antony.
“Parman, kau langsung pulang saja, nanti pulangnya aku mau nyetir sendiri.”
__ADS_1
“Baik Tuan, selamat malam.”
Siaw Cing mendengar percakapan dua orang itu. Orang yang bernama Parman itu tampak sangat menghormati Antony. Jadi memang Antony adalah Tuan Muda Gwie, pemilik NV Gwie Ting Tjiang. Sekarang perasaan Siaw Cing tambah kacau, selain kaget mendengar latar belakang Antony, gadis itu juga malu karena selama ini ia telah berpikir yang tidak-tidak, bahkan sempat berpikir kalau Antony hanyalah laki-laki perayu.
Begitu memasuki rumah Residen, pemandangan yang luar biasa tampak di hadapan Siaw Cing. Rumah Tuan Residen begitu luas dan indah, dipenuhi dengan para nona dan tuan Belanda dengan pakaian yang serba indah. Alunan musik berbahasa Belanda mengalun merdu, sedangkan pencahayaan di ruangan yang berasal dari lampu-lampu kristal membuat suasana jadi hangat.
Pesta di rumah tuan Belanda tak lengkap tanpa acara dansa, dan di tempat itu, disediakan ruang sebagai lantai dansa. Muda-mudi yang sebagian besar orang Belanda mulai berpasang-pasangan dan berdansa mengikuti musik yang mengalun indah.
Antony menengadahkan tangannya lagi di hadapan Siaw Cing.
“Maukah kau berdansa denganku, Siaw Cing?”
Tak sopan rasanya jika Siaw Cing tidak menanggapi permintaan Tuan Muda Gwie yang santun itu. Jadi Siaw Cing memberikan tangannya kepada Antony dan menuruti keinginannya untuk berdansa.
Saat Berdansa dengan iringan musik yang mengalun lembut, menyebabkan posisi tubuh Siaw Cing dan Antony menjadi sangat dekat satu sama lain. Antony merengkuh pinggang Siaw Cing yang ramping dan keduanya melangkah mengikuti alunan musik. Siaw Cing pernah diajari dasar-dasar berdansa oleh guru yang didatangkan oleh Ny. Liem. Ternyata ilmu berdansa Siaw Cing akhirnya terpakai juga hari ini.
Berdekatan dengan Antony seperti itu membuat pipi Siaw Cing merona kemerahan, apalagi dari tadi pandangan Antony tak pernah lepas darinya. Ini seperti dalam cerita dongeng saja. Siaw Cing seperti berdansa dengan seorang pangeran. Antony sangat bahagia bisa membawa Siaw Cing sampai ke titik itu, dari tadi ia tersenyum, seolah Siaw Cing sudah menjadi istrinya.
“Maaf... aku selama ini sebenarnya curiga padamu, aku kira kau laki-laki penggoda yang mau memanfaatkan gadis yang tak berpengalaman sepertiku.”
Antony tersenyum sambil memaklumi pemikiran Siaw Cing.
“Mungkin karena aku lama tinggal di Eropa, sehingga caraku berbeda dari laki-laki di Semarang.”
“Mungkin saja, aku belum pernah bertemu dengan orang seberani dirimu,” kata Siaw Cing.
“Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan sikapku. Jangan anggap aku aneh lagi ya...”
Siaw Cing mengangguk, dan berusaha memahami karakter Antony yang dibentuk oleh budaya Eropa.
Setelah selesai dengan pesta dansa, Antony menyetir sendiri untuk memulangkan Siaw Cing. Gadis itu duduk di kursi di sebelah Antony. Menikmati pemandangan malam bersama Antony di dalam mobil yang dijalankan dengan pelan.
“Apa sekarang aku sudah boleh jadi temanmu?” tanya Antony.
“Boleh.”
“Berarti, aku boleh sering-sering pergi ke rumahmu dan membawamu jalan-jalan keluar?”
“Ya, tapi aku harus izin Mama dulu.”
“Oh, tentu... aku juga akan meminta izin kepada Mamamu. Nanti kita akan sering bepergian dengan mobil ini. Apa kau suka naik mobil?”
“Ya, aku suka. Lebih nyaman daripada naik kereta kuda, guncangannya lebih sedikit.”
“Aku juga ingin sekali berpetualang denganmu, pasti akan sangat menyenangkan.”
Tawaran Antony itu sangat menarik, karena Siaw Cing sebenarnya suka jalan-jalan melihat dunia luar. Terlalu lama di rumah membuatnya bosan, apalagi sekarang kakak-kakaknya sudah pindah. Antony adalah tiketnya menuju dunia luar yang sangat menarik di mata Siaw Cing.
Karena suasana malam hari begitu menenangkan, tiba-tiba timbul keinginan Antony untuk memegang tangan Siaw Cing. Dipeganginya tangan Siaw Cing di sela-sela menyetir, seolah tak ingin kehilangan gadis itu. Kini Siaw Cing sudah merelakan tangannya untuk digenggam oleh Antony, sebab hatinya merasakan kebahagiaan pada saat tangannya berada dalam genggaman pemuda itu. Rasanya begitu nyaman.
__ADS_1