Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 3 Si Manis dan Si Pemabuk


__ADS_3

Hari sebelumnya Parjiyem yang sekarang dipanggil Si Manis dibawa ke Pecinan untuk dibelikan baju baru dan juga ditraktir mie ayam terenak di daerah itu. Sebagai perempuan, tentu saja dia senang punya banyak baju baru dan tiada hari tanpa makan enak setelah dirinya ikut Tuan Muda Liem. Namun ia belum benar-benar mengenal pemuda itu. Tuan Muda Liem seperti Bulan, memiliki sisi yang terang dan menawan, tetapi Bulan juga memiliki sisi gelap pekat yang biasanya tak terlihat dari bumi.


Kebetulan hari itu Tuan Muda Liem bersama Paman A Seng dan beberapa anak buahnya yang tak hanya dari kalangan Tionghoa, tetapi juga pribumi dan orang Indo yang tak diakui ayah kandungnya, sedang minum arak bersama-sama. Mereka minum arak di kediaman Wan Siang dan bercakap-cakap, sesekali diwarnai tawa terbahak-bahak. Si Manis yang berusaha tidur di kamarnya jadi tidak bisa tidur karena kebisingan yang mereka timbulkan.


Pada pukul sepuluh malam, barulah kebisingan itu berakhir karena tamu-tamu Wan Siang sudah pulang. Ketika Manis berusaha memejamkan mata untuk tidur, hal tak terduga terjadi. Pintunya digedor-gedor oleh Wan Siang, karena pintu itu dikunci dari dalam.


“Manis, buka pintunya!” terdengar suara Wan Siang yang tak terkendali.


“Iya, Tuan...” Mau tidak mau Manis harus membatalkan rencananya untuk tidur dan dengan tergesa-gesa membukakan pintu untuk Wan Siang.


Pemuda bermarga Liem itu berjalan sempoyongan. Manis segera tahu kalau tuan mudanya sedang mabuk berat. Tetapi sebelum ada sepatah katapun yang meluncur dari mulut Wan Siang, lelaki itu menarik tangan Manis dan membawa Manis ke kamarnya sendiri.


“Pijit kepalaku, aku pusing,” perintah Wan Siang.


Wan Siang menyeret Manis ke kasurnya dan menyuruhnya duduk di situ. Setelah Manis duduk, barulah Wan Siang meletakkan kepalanya di paha gadis itu.


“Ayo pijit kepalaku, Manis.”


Manis tak pernah sekalipun berhubungan dengan laki-laki karena selalu dilindungi ayahnya. Sekarang saat ayahnya sudah meninggalkannya, ia tak lagi dapat berlindung dari gangguan laki-laki. Kejadian malam itu sungguh membuatnya ketakutan, terlebih lagi ia harus mengatasi lelaki mabuk yang ingin dipijit kepalanya.


Dengan hati yang gundah dan tubuh gemetaran, Manis memijit kepala Wan Siang. Kepala Wan Siang terasa berat di paha gadis itu. Jika dalam keadaan sadar, tidak mungkin Wan Siang melakukan hal itu kepada Manis karena dia selalu bersikap acuh tak acuh, seolah tak tertarik sedikitpun kepada Manis. Tetapi sikap tak acuh Wan Siang dalam keadaan sadar membuat Manis merasa aman. Dalam keadaan mabuk, sikap itu hilang berganti dengan sikap manja seperti anak kecil.


Manis tampaknya pandai memijat, karena ia sering disuruh memijat ayahnya yang kakinya sering pegal-pegal. Keahlian itu akhirnya dapat dirasakan oleh Wan Siang, karena kepalanya terasa lebih enak saat dipijit oleh Manis.


“Aku suka pijatanmu,” Wan Siang memuji, sementara matanya tertutup. Suaranya masih bernada melantur karena mabuk.


“Terima kasih, Tuan.”


Lama-lama Wan Siang kehilangan kesadaran, dan mulai tertidur. Tetapi ia tak membiarkan Manis kembali ke kamarnya. Wan Siang tidur dalam keadaan memeluk paha dan kaki Si Manis, badannya menindih pangkuan gadis itu, sampai dia tak bisa menggerakkan kaki untuk pindah.


SI Manis berusaha mengangkat badan Wan Siang, tapi dia begitu kurus sementara Wan Siang bertubuh besar dan kekar. Kalau berdiri saja kepala Si Manis hanya setinggi bahu Wan Siang.

__ADS_1


“Aduh, berat sekali badannya, aku tidak kuat mengangkat dia,” keluh Si Manis.


“Aduh bagaimana ini, aku tidak bisa pergi, masa iya harus di sini sampai pagi?” Si Manis berusaha mengangkat, mendorong, menggeser badan Wan Siang agar bisa pergi, tapi gagal, tuan muda itu terlalu berat untuknya.


Badai telah berlalu karena Wan Siang telah tertidur pulas, tetapi Si Manis jadi terpaksa harus bermalam di kamar Wan Siang. Untuk pertama kalinya gadis perawan yang lugu itu bermalam di kamar seorang lelaki. Perasaannya campur aduk antara takut dan malu. Dalam keadaan tertidur, Manis berani menatap wajah Wan Siang lekat-lekat.


Lelaki itu memang sangat tampan, mata, hidung dan bibirnya sempurna. Tetapi mengapa laki-laki ini memiliki perangai yang begitu aneh, mengapa ia suka berjudi dan mabuk-mabukan, keluarga seperti apa yang mendidiknya? Beberapa pertanyaan muncul di benak Si Manis.


***


Liem Wan Siang adalah anak pertama keluarga Tuan dan Nyonya Liem. Ia memiliki seorang adik laki-laki bernama Liem Sun Kwan dan seorang adik perempuan bernama Liem Siaw Cing. Sun Kwan dilahirkan dari rahim ibu yang berbeda.


Tuan dan Nyonya Liem menikah karena dijodohkan, mereka menikah bukan karena cinta. Jauh sebelum keduanya menikah, Tuan Liem memiliki kekasih, seorang gadis Tionghoa yang cantik tetapi miskin. Karena itu, Tuan Liem dimarahi habis-habisan oleh orangtuanya saat mengutarakan keinginan untuk menikahi kekasihnya si gadis miskin.


Sesudah Tuan Liem menikah dengan Nyonya Liem yang dianggap sederajat, laki-laki itu secara diam-diam masih berhubungan dengan kekasihnya, hingga kekasihnya itu hamil. Tetapi sungguh malang, saat melahirkan, kekasihnya itu meninggal dunia. Tuan Liem memutuskan untuk merawat bayi itu, memberikan marganya, dan menamai anak itu Liem Sun Kwan. Dia membawa bayi Sun Kwan ke rumahnya untuk dirawat.


Saat itu Liem Wan Siang berumur tiga tahun dan sangat senang saat melihat Sun Kwan yang dianggapnya adik. Sayangnya kebahagiaan itu tak dirasakan istri sah Tuan Liem. Wanita itu justru berperilaku dingin kepada Sun Kwan dan memandang anak itu sebelah mata. Ia juga benci saat melihat suaminya memperhatikan anak hasil hubungan gelap itu.


Hati Ny. Liem yang diliputi kebencian itu membuatnya tumbuh menjadi sosok ibu yang dingin dan ambisius. Ia tidak ingin anak kandungnya kalah dari Sun Kwan dalam hal apapun. Wan Siang dan Sun Kwan diajari seorang guru yang didatangkan ke rumah. Mereka diajari membaca, menulis, berhitung dan tata krama. Selain membaca dan menulis dalam bahasa Tiongkok, keduanya juga diajari baca tulis dengan huruf Latin dan bahasa Melayu.


Wan Siang tumbuh menjadi anak yang selalu merasa tertekan oleh ibunya. Padahal ia sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Ketika beranjak dewasa, ia ingin sekali bisa lepas dari ibunya dan hidup mandiri.


Saat Wan Siang berumur sepuluh tahun, ibunya melahirkan seorang putri yang dinamai Liem Siaw Cing. Tampaknya Siaw Cing adalah obat bagi kesedihan Wan Siang. Adik perempuannya itu sangat lucu dan menggemaskan. Baik Wan Siang maupun Sun Kwan sangat menyayangi Siaw Cing. Mereka bertiga tumbuh bersama layaknya kakak adik kandung.


Wan Siang tidak pernah membenci Sun Kwan karena adik tirinya itu selalu menghormatinya dan tahu diri. Sun Kwan tahu Ny. Liem tidak menyukainya karena masa lalu ayahnya, sehingga dia sangat berhati-hati dalam bersikap. Yang membuatnya bertahan hidup di tengah-tengah keluarga Liem adalah kasih sayang dari ayah dan kedua saudaranya. Sun Kwan tumbuh menjadi anak yang manis dan penurut.


Liem Siaw Cing adalah anak perempuan satu-satunya, kehadirannya di keluarga itu seperti bunga yang tumbuh di tengah padang rumput. Begitu cantik dan menarik hati. Anak perempuan itu berhati lembut dan mudah sekali untuk disayangi. Tetapi Ny.Liem seringkali memperlakukannya seperti boneka.


Siaw Cing diberi pakaian-pakaian yang indah menurut selera Ny. Liem dan disuruh memakai perhiasan yang berat agar penampilannya menonjol di kalangan anak perempuan lain. Padahal Siaw Cing tidak begitu suka memakai perhiasan yang berat-berat. Jika suasana hati gadis itu sedang buruk, ia akan melemparkan perhiasan-perhiasannya ke lantai, tentu saja itu dilakukan saat ibunya tidak ada.


Selain perhiasan yang berat, Siaw Cing juga diperintahkan memakai sepatu-sepatu mungil yang sangat tidak nyaman dipakai. Ny. Liem sengaja memakaikan sepatu-sepatu berukuran kecil agar kaki anaknya tidak tumbuh melebar dan tetap mungil, karena menurutnya kaki yang kecil itu lebih indah dipandang.

__ADS_1


Tujuan Ny. Liem membesarkan dan mendandani Siaw Cing begitu rupa adalah agar anak perempuannya dapat tumbuh menjadi gadis cantik yang nantinya dapat dipinang oleh keluarga kaya. Tentu saja itu membuat batin Siauw Cing tertekan. Perasaan tertekan Wan Siang dan Siaw Cing terhadap ibu kandung inilah yang membuat mereka berdua saling menyayangi. Walaupun tinggal di rumah mewah dan tak pernah kekurangan suatu apa, tapi mereka merasa seperti berada dalam kamp penjajah.


***


Saat pagi tiba, Manis terbangun dari tidurnya. Ia terbangun dengan posisi masih bersandar ke pangkal tempat tidur Wan Siang. Wan Siang masih tertidur dalam keadaan memeluk kaki Si Manis. Tiba-tiba lelaki itu juga terbangun dan menyadari apa yang terjadi.


“Kenapa kau ada di sini?” tanya Wan Siang kepada Manis.


“Semalam Tuan manarik saya ke kamar ini, karena Tuan pusing dan minta dipijit,” jawab Manis takut-takut.


“Hah?! Memintamu memijitku?” Wan Siang terkejut dengan pengakuan Manis.


Wan Siang tahu orang sering berbuat aneh-aneh saat sedang mabuk, bahkan berbuat onar. Kadang dia sendiri berbuat begitu. Tetap saja Wan Siang kaget sendiri ketika diberitahu bahwa ketika mabuk malam sebelumnya dia meminta seorang gadis untuk masuk kamarnya dan memijit. Tetapi ia berusaha menjaga ekspresinya agar tetap datar, walaupun dalam hatinya ia tak habis pikir dengan kelakuannya sendiri.


“Semalaman Tuan memeluk kaki saya, jadi saya tidak bisa pindah.”


Wan Siang tak bisa membantah karena ia sendiri memang terbangun dalam keadaan memeluk kaki Si Manis. Ia tak bisa menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Karena kulit Wan Siang begitu putih tak bernoda, warna merah di wajahnya karena malu terlihat jelas.


Biasanya kalau sedang mabuk ia langsung saja tidur di kamarnya hingga pagi tiba, tapi saat ada Si Manis, entah kenapa dia kepikiran untuk menyeret gadis itu ke kamarnya.


Saat kekacauan di pikiran Si Manis dan Wan Siang belum sepenuhnya usai, tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh pintu kamar yang tiba-tiba terbuka, lalu masuklah seorang pemuda dan seorang gadis. Ternyata Sun Kwan dan Siaw Cing. Kedua adik Wan Siang itu juga terkejut saat melihat kakaknya berada di dalam kamar bersama seorang perempuan.


“Koh Wan Siang?!” seru Siaw Cing, sedangkan Sun Kwan juga terkejut tapi tak berkata apapun.


“Heh, kok tidak bilang-bilang dulu kalau mau kemari?” tanya Wan Siang dengan nada sewot.


“Kami cuma mau mengajak Koh Wan Siang ke kelenteng, sudah lama kita tidak sembahyang bersama,” kata Sun Kwan. Mereka mengajak Wan Siang ke kelenteng dalam keadaan yang tidak tepat.


“Aku sedang tidak minat ke kelenteng, kalian saja yang pergi. Kepalaku masih pusing,” Wan Siang menolak, dan memang benar, sehabis mabuk semalaman kepalanya terasa pusing.


Siaw Cing dan Sun Kwan saling memandang, sepertinya mereka gagal mengajak kakak mereka pergi ke kelenteng bersama. Lalu mereka berdua melihat ke arah Si Manis yang wajahnya menunduk karena malu. Apa yang sebenarnya terjadi antara kakaknya dan gadis Jawa itu? Mereka sungguh penasaran dibuatnya.

__ADS_1



Parjiyem (Si Manis)


__ADS_2